“Udh sampe mana, Kang? Gigih udh nympe CL nih…”
Sederet sms yang Gigih kirim menyambangi inbox ponselku saat aku masih berjibaku dengan kemacetan di jalur yang menuju Grogol berlawanan arah dengan Puri Kedoya. Hujan yang mula-mula hanya gerimis tak lama kemudian langsung mengguyur deras, seolah ditumpahkan begitu saja dari kemahaluasan langit.
Beberapa penumpang mulai berdesas desus lirih saat kemacetan di jalan sempit namun dipakai dua jalur itu semakin parah. Tersendat dan maju hanya selangkah dua saja.
“Kenapa lewat jalan sini sih?”
Seorang bapak gagah berumur empat puluh tahun disebelahku bertanya lirih kepadaku. Aroma cologne-nya lumayan menyengat. Ia heran kenapa mobil merah itu tak memakai rute seperti biasanya. Bukan memasuki tol Kebun jeruk tapi malah keluar jalur melewati depan Universitas Indonesia Esa Unggul.
“Supaya nggak bayar tol kali” jawabku asal dan berkesan bodoh sambil melirik bapak itu. Tanganku sedang asyik bermain dengan keypad ponselku, membalas sms dari Gigih.
Bapak dengan rambut yang sudah ditumbuhi beberapa helai uban itu tertawa tertahan. “Kan udah bayar tol tadi, mau bayar di tol mana lagi…”
Iya juga ya, oon amat gue, bisik hatiku geli.
“Supaya nggak macet aja sih. Biasanya kan rute sini lumayan lengang. Taunya malah tambah macet” jawab seorang ibu subur disebelah bapak tadi mewakiliku yang masih sibuk dengan ponselku.
Mobil merah yang kutumpangi itu semakin tersendat. Resah dan gelisah mulai menjalariku. Menciptakan hawa panas ditubuhku meningkat. Aku kegerahan. Iseng kubuka jendela mobil sedikit, namun langsung kututup lagi karena titik-titik hujan langsung menyerbu masuk.
“Gigih nunggu di Gramed aja ya…! Sebentar lagi ane juga nyampe” Sms balasan itu kukirim saat ia kembali menayakan keberadaanku. Sementara itu mobil merah itu telah memasuki kawasan Mall Taman Anggrek.
Saat mobil itu berhenti di halte Citra Land, hujan masih mengguyur dengan lebatnya. Dimana-mana payung terkembang. Beberapa pengojek payung menawariku. Cepat aku menggeleng. Lalu aku pun melesat menerobos lebatnya hujan juga jalanan yang digenangi air. Tubuhku lumayan kuyup saat aku sampai dipelataran Mall Ciputra.
Dengan tubuh yang lumayan kuyup, aku pun melangkah memasuki mall itu. Dingin dari pendingin ruangan mall langsung menyergapku. Dan langsung menjalari tubuhku.
Setelah bertemu dengan Gigih aku langsung mengajaknya menuju food court, makan. Dengan suasana dingin seperti itu mengisi perut dengan semangkuk mie pangsit dan ditemani segelas teh hangat rasanya pasti enak sekali.
Setelah sholat Dzuhur aku dan Gigih langsung menerobos gerimis menuju halte Jelambar menuju Gelora Bung Karno Senayan untuk mengunjungi Islamic Book Fair. Dan kami harus rela bergelantungan, berdesakan dan terkumpal-kampil di dalam bus way. Bisa duduk dengan nyaman setelah bus way transit di Harmoni lalu berganti bus way lain yang kosong. Namun saat bus way berhenti di Sarinah seorang ibu dengan anak lelakinya masuk. Ekor mataku melihat stiker yang berbunyi kurang lebih begini “Dahulukan lansia, penyandang cacat, wanita hamil dan wanita”. Iseng kutawari ibu dan anaknya itu.
“Nggak usah, Nak. Terima kasih…” tolak ibu itu halus sambil tersenyum. Sementara itu suara opereter bus way terus menerus berbunyi di setiap pemberhentian dengan “Next stop bla…bla…bla…ceks your belonging bla…bla…bla…”
Tiba-tiba suara Sherina dengan Jalan Cinta-nya menjerit-jerit dai ponselku. Panggilan masuk dari Teh Alit.
@@@
Saat sampai di gedung pameran buku, pernak-pernik dan hiasan-hiasan warna-warni stand-stand langsung menyambutku. Setiap stand bertuliskan nama penerbit bukunya. Tulisan-tulisan itu terbuat dari Styrofoam yang telah diwarnai.
Aroma buku-buku baru itu langsung meraup memenuhi pernafasanku. Dan membuatku langsung bergairah. Untuk segera menjamahnya.
Aku dan Gigih langsung berpisah. Gigih mencari VCD nasyid dan film perjuangan Palestina dan Afganistan, sementara itu aku langsung menuju stand demi stand untuk berburu buku murah. Menuntaskan hasrat beli buku yang membuncah didada.
Kepalaku langsung pening saat menerobos orang-orang yang berduyun-duyun memenuhi lorong-lorong pameran. Bukan pening karena banyaknya pengunjung tapi karena melihat banyaknya bandrol buku yang bergelantungan dengan harga yang bervariasi. Dimulai dari harga lima ribu untuk satu buku, sepuluh ribu untuk tiga buku hingga yang ratusan ribu pun ada. Bertebaran dimana-mana. Belum lagi diskonnya gila-gilaan. Ada diskon yang delapan puluh persen. Bagaimana kepalaku tidak pening coba.
Baru lima belas menit aku menjelajahi stand demi stand, plastik demi plastik sudah menggelantung ditanganku. Dan aku mulai dibuat kerepotan menentengnya.
Aku yang setiap membeli buku di toko buku harus membaca sinopsisnya terlebih dahulu, kali ini aku mengesampingkan kebiasaanku itu. Aku langsung menyambar buku demi buku yang menurutku bagus lalu menuju kasir. Lalu bergerak lagi menyusuri gang demi gang, stand demi stand tanpa kenal lelah dan seperti orang kesurupan. Bukan kesurupan setan jahat, tapi setan buku hehe. Terus saja begitu.
Aku benar-benar berhenti setelah kelelahan mengelilingi semua stand di pameran buku itu. Juga saat sayup-sayup kudengar suara adzan Ashar berkumandang. Dan membuat aku yang kesurupan setan buku itu tersadarkan.
Gigih hanya nyengir melihat aku yang sudah duduk kelelahan di atas tribun dikelilingi plastik demi plastik berisi buku yang bertumpuk disebelahku.
“Habis berapa, Kang?” Tanya Gigih sambil menyerahkan sebotol minuman segar kepadaku.
Aku nyengir. Dan menyebutkan nominal yang telah kuhabiskan untuk buku-buku itu.
Gigih hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar penjelasanku itu. “Sebenarnya Kang Dey sama Gigih itu punya kesamaan loh, Kang” ucapnya mengerling jenaka.
“Iya sama-sama manusia kan” tebakku asal sambil menyelonjorkan kakiku yang pegal bukan main. Sementara itu mataku berkeliling menatap orang-orang yang sedang duduk di tribun untuk melepas lelah. Ada yang sedang mengobrol, membaca buku, mengemil makanan ringan juga ada yang sedang membongkar hasil berburu bukunya.
“Bukan itu, Kang. Tapi sama-sama gila belanja. Kang Dey gila, kalo udah liat buku, kalo Gigih…”
“Gila kalo udah liat kaset dan VCD perjuangan Palestina dan Afganistan” serobotku terkikik geli.
“Ashar yuk, Kang!” ajak Gigih setelah kepenatan kami hilang tertelan obrolan iseng itu.
Aku mengiyakan ajakannya. “Masih punya duit nggak, Dek? Ane mau pinjem…” ucapku sambil menyelip diantara hilir mudiknya pengunjung pameran.
“Ada. Tapi nggak banyak”
“Abis Ashar ane masih pengen beli buku lagi. Duit ane tinggal buat ongkos nih…”
Gigih terbelalak. “Mau beli lagi?” Aku mengangguk.
“Gigih juga mau nyari VCD Palestina lagi, jadi gigih cuma bisa minjemin Kang Dey…” Ia menyebutkan sejumlah uang yang bisa ia pinjamkan padaku. Meski terlalu sedikit jumlah yang ia sebutkan itu tapi aku menyetujuinya. Dari pada aku gegetun seumur-umur karena pulang dengan tidak membeli buku yang aku inginkan.
Aku terbeliak saat sampai di tempat wudhu. Antriannya nauzubilah panjangnya. Mengalahkan antriannya Ponari. Seorang dukun cilik dari Jombang yang dianggap sakti karena mendapatkan batu saat ia pulang sekolah hujan-hujanan. Dan konon katanya batu itu sangat bertuah bisa mengobati berbagai macam penyakit. Begitulah yang diberitakan dengan marak dan gencar oleh media masa maupun elektronik belakangan ini.
Setelah lima belas menit berkutat dengan antrian wudhu yang maju selangkah demi selangkah itu. Aku pun bisa bernafas lega bisa berwudhu dan bebas dari antrian itu. Namun kembali aku terbeliak saat dihadapkan pada antrian sholat yang tak kalah panjang dari wudhu tadi.
“Panjang banget, Dek. Keburu abis ini mah asharnya” gerutuku sambil ikut-ikutan mengantri. Dan membetulkan letak tasku yang melorot terus karena beratnya beban yang aku bawa.
“Sabar, Kang. Anggap aja kita lagi mabit di Mina hehe…” gurau Gigih konyol.
@@@
Sabtu, 28 Februari 2009
Rabu, 23 Juni 2010
Cerpenku "PUING-PUING HATI MEWARNAI GAZA"

Pagi baru saja merekah. Angin utara pegunungan al-Jarmaq berhembus mengelus tanah-tanah sengketa Palestina.
Kesibukan baru saja dimulai di sebuah rumah mewah di kawasan itu.
“Ayah, Ibu…aku pamit! Aku akan pergi meninggalkan rumah ini” ucapku tegas dan lantang sambil meletakkan bawaanku.
“Apa maksudmu dengan meninggalkan rumah ini, David?” ibuku berseru kaget.
“Apakah kau mendapat tugas pertamamu sebagai seorang dokter?” ayahku tak kalah kaget.
Aku menghela nafasku dan menghembuskannya perlahan.
“Aku sudah muak tinggal di rumah mewah ini. Sementara itu, di luar sana banyak orang-orang Palestina yang kedinginan dan kelaparan. Di kamp-kamp pengungsian” ucapku dengan penuh penekanan.
“Apa urusan kita dengan semua itu. Itu memang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mereka memang tidak berhak untuk tinggal di bumi Kanaan ini. Ini tanah milik kita, tanah yang dijanjikan untuk kita” ucap ayah tak kalah sengit.
Aku tersengat mendengar perkataan itu. Rahangku mengeras. “Sadarkah Ayah dengan perkataan Ayah barusan? Ini tanah mereka Ayah. Kita yang telah merebut dan mengusir mereka dari tanah milik mereka sendiri. Lupakah Ayah bahwa kita hanyalah seorang pengungsi? Dan kitalah yang menumpang hidup di tanah mereka ini” ucapku berapi-api.
Yitzak Brehim terdiam. Ia sama sekali belum lupa. Masih lekat dalam ingatannya saat pertama kali ia bersama istri dan anaknya meninggalkan Eropa untuk memulai kehidupan baru di bumi tanah Palestina ini. Waktu itu tahun 1967. Israel mengalahkan Arab dalam peperangan selama enam hari dan Israel pun mencaplok Tepi Barat dan Jalur Gaza. Untuk dijadikan daerah kekuasaannya.
Dan menjelang pertengahan tahun tujuh puluhan, warga Palestina diusir secara paksa dari tanah mereka. Karena mereka bersikeras tidak mau menjual tanah-tanah yang mereka miliki pada Israel. Mereka merampas tanah-tanah warga Palestina dimulai dari Acre, Haifa, Yafa dan Beef Sheba hingga terus merangsek ke Jalur Gaza, Mughrabi, Jerusalem, Ramallah, Tepi Barat, Tel Aviv dan seterusnya.
Cara-cara keji pun mereka lakukan agar warga Palestina pergi dari tanah mereka. Dengan cara menghancurkan dan meluluhlantakkan pemukiman mereka dengan bom. Lalu merebut perkebunan-perkebunan mereka yang luas dan subur yang mereka tanami anggur, gandum dan tanaman-tanaman lainnya.
“Lalu kau akan pergi kemana, anakku?” wanita itu memecah hening ruangan. Sorot kekhawatiran nampak diwajahnya.
“Ke tempat dimana mereka membutuhkan pertolonganku , Bu”
“Untuk apa kau lakukan itu, David?”
“Untuk merasakan kerasnya hidup yang mereka rasakan dalam kesusahan dan kesengsaraan yang telah bangsa kita ciptakan. Juga menolong mereka yang membutuhkan bantuan medis, Bu” Jawabku tegas.
Yitzak Breim mendengus. “Konyol sekali apa yang akan kau lakukan itu, David. Kelakuanmu itu tak akan mengubah apa pun yang telah terjadi di bumi ini. Karena selamanya, tanah ini akan menjadi milik kita. Camkan itu. Seandainya mereka bersikap bijak, meninggalkan tanah ini secara sukarela, maka peperangan ini takkan terjadi” ucapnya dengan wajah pongah dan bengis.
Aku menatap lelaki itu dengan penuh kebencian. Darah Yahudi yang mengalir ditubuhku sama sekali tak membuatku bisa bengis seperti ayahku juga bangsaku yang menetap di Palestina ini. Aku tak sudi menjadi bagian dari mereka.
Tanah Palestina ini adalah tanah wakaf umat islam sejak masa kekhalifahan Umar bin Khattab yang di dalamnya ada masjid Al-Aqsa. Masjid Al-Aqsa di Tepi Barat adalah kiblat pertama umat islam sebelum Masjidil Haram. Dan tak ada seorang pun di dunia islam rela Al-Aqsa diambil oleh pihak lain. Begitulah dulu Abu Hisyam, ayahnya Amru menceritakan itu kepadaku sewaktu aku masih kecil.
“Aku benci peperangan ini. Aku sudah muak dengan segala kebiadaban yang dilakukan bangsa kita ini pada mereka, Bu. Untuk itulah aku akan membantu mereka dengan seluruh kemampuan yang aku miliki” ujarku geram. Urat-urat dipelipisku berdenyut-denyut.
Wanita itu mendesah. “Tak ada satu orang pun yang tidak membenci peperangan, anakku. Peperangan hanya melahirkan kehancuran, kenistaan, kemelaratan, dan penderitaan. Perang hanya membuat orang kehilangan kaki, tangan, keluarga, rumah juga segala yang berbentuk materi juga menghancurkan mental. Tekanan demi tekanan yang menghimpit bisa menciptakan trauma berkepanjangan yang membuat mereka diambang kegilaan. Banyak wanita yang putus asa karena kehilangan kerhormatannya. Dan anak-anak kehilangan masa depannya. Dengan dampak sebesar itu siapa yang menginginkan peperangan, Nak” ucap wanita itu sendu.
Ibu ternyata masih ingat sejarah kelam yang diceritakan oleh kakeknya, pada Perang Dunia II saat tentara Jerman melancarkan aksi pembunuhan besar-besaran pada kaum Yahudi yang dikenal sebagai Holocaust.
Aku tersedu. “Lantas mengapa perang ini terus berlangsung, Bu. Bila telah nyata akibat apa yang ditimbulkannya. Mengapa kita kaum Yahudi tak bercermin pada sejarah kelam itu”
“Karena kita mempertahankan tanah milik kita bodoh” serobot lelaki itu dengan wajah memerah. “Kau orang Yahudi tapi mengapa pemikiranmu lemah dan dangkal seperti orang-orang tolol Palestina itu. Ah, mungkin karena selama ini kau terus-terusan bergaul dengan ank-anak si Hisyam itu. Sehingga kau termakan bualan mereka dan kau pun menjadi lemah dan dungu seperti mereka”
Aku semakin tergugu saat mendengar lelaki itu menghina keluarga sahabatku, Amru Abdulah putra dari Hisyam Abdulah.
Awal saat kami bermukim di Palestina ini dan saat itu Israel belum berbuat biadab seperti saat ini. Keluargaku dan keluarga Amru hidup dengan rukun dan berdampingan. Aku sering diajak ke ladang paman Hisyam, bersama Amru. Untuk bermain-main diladang-ladang gandum yang subur milik mereka. Kami juga selalu bersama-sama pergi ke sekolah. Juga bermain-main di gerbang Jaffa.
Persahabatan kami begitu tulus meski kami sadar bahwa kami berbeda keyakinan. Namun hubungan kami begitu erat, tak surut oleh perbedaan itu. Bahkan kami seperti saudara kandung.
Namun sejak Abu Hisyam, istrinya juga adik-adik Amru, Akmal dan Kamal dibunuh tentara Israel. Aku tak pernah bertemu lagi dengan sahabatku itu. Ia diselamatkan oleh Abu Hanim, pamannya. Entah dibawa kemana. Dan sejak saat itu aku belum pernah berjumpa dengannya lagi.
“Sudahlah, David. Kau tidak usah repot-repot memikirkan penderitaan mereka, akibat kebodohan mereka sendiri. Sekarang kita nikmati saja kemegahan hidup di tanah milik kita ini” Lelaki itu menyeringai penuh kepuasan.
“Harus berapa kali kukatakan Ayah, bahwa ini adalah tanah milik mereka. Dan kitalah yang telah merampasnya dengan paksa dari mereka” lengkingku geram.
Plak! Plak! Tamparan keras lelaki itu mendarat di wajahku. Aku terjengkang. Darah merembes dari bibirku. Asin tersentuh lidahku.
“Lancang sekali mulutmu…!” teriaknya murka dengan suara membahana. Otot-otot pelipisnya bertonjolan.
“Hentikan, Yitzak! Apa yang telah kau lakukan pada putra kita” Ibu berteriak histeris seraya memburuku. Ia marah sekali. Melihat perlakuan ayah padaku.
“Dia bukan putra kita lagi, Sidva. Seorang Yahudi sejati tidak akan mengolok-olok bangsanya sendiri dengan perkataan-perkataan keji seperti itu. Dia telah menjadi duri dalam daging di dalam bangsanya sendiri” ucap lelaki itu meluap-luap.
Aku bangkit dibantu ibuku. “Aku juga tak sudi menjadi bagian dari bangsa yang haus darah akan milik orang lain, hingga mampu mengorbankan nyawa-nyawa manusia yang tak bersalah. Kekejaman itu terjadi di depan mata kita, namun kita hanya menjadi penonton saja. Terlebih dengan apa yang diberitakan CNN, BBC, Fox dan The New York hanya memutarbalikan fakta saja. Kita tau betapa pembohongnya mereka itu. Dan aku sudah muak dengan semua ini…” cerocosku meluap-luap. Aku lelah.
Lalu aku menyambar ranselku dan bergegas meninggalkan rumah mewah yang dibangun di atas tanah rampasan itu.
♥♥♥
Aku sedang mengangkat serpihan-serpihan bom di kaki seorang ibu, tanpa anestesi. Malam tadi dalam kabut udara dingin, dentuman rudal membelah langit kota Gaza. Memburaikan jasad-jasad tak berdosa hingga menyerpih. Menghancurkan bangunan-bangunan hingga tak berpuing. Dan meninggalkan asap legam membumbung. Serta bau mesiu menyatu dengan anyir darah.
Setelah membersihkan luka-luka wanita yang malang itu, aku menatap seorang anak yang penuh darah terbaring di dipan. Ia baru saja menghembuskan nafasnya. Dan ia pasien yang kesepuluh yang meninggal pagi itu.
Setiap hari belasan pasien meninggal dalam rumah sakit ini. Sejak Israel membombardir Jalur Gaza. Obat semakin langka karena kurangnya fasilitas. Israel memblokade jalan-jalan utama sehingga bantuan obat-obatan dari luar terhambat.
Seandainya ketiadaan obat-obatan ini bisa terpenuhi, pasien-pasien itu bisa diselamatkan. Sehingga aku tidak terus menerus menyaksikan kematian demi kematian terjadi dihadapanku. Hingga aku diambang keputusasaan.
“Aku muak dengan peperangan ini, Yassir. Seharusnya peperangan ini tidak pernah ada. Sehingga orang-orang ini tak akan pernah menjadi korban” keluhku pada rekanku, Yassir.
“Aku rasa bukan kau saja yang sudah muak dengan peperangan ini, David. Tapi kami semua orang di Palestina ini juga sudah muak dengan peperangan. Terlebih kami yang harus teraniaya di negeri kami sendiri. Kami juga ingin bebas dari semua kebiadaban ini dan hidup damai” tukasnya sambil memasang infusan dan memberikan suntikan efinefrin pada pria yang terbaring di lantai. Sindiran itu telak mengenaiku.
Aku segera bersandar ke dinding saat guncangan besar terasa melanda ruangan itu. Akibat rudal yang dilontarkan serdadu-serdadu Israel.
Dokter dan perawat terus hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Semua tampak kelelahan. Maklum dalam keadaan seperti ini tak ada waktu lagi bagi kami untuk memikirkan nikmatnya tidur. Bahkan makanan yang kami makan pun benar-benar alakadarnya. Suplai makanan semakin menipis.
Bahkan ada juga dokter dan perawat yang gugur saat bertugas ke luar Rumah Sakit. Saat memberikan pertolongan pada orang-orang yang terjebak di reruntuhan Gaza.
“Lalu mengapa kau masih disini, David? Mengapa kau tidak pergi saja ke luar dari negeri ini. Bukankah kau bisa pergi kemana saja kau suka. Israel akan memudahkan semua urusanmu untuk hengkang dari sini, bukan?” ucap Yassir sengit.
Aku terhenyak mendengar perkataan Yassir. Namun aku tak bisa menyalahkannya. Kegetiran hiduplah yang telah memaksanya berbicara demikian.
“Aku tidak bisa, Yassir. Aku tidak bisa meninggalkan peperangan ini juga negeri ini. Banyak yang membutuhkan pertolonganku. Aku ingin membayar setiap tetes darah yang telah dikeluarkan bangsa Palestina akibat ulah kekejaman bangsaku. Aku akan membayarnya meski aku harus mati karenanya” tekadku bulat dan kuucapkan kata-kata itu dengan suara serak. Bulir-bulir bening menggenangi wajahku yang kusam, telah beberapa hari ini aku tak menemukan air meski hanya untuk membasuhnya. Dan siapa yang perduli.
“Maafkan aku, David…” Yassir menyentuh bahuku. “Aku tau kau berbeda dengan mereka” ucapnya menentramkan perasaanku. Aku merasa diterima. Lalu kami pun melanjutkan pekerjaan kami menangani gelombang pasien yang dipapah ke rumah sakit ini, terus datang silih berganti.
♥♥♥
Sore itu aku melihat seorang pemuda sebayaku dibawa di atas usungan, lalu di letakkan dilantai begitu saja. Banyaknya korban luka-luka yang dibawa ke rumah sakit, sehingga tak ada lagi tempat yang tersisa kecuali di lantai.
Perlahan aku dekati pemuda itu. Ia meringis menahan sakit akibat luka-luka dikakinya. Sebagian wajah pemuda itu tertutup lelehan darah akibat luka parah dikeningnya.
Perlahan kubersihkan luka-luka diwajah pemuda itu dengan cairan antiseptik. Aku terperanjat saat mata pemuda itu bersirobok dengan mataku. Tanganku bergetar. Mata dengan sorot tajam dinaungi alis yang lebat itu adalah mata seorang sahabat yang selama ini selalu kurindukan kehadirannya. Sepasang mata itu milik Amru Abdulah.
“Am…Amru…” susah payah kusebut namanya. Aku tak percaya kalau aku bisa bertemu dengannya lagi. Dalam situasi seperti ini.
Ia juga terkejut. Namun, mulutnya terkatup rapat. Sorot matanya penuh dengan kebencian. Tak kutemukan lagi wajah persahabatan disana.
“Jangan kau sentuh kulitku dengan tangan najismu itu” ucapnya keras seraya menepis tanganku dengan kasar.
Aku terperanjat. Tubuhku terjajar ke belakang. Aku tak percaya kalimat seperti itu keluar dari mulut seorang sahabat yang selalu kurindukan. Ia telah berubah. Kedasyatan perang telah merubahnya. Menjadi sosok yang keras.
“Mengapa kau menyakitiku dengan ucapanmu itu, Amru. Apakah kau sudah melupakan persahabatan kita?” ucapku mengais harapan yang mungkin saja masih tersisa.
Amru meludah. “Aku hanya menyakitimu dengan perkataanku. Tapi kau dan bangsamu yang rakus kekuasaan itu telah menyakiti jiwa dan ragaku. Sehingga aku harus terusir dari tempat tinggalku sendiri, kehilangan keluargaku, terlunta-lunta dan menjadi gembel di negeriku sendiri” ucapnya getir. Sorot matanya terluka.
Dua bulir bening menggenangi mataku. Ternyata sakit yang kurasakan memang belum seberapa dibandingkan dengan segala sakit dan penderitaan yang dialami Amru.
“Kau tak usah mengeluarkan air mata buayamu itu. Karena itu tak akan mengubah apa pun yang telah terjadi dan sedang berlangsung ini. Kau hanya bisa mengeluarkan air mata saja, sedangkan aku sudah tak bisa mengeluarkan air mata lagi. Karena air mata itu telah menjadi tetesan darah”
Aku semakin tergugu mendengar ucapannya yang tajam dan menusuk. Kekejaman perang telah merampas kelembutan yang dimilikinya. Benar-benar sudah tak bersisakah persahabatan itu?
“Aku juga tak pernah menghendaki peperangan ini terjadi, Amru” ucapku tersendat. “Aku juga benci dan muak dengan peperangan ini. Kalau pun harus ada yang menderita atas peperangan ini seharusnya orang-orang di atas, bukan warga sipil. Seandainya aku punya kuasa, aku juga ingin menghentikan peperangan konyol ini”
“Bukan hanya konyol, tapi ini biadab dan diluar ambang batas kemanusiaan…” ucap Amru penuh tekanan dengan sorot mata berkilat-kilat. Menohokku.
Aku terpekur. Harus dengan cara apakah aku bisa mengembalikan persahabatan itu kembali. Tidak tahukah ia, bahwa aku sangat merindukannya. Ingin aku memeluknya. Untuk meleburkan segala penderitaan yang dialaminya. Agar aku juga bisa memikul semua yang dideritanya.
“Maafkan aku, Amru. Maafkan atas segala kekejaman yang telah diperbuat bangsaku” ucapku serak, sepenuh hatiku.
Amru memalingkan wajahnya. “Maafmu tak akan mengubah apapun”
“Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau mau memaafkan aku, Amru” teriakku emosi. Tenggorokanku sakit. Tidak tahukah ia bahwa aku juga menderita akibat peperangan ini. Terutama jiwaku. Aku juga lelah dan putus asa.
Amru tersentak. Lalu ia menatap ke arahku, namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun.
“Aku juga menderita atas peperangan ini. Hampir setiap hari aku menolong orang-orang di rumah sakit ini. Belasan, puluhan bahkan ratusan. Datang dan pergi silih berganti. Dan banyak yang tak bisa kuselamatkan. Mereka satu persatu mati dihadapanku. Hingga aku merasa kehadiranku sebagai seorang dokter tidak berguna sama sekali. Padahal kuselamatkan jiwa-jiwa mereka agar aku terbebas dari rasa bersalah yang menghimpitku akibat peperangan yang ditimbulkan oleh bangsaku ini. Aku juga tak berdaya…aku juga menderita…memikul rasa bersalah ini…” aku tersengal-sengal, terbawa emosi oleh perkataanku yang syarat akan kepedihan.
“Aku mengatakan semua ini padamu, bukan berarti aku membenarkan perbuatan mereka. Tidak, sama sekali tidak. Bahkan hampir setiap detik dalam kehidupanku, aku mengutuk perbuatan biadab yang mereka lakukan. Lalu aku harus bagaimana, Amru? Aku rela mati ditanganmu, kalau itu bisa menebus semua kesalahan yang diperbuat bangsaku. Jadi tolonglah, maafkan aku…” ucapku tersedu-sedu. Wajahku basah oleh air mata.
“Apakah maafku itu penting bagimu?” tanyanya pelan. Setelah kebisuan melanda kami. Hanya dentuman bom diluar sana terdengar memekakkan telinga. Dan meninggalkan getaran pada lantai yang bergelombang.
Aku tersentak. Kutatap matanya. Sekilas masih kulihat pendar harapan disana. Harapan dari maaf yang aku butuhkan.
“Sangat penting. Dan itu sangat berharga bagiku. Aku tak perduli meski seluruh dunia mengutukku, asal kau jangan membenciku. Dan kau mau memaafkanku dan menjadikanku sebagai sahabatmu kembali” ucapku tegas dan penuh harap.
Ia terdiam sesaat lamanya. Lalu ia menghela nafasnya. “Aku sudah memaafkanmu, sebelum kau memintanya padaku, David…” ucapnya seraya menyebut namaku. Senyum dari wajah tampan Amru melingkupiku. Berpendar memenuhi dadaku.
Air mataku berloncatan membasahi wajahku. Aku menangis dan terus menangis. Tubuhku tersungkur. Aku bahagia. Ucapannya itu lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Perlahan kurasakan tangan kokoh itu merengkuhku dan membawaku dalam pelukannya yang hangat, penuh rasa sayang dan persahabatan.
“Aku…aku malu. Sangat malu padamu, Amru. Malu pada perbuatan biadab bangsaku…” ucapku seraya mengeratkan pelukanku.
“Kau tidak salah, David. Kau tetap sahabatku. Dan kita akan tetap bersahabat, hingga ajal menjemput. Dan meski perang ini telah merobek-robek kenangan indah persahabatan kita. Aku tak menyalahkanmu. Maafkan ucapan kasarku, ya…” bisiknya sambil mengeratkan pelukannya, seolah akan menyatukan degup jantung kami dalam irama yang sama.
“Sepanjang masih ada yang memerangi dan menganiaya kami, tak ada jalan lain untuk menghadapinya selain dengan perang. Perang memang kadang-kadang tak bisa dihindari. Tapi yang paling penting, jangan sampai ada perang dihati kita ya…” ucapnya bijaksana.
Aku terharu mendengar ucapannya itu. Kehampaan yang selama ini mengikatku, perlahan namun pasti simpul-simpul itu terlepas. Dan membebaskanku dari kungkungan rasa bersalah yang selama ini membelengguku.
Sementara itu di luar sana tank-tank lapis baja dan tentara-tentara menyandang senapan AK 47 berjaga ketat. Dentuman bom dan rudal yang dilakukan serdadu-serdadu Israel dengan pongah masih terus terdengar. Membelah pekatnya malam di Jalur Gaza. Sepetak wilayah yang selalu dipenuhi jelaga hitam asap mesiu serta kepulan debu. Bumi tempat ribuan nyawa telah mengusung leleran darah dan air mata. Bumi para syuhada. Dan memetakannya sebagai sebidang tanah tempat kebiadaban sejarah umat manusia yang terus berlangsung entah sampai kapan.
♥♥♥
*Paragraph 21 minjem kata-kata milik penulis yang saya kagumi, Mbak Sinta Yudisia dari cerpen Cadas-cadas Kebencian*
Jumat, 22 Januari 2010
Lembaran Duka
“Mat, saya ngambil rokok lagi dong sebungkus,” ucap Pak Burhan, seorang satpam yang berkerja di perusahaan styroform disebarang jalan.
“Wah, gimana ya, Pak. Hutang Bapak yang kemarin-kemarin aja belom bayar…” jawab pemuda bernama Rahmat itu keberatan dengan permintaan satpam tersebut.
“Tenang sih, Mat. Nanti besok juga saya bayar,” ucapnya menggampangkan seperti yang sudah-sudah. Besok, besok, besok saja sampai akhirnya hutangnya bertumpuk. Meninggalkan deretan panjang angka-angka di buku khusus orang yang berhutang. Alias bon.
“Kemaren Bapak juga ngomong gitu. Tapi mana buktinya, belom bayar juga,” Rahmat menyabar-nyabarkan diri. Padahal ia sudah kesal sekali pada lelaki tersebut.
Mengingat hubungan baik yang harus dijalinnya dengan para pekerja di pabrik itu terpaksa ia harus menahan diri untuk tidak membentak-bentak lelaki itu. Maklum, untuk kebutuhannya akan air bersih, baik untuk minum, mandi maupun mencuci. Ia harus memasuki kawasan pabrik.
Dan meski untuk kebutuhan akan air itu ia harus mengeluarkan modal. Yaitu membuatkan keempat satpam yang ada di pabrik itu kopi setiap harinya. Baik itu pagi, siang atau malam hari. Tergantung giliran jaga mereka.
“Kamu nggak percaya sama saya, Mat?” ucap satpam itu seraya mengambil sebungkus rokok yang disodorkan kepadanya dengan raut wajah tak senang.
Rahmat menghela nafas. Mengusir rasa geram yang bercokol dihatinya.
“Bukan begitu, Pak. Masalahnya…”
Dengan runut dan pelan pemuda berparas ganteng itu menceritakan kesulitan yang harus dihadapinya kalau satpam itu tak segera membayar hutangnya. Dari kemarahan sang pemilik kios rokok itu karena tak adanya pemasukan, hingga ketiadaan uang untuk ia belanja lagi. Memutar kelangsungan kios rokok itu.
“Bagaimana mau ada pemasukan, kalau uang dari rokok dihutang, Bapak. Sementara keuntungan dari rokok kan itu tipiiis sekali,” ucapnya gemas dalam hati.
Satpam itu terdiam mendengar penuturan pemuda dihadapannya. Sebenarnya ia kasihan dengan nasib yang dialami pemuda itu. Bukannya ia tak mengerti akan permasalahan yang dihadapinya. Tapi kalau ia tak berhutang, maka ia tak bisa merokok. Karena seluruh penghasilannya sebagai satpam itu harus ia setorkan pada istrinya. Untuk kebutuhan anak-anaknya. Jadi ya terpaksa, jalan satu-satunya adalah berhutang. Meski ia harus menekan rasa malunya. Karena ia harus JJPD alias Janji-Janji Palsu Doang. Seperti para pejabat di atas sana, yang doyannya ber-JJPD.
“Ya udah ya, Mat. Entar juga saya bayar,” ucapnya enteng sambil berlalu dari warung reyot bahkan hampir roboh itu. Maklum sejak dua tahun kios rokok itu berdiri, sang pemiliknya sama sekali tak tergerak untuk memperbaiki kiosnya itu.
Sepeninggal satpam tersebut. Rahmat tercenung lama sekali. Memikirkan ulah para satpam itu.
Jumlah satpam di pabrik itu ada empat orang. Dan keempat-empatnya berhutang semua. Belum dibayar pula. Selain itu juga perlakuan mereka padanya amat sangat kurang menyenangkan. Bahkan ada juga yang jauh dari sopan.
Pernah seorang satpam yang berasal dari Batak, Pak Alek Sihombing namanya. Melemparkan kopi buatannya hingga gelasnya hancur, hanya karena ia salah membuatkan minuman. Satpam itu meminta dibuatkan kopi susu, namun ia buatkan kopi kental hitam. Ia berani melakukan itu karena Pak Heri, satpam yang berasal dari Sumedang mengusulkan hal itu padanya. Lalu ia turuti. Hasilnya, gelas itu hancur berkeping-keping. Dan itu artinya ia akan dimarahi oleh bosnya, juga harus mengganti gelas itu dengan menyunat gajinya yang tak seberapa itu hingga tumpul.
Ada lagi satpam yang berasal dari Makasar, Pak Ranupae namanya. Lelaki itu pernah memaksanya untuk melakukan perbuatan kaum Nabi Luth dengannya. Waktu itu Pak Ranupae sedang mabuk, lalu ia mendatangi kiosnya. Dan langsung menerkamnya dan berusaha menggumulinya. Tubuh kurusnya tak kuasa melawan tubuh gorilla lelaki itu.
Untung saja Allah masih sangat menyayanginya dengan segera mendatangkan pertolongan. Seorang karyawan yang akan bekerja shif 3, Galang namanya, memergoki perbuatan itu. Dan menghajar satpam itu hingga babak belur. Galang tidak terima melihat perlakuan tidak senonoh itu terjadi pada orang yang telah berbaik hati menghutanginya setiap hari. Walau buntut dari peristiwa itu Galang harus rela di keluarkan dari perusahaan tempat ia menggantungkan hidupnya selama ini.
Rahmat buru-buru menghapus air yang menggenangi matanya. Mengingat kejadian naas itu, ia selalu saja dihantui perasaan bersalah. Kalau saja Galang tidak melakukan pemukulan itu untuk menolongnya, mungkin pemuda itu tak akan dikeluarkan dari pekerjaannya.
Entah bagaimana nasib pemuda yang lembut hatinya itu sekarang. Semenjak peristiwa itu ia belum mengetahui kabar beritanya. Hanya doa yang bisa ia panjatkan kehadirat-Nya, agar Galang segera diberi pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rahmat menghela nafasnya. Membuang sejumput galau yang menggayuti hatinya. Ia langsung bangkit dari duduknya, saat mendengar jeritan nyaring dari ponselnya. Ada panggilan masuk rupanya. Baru ia akan menjangkau ponsel miliknya, layar ponsel itu berkedip sebentar lalu mati. Low bet. Ia ingat belum men-charged poselnya itu karena aliran listrik ke kios itu di putus oleh pemilik warung nasi di sebelah kanannya berjualan.
♥♥♥
Rahmat berjalan dengan langkah gontai mendatangi pemilik warung makan itu, menanyakan alasan mengapa memutus aliran listrik. Padahal ia tak pernah telat membayar uang listrik itu setiap bulannya.
“Permisi, Mang Juned…” ucapnya mendekati lelaki paruh baya yang sedang menggepruk batu es di sudut warung makannya.
“Ada apa,” Tanya Mang Juned tak bersahabat. Melirik sebal kearahnya sebentar lalu kembali pada kegiatannya menggepruk batu-batu es.
“Kenapa aliran listrik ke saya diputus…” ucap Rahmat bersabar melihat tingkah orang yang sangat pantas menjadi bapaknya itu namun kelakuannya seperti anak kecil saja.
“Ya, jelas dong saya putus. Orang situ belum bayar listrik bulan ini,” jawabnya ketus.
“Loh, Mamang gimana sih, bukannya bayarnya nanti tanggal 28. Sekarangkan baru tanggal 22, Mang,”
“Ah, sekarang mah harus tanggal 20 bayarnya, itu paling lambat. Nggak tau apa, bayar listrik sekarang mahal,” ucapnya sambil mengetrok batu es itu hingga hancur.
Rahmat tersengat. Getokan pada batu es itu seolah mewakili getokan pada kepalanya. Darah mudanya berdesir hangat menjalari setiap pembuluh darahnya. Menggumpal memenuhi syaraf amarahnya.
“Tapi kan, Mamang tau sendiri kalau penggunaan listrik ke saya tak seberapa. Cuma tiga lampu, Mang. Trus saya juga nggak pake apa-apa. Radio saya udah pensiun karena rusak dari kemaren-kemaren. Paling-paling saya cuma ngecas HP, itu pun sehari cuma sekali,” ucapnya panjang lebar membela diri.
“Terserah. Saya nggak mau tau. Kalau kamu nggak bayar hari ini, ya nggak saya alirin…” ucapnya keras sekali. Hingga beberapa pengunjung warung makan itu melirik ke arah mereka. Mencuri dengar apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang yang sedang bertikai itu.
Rahmat menundukkan wajahnya. Ia malu sekali. Karena beberapa orang dari pengunjung warung makan itu juga langganan belanja di kios rokoknya.
“Ya, udah atuh Mang. Saya ambil duitnya dulu,” ucap Rahmat mengalah. Ia memang sudah terbiasa mengalah untuk segala hal. Mungkin sudah menjadi suratan nasibnya. Mengalah dan mengalah. Pikirnya getir.
Padahal kalau pemutusan aliran listrik itu hanya karena hal sepele seperti itu, mengapa tak dikatakan saja. Tidak perlu pakai memutuskan aliran listrik segala. Toh, ia juga akan mengalah membayar listrik itu tanpa harus ada keributan seperti itu.
“Nah, begitu kan enak…” sambar Bi Ijah, istrinya Mang Juned judes. Berteriak lantang dari dapur, tempat dimana ia sedang sibuk memasak untuk keperluan warung nasinya itu.
Berbicara soal Bi Ijah, Rahmat juga masih menyimpan seribu dongkol pada wanita bermulut pedas itu. Ia yang selama ini rutin makan di tempat itu, tiba-tiba harus dihadapkan pada sejumlah bon yang harus dibayarnya. Tapi jumlahnya tidak sama dengan apa yang dicatat di buku bonnya.
Rahmat memang punya kebiasaan ngebon setiap makan di warung nasi itu. Dan setiap akhir bulan saat para karyawan pabrik melunasi hutang-hutangnya pada kios rokoknya. Ia juga akan membayar hutang makannya pada Bi Ijah. Dan ia tak pernah lupa untuk mencatat jumlah hutangnya setiap ia habis makan di warung itu.
Namun kejadian kemarin membuatnya harus menelan pil pahit kekecewaan. Ia harus membayar sejumlah uang di luar batas nominal pengeluarannya selama ini.
“Loh, Bi. Hutang saya gede amat. Setau saya, hutang saya cuma 40 ribu. Kok ini bisa jadi 70 ribu. Saya nggak ngerti,” ucapnya protes saat ia akan melunasi hutang makannya bulan kemarin.
“Yeuh, catatannya ada. Saya mah moal bakal bohong,” ucap Bi Ijah getas, penuh penekanan.
Rahmat menghela nafasnya. Berat. Entah mengapa wanita gendut dihadapannya ini selalu saja kasar, keras dan cerewet kalau berbicara. Semula ia pikir, wanita ini hanya padanya saja berprilaku tak menyenangkan seperti itu. Namun ternyata pada semua orang pun dia melakukannya.
Andai warung nasi lainnya tak sejauh itu letaknya dari pabrik. Ia yakin, dagangan wanita itu sudah tak laku. Karena sebagian karyawan yang belanja di kiosnya sering sekali mengeluhkan prilaku wanita bertubuh subur itu.
“Saya juga ada catatannya, Bi. Hutang saya tuh cuma 40 ribu doang…” ucap Rahmat berusaha meyakinkan wanita berwajah masam itu pelan. Berusaha menekan perasaan muak yang melingkupinya.
“Kamu tuh, kalau nggak mau bayar hutang bilang atuh. Nggak usah banyak alesan sagala,”
“Yang nggak mau bayar hutang siapa, Bi? Saya cuma bilang, kalau hutang saya cuma 40 ribu, itu aja. Naha jadi ngelantur kamana-mana,” jawab Rahmat emosi dengan logat Sundanya yang medok.
“Lagian kamunya juga sih. Udah jelas catetannya 70 ribu, kamu malah ngotot bilang 40 ribu. Gimana sih. Masih mending kamu boleh ngahutang disini. Di tempat laen mah moal aya anu daek ngahutangan,yeuh,” ucapnya ngotot hingga mulutnya berbusa-busa. Dan urat lehernya bertonjolan.
Rahmat terdiam. Berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Catatan siapa sebenarnya yang salah. Miliknya atau milik Bi Ijah. Tapi ia yakin, seyakin-yakinnya kalau hutangnya itu hanya 40 ribu rupiah, tak kurang dan tak lebih. Ia belum pikun. Dan ia juga sangat teliti mengenai hutang piutang itu. Tak sekali pun ia lupa untuk mencatat bon pembeliannya pada bon miliknya sendiri, yang ia simpan rapi di bawah kasur lepek yang ditidurinya.
Jadi bagaimana mungkin selisihnya sejauh itu. Kalau selisihnya sedikit sih ngga apa-apa, sangat manusiawi sekali. Tapi ini, benar-benar kelewatan. Batinnya kisruh.
“Rek dibayar moal. Malah bengong deui…” sungut Bi Ijah mengingatkannya dari lamunan.
Rahmat tersentak. Ia baru sadar kalau ia sedari tadi masih berdiri mematung di warung makan itu.
“Ya, udah, Bi. Nih, 40 ribu heula. Rahmat ambil yang tiga puluhnya dulu…” ucapnya akhirnya mengalah pasrah. Wajahnya sendu sambil melangkah meninggalkan warung nasi itu. Sementara itu Bi Ijah tersenyum penuh kemenangan. Berhasil mengelabui pemuda tanggung berwajah ganteng itu. Hatinya membuncah gembira.
♥♥♥
Rahmat menatap tetesan air hujan yang jatuh ke atas ember di hadapannya. Suara gemuruh hujan yang menderu di atas atap yang sudah lapuk itu berkolaborasi dengan suara kilat, guntur dan air yang berkelotak masuk keember. Seperti sebuah simfoni indah yang kerap menemani kesunyiannya dalam kesendirian. Hanya sesekali tikus-tikus got yang sangat besar dan menjijikkan melongok kesendiriannya.
Hatinya pilu. Air matanya berloncatan membasahi pipi mulusnya seolah berlomba dengan air hujan di luar sana. Ia sedih sekali. Menghadapi masalah demi masalah yang seolah-olah bertubi-tubi menghampiri. Belum selesai masalah yang satu muncul kembali masalah yang lain.
Bermula dari rusaknya radio butut yang kerap menemani dendang sunyi hatinya. Lalu charger-nya. Masalah dengan para satpam yang tak jua mau membayar hutang-hutangnya. Pemutusan aliran listrik. Teman baiknya yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri, telah pergi menjauhinya. Meski ia sadar itu akibat ulahnya sendiri, tapi ia kan sudah minta maaf. Tapi mengapa ia masih saja mengabaikan semua sms dan telpon darinya. Ia tak mengerti. Begitu besarkah dosa keisengannya itu?
Lalu seorang gadis dari pesantren putri yang tinggal di daerah sekitar situ juga yang terus menerus mengejar-ngejarnya. Mengharapkan ia menjadi kekasihnya. Itu pun atas kebodohannya sendiri yang telah bermain api dengan gadis itu.
Juga ulah para preman yang kerap mengambil dagangannya tanpa membayar sepeser pun. Mereka juga berjudi serta mabuk-mabukan di depan kiosnya hingga larut malam, hingga mengganggu aktifitas tidurnya. Yang seharusnya ia bisa tidur lebih awal, ini ia harus rela bergadang karena para preman itu melarangnya menutup kiosnya tersebut.
Belum lagi ingatannya harus dirampas paksa oleh bayang-bayang kehadiran Bapak-Ibunya, yang berusaha ia lukis dalam jagat ingatannya akan seraut wajah-wajah yang sama sekali belum pernah ia lihat dan ia kenal. Kecuali melalui rangkaian cerita Nini dan Aki yang sering mereka dongengkan untuk mengantarkannya ke alam mimpi. Di saat ia masih kecil.
“Akiii…Niniii…! Rahmat kangeeen…huhuuuu….” Teriaknya pilu sambil menahan gigil tangis yang merayapi hatinya.
“Ya, Rabb…mengapa Kau membiarkan aku hidup, kalau kepedihan, penderitaan dan nestapa selalu menemani hidupku. Aku tak kuat menanggungnya..ya, Allah…” ratapnya seraya memeluk bantal lepek, lusuh dan bau karena sudah beberapa hari belum ia cuci sarungnya. Karena ia terus berkubang dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Tiba-tiba ia tersentak saat ponselnya menjerit nyaring, tanda pesan pendek masuk. Empat pesan pendek memenuhi inbox-nya. Ia baca tulisan yang tertera di layar ponsel itu satu per satu.
“Jgn brsedih, adikku..krna Allah akn sllu brsamaMu. Jgn nangis, tar ga gnteng lagi loh hehe…qm jg msh pnya akang. Yg akn sllu ada utkmu, jk Rahmt mmbutuhkn bntuan akng, oke. Usbur ba’a…!”
Rahmat tersenyum membaca sms dari Kang Deni, seseorang yang telah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Ia selalu menghibur di saat ia bersedih. Dan selalu memberinya spirit. Kekuatan agar ia terus bertahan dalam menghadapi kehidupan ini.
“Ingat, adik kecilku. Allah sngat sayang pdmu hingga Ia mmberikan rentetan ujian padamu. Dan tak ada ujian yg diberikan-Nya, diluar batas kmampuanmu utk menanggungnya. Bkn qm aza yg pnya mslah tth juga punya kok hehe…! Jgn sedih lg ya, sayang…” Sms dari Teh Mutia. Rahmat tersenyum.
“Sabar ya, ustad Mansur hehe…nasibmu sama denganku. Bedanya, Rahmat kebocoran, kalo Nadia kebanjiran hehe…! Doaku sllu menyertaimu, saudaraku…” Sms dari Teh Nadia. Rahmat tertawa kecil.
“Anjar akn sllu mndoakan Kang Rahmat. Agr sllu tabah dlm mnghadpi berbagai ujian dari-Nya, amin…” Sms dari Dek Anjar. Hatinya membuncah gembira.
Ia terharu membaca sms-sms itu, hatinya semakin gerimis atas perhatian demi perhatian dari orang-orang yang telah menganggapnya saudara mereka sendiri. Meski mereka beda usia, beda kehidupan dan beda perjalanan hidupnya.
Namun yang pasti mereka semua menyayanginya. Dan itu adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untuknya.
Air matanya terus berderai-derai membasahi pipi mulusnya. Menangisnya kini bukan karena beban kesedihan yang menghimpitnya. Tapi tangisan yang syarat akan kebahagiaan. Bahagia dipertemukan dengan orang-orang yang lembut hatinya.
“Terima kasih ya, Allah…Alhamdulillah…telah Kau pertemukan hamba dengan orang-orang yang baik hati dan perhatian sama Rahmat. Duh, indahnya ukhuwah dalam Islam itu. Dan akulah bukti yang merasakan keindahan persaudaraan dalam Islam itu…”
♥♥♥
“Wah, gimana ya, Pak. Hutang Bapak yang kemarin-kemarin aja belom bayar…” jawab pemuda bernama Rahmat itu keberatan dengan permintaan satpam tersebut.
“Tenang sih, Mat. Nanti besok juga saya bayar,” ucapnya menggampangkan seperti yang sudah-sudah. Besok, besok, besok saja sampai akhirnya hutangnya bertumpuk. Meninggalkan deretan panjang angka-angka di buku khusus orang yang berhutang. Alias bon.
“Kemaren Bapak juga ngomong gitu. Tapi mana buktinya, belom bayar juga,” Rahmat menyabar-nyabarkan diri. Padahal ia sudah kesal sekali pada lelaki tersebut.
Mengingat hubungan baik yang harus dijalinnya dengan para pekerja di pabrik itu terpaksa ia harus menahan diri untuk tidak membentak-bentak lelaki itu. Maklum, untuk kebutuhannya akan air bersih, baik untuk minum, mandi maupun mencuci. Ia harus memasuki kawasan pabrik.
Dan meski untuk kebutuhan akan air itu ia harus mengeluarkan modal. Yaitu membuatkan keempat satpam yang ada di pabrik itu kopi setiap harinya. Baik itu pagi, siang atau malam hari. Tergantung giliran jaga mereka.
“Kamu nggak percaya sama saya, Mat?” ucap satpam itu seraya mengambil sebungkus rokok yang disodorkan kepadanya dengan raut wajah tak senang.
Rahmat menghela nafas. Mengusir rasa geram yang bercokol dihatinya.
“Bukan begitu, Pak. Masalahnya…”
Dengan runut dan pelan pemuda berparas ganteng itu menceritakan kesulitan yang harus dihadapinya kalau satpam itu tak segera membayar hutangnya. Dari kemarahan sang pemilik kios rokok itu karena tak adanya pemasukan, hingga ketiadaan uang untuk ia belanja lagi. Memutar kelangsungan kios rokok itu.
“Bagaimana mau ada pemasukan, kalau uang dari rokok dihutang, Bapak. Sementara keuntungan dari rokok kan itu tipiiis sekali,” ucapnya gemas dalam hati.
Satpam itu terdiam mendengar penuturan pemuda dihadapannya. Sebenarnya ia kasihan dengan nasib yang dialami pemuda itu. Bukannya ia tak mengerti akan permasalahan yang dihadapinya. Tapi kalau ia tak berhutang, maka ia tak bisa merokok. Karena seluruh penghasilannya sebagai satpam itu harus ia setorkan pada istrinya. Untuk kebutuhan anak-anaknya. Jadi ya terpaksa, jalan satu-satunya adalah berhutang. Meski ia harus menekan rasa malunya. Karena ia harus JJPD alias Janji-Janji Palsu Doang. Seperti para pejabat di atas sana, yang doyannya ber-JJPD.
“Ya udah ya, Mat. Entar juga saya bayar,” ucapnya enteng sambil berlalu dari warung reyot bahkan hampir roboh itu. Maklum sejak dua tahun kios rokok itu berdiri, sang pemiliknya sama sekali tak tergerak untuk memperbaiki kiosnya itu.
Sepeninggal satpam tersebut. Rahmat tercenung lama sekali. Memikirkan ulah para satpam itu.
Jumlah satpam di pabrik itu ada empat orang. Dan keempat-empatnya berhutang semua. Belum dibayar pula. Selain itu juga perlakuan mereka padanya amat sangat kurang menyenangkan. Bahkan ada juga yang jauh dari sopan.
Pernah seorang satpam yang berasal dari Batak, Pak Alek Sihombing namanya. Melemparkan kopi buatannya hingga gelasnya hancur, hanya karena ia salah membuatkan minuman. Satpam itu meminta dibuatkan kopi susu, namun ia buatkan kopi kental hitam. Ia berani melakukan itu karena Pak Heri, satpam yang berasal dari Sumedang mengusulkan hal itu padanya. Lalu ia turuti. Hasilnya, gelas itu hancur berkeping-keping. Dan itu artinya ia akan dimarahi oleh bosnya, juga harus mengganti gelas itu dengan menyunat gajinya yang tak seberapa itu hingga tumpul.
Ada lagi satpam yang berasal dari Makasar, Pak Ranupae namanya. Lelaki itu pernah memaksanya untuk melakukan perbuatan kaum Nabi Luth dengannya. Waktu itu Pak Ranupae sedang mabuk, lalu ia mendatangi kiosnya. Dan langsung menerkamnya dan berusaha menggumulinya. Tubuh kurusnya tak kuasa melawan tubuh gorilla lelaki itu.
Untung saja Allah masih sangat menyayanginya dengan segera mendatangkan pertolongan. Seorang karyawan yang akan bekerja shif 3, Galang namanya, memergoki perbuatan itu. Dan menghajar satpam itu hingga babak belur. Galang tidak terima melihat perlakuan tidak senonoh itu terjadi pada orang yang telah berbaik hati menghutanginya setiap hari. Walau buntut dari peristiwa itu Galang harus rela di keluarkan dari perusahaan tempat ia menggantungkan hidupnya selama ini.
Rahmat buru-buru menghapus air yang menggenangi matanya. Mengingat kejadian naas itu, ia selalu saja dihantui perasaan bersalah. Kalau saja Galang tidak melakukan pemukulan itu untuk menolongnya, mungkin pemuda itu tak akan dikeluarkan dari pekerjaannya.
Entah bagaimana nasib pemuda yang lembut hatinya itu sekarang. Semenjak peristiwa itu ia belum mengetahui kabar beritanya. Hanya doa yang bisa ia panjatkan kehadirat-Nya, agar Galang segera diberi pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Rahmat menghela nafasnya. Membuang sejumput galau yang menggayuti hatinya. Ia langsung bangkit dari duduknya, saat mendengar jeritan nyaring dari ponselnya. Ada panggilan masuk rupanya. Baru ia akan menjangkau ponsel miliknya, layar ponsel itu berkedip sebentar lalu mati. Low bet. Ia ingat belum men-charged poselnya itu karena aliran listrik ke kios itu di putus oleh pemilik warung nasi di sebelah kanannya berjualan.
♥♥♥
Rahmat berjalan dengan langkah gontai mendatangi pemilik warung makan itu, menanyakan alasan mengapa memutus aliran listrik. Padahal ia tak pernah telat membayar uang listrik itu setiap bulannya.
“Permisi, Mang Juned…” ucapnya mendekati lelaki paruh baya yang sedang menggepruk batu es di sudut warung makannya.
“Ada apa,” Tanya Mang Juned tak bersahabat. Melirik sebal kearahnya sebentar lalu kembali pada kegiatannya menggepruk batu-batu es.
“Kenapa aliran listrik ke saya diputus…” ucap Rahmat bersabar melihat tingkah orang yang sangat pantas menjadi bapaknya itu namun kelakuannya seperti anak kecil saja.
“Ya, jelas dong saya putus. Orang situ belum bayar listrik bulan ini,” jawabnya ketus.
“Loh, Mamang gimana sih, bukannya bayarnya nanti tanggal 28. Sekarangkan baru tanggal 22, Mang,”
“Ah, sekarang mah harus tanggal 20 bayarnya, itu paling lambat. Nggak tau apa, bayar listrik sekarang mahal,” ucapnya sambil mengetrok batu es itu hingga hancur.
Rahmat tersengat. Getokan pada batu es itu seolah mewakili getokan pada kepalanya. Darah mudanya berdesir hangat menjalari setiap pembuluh darahnya. Menggumpal memenuhi syaraf amarahnya.
“Tapi kan, Mamang tau sendiri kalau penggunaan listrik ke saya tak seberapa. Cuma tiga lampu, Mang. Trus saya juga nggak pake apa-apa. Radio saya udah pensiun karena rusak dari kemaren-kemaren. Paling-paling saya cuma ngecas HP, itu pun sehari cuma sekali,” ucapnya panjang lebar membela diri.
“Terserah. Saya nggak mau tau. Kalau kamu nggak bayar hari ini, ya nggak saya alirin…” ucapnya keras sekali. Hingga beberapa pengunjung warung makan itu melirik ke arah mereka. Mencuri dengar apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang yang sedang bertikai itu.
Rahmat menundukkan wajahnya. Ia malu sekali. Karena beberapa orang dari pengunjung warung makan itu juga langganan belanja di kios rokoknya.
“Ya, udah atuh Mang. Saya ambil duitnya dulu,” ucap Rahmat mengalah. Ia memang sudah terbiasa mengalah untuk segala hal. Mungkin sudah menjadi suratan nasibnya. Mengalah dan mengalah. Pikirnya getir.
Padahal kalau pemutusan aliran listrik itu hanya karena hal sepele seperti itu, mengapa tak dikatakan saja. Tidak perlu pakai memutuskan aliran listrik segala. Toh, ia juga akan mengalah membayar listrik itu tanpa harus ada keributan seperti itu.
“Nah, begitu kan enak…” sambar Bi Ijah, istrinya Mang Juned judes. Berteriak lantang dari dapur, tempat dimana ia sedang sibuk memasak untuk keperluan warung nasinya itu.
Berbicara soal Bi Ijah, Rahmat juga masih menyimpan seribu dongkol pada wanita bermulut pedas itu. Ia yang selama ini rutin makan di tempat itu, tiba-tiba harus dihadapkan pada sejumlah bon yang harus dibayarnya. Tapi jumlahnya tidak sama dengan apa yang dicatat di buku bonnya.
Rahmat memang punya kebiasaan ngebon setiap makan di warung nasi itu. Dan setiap akhir bulan saat para karyawan pabrik melunasi hutang-hutangnya pada kios rokoknya. Ia juga akan membayar hutang makannya pada Bi Ijah. Dan ia tak pernah lupa untuk mencatat jumlah hutangnya setiap ia habis makan di warung itu.
Namun kejadian kemarin membuatnya harus menelan pil pahit kekecewaan. Ia harus membayar sejumlah uang di luar batas nominal pengeluarannya selama ini.
“Loh, Bi. Hutang saya gede amat. Setau saya, hutang saya cuma 40 ribu. Kok ini bisa jadi 70 ribu. Saya nggak ngerti,” ucapnya protes saat ia akan melunasi hutang makannya bulan kemarin.
“Yeuh, catatannya ada. Saya mah moal bakal bohong,” ucap Bi Ijah getas, penuh penekanan.
Rahmat menghela nafasnya. Berat. Entah mengapa wanita gendut dihadapannya ini selalu saja kasar, keras dan cerewet kalau berbicara. Semula ia pikir, wanita ini hanya padanya saja berprilaku tak menyenangkan seperti itu. Namun ternyata pada semua orang pun dia melakukannya.
Andai warung nasi lainnya tak sejauh itu letaknya dari pabrik. Ia yakin, dagangan wanita itu sudah tak laku. Karena sebagian karyawan yang belanja di kiosnya sering sekali mengeluhkan prilaku wanita bertubuh subur itu.
“Saya juga ada catatannya, Bi. Hutang saya tuh cuma 40 ribu doang…” ucap Rahmat berusaha meyakinkan wanita berwajah masam itu pelan. Berusaha menekan perasaan muak yang melingkupinya.
“Kamu tuh, kalau nggak mau bayar hutang bilang atuh. Nggak usah banyak alesan sagala,”
“Yang nggak mau bayar hutang siapa, Bi? Saya cuma bilang, kalau hutang saya cuma 40 ribu, itu aja. Naha jadi ngelantur kamana-mana,” jawab Rahmat emosi dengan logat Sundanya yang medok.
“Lagian kamunya juga sih. Udah jelas catetannya 70 ribu, kamu malah ngotot bilang 40 ribu. Gimana sih. Masih mending kamu boleh ngahutang disini. Di tempat laen mah moal aya anu daek ngahutangan,yeuh,” ucapnya ngotot hingga mulutnya berbusa-busa. Dan urat lehernya bertonjolan.
Rahmat terdiam. Berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Catatan siapa sebenarnya yang salah. Miliknya atau milik Bi Ijah. Tapi ia yakin, seyakin-yakinnya kalau hutangnya itu hanya 40 ribu rupiah, tak kurang dan tak lebih. Ia belum pikun. Dan ia juga sangat teliti mengenai hutang piutang itu. Tak sekali pun ia lupa untuk mencatat bon pembeliannya pada bon miliknya sendiri, yang ia simpan rapi di bawah kasur lepek yang ditidurinya.
Jadi bagaimana mungkin selisihnya sejauh itu. Kalau selisihnya sedikit sih ngga apa-apa, sangat manusiawi sekali. Tapi ini, benar-benar kelewatan. Batinnya kisruh.
“Rek dibayar moal. Malah bengong deui…” sungut Bi Ijah mengingatkannya dari lamunan.
Rahmat tersentak. Ia baru sadar kalau ia sedari tadi masih berdiri mematung di warung makan itu.
“Ya, udah, Bi. Nih, 40 ribu heula. Rahmat ambil yang tiga puluhnya dulu…” ucapnya akhirnya mengalah pasrah. Wajahnya sendu sambil melangkah meninggalkan warung nasi itu. Sementara itu Bi Ijah tersenyum penuh kemenangan. Berhasil mengelabui pemuda tanggung berwajah ganteng itu. Hatinya membuncah gembira.
♥♥♥
Rahmat menatap tetesan air hujan yang jatuh ke atas ember di hadapannya. Suara gemuruh hujan yang menderu di atas atap yang sudah lapuk itu berkolaborasi dengan suara kilat, guntur dan air yang berkelotak masuk keember. Seperti sebuah simfoni indah yang kerap menemani kesunyiannya dalam kesendirian. Hanya sesekali tikus-tikus got yang sangat besar dan menjijikkan melongok kesendiriannya.
Hatinya pilu. Air matanya berloncatan membasahi pipi mulusnya seolah berlomba dengan air hujan di luar sana. Ia sedih sekali. Menghadapi masalah demi masalah yang seolah-olah bertubi-tubi menghampiri. Belum selesai masalah yang satu muncul kembali masalah yang lain.
Bermula dari rusaknya radio butut yang kerap menemani dendang sunyi hatinya. Lalu charger-nya. Masalah dengan para satpam yang tak jua mau membayar hutang-hutangnya. Pemutusan aliran listrik. Teman baiknya yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri, telah pergi menjauhinya. Meski ia sadar itu akibat ulahnya sendiri, tapi ia kan sudah minta maaf. Tapi mengapa ia masih saja mengabaikan semua sms dan telpon darinya. Ia tak mengerti. Begitu besarkah dosa keisengannya itu?
Lalu seorang gadis dari pesantren putri yang tinggal di daerah sekitar situ juga yang terus menerus mengejar-ngejarnya. Mengharapkan ia menjadi kekasihnya. Itu pun atas kebodohannya sendiri yang telah bermain api dengan gadis itu.
Juga ulah para preman yang kerap mengambil dagangannya tanpa membayar sepeser pun. Mereka juga berjudi serta mabuk-mabukan di depan kiosnya hingga larut malam, hingga mengganggu aktifitas tidurnya. Yang seharusnya ia bisa tidur lebih awal, ini ia harus rela bergadang karena para preman itu melarangnya menutup kiosnya tersebut.
Belum lagi ingatannya harus dirampas paksa oleh bayang-bayang kehadiran Bapak-Ibunya, yang berusaha ia lukis dalam jagat ingatannya akan seraut wajah-wajah yang sama sekali belum pernah ia lihat dan ia kenal. Kecuali melalui rangkaian cerita Nini dan Aki yang sering mereka dongengkan untuk mengantarkannya ke alam mimpi. Di saat ia masih kecil.
“Akiii…Niniii…! Rahmat kangeeen…huhuuuu….” Teriaknya pilu sambil menahan gigil tangis yang merayapi hatinya.
“Ya, Rabb…mengapa Kau membiarkan aku hidup, kalau kepedihan, penderitaan dan nestapa selalu menemani hidupku. Aku tak kuat menanggungnya..ya, Allah…” ratapnya seraya memeluk bantal lepek, lusuh dan bau karena sudah beberapa hari belum ia cuci sarungnya. Karena ia terus berkubang dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Tiba-tiba ia tersentak saat ponselnya menjerit nyaring, tanda pesan pendek masuk. Empat pesan pendek memenuhi inbox-nya. Ia baca tulisan yang tertera di layar ponsel itu satu per satu.
“Jgn brsedih, adikku..krna Allah akn sllu brsamaMu. Jgn nangis, tar ga gnteng lagi loh hehe…qm jg msh pnya akang. Yg akn sllu ada utkmu, jk Rahmt mmbutuhkn bntuan akng, oke. Usbur ba’a…!”
Rahmat tersenyum membaca sms dari Kang Deni, seseorang yang telah menganggapnya seperti adiknya sendiri. Ia selalu menghibur di saat ia bersedih. Dan selalu memberinya spirit. Kekuatan agar ia terus bertahan dalam menghadapi kehidupan ini.
“Ingat, adik kecilku. Allah sngat sayang pdmu hingga Ia mmberikan rentetan ujian padamu. Dan tak ada ujian yg diberikan-Nya, diluar batas kmampuanmu utk menanggungnya. Bkn qm aza yg pnya mslah tth juga punya kok hehe…! Jgn sedih lg ya, sayang…” Sms dari Teh Mutia. Rahmat tersenyum.
“Sabar ya, ustad Mansur hehe…nasibmu sama denganku. Bedanya, Rahmat kebocoran, kalo Nadia kebanjiran hehe…! Doaku sllu menyertaimu, saudaraku…” Sms dari Teh Nadia. Rahmat tertawa kecil.
“Anjar akn sllu mndoakan Kang Rahmat. Agr sllu tabah dlm mnghadpi berbagai ujian dari-Nya, amin…” Sms dari Dek Anjar. Hatinya membuncah gembira.
Ia terharu membaca sms-sms itu, hatinya semakin gerimis atas perhatian demi perhatian dari orang-orang yang telah menganggapnya saudara mereka sendiri. Meski mereka beda usia, beda kehidupan dan beda perjalanan hidupnya.
Namun yang pasti mereka semua menyayanginya. Dan itu adalah anugerah terindah yang diberikan Allah untuknya.
Air matanya terus berderai-derai membasahi pipi mulusnya. Menangisnya kini bukan karena beban kesedihan yang menghimpitnya. Tapi tangisan yang syarat akan kebahagiaan. Bahagia dipertemukan dengan orang-orang yang lembut hatinya.
“Terima kasih ya, Allah…Alhamdulillah…telah Kau pertemukan hamba dengan orang-orang yang baik hati dan perhatian sama Rahmat. Duh, indahnya ukhuwah dalam Islam itu. Dan akulah bukti yang merasakan keindahan persaudaraan dalam Islam itu…”
♥♥♥
Nah, Loh...
Kusingkirkan buku yang ada dipangkuanku. Dan kucopot kaca mata yang bertengger dihidungku. Ugh! Capek juga dari tadi membaca buku. Pusing. Perlahan kurebahkan kepalaku kesandaran sofa, lalu kuraih remote teve.
Klik! Kutekan tombol power-nya.
“Selamat sore pamiarsa muda. Berjumpa kembali bersama saya… Dalam acara reality show pertama di Indonesia. Yaitu acara tembak menembak pasangan. Dalam acara…”
Klik! Chanel kuganti.
Acara apaan tuh, mengajak orang untuk berbuat maksiat.
“Jangan diganti, Teteh! Lagi seru juga!” teriak Andin tiba-tiba.
Ugh! Bikin kaget saja, dikira ada apa.
Ia merebut remote dari tanganku. Dan duduk paling depan menghadapi layar teve. Aku menggeleng-gelengka kepala. Heran, acara seperti itu kok digandrungi. Padahalkan tidak mendidik.
“Ih.., bego banget tuh cowok! Ditembak cewek kok lari. Nurunin harga diri cewek aja!” Andin menggerutu sendiri.
Idih.., si Andin sewot. Ada juga tuh cewek kali yang gak punya harga diri.
Sudah tahu cowoknya tidak mau, masih dikejar-kejar juga. Jaga izah dong.
“Jomblo berkualitas minggu ini adalah seorang cewek manis, cantik..,” presenter itu dengan semangatnya mempromosikan cewek jomblo itu.
Cewek cantik kok promosi, tidak laku-laku apa? Terlalu pilih-pilih kali, yee..., padahal kriteria pasangan yang baik dalam Islam kan, yang baik agamanya.
“Teteh…! Asyik kali ya, kalau Andin masuk HQJ, hehe..,” ucapnya konyol.
“Kamu, Din?” Andin mengangguk, “Kamu mah gak laku, Din! Abis..., Low Quality sih, hehe..,” gurauku tak kalah konyol.
Andin cemberut. “Ampun deh si Teteh. Adeknya bukan didukung, ini malah dibuat down,” Ia manyun.
“Idih kebagusan! Ngedukung kamu? Tak use, yee…! Kalau kamu ikut pengajian, baru Teteh dukung.”
“Tak use juge, yee…! Ngapain ikut pengajian? Gak level”
Aku melotot. “Gak level? Ngaji dibilang gak level? Kelewatan anak ini. Istigfar dong, Din…istigfar…”
“Astagfirallahaladzim…” ucapnya penuh penekanan “Udah, Teh, puas?” sementara matanya tak lepas dari layar kaca. Kelewatan.
Aku mengurut dada. “Acara picisan kayak gitu aja jadi tontonan wajib. Giliran ada acara Tausiah Aa Gym aja, boro-boro ditonton ngelirik aja ogah tralala” ucapku gemas.
“Jelas dong. Ngeliat apa tadi? Tahu-sia, hehe…males. Abis Aa-nya nyentil-nyetil mulu plus nyindir Andin supaya jadi wanita sholehah, berkerudung kayak Emak-emak…”
Sembarangan. Orang pakai jilbab dibilang mirip Emak-emak, tidak lihat apa, betapa sang Teteh terlihat anggun dan cantik begini, hihi…muji sorangan.
“Ya, ampuuun…ditolak!” teriak Andin mengagetkanku lagi. “Ganteng-ganteng gitu kok ditolak. Coba kalau gue yang ditembak, Ugh! With all my heart..,” ceracaunya kacau.
Ugh! Dasar!
Kualihkan pandanganku ke layar teve. Seorang cewek berjilbab sedang ditembak oleh cowok yang lumayan keren.
Syukurin! Tuh cowok ditolak, cian deh…!
Tidak peka sekali tuh cowok. Sudah tahu cewek berjilbab, masih diganggu-ganggu juga.
@@@
“Nis! Tau nggak?”
“Nggak!”
Afi manyun. Lucu sih, baru datang kok ditanya-tanya. Enggak nyambunglah…
“Dooo…segitu sewotnya,” kujawil pipinya, “Ada apa?”
Aku menghempaskan tubuhku ke kursi. Dan menghadap ke arahnya.
“Cewek yang ditembak di teve kemarin tuh ternyata jadian loh! Muna’ ya? Di teve aja berlagak gak butuh. Padahal kegeeran tuh!” cerosos Afi sewot.
Setelah terdiam sesaat. Aku baru ngeh’ apa yang diocehkan Afi barusan. Ternyata, tentang acara itu.
Ihh…aku kira ngomong apaaa…gitu! Tidak bermutu sekili sih.
“Kamu tahu dari mana, Fi? Bisa jadi itu hanya gosip!” ujarku acuh tak acuh.
“Ih, bener, Nis. Cewek itu kan, temennya Ririn. Ya kan, Rin?” todongnya pada Ririn yang sedang asyik menekuri bukunya.
“He-eh,” ditutupnya buku yang dipegangnya, “Padahal si Nina itu terkenal alim, loh! Heran deh, bisa berubah gitu. Gak malu apa, ya? Pada jilbab yang dipakainya.”
Ya, Allah. Tak kusangka sohib-sohibku hobi gosip juga.
“Eh, Nis. Kalau kamu kejadian ditembak kayak temennya Ririn, gimana?” tanya Afi culun.
“Aku? Tak use, yee! Emangnya aku akhwat apaan?” elakku cepat. Yang bener saja. Ditembak?
Hiiiy…gak kebayang deh, bisa mati aku!
“Ah, yang bener?” goda Ririn konyol.
“Pacaran? Gak ada kamusnya, Non! Jagalah hati....” timpalku bernyanyi.
“Aku sih mau aja ditembak…” Ririn cengar-cengir.
Aku melongo. “Kamu, Rin?”
Ririn mengangguk. “Tapi setelah ditembak gak pacaran lagi, but…langsung meried, hehe…”
“Udah kebelet nih ceritanya…” goda Afi mesem-mesem, “Perlu perantara, Rin?”
“Wualaaah…sok naik daun!” cibir Afi greget.
Ririn manyun. “Naik daun, emang ulet…”
“Iya, Rin. Ulet yang kebelet kawin, hehe…”
“Udah ah, becandanya” ucapku menengahi perbincangan yang tak ada juntrungannya itu. “Aku mau ke Perpus, ah…nyari buku, buat tugas Typografi”
Aku bangkit. Dan bergegas ke luar kelas.
“Aku ikuuut…!” teriak keduanya kompak.
@@@
Aku membolak-balik buku yang tergeletak dihadapanku. Sayup-sayup sampai terdengar percakapan, dua gadis yang duduk di seberang meja.
“Aku juga mau ditembak kalau cowok-cowoknya ganteng gitu. Seperti…” terdengar cekikikan halus keduanya.
Ya, Allah. Ternyata bukan hanya adikku aja yang keranjingan acara tersebut. Temen-temen sekelasku juga. Dan ini lagi dua cewek, masih sempat-sempatnya cekikikan di Perpus. Mau baca, apa mau bergosip sih? Kalau mau bergosip di luar napa!
Aku mengumam gemas.
“Apa, Nis?” Afi menyenggol bahuku.
“Enggak.”
“Saya mau menembak seorang cewek yang udah lama saya taksir..,” tiba-tiba saja seorang cowok memegang mic masuk ke dalam Perpus. Diikuti oleh seorang kamerawan.
Serentak semua penghuni Perpus menengok ke asal suara. Tanpa terkecuali. Yang serius membaca, mengangkat kepalanya. Yang sedang nyari-nyari buku di rak, ikut-ikutan menyembulkan kepala.
“Ada apa sih? Xyzzzzx...,” terdengar kasak-kusuk disana-sini. Berdengung seperti suara lebah.
“Arif..,” ucapku, Ririn dan Afi kompak. Kami saling berpandangan.
Arif adalah teman sekelas kami. Dia terkenal sebagai anak yang paling kalem dan pendiam di kelas. Benar-benar tak disangka.
“Mau menembak siapa, ya, si Arif?” Bisik Afi ke arahku.
“Tau…”
“Sudah lama saya memperhatikan cewek ini. Dia itu bla, bla, bla..,” ujar cowok itu semangat di depan para penghuni Perpus. Gayanya sudah seperti sales menawarkan dagangannya, hehe…
Semua masih H2C (Harap-harap Cemas) menuggu siapa yang akan ditembak cowok itu.
Tiba-tiba Arif mendekati meja dimana aku dan dua sohibku duduk. Cahaya lampu kamera menyorot ke arah kami.
Nah, loh…kami bertiga kan para jilbaber? Siapa coba yang mau ditembak? Si centil Afi, apa ya?
“Nisa, sebenarnya sudah lama aku mencintaimu..,” terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan suitan disana-sini.
“Nis, kamu ditembak!” Ririn mengagetkanku yang sama sekali belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Deg!
Jantungku melorot. Mukaku memerah. Panas.
Belum sempat kuanalisa apa yang sedang berlangsung. Seorang wanita menyorongkan mic-nya ke mulutku.
Aku beristigfar. Aku masuk acara…?
Apa-apaan ini? Tidak! Ini tak mungkin terjadi. Ini hanyalah mimpi! Bagaimana mungkin aku masuk acara yang selama ini aku anggap picisan.
Arif menyorongkan dua buku kehadapanku. Buku Indahnya Pernikahan Dini (IPD) dan Kupinang Kau Dengan Hamdalah (KKDH) karangan M.Fauzil Adim.
“Kalau memilih KKDH berarti kamu menerimaku. Kalau memilih IPD berarti kamu menolakku,” ujarnya memintaku memilih.
Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Perasaan malu dan terhina berbaur menjadi satu. Menggumpal didadaku.
Tega sekali si Arif melakukan ini padaku!
“Ayolah, Nis?” Ia memohon dengan wajah memelas.
Aku tak bergeming. Semua yang hadir menatap ke arahku. Menanti jawaban.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Ririn di kelas tadi.
Perlahan aku bangkit. Menarik nafas sesaat.
“Kuhargai keberanianmu untuk mengungkapkan perasaanmu padaku, Rif. Tapi..,” Aku menggantung ucapanku, “…akan sangat lebih aku hargai lagi, kalau kamu berani datang ke rumahku. Mengungkapkan semua perasaanmu kepada kedua orang tuaku. Untuk melamarku.”
Deg!
Wajah tampan dihadapanku terperangah. Memerah. Jengah.
Kembali dengungan terdengar disana-sini.
“Dan..,” Semua yang hadir terdiam, “…kalau kamu tak berani datang ke rumahku. Berarti, semua ucapanmu barusan hanyalah kebohongan belaka,” ucapku tajam.
“Terima kasih…” aku menyeruak diantara kerumunan orang. Dan bergegas pergi.
Tak kuhiraukan teriakan dua sohibku. Juga teriakan-teriakan lainnya. Hanya satu yang kuinginkan. Segera lari dari tempat ini. Kabur.
@@@
Setelah acara “aku ditembak Arif” tayang. Orang serumah pada geger. Terutama Andin.
“Salut deh sama Teteh, orang sekaliber Teteh ada yang nembak, hehe…kuereeen, nampang di teve euy!” ucap Andin semangat. Konyol.
“Boro-boro keren, Din. Teteh malu tau…” aku gemas.
“Makanya jangan suka mencela suatu tayangan, Teh” Andin menyalahkan, “Kena batunya deh, gak tanggung-tanggung ditembak lagi, haha…”
Andin ngakak, sejadi-jadinya.
Aku manyun.
Apa yang Andin ucapkan belum seberapa, dibandingkan ucapan orang-orang di komplek perumahan dimana aku tinggal.
“Neng Nisa geulis pisan aya di tivi…”
“Teh Nisa payah, cowok ganteng gitu kok ditolak…”
“Suiiit…suit…! Nisa, aku mencintaimu…”
“Kalau Aa yang tembak terus dilamar mau gak, Neng?” ucap tukang ojek yang mangkal dipersimpangan depan.
Menyebalkan…!
“Kok sebel sih, Nis. Kan bagus jadi seleb dadakan, hehe…” ucap Afi saat kutelpon untuk mengadukan kekesalanku.
“Boro-boro seleb, yang ada aku kelelep saking malunya” ucapku gemas. “Ini gara-gara si Arif sih pake acara nembak-nembak segala”
“Ya, udahlah, Nis. Ambil hikmahya aja…”
“Hikmah apaan?” jawabku sewot.
“Kali aja kamu tiba-tiba dilamar Arif, hehe…walimahan deh”
“Ngaco, kamu!”
Ting nong! Ting nong!
“Udah dulu ya, Fi. Ada suara bel tuh. Assalamualaikum…” kuletakkan gagang telpon di tempatnya. Kemudian bergegas ke arah pintu.
Clek…!
Pintu terkuak.
“Assalau’alaikum, Nis...,”
“A…Arif!” aku terperanjat melihatnya. Ia berdiri tegak di ambang pintu.
“Iya, ini aku…” ucapnya tersenyum manis.
“Ada perlu apa?” tanyaku, setelah hilang rasa gugupku.
“Lha, menurutmu, aku harus berani datang ke rumahmu. Apabila ingin melamarmu. Dan sekarang aku datang bersama kedua orang tuaku, untuk melamarmu,” ucapnya telak mengenaiku.
“Ini Papa-Mamaku…”
Nah, loh!
Aku terpaku. Tak tahu apa yag harus kuucapkan.
“Saha, Nis?” gawat! Mama! “Kok tamunya gak disuruh..,”
Gabruk…!!!
Aku jatuh tersungkur. Dan semuanya menjadi gelap.
@@@
Klik! Kutekan tombol power-nya.
“Selamat sore pamiarsa muda. Berjumpa kembali bersama saya… Dalam acara reality show pertama di Indonesia. Yaitu acara tembak menembak pasangan. Dalam acara…”
Klik! Chanel kuganti.
Acara apaan tuh, mengajak orang untuk berbuat maksiat.
“Jangan diganti, Teteh! Lagi seru juga!” teriak Andin tiba-tiba.
Ugh! Bikin kaget saja, dikira ada apa.
Ia merebut remote dari tanganku. Dan duduk paling depan menghadapi layar teve. Aku menggeleng-gelengka kepala. Heran, acara seperti itu kok digandrungi. Padahalkan tidak mendidik.
“Ih.., bego banget tuh cowok! Ditembak cewek kok lari. Nurunin harga diri cewek aja!” Andin menggerutu sendiri.
Idih.., si Andin sewot. Ada juga tuh cewek kali yang gak punya harga diri.
Sudah tahu cowoknya tidak mau, masih dikejar-kejar juga. Jaga izah dong.
“Jomblo berkualitas minggu ini adalah seorang cewek manis, cantik..,” presenter itu dengan semangatnya mempromosikan cewek jomblo itu.
Cewek cantik kok promosi, tidak laku-laku apa? Terlalu pilih-pilih kali, yee..., padahal kriteria pasangan yang baik dalam Islam kan, yang baik agamanya.
“Teteh…! Asyik kali ya, kalau Andin masuk HQJ, hehe..,” ucapnya konyol.
“Kamu, Din?” Andin mengangguk, “Kamu mah gak laku, Din! Abis..., Low Quality sih, hehe..,” gurauku tak kalah konyol.
Andin cemberut. “Ampun deh si Teteh. Adeknya bukan didukung, ini malah dibuat down,” Ia manyun.
“Idih kebagusan! Ngedukung kamu? Tak use, yee…! Kalau kamu ikut pengajian, baru Teteh dukung.”
“Tak use juge, yee…! Ngapain ikut pengajian? Gak level”
Aku melotot. “Gak level? Ngaji dibilang gak level? Kelewatan anak ini. Istigfar dong, Din…istigfar…”
“Astagfirallahaladzim…” ucapnya penuh penekanan “Udah, Teh, puas?” sementara matanya tak lepas dari layar kaca. Kelewatan.
Aku mengurut dada. “Acara picisan kayak gitu aja jadi tontonan wajib. Giliran ada acara Tausiah Aa Gym aja, boro-boro ditonton ngelirik aja ogah tralala” ucapku gemas.
“Jelas dong. Ngeliat apa tadi? Tahu-sia, hehe…males. Abis Aa-nya nyentil-nyetil mulu plus nyindir Andin supaya jadi wanita sholehah, berkerudung kayak Emak-emak…”
Sembarangan. Orang pakai jilbab dibilang mirip Emak-emak, tidak lihat apa, betapa sang Teteh terlihat anggun dan cantik begini, hihi…muji sorangan.
“Ya, ampuuun…ditolak!” teriak Andin mengagetkanku lagi. “Ganteng-ganteng gitu kok ditolak. Coba kalau gue yang ditembak, Ugh! With all my heart..,” ceracaunya kacau.
Ugh! Dasar!
Kualihkan pandanganku ke layar teve. Seorang cewek berjilbab sedang ditembak oleh cowok yang lumayan keren.
Syukurin! Tuh cowok ditolak, cian deh…!
Tidak peka sekali tuh cowok. Sudah tahu cewek berjilbab, masih diganggu-ganggu juga.
@@@
“Nis! Tau nggak?”
“Nggak!”
Afi manyun. Lucu sih, baru datang kok ditanya-tanya. Enggak nyambunglah…
“Dooo…segitu sewotnya,” kujawil pipinya, “Ada apa?”
Aku menghempaskan tubuhku ke kursi. Dan menghadap ke arahnya.
“Cewek yang ditembak di teve kemarin tuh ternyata jadian loh! Muna’ ya? Di teve aja berlagak gak butuh. Padahal kegeeran tuh!” cerosos Afi sewot.
Setelah terdiam sesaat. Aku baru ngeh’ apa yang diocehkan Afi barusan. Ternyata, tentang acara itu.
Ihh…aku kira ngomong apaaa…gitu! Tidak bermutu sekili sih.
“Kamu tahu dari mana, Fi? Bisa jadi itu hanya gosip!” ujarku acuh tak acuh.
“Ih, bener, Nis. Cewek itu kan, temennya Ririn. Ya kan, Rin?” todongnya pada Ririn yang sedang asyik menekuri bukunya.
“He-eh,” ditutupnya buku yang dipegangnya, “Padahal si Nina itu terkenal alim, loh! Heran deh, bisa berubah gitu. Gak malu apa, ya? Pada jilbab yang dipakainya.”
Ya, Allah. Tak kusangka sohib-sohibku hobi gosip juga.
“Eh, Nis. Kalau kamu kejadian ditembak kayak temennya Ririn, gimana?” tanya Afi culun.
“Aku? Tak use, yee! Emangnya aku akhwat apaan?” elakku cepat. Yang bener saja. Ditembak?
Hiiiy…gak kebayang deh, bisa mati aku!
“Ah, yang bener?” goda Ririn konyol.
“Pacaran? Gak ada kamusnya, Non! Jagalah hati....” timpalku bernyanyi.
“Aku sih mau aja ditembak…” Ririn cengar-cengir.
Aku melongo. “Kamu, Rin?”
Ririn mengangguk. “Tapi setelah ditembak gak pacaran lagi, but…langsung meried, hehe…”
“Udah kebelet nih ceritanya…” goda Afi mesem-mesem, “Perlu perantara, Rin?”
“Wualaaah…sok naik daun!” cibir Afi greget.
Ririn manyun. “Naik daun, emang ulet…”
“Iya, Rin. Ulet yang kebelet kawin, hehe…”
“Udah ah, becandanya” ucapku menengahi perbincangan yang tak ada juntrungannya itu. “Aku mau ke Perpus, ah…nyari buku, buat tugas Typografi”
Aku bangkit. Dan bergegas ke luar kelas.
“Aku ikuuut…!” teriak keduanya kompak.
@@@
Aku membolak-balik buku yang tergeletak dihadapanku. Sayup-sayup sampai terdengar percakapan, dua gadis yang duduk di seberang meja.
“Aku juga mau ditembak kalau cowok-cowoknya ganteng gitu. Seperti…” terdengar cekikikan halus keduanya.
Ya, Allah. Ternyata bukan hanya adikku aja yang keranjingan acara tersebut. Temen-temen sekelasku juga. Dan ini lagi dua cewek, masih sempat-sempatnya cekikikan di Perpus. Mau baca, apa mau bergosip sih? Kalau mau bergosip di luar napa!
Aku mengumam gemas.
“Apa, Nis?” Afi menyenggol bahuku.
“Enggak.”
“Saya mau menembak seorang cewek yang udah lama saya taksir..,” tiba-tiba saja seorang cowok memegang mic masuk ke dalam Perpus. Diikuti oleh seorang kamerawan.
Serentak semua penghuni Perpus menengok ke asal suara. Tanpa terkecuali. Yang serius membaca, mengangkat kepalanya. Yang sedang nyari-nyari buku di rak, ikut-ikutan menyembulkan kepala.
“Ada apa sih? Xyzzzzx...,” terdengar kasak-kusuk disana-sini. Berdengung seperti suara lebah.
“Arif..,” ucapku, Ririn dan Afi kompak. Kami saling berpandangan.
Arif adalah teman sekelas kami. Dia terkenal sebagai anak yang paling kalem dan pendiam di kelas. Benar-benar tak disangka.
“Mau menembak siapa, ya, si Arif?” Bisik Afi ke arahku.
“Tau…”
“Sudah lama saya memperhatikan cewek ini. Dia itu bla, bla, bla..,” ujar cowok itu semangat di depan para penghuni Perpus. Gayanya sudah seperti sales menawarkan dagangannya, hehe…
Semua masih H2C (Harap-harap Cemas) menuggu siapa yang akan ditembak cowok itu.
Tiba-tiba Arif mendekati meja dimana aku dan dua sohibku duduk. Cahaya lampu kamera menyorot ke arah kami.
Nah, loh…kami bertiga kan para jilbaber? Siapa coba yang mau ditembak? Si centil Afi, apa ya?
“Nisa, sebenarnya sudah lama aku mencintaimu..,” terdengar suara gemuruh tepuk tangan dan suitan disana-sini.
“Nis, kamu ditembak!” Ririn mengagetkanku yang sama sekali belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Deg!
Jantungku melorot. Mukaku memerah. Panas.
Belum sempat kuanalisa apa yang sedang berlangsung. Seorang wanita menyorongkan mic-nya ke mulutku.
Aku beristigfar. Aku masuk acara…?
Apa-apaan ini? Tidak! Ini tak mungkin terjadi. Ini hanyalah mimpi! Bagaimana mungkin aku masuk acara yang selama ini aku anggap picisan.
Arif menyorongkan dua buku kehadapanku. Buku Indahnya Pernikahan Dini (IPD) dan Kupinang Kau Dengan Hamdalah (KKDH) karangan M.Fauzil Adim.
“Kalau memilih KKDH berarti kamu menerimaku. Kalau memilih IPD berarti kamu menolakku,” ujarnya memintaku memilih.
Aku terpaku. Tak tahu harus berbuat apa. Perasaan malu dan terhina berbaur menjadi satu. Menggumpal didadaku.
Tega sekali si Arif melakukan ini padaku!
“Ayolah, Nis?” Ia memohon dengan wajah memelas.
Aku tak bergeming. Semua yang hadir menatap ke arahku. Menanti jawaban.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Ririn di kelas tadi.
Perlahan aku bangkit. Menarik nafas sesaat.
“Kuhargai keberanianmu untuk mengungkapkan perasaanmu padaku, Rif. Tapi..,” Aku menggantung ucapanku, “…akan sangat lebih aku hargai lagi, kalau kamu berani datang ke rumahku. Mengungkapkan semua perasaanmu kepada kedua orang tuaku. Untuk melamarku.”
Deg!
Wajah tampan dihadapanku terperangah. Memerah. Jengah.
Kembali dengungan terdengar disana-sini.
“Dan..,” Semua yang hadir terdiam, “…kalau kamu tak berani datang ke rumahku. Berarti, semua ucapanmu barusan hanyalah kebohongan belaka,” ucapku tajam.
“Terima kasih…” aku menyeruak diantara kerumunan orang. Dan bergegas pergi.
Tak kuhiraukan teriakan dua sohibku. Juga teriakan-teriakan lainnya. Hanya satu yang kuinginkan. Segera lari dari tempat ini. Kabur.
@@@
Setelah acara “aku ditembak Arif” tayang. Orang serumah pada geger. Terutama Andin.
“Salut deh sama Teteh, orang sekaliber Teteh ada yang nembak, hehe…kuereeen, nampang di teve euy!” ucap Andin semangat. Konyol.
“Boro-boro keren, Din. Teteh malu tau…” aku gemas.
“Makanya jangan suka mencela suatu tayangan, Teh” Andin menyalahkan, “Kena batunya deh, gak tanggung-tanggung ditembak lagi, haha…”
Andin ngakak, sejadi-jadinya.
Aku manyun.
Apa yang Andin ucapkan belum seberapa, dibandingkan ucapan orang-orang di komplek perumahan dimana aku tinggal.
“Neng Nisa geulis pisan aya di tivi…”
“Teh Nisa payah, cowok ganteng gitu kok ditolak…”
“Suiiit…suit…! Nisa, aku mencintaimu…”
“Kalau Aa yang tembak terus dilamar mau gak, Neng?” ucap tukang ojek yang mangkal dipersimpangan depan.
Menyebalkan…!
“Kok sebel sih, Nis. Kan bagus jadi seleb dadakan, hehe…” ucap Afi saat kutelpon untuk mengadukan kekesalanku.
“Boro-boro seleb, yang ada aku kelelep saking malunya” ucapku gemas. “Ini gara-gara si Arif sih pake acara nembak-nembak segala”
“Ya, udahlah, Nis. Ambil hikmahya aja…”
“Hikmah apaan?” jawabku sewot.
“Kali aja kamu tiba-tiba dilamar Arif, hehe…walimahan deh”
“Ngaco, kamu!”
Ting nong! Ting nong!
“Udah dulu ya, Fi. Ada suara bel tuh. Assalamualaikum…” kuletakkan gagang telpon di tempatnya. Kemudian bergegas ke arah pintu.
Clek…!
Pintu terkuak.
“Assalau’alaikum, Nis...,”
“A…Arif!” aku terperanjat melihatnya. Ia berdiri tegak di ambang pintu.
“Iya, ini aku…” ucapnya tersenyum manis.
“Ada perlu apa?” tanyaku, setelah hilang rasa gugupku.
“Lha, menurutmu, aku harus berani datang ke rumahmu. Apabila ingin melamarmu. Dan sekarang aku datang bersama kedua orang tuaku, untuk melamarmu,” ucapnya telak mengenaiku.
“Ini Papa-Mamaku…”
Nah, loh!
Aku terpaku. Tak tahu apa yag harus kuucapkan.
“Saha, Nis?” gawat! Mama! “Kok tamunya gak disuruh..,”
Gabruk…!!!
Aku jatuh tersungkur. Dan semuanya menjadi gelap.
@@@
Kalo Jodoh mah Gak Kemana
Anggi bergegas menyusuri koridor rumah sakit Medical Health, tempat ia setahun ini bekerja sebagai perawat. Koridor itu temaram dan berbau disinfektan.
Ia terus berjalan, dan sesekali ia melambaikan tangannya pada beberapa teman sesama perawat yang baru datang.
Semalam ia mendapat giliran jaga malam di Vip. Tempat yang lumayan enak dan nyaman. Dengan peralatan dan fasilitas yang serba mewah. Maklum hanya orang-orang yang berada saja yang dirawat di tempat itu.
Tidak seperti sebelumnya, ia ditugaskan di Poli. Tempat untuk golongan menengah ke bawah. Ia benar-benar lelah menangani pasien-pasien yang lumayan bawel dan sangat merepotkan. Seringkali ia harus menahan dongkol saat mendapat caci maki dari pasien. Entah itu soal obat yang harus ditebus, jenuh menunggu dokter yang datang terlambat dan tetek bengek permasalahan dari pasien. Tidak mau tahu, bahwa dia hanya seorang perawat saja.
Sesampainya Anggi di depan jalan raya, ia menyebrang. Rambut sebahunya berkibar-kibar tertiup angin pagi yang sejuk. Ia melenggang menuju kost-annya. Kost tempat ia dan seorang temannya tinggal.
Ia terkejut mendapati sahabat karibnya, Nani, sudah menunggunya di teras kost-annya. Duduk di kursi yang terbuat dari semen. Memanjang di sepanjang depan kost-kostan itu.
“Gila, Lu. Dari Tangerang jam berapa? Sepagi ini udah nyampe…” ucap Anggi menghampiri, dan menempelkan pipinya kiri dan kanan. Kangen.
“Aku nggak dari Tangerang kok, Gi. Aku nginep di Teteh aku di Cikampek” kata Nani mengekori Anggi, masuk ke dalam ruangan 4 x 3 meter.
Nani menyapukan pandangannya. Kamar itu lumayan rapi. Ada dua buah lemari berselorok dari plastik. Juga dua buah kasur berdampingan, dibagi dua. Untuk tidur.
“Aku baru tau, Gi. Kalau kamu nggak pake jilbab, saat bekerja…” Nani miris.
Dia paling tidak suka melihat orang yang buka-pake jilbab. Kesannya kok mengotori keagungan penutup aurat itu ya.
Anggi tertunduk diam. Dan menarik nafas.
“Pengennya sih, aku juga pake terus, Nan. Tapi, kamu kan tau sendiri. Di rumah sakit MH nggak boleh pake jilbab. Aku mau ke luar, sayang. Nyari kerja zaman sekarang kan susah…” Lirih ia beralasan.
“Sorry ya, Gi. Aku nggak tau kalo peraturan di tempat kerjamu seperti itu,”
Anggi tersenyum “Nggak pa-pa lagi, Nan. Kayak gue ini siapa aja,”
“Memang yang punya RS itu orang non, ya?”
Anggi mengangguk.
“Aku bukannya nggak berusaha loh, Nan. Untuk minta keringanan, supaya aku diperbolehkan pake jilbab. Tapi tetep, nggak boleh…” ucapnya berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
“Katanya, kamu lumayan akreb sama dokter-dokter disitu, Gi?”
“Iya, akreb. But, sama yang punyanya mah nggak atuh…” Anggi sibuk membuat minuman. “O, ya, Nan. Aku punya kenalan baru, loh…” ucapnya senang, mengalihkan pembicaraan.
Nani membulatkan matanya. “O, ya?”
“Yup! Namanya Do-di,”
Mata Anggi berbinar saat menyebut nama itu.
Nani melongo. “Deuuu…segitunya. Kenal dimana?”
“Dia pasien aku di Vip…” jawabnya santai. “Udah dua minggu ini, dia dalam perawatanku,”
“Pasien?” Nani tak mengerti.
Anggi mengangguk. “Arsitek, bow…! Tapi dia harus bedrest”
“Sakit apa?”
“DHF…”
Nani mengangguk. Mengerti. “Trus kenapa? Kamu suka dia, gitu…” godanya cengengesan.
“Sembarangan…!” Anggi manyun. “Ada juga dia kali yang naksir aku,”
“Trus, kamunya sendiri gimana?”
Wajah Anggi langsung merona merah.
“Aku juga suka dia, Nan…” ucapnya mencicit. Malu.
“Ya, udah langsung meried aja,” tembak Nani langsung. “Katanya udah kebelet pengen meried,”
“Ngaco, ah! Siapa yang kebelet, nyokapku tuh yang kebelet, ribuuut mulu nyuruhin aku merit. Malu katanya, sama omongan orang. Padahal peduli amat sih, orang ini…!” Anggi bersungut-sungut. Sebal. Ingat perang demi perang yang sering terjadi antara ia dan ibunya.
“Maried kali. Bukan merit, emang obat pelangsing, hihi…” Nani terkikik geli. “Ya, sa-mmm-ma. Nyokapku juga nyanyi mulu, nyuruhin aku cepet kawin. But, gimana ya, blom ada yang nyantol sih,”
“Nyantol, nyantol…kamunya aja tuh, terlalu pilih-pilih. Kemarin aku kenalin si Anjar, ogah. Padahal kurang apa coba dia,”
“Enak aja, pilih-pilih…” Nani sewot. “Orang aku nggak sreg kok, dipaksa-paksa, nggak ada cemistrinya tau…”
“Iya, lain kali mah ogah aku ngenal-ngenalin ke kamu lagi,” ucap Anggi tak kalah sewot.
“Bo-dooo!” cibir Nani memonyongkan bibirnya satu senti ke depan, hehe…panjang amat!
“Trus aku harus gimana ya, Nan?” tanya Anggi kembali serius.
“Dibilang-in langsung menikah aja. Gitu aja kok repot!” sarannya cepat. “Jangan tunggu lama-lama, nanti lama-lama diambil orang…” Nani bernyanyi, menirukan lagu dangdut kesukaan Anggi.
Keduanya ngakak.
“Kamu nginep aja ya, Nan. Biar besok gampang, berangkat ke Ancolnya langsung dari sini. Barengan sama aku…” Anggi menyarankan.
Mereka memang punya rencana untuk ke Dufan Ancol. Rekreasi. Melepas kepenatan, setelah mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sebagai perawat di rumah sakit yang berbeda.
“Lha, Sari gimana?” Nani menyebutkan nama teman sekamar Anggi.
“Dia kan lagi cuti…”
“Oh, ya udah,” Nani setuju.
♥♥♥
Keesokan harinya.
Di Dufan, Anggi dan Nani celingukan di depan loket pembayaran.
“Dia nunggu dimana sih, Gi?” tanya Nani tak sabar, yang sedari tadi sudah tak tahan kepanasan. Keringat sudah berleleran membanjiri wajah putihnya.
“Di sms sih, bilangnya ya, nunggu disini!” Anggi ikut-ikutan resah sambil matanya nyalang, menatap orang-orang yang berseliweran di depannya.
“Tuh, diaaa…! Si Mita…” teriak Anggi kenceng, membuat Nani terlonjak.
“Heh, tengil! Bujuk buneeeng, lama bener Lo,” Anggi langsung menyemprotnya.
Gadis berkerudung ala burung merak itu cengengesan. Nafasnya masih ngos-ngosan.
“Sorry, tadi di terminal, angkotnya ngetem dulu. Lamaaa bener!” ucapnya beralasan setelah acara peluk cium usai. Lalu mengekori dua sohibnya memasuki Dufan. Untungnya tidak terlalu mengantri.
“Hal-lah! Kamu mah kebiasaan, Ta. Lelet…!” cibir Anggi sadis.
Anggi memang terbiasa menumpahkan uneg-unegnya sampi tuntas, kalau ia ingin tenang. Kalau memendam rasa, ia bisa sakit kepala.
“Udah sih, ri-but aja!” lerai Nani jemu.
Katanya datang kesini untuk rekreasi, ini malah ngotot-ngototan.
“Tau tuh, Nenek Lampir bawel! Orang udah minta maaf juga…” Mita menyalahkan. Cemberut.
Anggi melotot. Tidak terima dikatain bawel.
“Buah duku dicawel-cawel. Lu tuh, Mita yang baweeel…” Ia berpantun.
Disambut ger tawa Nani dan Mita.
Anggi memang teman yang sangat unik dan lucu buat mereka. Selain mudah merepet seperti tadi, dia juga cepet baiknya. Belum lagi sifat gokilnya itu, bisa membuat mereka tertawa ngakak. Orang yang mendengar suara tawanya saja, akan ikut tertawa saking lucunya.
Mereka bertiga kemudian ikut mengantri untuk menaiki wahana yang ingin mereka naiki. Wahana pertama yang mereka pilih adalah Niagara.
Kembali di wahana ini, Anggi membuat kedua temannya, juga orang disebelahnya tertawa ngakak. Kejadiannya begini, saat wahana itu baru mulai bergerak. Dan orang-orang yang naik belum berteriak ngeri. Wanita disebelah Anggi sudah teriak duluan. Saking takutnya.
“Bel-looom…!” ucap Anggi kenceng.
Otomatis, wanita itu langsung ngakak. Dan hilang sudah raut ketakutan di wajahnya.
Matahari bersinar terik, saat ketiganya melenggang puas setelah menaiki semua wahana yang mereka inginkan. Kecuali Mita yang tidak turut serta saat kedua sohibnya naik Halilintar. Dia takut.
Mereka berjalan menuju tempat makanan siap saji. Setelah sedari pagi teriak-teriak, menaiki wahana demi wahana. Ketiganya kelaparan.
Sambil menikmati hidangan yang telah disajikan, Anggi memulai pembicaraan.
“Ada hal serius yang ingin aku omongin…” ucap Anggi dengan wajahnya yang dipasang misterius. Tidak seperti biasanya, yang selalu mirip dakocan hehe…
“A-pa?” Nani dan Mita bertanya bareng. Lalu tertawa.
“Terutama buat kita berdua, Nan…”
Nani menautkan kedua alisnya. Sedangkan Mita mengedikkan bahunya.
“Semalem di kost-an aku lupa ngomong”
“Iya, apa Gi? Kelamaan…bikin penasaran aja,”
Mita menngangguk. Mengaminkannya.
“Soal jodoh kita, Nan. Kenapa kok gak nongol-nongol juga…” ucapnya sendu.
“Emang kenapa? Belum waktunya aja kan?” jawab Nani santai.
“Disamping itu juga, ada yang membuat jodoh kita tuh terhambat,”
“Apa sih, Gi? Bikin takut aja loh…” ucap Nani ngeri juga.
“Kata nyokap aku, yang mendatangi orang pinter. Katanya, ada orang yang ngerjain kita, Nan,”
“Ngerjain apa?” Nani tak mengerti juga sebal, karena ucapan Anggi dinilainya terlalu bertele-tele.
“Iya, ngerjain kita…”
“Ngerjain apaaa?” geram Nani hilang sabar.
Anggi dan Mita terlonjak kaget.
“Sab-bar napa, Nan…” ucap Anggi setelah hilang rasa kagetnya. Ia menarik nafas sesaat. “Wajah kita berdua, akan terlihat tua sama orang yang naksir kita,”
“Kok bisa?” Nani tak percaya.
Ngomong berbelit-belit dari tadi, ternyata hanya hal ngaco saja yang didengarnya.
“He-eh, apa hubungannya?’ timbrung Mita yang sedari tadi mendengarkan.
“Ya, bisalah! Buktinya kenapa, hayo! Setiap orang yang mau kenalan sama kamu, langsung pada kabur setelah copy darat sama kamu. Padahal sewaktu sms-an aja, gencarnya nggak ketulungan…” ucap Anggi semangat mengemukakan alasannya.
“Ya, belom jodoh kali…’ ucap Nani cuek, walau didasar hatinya terselip juga pemikiran aneh itu. Menjalari hatinya, benar kah itu?
Semua lelaki yang Anggi kenalkan kepadanya melalui sms, begitu semangat dan menggebu-gebu ingin berjumpa dengannya. Puluhan sms diterimanya. Namun setelah bertemu dan mengobrol, besok-besoknya lagi, boro-boro mengajaknya untuk bertemu kembali. Sms saja, tidak satu pun. Mereka seperti lenyap ditelan bumi.
“Tapi bisa aja sih…” Mita akhirnya menyetujui ucapan Anggi.
“Ah, tau deh…” Nani akhirnya tak ambil pusing.
“Kamu mah nggak percayaan sih, Nan. Orang yang Emakku datangi itu benar-benar orang pinteeer…!” Anggi mendongkol. Informasinya disepelekan.
“Pinter apa, Gi? Pinter ngibul mah iya kali, hehe…” Nani tertawa membalikkan ucapan Anggi barusan.
Anggi cemberut. “Ya, udah kalo nggak percaya. Kalo menurutku sih, kemungkinan itu bisa aja terjadi…” ucapnya menutup pembicaraan.
♥♥♥
Anggi bergegas ke luar dari ruangan Vip, setelah tugas terakhirnya selesai. Menangani pasien di ruangan itu.
Ia memasuki kamar ganti, membuka locker-nya dan mulai mengganti seragam putih-putihnya dengan celan jins gombrang dengan atasan kemeja lengan panjang warna senada. Memandang dirinya di cermin, memeriksa letak jilbabnya. Ia siap.
Anggi melesat menuju restoran Selera Anda, di dekat rumah sakit itu. Menemui Dodi. Pria ganteng yang pernah menjadi pasiennya enam bulan yang lalu. Setelah itu mereka sering bertemu untuk makan siang atau hanya sekedar jalan-jalan ke Mall.
Saat Anggi sedang bertugas tadi, pria itu mengirim sms kepadanya, mengajaknya untuk bertemu di restoran itu. Hatinya berdebar-debar memikirkan hal penting apa yang akan dibicarakan pria itu.
Dua puluh menit kemudian, Anggi mempercepat langkahnya dari tempat parkir ke restoran. Bersamaan dengan masuknya ia ke dalam restoran, hujan lebat turun mengguyur.
Anggi menebarkan pandangannya, menatap kesekeliling ruangan yang cukup ramai. Mencari pria itu. Dimana tepatnya ia duduk. Setelah dilihatnya pria itu, ia menuju meja segi empat di dekat dinding.
Berkata dalam hati bahwa ia gemetar karena udara yang dingin, bukan karena membayangkan senyum pria yang telah menjadi sangat berarti baginya itu.
Karena wajah pria itu menghadap ke ujung meja, Anggi jadi dapat mengamati wajah arsitek muda itu dari samping. Dia suka sekali memandangi helai-helai rambut mengilat tergerai dikeningnya, membuat pria itu tampak rileks, tanpa beban.
“Assalamualaikum…” sapa Anggi lirih setelah berada di dekat pria itu.
Pria itu tersentak, tak menyadari kedatangan Anggi. Kemudian ia menjawab salam itu dan menyilakannya duduk.
“Maaf, kalo Kak Dodi nunggunya kelamaan…” ucapnya basa-basi. Menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan.
“Nggak pa-pa…”
Mereka memesan makanan dan mulai mengobrol kesana kemari, sampai Anggi akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk membicarakan alasan pertemuan mereka.
Anggi berdehem. “Kak Dodi katanya ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan saya…” ucapnya menirukan sms yang dikirimkan kepadanya.
“Oh, iya itu…” ucapnya kikuk sambil tersenyum. Kemudian ia membasahi tenggorokannya. “Langsung aja ya, Gi. Kita kan udah lama saling mengenal. Oleh karena itu saya… berniat…melamar Anggi…”
Anggi tersentak, terkejut dengan ucapan pria itu. Ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. Kepalanya tiba-tiba pening, menerima kabar yang cukup menggembirakan sekaligus mengejutkannya.
“Gimana, Gi?” tanya Dodi halus dan penuh harap. Suara bas pria itu serasa mengelus gendang telinganya.
Anggi menunduk semakin dalam.
“Kak Dodi…serius? Ingin melamar saya,” tanyanya memastikan.
“Bukan serius lagi, dua rius malah, hehe…” jawabnya bercanda mencairkan suasana kaku yang sempat tercipta diantara mereka.
Anggi ikut tertawa sumbang. “Tapi…Kak Dodi kan tau sendiri, kalo adik saya banyak,” ucapnya menguji kesungguhan lelaki itu.
“Ya, nggak masalah…”
“Terus saya juga…” Anggi ragu.
Haruskah aku mengatakan ini kepadanya?
Anggi bimbang.
Ia takut perkataannya nanti membuat pria dihadapannya itu berubah pikiran. Kemudian ia memantapkan hatinya, kalau dia benar-benar mencintainya dan menginginkannya menjadi istri. Dia harus bisa menerima apa yang akan dikatakannya itu.
Pria tampan dengan lesung pipi di wajahnya itu menunggu.
“Saya…”
“Ya, kenapa?”
“Saya…punya hobi…makan bau-bauan” plong, tercetus juga kata-kata itu dari mulutnya.
Dodi menautkan alisnya tak mengerti. “Maksudnya? Bau-bauan itu apa, ya?”
“Saya suka makan…jeng-kol…”
Di luar dugaan pria dihadapannya itu tertawa lumayan keras, hingga beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
Anggi semakin tertunduk. Wajahnya memerah. Panas.
Setelah puas tertawa, Dodi berujar.
“Itu mah nggak usah dipikirin, Gi. Hobimu itu nggak masalah buat saya. Saya juga suka kok sama jengkol, terutama kalo disemur…” ucapnya sambil nyengir.
Anggi terbeliak.
“Saya sungguh-sungguh loh, Gi,” sambar Dodi cepat seolah tahu apa yang berkecamuk dibenak Anggi.
Anggi tersenyum senang.
Ia percaya pria ini tak berbohong padanya. Dan yang jelas ternyata mereka punya kesamaan. Sama-sama suka makan semur jengkol.
“Gimana, Gi? Kapan saya boleh ke rumahmu?” tanya Dodi serius.
“Terserah Kak Dodi…” Suara Anggi bergetar.
“Itu artinya, kamu setuju menikah dengan saya?” ucap Dodi antusias. Senang.
Anggi mengangguk. Wajahnya merona merah.
Ia bahagia sekali. Jodoh yang selama ini dinantinya, telah hadir dihadapannya. Mengajaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Dan itu menandakan bahwa yang dikatakan ‘orang pinter’ itu benar-benar bohong. Selama ini dia percaya penuh pada ucapan orang itu, hingga membuatnya gelisah tak tentu arah.
Namun ternyata waktu membuktikan segalanya. Sang Pangeran telah datang menjemputnya. Tak sabar ia ingin memberitahukan kabar gembira ini pada keluarganya juga sahabat-sahabat terdekatnya. Bahwa ia akan segera menikah.
♥♥♥
Siang itu, Anggi bersama dua sahabatnya, Nani dan Mita sedang asyik menikmati es krim yang mereka pesan. Mereka duduk melingkar menghadapi meja bundar.
“Aku mo meried, bulan ini sama Dodi…” ucap Anggi senang memberitahukan berita besar itu. Dan ia menikmati wajah terkejut kedua sohibnya.
“Bener?” kata Mita tak percaya. Anggi kan doyan becanda pikirnya.
“Serius, Lo…?” Nani kelihatan seperti akan pingsan.
Anggi mengangguk pasti. “Kenapa sih, Nan? Bukannya senang temennya mo menikah”
“Iya, aku juga senang, Gi. Hanya saja…”
“Kenapa? Kamu keberatan? Karena kita pernah berikrar bahwa kita mo menikah bareng-bareng, tapi kenyatannya aku dapet jodoh duluan, gitu?” potong Anggi nyerocos.
Nani tersenyum. “Justru itu yang ingin aku katakan, Gi. Menikah bareng-bareng…”
“Maksudmu?”
Anggi tak sanggup melanjutkan perkataannya, ia senang bukan main. Seperti mendapat durian runtuh. Meski ia nggak doyan duren, hehe…
“Kalian kenapa sih? Pada aneh gitu…” ucap Mita tak mengerti, ke arah mana sebenarnya pembicaraan kedua sohibnya.
“Kita mo menikah bareeeng…!” ucap keduanya kompak.
Kemudian tertawa bersama.
“Apa? Gila lu pada…” Mita sangsi. “Kamu emang mo kawin sama sapa, Nan?” ucapnya menatap Nani lekat-lekat.
“Bukan kawin, Ta. Me-ni-kah…” ralat Nani cepat.
“Sama aja kan? Kawin”
“Beda atuh, kawin mah sebelum menikah juga bisaaa…” Anggi nyengir.
“Sama siapa, Nan?” kejar Mita lagi penasaran.
“Mas Anhar…”
“Anhar siapa? Perasaan kamu nggak punya kenalan yang namanya Anhar deh,” Anggi yang mulanya senang tapi akhirnya sangsi juga.
Mungut cowok dimana tuh anak, dia kan jomblo, hehe…
Mita mengangguk setuju. “He-eh, siapa sih Anhar? Ngarang deh Nani…”
“Aku serius. Sebenernya aku juga nggak kenal?”
“Tuh kan, bokis abis!” potong Anggi gemas.
“Aku kan belum selesai ngomongnya, Gi. Aku kenal Mas Anhar tuh pas ta’aru,f”
“Siapa yang ngenalin?” Anggi menyelidik.
“Teh Nia. Katanya sih Mas Anhar itu adik teman Teh Nia. Katanya lagi, dia lagi nyari calon istri. Pas Teh Nia ngasih tau kalo Teteh punya adik yang belum menikah, maksudnya aku gitu…” tunjuk Nani kedadanya. “Dia pengen dikenalin. Dan gitu deh, dia cocok sama aku. Dia dokter loh, seperti yang kuinginkan selama ini…” mata Nani berbinar-binar. Senang.
“Iya?” tanya Anggi takjub.
Nani mengangguk pasti.
“Syukurlah, akhirnya kesampaian juga, kita nikah bareng ya, Nan?” ucap Anggi serak, dua bulir bening menggenangi pipinya.
“He-eh” kata Nani terharu, ikut-ikutan menangis.
Mita hanya bisa bengong menyaksikan dua sohibnya itu bertangis-tangisan. Tangis bahagia.
“Omongan ‘orang pinter’ itu nggak terbukti kan, Gi?” celetuk Mita tiba-tiba.
“Iya. Nyesel deh, aku sempat mempercayai omongan itu. Sampe-sampe, aku hampir tiap malam baca ayat Kursi sambil ngaca untuk menghilangkan ‘muka tua’ dari wajahku…” ucapnya menyesal.
Kedua sohibnya itu tertawa pelan. Mentertawakan kebodohan Anggi.
“Lha, ngaca sambil baca ayat Kursi itu pepatah dari siapa?” tanya Nani diiringi dengan tawa tertahan.
“Tetanggaku…” ucap Anggi lirih dengan wajah memerah. Malu.
Nani dan Mita ketawa lagi.
Kemudian Nani terdiam.
“Kenapa, Nan? Kok tiba-tiba langsung diem…” Anggi heran.
“Aku juga sempet percaya sama ucapan orang pinter itu, Gi,” ucapnya jengah.
Anggi terbeliak. “Sumpe, Lu? Bukannya waktu itu kamu nggak percaya?”
“Mulanya sih iya, aku nggak percaya. Tapi…”
Diceritakannya pada kedua sohibnya itu bahwa ia sempat kepikiran akan hal itu. Dan tanpa disengaja ia mengatakan hal itu pada Mamanya. Sang Mama yang pada dasarnya masih percaya pada hal-hal seperti itu, langsung menyuruhnya mandi tengah malam dengan berbagai macam bunga. Tidak tanggung-tanggung sepuluh rupa, bukan tujuh lagi.
“Malam apa mandinya?” tanya Anggi antusias.
“Jumat Kliwon…”
Anggi ngakak.
“Kenapa? Iya sih aku emang bodoh. Termakan ucapan orang yang kamu bilang pintar itu, juga terbujuk ucapanmu,” ucap Nani semakin menunduk. Malu hati.
“Bukan itu, Nan. Aku bukan ngetawain kebodohanmu, tapi…aku juga sama,”
“Sama gimana?” Nani mengangkat kepalanya.
“Aku juga mandi kembang tengah malam…”
Nani dan Mita melongo. Kemudian ngakak bareng.
“Jangan bilang, malam Jumat Kliwon juga?” ujar Mita sambil menahan tawa.
Anggi mengangguk lemah.
Kembali kedua sohibnya itu tertawa ngakak.
Nani sampai memegangi perutnya, saking gelinya mendengar akan hal itu. Dia pikir hanya dirinya saja yang bodoh, ternyata Anggi dua kali lipat lebih bodoh darinya.
“Makanya, lain kali jangan asal percaya aja,” ucap Mita mengingatkan. “Hari gene! Masih percaya ‘orang pinter’ hik hik…” sindirnya tajam.
“Udah sih, malu aku, aaah…” Anggi nyanyi.
Keduanya tertawa lagi.
“Buat pelajaran tuh, Gi. Asal percaya aja, yang ada kamu sendiri yang jadi paranoid,” saran Nani sok bijak.
“Kamu juga!” selak Anggi tak mau kalah.
“Baik, Mak…”
“Mak, Mak…kapan aku kawin sama Bapakmu!” jitak Anggi pelan.
Mereka tertawa bersama.
♥♥♥
Ia terus berjalan, dan sesekali ia melambaikan tangannya pada beberapa teman sesama perawat yang baru datang.
Semalam ia mendapat giliran jaga malam di Vip. Tempat yang lumayan enak dan nyaman. Dengan peralatan dan fasilitas yang serba mewah. Maklum hanya orang-orang yang berada saja yang dirawat di tempat itu.
Tidak seperti sebelumnya, ia ditugaskan di Poli. Tempat untuk golongan menengah ke bawah. Ia benar-benar lelah menangani pasien-pasien yang lumayan bawel dan sangat merepotkan. Seringkali ia harus menahan dongkol saat mendapat caci maki dari pasien. Entah itu soal obat yang harus ditebus, jenuh menunggu dokter yang datang terlambat dan tetek bengek permasalahan dari pasien. Tidak mau tahu, bahwa dia hanya seorang perawat saja.
Sesampainya Anggi di depan jalan raya, ia menyebrang. Rambut sebahunya berkibar-kibar tertiup angin pagi yang sejuk. Ia melenggang menuju kost-annya. Kost tempat ia dan seorang temannya tinggal.
Ia terkejut mendapati sahabat karibnya, Nani, sudah menunggunya di teras kost-annya. Duduk di kursi yang terbuat dari semen. Memanjang di sepanjang depan kost-kostan itu.
“Gila, Lu. Dari Tangerang jam berapa? Sepagi ini udah nyampe…” ucap Anggi menghampiri, dan menempelkan pipinya kiri dan kanan. Kangen.
“Aku nggak dari Tangerang kok, Gi. Aku nginep di Teteh aku di Cikampek” kata Nani mengekori Anggi, masuk ke dalam ruangan 4 x 3 meter.
Nani menyapukan pandangannya. Kamar itu lumayan rapi. Ada dua buah lemari berselorok dari plastik. Juga dua buah kasur berdampingan, dibagi dua. Untuk tidur.
“Aku baru tau, Gi. Kalau kamu nggak pake jilbab, saat bekerja…” Nani miris.
Dia paling tidak suka melihat orang yang buka-pake jilbab. Kesannya kok mengotori keagungan penutup aurat itu ya.
Anggi tertunduk diam. Dan menarik nafas.
“Pengennya sih, aku juga pake terus, Nan. Tapi, kamu kan tau sendiri. Di rumah sakit MH nggak boleh pake jilbab. Aku mau ke luar, sayang. Nyari kerja zaman sekarang kan susah…” Lirih ia beralasan.
“Sorry ya, Gi. Aku nggak tau kalo peraturan di tempat kerjamu seperti itu,”
Anggi tersenyum “Nggak pa-pa lagi, Nan. Kayak gue ini siapa aja,”
“Memang yang punya RS itu orang non, ya?”
Anggi mengangguk.
“Aku bukannya nggak berusaha loh, Nan. Untuk minta keringanan, supaya aku diperbolehkan pake jilbab. Tapi tetep, nggak boleh…” ucapnya berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
“Katanya, kamu lumayan akreb sama dokter-dokter disitu, Gi?”
“Iya, akreb. But, sama yang punyanya mah nggak atuh…” Anggi sibuk membuat minuman. “O, ya, Nan. Aku punya kenalan baru, loh…” ucapnya senang, mengalihkan pembicaraan.
Nani membulatkan matanya. “O, ya?”
“Yup! Namanya Do-di,”
Mata Anggi berbinar saat menyebut nama itu.
Nani melongo. “Deuuu…segitunya. Kenal dimana?”
“Dia pasien aku di Vip…” jawabnya santai. “Udah dua minggu ini, dia dalam perawatanku,”
“Pasien?” Nani tak mengerti.
Anggi mengangguk. “Arsitek, bow…! Tapi dia harus bedrest”
“Sakit apa?”
“DHF…”
Nani mengangguk. Mengerti. “Trus kenapa? Kamu suka dia, gitu…” godanya cengengesan.
“Sembarangan…!” Anggi manyun. “Ada juga dia kali yang naksir aku,”
“Trus, kamunya sendiri gimana?”
Wajah Anggi langsung merona merah.
“Aku juga suka dia, Nan…” ucapnya mencicit. Malu.
“Ya, udah langsung meried aja,” tembak Nani langsung. “Katanya udah kebelet pengen meried,”
“Ngaco, ah! Siapa yang kebelet, nyokapku tuh yang kebelet, ribuuut mulu nyuruhin aku merit. Malu katanya, sama omongan orang. Padahal peduli amat sih, orang ini…!” Anggi bersungut-sungut. Sebal. Ingat perang demi perang yang sering terjadi antara ia dan ibunya.
“Maried kali. Bukan merit, emang obat pelangsing, hihi…” Nani terkikik geli. “Ya, sa-mmm-ma. Nyokapku juga nyanyi mulu, nyuruhin aku cepet kawin. But, gimana ya, blom ada yang nyantol sih,”
“Nyantol, nyantol…kamunya aja tuh, terlalu pilih-pilih. Kemarin aku kenalin si Anjar, ogah. Padahal kurang apa coba dia,”
“Enak aja, pilih-pilih…” Nani sewot. “Orang aku nggak sreg kok, dipaksa-paksa, nggak ada cemistrinya tau…”
“Iya, lain kali mah ogah aku ngenal-ngenalin ke kamu lagi,” ucap Anggi tak kalah sewot.
“Bo-dooo!” cibir Nani memonyongkan bibirnya satu senti ke depan, hehe…panjang amat!
“Trus aku harus gimana ya, Nan?” tanya Anggi kembali serius.
“Dibilang-in langsung menikah aja. Gitu aja kok repot!” sarannya cepat. “Jangan tunggu lama-lama, nanti lama-lama diambil orang…” Nani bernyanyi, menirukan lagu dangdut kesukaan Anggi.
Keduanya ngakak.
“Kamu nginep aja ya, Nan. Biar besok gampang, berangkat ke Ancolnya langsung dari sini. Barengan sama aku…” Anggi menyarankan.
Mereka memang punya rencana untuk ke Dufan Ancol. Rekreasi. Melepas kepenatan, setelah mereka sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sebagai perawat di rumah sakit yang berbeda.
“Lha, Sari gimana?” Nani menyebutkan nama teman sekamar Anggi.
“Dia kan lagi cuti…”
“Oh, ya udah,” Nani setuju.
♥♥♥
Keesokan harinya.
Di Dufan, Anggi dan Nani celingukan di depan loket pembayaran.
“Dia nunggu dimana sih, Gi?” tanya Nani tak sabar, yang sedari tadi sudah tak tahan kepanasan. Keringat sudah berleleran membanjiri wajah putihnya.
“Di sms sih, bilangnya ya, nunggu disini!” Anggi ikut-ikutan resah sambil matanya nyalang, menatap orang-orang yang berseliweran di depannya.
“Tuh, diaaa…! Si Mita…” teriak Anggi kenceng, membuat Nani terlonjak.
“Heh, tengil! Bujuk buneeeng, lama bener Lo,” Anggi langsung menyemprotnya.
Gadis berkerudung ala burung merak itu cengengesan. Nafasnya masih ngos-ngosan.
“Sorry, tadi di terminal, angkotnya ngetem dulu. Lamaaa bener!” ucapnya beralasan setelah acara peluk cium usai. Lalu mengekori dua sohibnya memasuki Dufan. Untungnya tidak terlalu mengantri.
“Hal-lah! Kamu mah kebiasaan, Ta. Lelet…!” cibir Anggi sadis.
Anggi memang terbiasa menumpahkan uneg-unegnya sampi tuntas, kalau ia ingin tenang. Kalau memendam rasa, ia bisa sakit kepala.
“Udah sih, ri-but aja!” lerai Nani jemu.
Katanya datang kesini untuk rekreasi, ini malah ngotot-ngototan.
“Tau tuh, Nenek Lampir bawel! Orang udah minta maaf juga…” Mita menyalahkan. Cemberut.
Anggi melotot. Tidak terima dikatain bawel.
“Buah duku dicawel-cawel. Lu tuh, Mita yang baweeel…” Ia berpantun.
Disambut ger tawa Nani dan Mita.
Anggi memang teman yang sangat unik dan lucu buat mereka. Selain mudah merepet seperti tadi, dia juga cepet baiknya. Belum lagi sifat gokilnya itu, bisa membuat mereka tertawa ngakak. Orang yang mendengar suara tawanya saja, akan ikut tertawa saking lucunya.
Mereka bertiga kemudian ikut mengantri untuk menaiki wahana yang ingin mereka naiki. Wahana pertama yang mereka pilih adalah Niagara.
Kembali di wahana ini, Anggi membuat kedua temannya, juga orang disebelahnya tertawa ngakak. Kejadiannya begini, saat wahana itu baru mulai bergerak. Dan orang-orang yang naik belum berteriak ngeri. Wanita disebelah Anggi sudah teriak duluan. Saking takutnya.
“Bel-looom…!” ucap Anggi kenceng.
Otomatis, wanita itu langsung ngakak. Dan hilang sudah raut ketakutan di wajahnya.
Matahari bersinar terik, saat ketiganya melenggang puas setelah menaiki semua wahana yang mereka inginkan. Kecuali Mita yang tidak turut serta saat kedua sohibnya naik Halilintar. Dia takut.
Mereka berjalan menuju tempat makanan siap saji. Setelah sedari pagi teriak-teriak, menaiki wahana demi wahana. Ketiganya kelaparan.
Sambil menikmati hidangan yang telah disajikan, Anggi memulai pembicaraan.
“Ada hal serius yang ingin aku omongin…” ucap Anggi dengan wajahnya yang dipasang misterius. Tidak seperti biasanya, yang selalu mirip dakocan hehe…
“A-pa?” Nani dan Mita bertanya bareng. Lalu tertawa.
“Terutama buat kita berdua, Nan…”
Nani menautkan kedua alisnya. Sedangkan Mita mengedikkan bahunya.
“Semalem di kost-an aku lupa ngomong”
“Iya, apa Gi? Kelamaan…bikin penasaran aja,”
Mita menngangguk. Mengaminkannya.
“Soal jodoh kita, Nan. Kenapa kok gak nongol-nongol juga…” ucapnya sendu.
“Emang kenapa? Belum waktunya aja kan?” jawab Nani santai.
“Disamping itu juga, ada yang membuat jodoh kita tuh terhambat,”
“Apa sih, Gi? Bikin takut aja loh…” ucap Nani ngeri juga.
“Kata nyokap aku, yang mendatangi orang pinter. Katanya, ada orang yang ngerjain kita, Nan,”
“Ngerjain apa?” Nani tak mengerti juga sebal, karena ucapan Anggi dinilainya terlalu bertele-tele.
“Iya, ngerjain kita…”
“Ngerjain apaaa?” geram Nani hilang sabar.
Anggi dan Mita terlonjak kaget.
“Sab-bar napa, Nan…” ucap Anggi setelah hilang rasa kagetnya. Ia menarik nafas sesaat. “Wajah kita berdua, akan terlihat tua sama orang yang naksir kita,”
“Kok bisa?” Nani tak percaya.
Ngomong berbelit-belit dari tadi, ternyata hanya hal ngaco saja yang didengarnya.
“He-eh, apa hubungannya?’ timbrung Mita yang sedari tadi mendengarkan.
“Ya, bisalah! Buktinya kenapa, hayo! Setiap orang yang mau kenalan sama kamu, langsung pada kabur setelah copy darat sama kamu. Padahal sewaktu sms-an aja, gencarnya nggak ketulungan…” ucap Anggi semangat mengemukakan alasannya.
“Ya, belom jodoh kali…’ ucap Nani cuek, walau didasar hatinya terselip juga pemikiran aneh itu. Menjalari hatinya, benar kah itu?
Semua lelaki yang Anggi kenalkan kepadanya melalui sms, begitu semangat dan menggebu-gebu ingin berjumpa dengannya. Puluhan sms diterimanya. Namun setelah bertemu dan mengobrol, besok-besoknya lagi, boro-boro mengajaknya untuk bertemu kembali. Sms saja, tidak satu pun. Mereka seperti lenyap ditelan bumi.
“Tapi bisa aja sih…” Mita akhirnya menyetujui ucapan Anggi.
“Ah, tau deh…” Nani akhirnya tak ambil pusing.
“Kamu mah nggak percayaan sih, Nan. Orang yang Emakku datangi itu benar-benar orang pinteeer…!” Anggi mendongkol. Informasinya disepelekan.
“Pinter apa, Gi? Pinter ngibul mah iya kali, hehe…” Nani tertawa membalikkan ucapan Anggi barusan.
Anggi cemberut. “Ya, udah kalo nggak percaya. Kalo menurutku sih, kemungkinan itu bisa aja terjadi…” ucapnya menutup pembicaraan.
♥♥♥
Anggi bergegas ke luar dari ruangan Vip, setelah tugas terakhirnya selesai. Menangani pasien di ruangan itu.
Ia memasuki kamar ganti, membuka locker-nya dan mulai mengganti seragam putih-putihnya dengan celan jins gombrang dengan atasan kemeja lengan panjang warna senada. Memandang dirinya di cermin, memeriksa letak jilbabnya. Ia siap.
Anggi melesat menuju restoran Selera Anda, di dekat rumah sakit itu. Menemui Dodi. Pria ganteng yang pernah menjadi pasiennya enam bulan yang lalu. Setelah itu mereka sering bertemu untuk makan siang atau hanya sekedar jalan-jalan ke Mall.
Saat Anggi sedang bertugas tadi, pria itu mengirim sms kepadanya, mengajaknya untuk bertemu di restoran itu. Hatinya berdebar-debar memikirkan hal penting apa yang akan dibicarakan pria itu.
Dua puluh menit kemudian, Anggi mempercepat langkahnya dari tempat parkir ke restoran. Bersamaan dengan masuknya ia ke dalam restoran, hujan lebat turun mengguyur.
Anggi menebarkan pandangannya, menatap kesekeliling ruangan yang cukup ramai. Mencari pria itu. Dimana tepatnya ia duduk. Setelah dilihatnya pria itu, ia menuju meja segi empat di dekat dinding.
Berkata dalam hati bahwa ia gemetar karena udara yang dingin, bukan karena membayangkan senyum pria yang telah menjadi sangat berarti baginya itu.
Karena wajah pria itu menghadap ke ujung meja, Anggi jadi dapat mengamati wajah arsitek muda itu dari samping. Dia suka sekali memandangi helai-helai rambut mengilat tergerai dikeningnya, membuat pria itu tampak rileks, tanpa beban.
“Assalamualaikum…” sapa Anggi lirih setelah berada di dekat pria itu.
Pria itu tersentak, tak menyadari kedatangan Anggi. Kemudian ia menjawab salam itu dan menyilakannya duduk.
“Maaf, kalo Kak Dodi nunggunya kelamaan…” ucapnya basa-basi. Menenangkan debaran jantungnya yang tidak karuan.
“Nggak pa-pa…”
Mereka memesan makanan dan mulai mengobrol kesana kemari, sampai Anggi akhirnya berhasil mengumpulkan keberanian untuk membicarakan alasan pertemuan mereka.
Anggi berdehem. “Kak Dodi katanya ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan saya…” ucapnya menirukan sms yang dikirimkan kepadanya.
“Oh, iya itu…” ucapnya kikuk sambil tersenyum. Kemudian ia membasahi tenggorokannya. “Langsung aja ya, Gi. Kita kan udah lama saling mengenal. Oleh karena itu saya… berniat…melamar Anggi…”
Anggi tersentak, terkejut dengan ucapan pria itu. Ia tak percaya pada pendengarannya sendiri. Kepalanya tiba-tiba pening, menerima kabar yang cukup menggembirakan sekaligus mengejutkannya.
“Gimana, Gi?” tanya Dodi halus dan penuh harap. Suara bas pria itu serasa mengelus gendang telinganya.
Anggi menunduk semakin dalam.
“Kak Dodi…serius? Ingin melamar saya,” tanyanya memastikan.
“Bukan serius lagi, dua rius malah, hehe…” jawabnya bercanda mencairkan suasana kaku yang sempat tercipta diantara mereka.
Anggi ikut tertawa sumbang. “Tapi…Kak Dodi kan tau sendiri, kalo adik saya banyak,” ucapnya menguji kesungguhan lelaki itu.
“Ya, nggak masalah…”
“Terus saya juga…” Anggi ragu.
Haruskah aku mengatakan ini kepadanya?
Anggi bimbang.
Ia takut perkataannya nanti membuat pria dihadapannya itu berubah pikiran. Kemudian ia memantapkan hatinya, kalau dia benar-benar mencintainya dan menginginkannya menjadi istri. Dia harus bisa menerima apa yang akan dikatakannya itu.
Pria tampan dengan lesung pipi di wajahnya itu menunggu.
“Saya…”
“Ya, kenapa?”
“Saya…punya hobi…makan bau-bauan” plong, tercetus juga kata-kata itu dari mulutnya.
Dodi menautkan alisnya tak mengerti. “Maksudnya? Bau-bauan itu apa, ya?”
“Saya suka makan…jeng-kol…”
Di luar dugaan pria dihadapannya itu tertawa lumayan keras, hingga beberapa pengunjung lain menoleh ke arah mereka.
Anggi semakin tertunduk. Wajahnya memerah. Panas.
Setelah puas tertawa, Dodi berujar.
“Itu mah nggak usah dipikirin, Gi. Hobimu itu nggak masalah buat saya. Saya juga suka kok sama jengkol, terutama kalo disemur…” ucapnya sambil nyengir.
Anggi terbeliak.
“Saya sungguh-sungguh loh, Gi,” sambar Dodi cepat seolah tahu apa yang berkecamuk dibenak Anggi.
Anggi tersenyum senang.
Ia percaya pria ini tak berbohong padanya. Dan yang jelas ternyata mereka punya kesamaan. Sama-sama suka makan semur jengkol.
“Gimana, Gi? Kapan saya boleh ke rumahmu?” tanya Dodi serius.
“Terserah Kak Dodi…” Suara Anggi bergetar.
“Itu artinya, kamu setuju menikah dengan saya?” ucap Dodi antusias. Senang.
Anggi mengangguk. Wajahnya merona merah.
Ia bahagia sekali. Jodoh yang selama ini dinantinya, telah hadir dihadapannya. Mengajaknya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Dan itu menandakan bahwa yang dikatakan ‘orang pinter’ itu benar-benar bohong. Selama ini dia percaya penuh pada ucapan orang itu, hingga membuatnya gelisah tak tentu arah.
Namun ternyata waktu membuktikan segalanya. Sang Pangeran telah datang menjemputnya. Tak sabar ia ingin memberitahukan kabar gembira ini pada keluarganya juga sahabat-sahabat terdekatnya. Bahwa ia akan segera menikah.
♥♥♥
Siang itu, Anggi bersama dua sahabatnya, Nani dan Mita sedang asyik menikmati es krim yang mereka pesan. Mereka duduk melingkar menghadapi meja bundar.
“Aku mo meried, bulan ini sama Dodi…” ucap Anggi senang memberitahukan berita besar itu. Dan ia menikmati wajah terkejut kedua sohibnya.
“Bener?” kata Mita tak percaya. Anggi kan doyan becanda pikirnya.
“Serius, Lo…?” Nani kelihatan seperti akan pingsan.
Anggi mengangguk pasti. “Kenapa sih, Nan? Bukannya senang temennya mo menikah”
“Iya, aku juga senang, Gi. Hanya saja…”
“Kenapa? Kamu keberatan? Karena kita pernah berikrar bahwa kita mo menikah bareng-bareng, tapi kenyatannya aku dapet jodoh duluan, gitu?” potong Anggi nyerocos.
Nani tersenyum. “Justru itu yang ingin aku katakan, Gi. Menikah bareng-bareng…”
“Maksudmu?”
Anggi tak sanggup melanjutkan perkataannya, ia senang bukan main. Seperti mendapat durian runtuh. Meski ia nggak doyan duren, hehe…
“Kalian kenapa sih? Pada aneh gitu…” ucap Mita tak mengerti, ke arah mana sebenarnya pembicaraan kedua sohibnya.
“Kita mo menikah bareeeng…!” ucap keduanya kompak.
Kemudian tertawa bersama.
“Apa? Gila lu pada…” Mita sangsi. “Kamu emang mo kawin sama sapa, Nan?” ucapnya menatap Nani lekat-lekat.
“Bukan kawin, Ta. Me-ni-kah…” ralat Nani cepat.
“Sama aja kan? Kawin”
“Beda atuh, kawin mah sebelum menikah juga bisaaa…” Anggi nyengir.
“Sama siapa, Nan?” kejar Mita lagi penasaran.
“Mas Anhar…”
“Anhar siapa? Perasaan kamu nggak punya kenalan yang namanya Anhar deh,” Anggi yang mulanya senang tapi akhirnya sangsi juga.
Mungut cowok dimana tuh anak, dia kan jomblo, hehe…
Mita mengangguk setuju. “He-eh, siapa sih Anhar? Ngarang deh Nani…”
“Aku serius. Sebenernya aku juga nggak kenal?”
“Tuh kan, bokis abis!” potong Anggi gemas.
“Aku kan belum selesai ngomongnya, Gi. Aku kenal Mas Anhar tuh pas ta’aru,f”
“Siapa yang ngenalin?” Anggi menyelidik.
“Teh Nia. Katanya sih Mas Anhar itu adik teman Teh Nia. Katanya lagi, dia lagi nyari calon istri. Pas Teh Nia ngasih tau kalo Teteh punya adik yang belum menikah, maksudnya aku gitu…” tunjuk Nani kedadanya. “Dia pengen dikenalin. Dan gitu deh, dia cocok sama aku. Dia dokter loh, seperti yang kuinginkan selama ini…” mata Nani berbinar-binar. Senang.
“Iya?” tanya Anggi takjub.
Nani mengangguk pasti.
“Syukurlah, akhirnya kesampaian juga, kita nikah bareng ya, Nan?” ucap Anggi serak, dua bulir bening menggenangi pipinya.
“He-eh” kata Nani terharu, ikut-ikutan menangis.
Mita hanya bisa bengong menyaksikan dua sohibnya itu bertangis-tangisan. Tangis bahagia.
“Omongan ‘orang pinter’ itu nggak terbukti kan, Gi?” celetuk Mita tiba-tiba.
“Iya. Nyesel deh, aku sempat mempercayai omongan itu. Sampe-sampe, aku hampir tiap malam baca ayat Kursi sambil ngaca untuk menghilangkan ‘muka tua’ dari wajahku…” ucapnya menyesal.
Kedua sohibnya itu tertawa pelan. Mentertawakan kebodohan Anggi.
“Lha, ngaca sambil baca ayat Kursi itu pepatah dari siapa?” tanya Nani diiringi dengan tawa tertahan.
“Tetanggaku…” ucap Anggi lirih dengan wajah memerah. Malu.
Nani dan Mita ketawa lagi.
Kemudian Nani terdiam.
“Kenapa, Nan? Kok tiba-tiba langsung diem…” Anggi heran.
“Aku juga sempet percaya sama ucapan orang pinter itu, Gi,” ucapnya jengah.
Anggi terbeliak. “Sumpe, Lu? Bukannya waktu itu kamu nggak percaya?”
“Mulanya sih iya, aku nggak percaya. Tapi…”
Diceritakannya pada kedua sohibnya itu bahwa ia sempat kepikiran akan hal itu. Dan tanpa disengaja ia mengatakan hal itu pada Mamanya. Sang Mama yang pada dasarnya masih percaya pada hal-hal seperti itu, langsung menyuruhnya mandi tengah malam dengan berbagai macam bunga. Tidak tanggung-tanggung sepuluh rupa, bukan tujuh lagi.
“Malam apa mandinya?” tanya Anggi antusias.
“Jumat Kliwon…”
Anggi ngakak.
“Kenapa? Iya sih aku emang bodoh. Termakan ucapan orang yang kamu bilang pintar itu, juga terbujuk ucapanmu,” ucap Nani semakin menunduk. Malu hati.
“Bukan itu, Nan. Aku bukan ngetawain kebodohanmu, tapi…aku juga sama,”
“Sama gimana?” Nani mengangkat kepalanya.
“Aku juga mandi kembang tengah malam…”
Nani dan Mita melongo. Kemudian ngakak bareng.
“Jangan bilang, malam Jumat Kliwon juga?” ujar Mita sambil menahan tawa.
Anggi mengangguk lemah.
Kembali kedua sohibnya itu tertawa ngakak.
Nani sampai memegangi perutnya, saking gelinya mendengar akan hal itu. Dia pikir hanya dirinya saja yang bodoh, ternyata Anggi dua kali lipat lebih bodoh darinya.
“Makanya, lain kali jangan asal percaya aja,” ucap Mita mengingatkan. “Hari gene! Masih percaya ‘orang pinter’ hik hik…” sindirnya tajam.
“Udah sih, malu aku, aaah…” Anggi nyanyi.
Keduanya tertawa lagi.
“Buat pelajaran tuh, Gi. Asal percaya aja, yang ada kamu sendiri yang jadi paranoid,” saran Nani sok bijak.
“Kamu juga!” selak Anggi tak mau kalah.
“Baik, Mak…”
“Mak, Mak…kapan aku kawin sama Bapakmu!” jitak Anggi pelan.
Mereka tertawa bersama.
♥♥♥
I'm Falling in Love ama Kakak Mentor
Pas aku lagi sibuk-sibuknya ngebales kemen-komen teman-teman facebook pada statusku, tiba-tiba jendela chatting tampil. Muncul nama Rani Aulia disana.
“Asslkm, Kak?”
Aku menatap sekilas foto profil di sudut atas. Seorang cewek berjilbab dengan wajah imut. Mungkin berumur tiga belas tahun. Atau malah udah tua. Tapi bela-belain majang foto adiknya, nyolong pula. Hehe. Atau bisa jadi juga foto masa kecilnya. Di dunia maya, apa pun bisa terjadi. Dan dimanipulasi.
“Waalaikum salam wr.wb”
“Ganggu gak, Kak?”
“Gak juga, kenapa?”
“Saya pengen curhat ama kakak, boleh kan?”
“Boleh…” dalam hati aku tersenyum, siapa gitu gue sampe dimintain curhat.
“Umur Rani 14 tahun, Kak. Rani baru aja ikut sanlat sebulan yang lalu. Dan abis ikut sanlat itu banyak hal yang bikin Rani berubah. Dan gak tau kenapa, Rani kok ngerasa ada perasaan yang gimana gitu ama salah satu kakak fasilisator sanlat itu. Orangnya ganteng banget, sholeh pula. Rani seneng banget kalo udah denger dia ngomong, kayak dia lagi kultum misalnya. Dan karena satu dan laen hal kami jadi sering ketemu dan jadi akrab deh”
Aku tercenung. Wah, jangan-jangan bener nih bocah umurnya memang 14 tahun. Berabe nih hehe.
“Kayaknya Rani lagi terkena virus-virus merah delima deh”
“Kok bisa, Kak”
“Ya, bisa lah. Secara Rani kan masih ABG. Dan seusia Rani ini memang lagi sensitif-sensitifnya menilai figur cowok, apa lagi kalo dia punya karakter yang diidolaain dan deket banget ama figur keislaman yang lagi Rani pelajarin.”
“Maksudnya, Kak?”
“Rani kan lagi seneng-senengnya mendalami islam. Trus Rani malah ketemu ama figur akhlak dan fisik yang Islami banget. Ditambah pula dia seorang cowok. Ya wajar banget kalo Rani jadi klepek-klepek ama tuh mentor. Kagum iya, mengidolakan iya, takjub juga iya. Iya, gak?”
“Bener banget, Kak. Kok kakak tau sih. Bahkan perasan Rani dalem banget”
“Tau dong. Cieee…Tapi jangan kaget loh, Dek. Walaupun kayaknya perasaan itu dalem banget, tapi biasanya perasaan itu sifatnya temporer aja”
“Temporer itu apaan, Kak. Jangan make bahasa yang belibet gitu deh. Rani gak ngerti…”
“Artinya semakin Rani gede dan beranjak dewasa, Rani bisa berpikir lebih rasional dan realistis. Trus lebih bisa ngontrol emosi dan perasaan Rani. Entar mikirnya bukan lagi gimana sih caranya supaya deket ama dia, yang biasanya diperkuat ama imajinasi juga khayalan, tapi lebih ama penghayatan bahwa Allah akan ngasih jalan keluar yang terbaik buat Rani”
“Trus, Rani harus gimana, Kak?”
“Gimana ya…ya gak gimana-gimana hehe…”
“Serius dong Kak, Rani gak tau kudu ngapain nih, please help me bro”
“Oke. Sekarang Rani belajar deh ngendaliin emosi”
“Emosi apaan, perasaan Rani gak lagi marah-marah deh”
Aku ketawa. Lucu banget nih bocah.
“Bukan emosi kayak gitu, emosi disini artinya hasrat cinta dan perasaan suka. Yang namanya emosi kalo diikutin ya gak ade matinye hehe. Entar malah konsentrasi belajar Rani jadi keganggu, coz mikirin dia mulu. Pengen deh nelpon. Entar kalo udah nelpon sekali, bawaannya pengen nelpon mulu. Trus waktu Rani juga kebuang sia-sia hanya untuk nyari-nyari perhatian dia. Trus kalo udah dapet perhatian dia, Rani tambah kelabakan untuk terus dapet perhatianya yang lebih lagi. Trus maunya ketemuan deh. Berabe banget kan?”
“Bener juga, Kak. Sekarang aja Rani udah gak konsentrasi belajar coz mikirin dia mulu. Abis dia ganteng banget sih. Bahkan lebih ganteng dari Kakak…”
Nah loh, kok jadi ngebahas aku sih. Apa hubungannya coba? Dasar bocah!
“Rani tau gak, cara berpikir mahasiswa ama Rani yang SMP itu jauuuh banget. Kayak antara Jakarta dan Penang”
“Sejauh itu, Kak?”
“Iya dong. Orang yang udah mahasiswa biasanya ngeliat anak SMP itu ya kayak ngeliat adeknya sendiri. Agak jauh kalo ngarep suka kayak sukanya cowok ama cewek. Jadi seharusnya sih kakak mentor Rani itu ngebatesin diri dalam berinteraksi ama lawan jenis meskipun ama anak SMP. Karena walaupun anak SMP itu masih dianggap anak pitik coz baru lulus SD, tapi biasanya mereka udah akil balig. Kan udah dapet itu”
“Hehe…Kakak tau aja kalo anak SMP udah dapet”
“Tau dong, Kakak juga punya ponakan seumuran Rani. Seharusnya Rani panggil aku Om hehe”
“Iya deh Om. Trus gimana lagi?”
“Balik lagi ke soal anak SMP tadi. Jadi, anak SMP itu ibarat anak tanggung, dianggap anak kecil udah bukan anak kecil lagi, tapi dibilang dewasa juga belom. Jadi tepatnya disebut remaja yang kekanak-kanakan kali ya, hehe. Karena pola pikirnya kadang emang masih kekanak-kanakan. Belom bisa ngendaliin dorongan diri, maunya keinginannya dituruti mulu persis anak kecil, iya, kan?”
“Hehe…bener, Om. Jadi perasaan Rani kudu diapain, Om?”
“Di apain, ya hehe. Rani kudu ngerubah persepsi Rani dalam ngartiin perhatian dari seseorang.”
“Ngerubah persepsi, Om?”
“Iya. Yang namanya perhatian itu gak selalu artinya cinta. Siapa aja selama dalam proses belajar dan mengajar, atau pembinaan pasti akan ngasih perhatian. Jadi tanggepin aja perhatian itu ala kadarnya, gak usah lebay. Gak usah di dramatisir. Apa lagi sampe dikhayalin sampe berbau-bau romantis. Hati-hati, takutnya malah nantinya Rani akan semakin terperosok ama perasaan itu. Trus sholat terganggu, ngaji dan belajar males. Maunya ngayal mulu. Rugi banget. Waktu kebuang sia-sia”
“Trus Rani kudu ngapain atuh, Om?”
Bujug, nih bocah udah ada berapa puluh kali nanya kudu ngapain. Apa disuruh ngepel lantai aja apa ya, hehe…
“Om, ngapain?”
“Buat diri Rani sesibuk mungkin. Ikut les kek, organisasi kek, apa kek. Pokoknya judulnya Rani gak boleh ngayal. Rani masih belia banget, jalan ke depan masih panjang kalo gak kepotong ama kematian. Jadi masih banyak hal yang Rani harus capai juga diraih. Oke, Rani?”
“Oke, Om. Makasih saran-sarannya. Perasaan Rani udah jauh, jauh lebih baik sekarang. Diantara friend list Rani, hanya tampang Om yang mengatakan bahwa Om adalah satu-satunya yang bisa Rani ajak sharing hehe…”
“Halah, preeet…bisa aja Lu, miji-muji orang”
“Beneran, Om”
“Iya, deh. Jangan lupa transfer via Dey cab. Balaraja ya, ditunggu hehe…”
“Dasar Si Om matre hehe…”
“Asslkm, Kak?”
Aku menatap sekilas foto profil di sudut atas. Seorang cewek berjilbab dengan wajah imut. Mungkin berumur tiga belas tahun. Atau malah udah tua. Tapi bela-belain majang foto adiknya, nyolong pula. Hehe. Atau bisa jadi juga foto masa kecilnya. Di dunia maya, apa pun bisa terjadi. Dan dimanipulasi.
“Waalaikum salam wr.wb”
“Ganggu gak, Kak?”
“Gak juga, kenapa?”
“Saya pengen curhat ama kakak, boleh kan?”
“Boleh…” dalam hati aku tersenyum, siapa gitu gue sampe dimintain curhat.
“Umur Rani 14 tahun, Kak. Rani baru aja ikut sanlat sebulan yang lalu. Dan abis ikut sanlat itu banyak hal yang bikin Rani berubah. Dan gak tau kenapa, Rani kok ngerasa ada perasaan yang gimana gitu ama salah satu kakak fasilisator sanlat itu. Orangnya ganteng banget, sholeh pula. Rani seneng banget kalo udah denger dia ngomong, kayak dia lagi kultum misalnya. Dan karena satu dan laen hal kami jadi sering ketemu dan jadi akrab deh”
Aku tercenung. Wah, jangan-jangan bener nih bocah umurnya memang 14 tahun. Berabe nih hehe.
“Kayaknya Rani lagi terkena virus-virus merah delima deh”
“Kok bisa, Kak”
“Ya, bisa lah. Secara Rani kan masih ABG. Dan seusia Rani ini memang lagi sensitif-sensitifnya menilai figur cowok, apa lagi kalo dia punya karakter yang diidolaain dan deket banget ama figur keislaman yang lagi Rani pelajarin.”
“Maksudnya, Kak?”
“Rani kan lagi seneng-senengnya mendalami islam. Trus Rani malah ketemu ama figur akhlak dan fisik yang Islami banget. Ditambah pula dia seorang cowok. Ya wajar banget kalo Rani jadi klepek-klepek ama tuh mentor. Kagum iya, mengidolakan iya, takjub juga iya. Iya, gak?”
“Bener banget, Kak. Kok kakak tau sih. Bahkan perasan Rani dalem banget”
“Tau dong. Cieee…Tapi jangan kaget loh, Dek. Walaupun kayaknya perasaan itu dalem banget, tapi biasanya perasaan itu sifatnya temporer aja”
“Temporer itu apaan, Kak. Jangan make bahasa yang belibet gitu deh. Rani gak ngerti…”
“Artinya semakin Rani gede dan beranjak dewasa, Rani bisa berpikir lebih rasional dan realistis. Trus lebih bisa ngontrol emosi dan perasaan Rani. Entar mikirnya bukan lagi gimana sih caranya supaya deket ama dia, yang biasanya diperkuat ama imajinasi juga khayalan, tapi lebih ama penghayatan bahwa Allah akan ngasih jalan keluar yang terbaik buat Rani”
“Trus, Rani harus gimana, Kak?”
“Gimana ya…ya gak gimana-gimana hehe…”
“Serius dong Kak, Rani gak tau kudu ngapain nih, please help me bro”
“Oke. Sekarang Rani belajar deh ngendaliin emosi”
“Emosi apaan, perasaan Rani gak lagi marah-marah deh”
Aku ketawa. Lucu banget nih bocah.
“Bukan emosi kayak gitu, emosi disini artinya hasrat cinta dan perasaan suka. Yang namanya emosi kalo diikutin ya gak ade matinye hehe. Entar malah konsentrasi belajar Rani jadi keganggu, coz mikirin dia mulu. Pengen deh nelpon. Entar kalo udah nelpon sekali, bawaannya pengen nelpon mulu. Trus waktu Rani juga kebuang sia-sia hanya untuk nyari-nyari perhatian dia. Trus kalo udah dapet perhatian dia, Rani tambah kelabakan untuk terus dapet perhatianya yang lebih lagi. Trus maunya ketemuan deh. Berabe banget kan?”
“Bener juga, Kak. Sekarang aja Rani udah gak konsentrasi belajar coz mikirin dia mulu. Abis dia ganteng banget sih. Bahkan lebih ganteng dari Kakak…”
Nah loh, kok jadi ngebahas aku sih. Apa hubungannya coba? Dasar bocah!
“Rani tau gak, cara berpikir mahasiswa ama Rani yang SMP itu jauuuh banget. Kayak antara Jakarta dan Penang”
“Sejauh itu, Kak?”
“Iya dong. Orang yang udah mahasiswa biasanya ngeliat anak SMP itu ya kayak ngeliat adeknya sendiri. Agak jauh kalo ngarep suka kayak sukanya cowok ama cewek. Jadi seharusnya sih kakak mentor Rani itu ngebatesin diri dalam berinteraksi ama lawan jenis meskipun ama anak SMP. Karena walaupun anak SMP itu masih dianggap anak pitik coz baru lulus SD, tapi biasanya mereka udah akil balig. Kan udah dapet itu”
“Hehe…Kakak tau aja kalo anak SMP udah dapet”
“Tau dong, Kakak juga punya ponakan seumuran Rani. Seharusnya Rani panggil aku Om hehe”
“Iya deh Om. Trus gimana lagi?”
“Balik lagi ke soal anak SMP tadi. Jadi, anak SMP itu ibarat anak tanggung, dianggap anak kecil udah bukan anak kecil lagi, tapi dibilang dewasa juga belom. Jadi tepatnya disebut remaja yang kekanak-kanakan kali ya, hehe. Karena pola pikirnya kadang emang masih kekanak-kanakan. Belom bisa ngendaliin dorongan diri, maunya keinginannya dituruti mulu persis anak kecil, iya, kan?”
“Hehe…bener, Om. Jadi perasaan Rani kudu diapain, Om?”
“Di apain, ya hehe. Rani kudu ngerubah persepsi Rani dalam ngartiin perhatian dari seseorang.”
“Ngerubah persepsi, Om?”
“Iya. Yang namanya perhatian itu gak selalu artinya cinta. Siapa aja selama dalam proses belajar dan mengajar, atau pembinaan pasti akan ngasih perhatian. Jadi tanggepin aja perhatian itu ala kadarnya, gak usah lebay. Gak usah di dramatisir. Apa lagi sampe dikhayalin sampe berbau-bau romantis. Hati-hati, takutnya malah nantinya Rani akan semakin terperosok ama perasaan itu. Trus sholat terganggu, ngaji dan belajar males. Maunya ngayal mulu. Rugi banget. Waktu kebuang sia-sia”
“Trus Rani kudu ngapain atuh, Om?”
Bujug, nih bocah udah ada berapa puluh kali nanya kudu ngapain. Apa disuruh ngepel lantai aja apa ya, hehe…
“Om, ngapain?”
“Buat diri Rani sesibuk mungkin. Ikut les kek, organisasi kek, apa kek. Pokoknya judulnya Rani gak boleh ngayal. Rani masih belia banget, jalan ke depan masih panjang kalo gak kepotong ama kematian. Jadi masih banyak hal yang Rani harus capai juga diraih. Oke, Rani?”
“Oke, Om. Makasih saran-sarannya. Perasaan Rani udah jauh, jauh lebih baik sekarang. Diantara friend list Rani, hanya tampang Om yang mengatakan bahwa Om adalah satu-satunya yang bisa Rani ajak sharing hehe…”
“Halah, preeet…bisa aja Lu, miji-muji orang”
“Beneran, Om”
“Iya, deh. Jangan lupa transfer via Dey cab. Balaraja ya, ditunggu hehe…”
“Dasar Si Om matre hehe…”
Noda Menyapa Cinta
Aku boring banget hari ini. Aku telat, kesiangan. Untungnya jam pertama Pak Andi yang mengajar. Sejarah. So aku boleh masuk deh. Aku kan murid kesayangan beliau. Tapi tetep aja, aku dinyanyiin dulu. Diceramahin gitu. Pengeng tau!
“Lia jadi wanita itu harus disiplin…”
Ugh, apa hubungannya coba wanita dengan kedisiplinan? Hehe…lucu ya, Pak Andi.
Aku terkejut. Saat mataku bersirobok dengan sepasang mata bersorot tajam, dinaungi alis lebat, berhidung mancung. Ganteng. Kiyut abiiis! Udah nangkring di bangku sebelahku.
Siapa diaaa…?
“Aku Arjun Malhotra…” Ia memperkenalkan diri dengan percaya dirinya. Dan tersenyum dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat.
Aku tersenyum juga. Geli. Bahasa Indonesianya lucu, kaku dan patah-patah.
Dia rupanya murid baru. Pindahan dari Mumbay, New Dehli, India sono.
Kuerenkaaan? Mirip bintang Bollywood deh. Siapa ya? Lupa, hehe…jarang nonton film India sih…
Semua kaum Hawa di kelas kasak-kusuk. Ada yang melotot pula sama aku, hehe…jeleous kali! Lihat aku duduk indehoy sama tuh cowok.
So pelajaran sejarah cuma diisi dengan bisik-bisik doang.
“Was, wes, wos…xyzzz…stssss…!”
Riuh.
Pak Andi manyun. Gondok. Tidak ada yang memperhatikan penjelasannya. Ujung-ujungnya, beliau memberi tugas, membuat ringkasan tentang salah satu keajaiban dunia. Taj Mahal.
Pusiiing…deh!
@@@
Besok tugas sejarah dikumpulkan.
Gimana nih? Aku sama sekali belum dapat bahannya. Di Perpus nggak ada, keduluan yang lain.
Ampun deh! Alamat diomelin nih…
Kelas sepi, semua ke luar. Istirahat.
Di kelas hanya ada aku dan si Arjun itu.
“Lia!” Aku menoleh. “Sudah buat tugas sejarah?” tanyanya memecah kesunyian kelas.
Aku nyegir. “Belum, kenapa?” tanyaku cuek. Padahal jantungku deg-degan banget.
“Mau, aku ceritakan tentang Taj Mahal?” tawarnya ragu.
Aku terbeliak. “Boleh…” aku girang. Pucuk dicinta ulam tiba. Aku jadi nggak pusing-pusing mencari referensinya. Tinggal pasang kuping saja, bereskan…?
Taj Mahal adalah bangunan yang merupakan kuburan megah yang didirikan oleh raja Shahjahan untuk mengabadikan cintanya pada Mumtaz Mahal. Dan dibangun pada tahun 1632.
@@@
Capek. Habis keliling mall bareng Arjun. Beli mah kagak, cuma lihat-lihat barang bagus doang. Cuci mata. Emang belekan, hehe…
Ujung-ujungnya, makan deh di Food court. Kenyang!
Coba kalau Teh Arum tau, pasti aku dinyanyiin. Buang-buang waktu, katanya. Kurang kerjaan, ngukurin setiap inchi mall doang.
Ada benernya sih, hehe…
Cuma, berhubung diajak Arjun, aku mau lah. Nge-date gitu loh…! Sama cowok kiyut kayak dia, masa nolak sih…
Tau tuh, gara-gara tugas sejarah itu, aku dan doi jadi tambah lengket deh. Trus, aku ngajarin doi cara cepat ngomong Indonesia. Biar nggak belibet gitu! Sebaliknya, dia juga ngajarin aku ngomong Hindi sebagai rasa terima kasihnya karena aku telah berbaik hati mengajarkannya bahasa Indonesia yang baik dan benar.
So sekarang, aku sudah bisa sedikit-sedikit ngomong tuh bahasa. Buat ngomongin temen-temen sekelas, dan mereka cuma planga-plongo aja, nggak mengerti. Walau buntut-buntutnya mereka ngeh juga kalau lagi dijadiin pusat pembicaraan. Hehe…
Aku mau menemani doi jalan tuh karena ingin menghiburnya saja. Kasihan doi. Mama Papanya baru cerai, en doi terpaksa ikut sang Mama ke Indonesia. Katanya sih Papanya meried lagi, en doi ogah punya Mami tiri. Suereeem…katanya.
O, ya, akhir-akhir ini, Salsa, sohib terbaikku agak menjauh. Gara-gara aku lebih sering jalan bareng Arjun dari pada sama dia. Habis dia terlalu nyinyir sih. Sok ngelarang-ngelarang aku jalan bareng sama Arjun.
Memang sih tujuannya baik, tapi kan aku nggak ngapa-ngapain ini sama Arjun. Cuma jalan-jalan doang. Dan yang terpenting, aku bisa menjaga diri. So don’t worry deh…
Tapi katanya, dia bukan mahrom-ku. Bodo deh. Peduli amat!
@@@
Surprised banget! Arjun nembak aku, waktu doi ngajak aku nonton di Twenty One. Nembaknya pas di lobi Twenty One. Sewaktu menunggu film yang akan diputar.
“Lia…selama aku di Indonesia ini, kamulah satu-satunya temen dekat aku. Kamu baik, pintar, mengerti aku en chalo (cantik) pula…” ucapnya menyanjungku.
Hidungku mekar, ge-er dikit mah. Hehe…
“…dan tidak tau kenapa, aku selalu teringat padamu, Lia” katanya sambil meraih jari jemari tanganku. “Lia, aku sayang…kamu”
Wajahku memerah. Panas. Dan tubuhku gemetaran. Panas dingin.
“Lia, mein tum se pyar karti hoon…” bisiknya pelan ditelingaku. Artinya “Aku cinta padamu” begitu…
Aku terdiam. Kaget sekaligus senang tiada terkira.
“Mau tidak kamu jadi pacarku…?” ucapnya penuh harap sambil menatap mataku. Tatapannya tepat menghujam ke jantungku. Hingga membuat lemas persendianku.
Aku mengangguk. Menyambut perasaan cintanya itu dengan hati berbunga-bunga. Mawar, melati, dahlia…hehe…
Dan doi memelukku. Gila! Sesaat aku merasa nggak ada di bumi deh, terbang ke negeri antah berantah, hehe…
Aku menerima doi jadi yayangku karena selain ganteng, lucu, ngerti aku, tapi juga karena doi pintar dalam segala mata pelajaran. Kecuali pelajaran bahasa Indonesia kali yeee…
Bodoh sekali, kalau aku menolak cowok seperti dia. Cowok langka. Dan lagi doi tuh cowok idaman setiap cewek. Termasuk cowok idamanku. Selevellah…hehe, sombong!
Sayang kan, kalau mahluk imut kayak doi dilewatkan.
@@@
Tadi Teh Arum ke kamarku. Biasa deh, kakak semata wayangku itu mau mengintrogasi aku.
Aku dibilang doyan kelayapan, jarang di rumah buat bantuin Mamah. Salatku, terutama subuh bolong-bolong dan yang paling parah, aku dikatain centil, hik hik…hanya karena si Teteh nemuin lipstick di meja riasku.
Ugh, si Teteh…dasar, sirik aja! Nggak boleh apa, aku sedikit berdandan? Kan biar cantik. Aku kan wanita, deuuu…
Teh Arum memang perhatian sekali, tak ada yang luput dari pengamatannya. Dari rambut hingga jilbab dibahas abis, nggak ada bosen-bosennya.
“Rambut Dede yang panjang, hitam dan indah ini sudah saatnya ditutup. Ini aurat, De. Sepuluh orang dalam sehari memperhatikan dan mengagumi rambutmu, sebanyak itu pula dosa yang Dede dapet. Dan blab bla bla…”
Mulai deh khotbahnya, panjaaang… sekali. Sepanjang jalan Probolinggo ke Brebes, hehe…
Aku? Pake jilbab? Oh, no!
Duh, nggak kebayang deh, bisa hancur penampilanku. Kayak Emak-emak gitu, hiiiy…!
Dan yang terpenting, nanti nggak ada acara belai-membelai rambut dari A’Arjun hehe..Aa? Bahasa Hindinya apa, ya? Au ah…
Walau pengeng en boring banget, dengerin ceramah tuh Ustazah, dengerin aja lagi. Kapan lagi coba ada ceramah gratisan, hehe…memang ada, ya ceramah yang pake bayaran?
Dan lagi pula dia itu teteh terbaikku, dan aku sangat menyayanginya.
@@@
“De, kamu udah mulai pacaran, ya?” tanya Teh Arum penuh selidik.
“Kesimpulan dari mana tuh, bisa bertanya demikian?”
“Dede centil sekarang, hehe…”
“Biarin, weee…! “ aku menjulurkan lidah. “Emang kenapa, Teh, kalau Lia pacaran? Mau dikawinin gitu?”
“Sableng! Masih ijo udah ribut nikah” ucap Teteh lucu. “Dede kan tau, di Islam itu…”
“Nggak ada istilah pacaran…” serobotku cepat.
Mulai lagi deh khotbahnya. Teteh nggak tau sih, bagaimana asyiknya pacaran. Apalagi dengan cowok seganteng Arjun Malhotra. Belum lihat sih, coba kalau sudah lihat, pasti klenger. Naksir gitu…
Tapi nggak juga ding. Mustahil itu terjadi sama teteh.
Waktu itu saja, ada temen sekampus Teteh. Ganteng banget. Main kesini, saat Teteh mengadakan kajian. Rame.
Aku melihat tuh cowok dengan jelas, gara-gara dipaksa Teteh ikutan bergabung dengan para jilbaber dan jenggoter itu. Terpaksa. Tapi lumayan sih, dapet tontonan gratis, melototin tuh cowok eh ikhwan ding-kata Teteh. Nggak tau apa artinya, tekwan kali, hehe…hus! Jangan ketauan Teteh, nanti diceramahin lagi. Berabekaaan…
Kembali kesoal tuh cowok eh ikhwan, Teteh adem-adem aja tuh. Padahal aku udah blingsatan, kayak cacing kepanasan.
Teteh normal nggak sih?
Ugh, jahat banget ya, aku.
Semenjak dikerudung, Teteh memang berubah, tapi lebih santun. Apalagi sama ortu. Kalau aku sih, masih seperti biasa hehe…
“De…!” panggil Teteh ngagetin. “…dari tadi diajak ngomong malah ngelamun, dasar!”
@@@
Gawat! Aku nggak datang bulan, gimana nih?
Aku bingung. Takut. Juga penasaran. Trus aku mencoba test pack. Dan hasilnya. Ya Allah…hasilnya po-si-tif. Aku hamil.
Langit runtuh menimpaku. Aku pingsan.
“Dedek udah sadar, ya?” Teh Arum bertanya lembut seraya membelai rambut indahku. “Syukurlah…”
Aku malu sama Teh Arum, Mama, dan juga Papa. Terlebih kepada Allah.
Aku pengen mati aja deh…
“Dede kenapa?” Teh Arum bertanya dengan raut wajah khawatir.
Aku membisu, nggak tau harus ngomong apa? Dan harus mulai dari mana? Hanya air mataku deras mengalir.
Saat malam pergantian tahun berlangsung, aku merayakannya bareng Arjun, di sebuah hotel di tepi pantai. Disana perbuatan terlarang itu terjadi. Demi cintaku padanya, aku rela menyerahkan kegadisanku. Yang seharusnya aku persembahkan untuk pendamping hidupku kelak.
Tapi kini, aku…ah…aku memang bodoh.
Aku sangat menyesal. Tapi sudah tak ada gunanya lagi sekarang. Menyesal memang selalu saja belakangan.
Aku tau, Arjun mau bertanggung jawab, menikahiku. Tapi aku masih bimbang, kami masih terlalu muda untuk mengarungi mahligai pernikahan. Apa itu menikah aja aku nggak ngerti.
“Apa yang harus Lia lakukan, Teh?” tanyaku serak. Bulir-bulir bening menggelinding, membasahi pipiku yang pucat. Aku lega, telah menceritakan semuanya. Namun hatiku serasa dirujit-rujit, saat menatap wajah Teh Arum. Ada kepedihan disana, dibening bola matanya. Ia terluka.
“Maafkan Teteh, De…” suaranya bergetar. “…Teteh gagal mengajakmu” dua bulir bening membasahi wajah cantik tetehku itu. Ia merasa bersalah sekali atas masalah yang menimpaku. Padahal itu sama sekali bukan kesalahannya. Tapi murni karena kesalahan dan kebodohanku sendiri. Tak pernah mendengarkan nasehat-nasehatnya.
“Nggak, Teh. Lia yang salah. Lia bandel, nggak dengerin nasehat Teteh…” ucapku terbata, diantara isak tangisku.
“Sekarang, Dede mau kan bertobat?”
Aku mengangguk kuat. “Insya Allah, Teh”
“Mohon ampunlah pada Allah ya, De?”
Aku menggangguk lagi. Dan tersenyum. Walau hanya berupa lengkung yang patah.
Mulai saat ini, aku akan memperbaiki hidupku, mengikuti aturan-Nya. Meski kini aku telah ternoda.
@@@
“Lia jadi wanita itu harus disiplin…”
Ugh, apa hubungannya coba wanita dengan kedisiplinan? Hehe…lucu ya, Pak Andi.
Aku terkejut. Saat mataku bersirobok dengan sepasang mata bersorot tajam, dinaungi alis lebat, berhidung mancung. Ganteng. Kiyut abiiis! Udah nangkring di bangku sebelahku.
Siapa diaaa…?
“Aku Arjun Malhotra…” Ia memperkenalkan diri dengan percaya dirinya. Dan tersenyum dengan senyuman termanis yang pernah aku lihat.
Aku tersenyum juga. Geli. Bahasa Indonesianya lucu, kaku dan patah-patah.
Dia rupanya murid baru. Pindahan dari Mumbay, New Dehli, India sono.
Kuerenkaaan? Mirip bintang Bollywood deh. Siapa ya? Lupa, hehe…jarang nonton film India sih…
Semua kaum Hawa di kelas kasak-kusuk. Ada yang melotot pula sama aku, hehe…jeleous kali! Lihat aku duduk indehoy sama tuh cowok.
So pelajaran sejarah cuma diisi dengan bisik-bisik doang.
“Was, wes, wos…xyzzz…stssss…!”
Riuh.
Pak Andi manyun. Gondok. Tidak ada yang memperhatikan penjelasannya. Ujung-ujungnya, beliau memberi tugas, membuat ringkasan tentang salah satu keajaiban dunia. Taj Mahal.
Pusiiing…deh!
@@@
Besok tugas sejarah dikumpulkan.
Gimana nih? Aku sama sekali belum dapat bahannya. Di Perpus nggak ada, keduluan yang lain.
Ampun deh! Alamat diomelin nih…
Kelas sepi, semua ke luar. Istirahat.
Di kelas hanya ada aku dan si Arjun itu.
“Lia!” Aku menoleh. “Sudah buat tugas sejarah?” tanyanya memecah kesunyian kelas.
Aku nyegir. “Belum, kenapa?” tanyaku cuek. Padahal jantungku deg-degan banget.
“Mau, aku ceritakan tentang Taj Mahal?” tawarnya ragu.
Aku terbeliak. “Boleh…” aku girang. Pucuk dicinta ulam tiba. Aku jadi nggak pusing-pusing mencari referensinya. Tinggal pasang kuping saja, bereskan…?
Taj Mahal adalah bangunan yang merupakan kuburan megah yang didirikan oleh raja Shahjahan untuk mengabadikan cintanya pada Mumtaz Mahal. Dan dibangun pada tahun 1632.
@@@
Capek. Habis keliling mall bareng Arjun. Beli mah kagak, cuma lihat-lihat barang bagus doang. Cuci mata. Emang belekan, hehe…
Ujung-ujungnya, makan deh di Food court. Kenyang!
Coba kalau Teh Arum tau, pasti aku dinyanyiin. Buang-buang waktu, katanya. Kurang kerjaan, ngukurin setiap inchi mall doang.
Ada benernya sih, hehe…
Cuma, berhubung diajak Arjun, aku mau lah. Nge-date gitu loh…! Sama cowok kiyut kayak dia, masa nolak sih…
Tau tuh, gara-gara tugas sejarah itu, aku dan doi jadi tambah lengket deh. Trus, aku ngajarin doi cara cepat ngomong Indonesia. Biar nggak belibet gitu! Sebaliknya, dia juga ngajarin aku ngomong Hindi sebagai rasa terima kasihnya karena aku telah berbaik hati mengajarkannya bahasa Indonesia yang baik dan benar.
So sekarang, aku sudah bisa sedikit-sedikit ngomong tuh bahasa. Buat ngomongin temen-temen sekelas, dan mereka cuma planga-plongo aja, nggak mengerti. Walau buntut-buntutnya mereka ngeh juga kalau lagi dijadiin pusat pembicaraan. Hehe…
Aku mau menemani doi jalan tuh karena ingin menghiburnya saja. Kasihan doi. Mama Papanya baru cerai, en doi terpaksa ikut sang Mama ke Indonesia. Katanya sih Papanya meried lagi, en doi ogah punya Mami tiri. Suereeem…katanya.
O, ya, akhir-akhir ini, Salsa, sohib terbaikku agak menjauh. Gara-gara aku lebih sering jalan bareng Arjun dari pada sama dia. Habis dia terlalu nyinyir sih. Sok ngelarang-ngelarang aku jalan bareng sama Arjun.
Memang sih tujuannya baik, tapi kan aku nggak ngapa-ngapain ini sama Arjun. Cuma jalan-jalan doang. Dan yang terpenting, aku bisa menjaga diri. So don’t worry deh…
Tapi katanya, dia bukan mahrom-ku. Bodo deh. Peduli amat!
@@@
Surprised banget! Arjun nembak aku, waktu doi ngajak aku nonton di Twenty One. Nembaknya pas di lobi Twenty One. Sewaktu menunggu film yang akan diputar.
“Lia…selama aku di Indonesia ini, kamulah satu-satunya temen dekat aku. Kamu baik, pintar, mengerti aku en chalo (cantik) pula…” ucapnya menyanjungku.
Hidungku mekar, ge-er dikit mah. Hehe…
“…dan tidak tau kenapa, aku selalu teringat padamu, Lia” katanya sambil meraih jari jemari tanganku. “Lia, aku sayang…kamu”
Wajahku memerah. Panas. Dan tubuhku gemetaran. Panas dingin.
“Lia, mein tum se pyar karti hoon…” bisiknya pelan ditelingaku. Artinya “Aku cinta padamu” begitu…
Aku terdiam. Kaget sekaligus senang tiada terkira.
“Mau tidak kamu jadi pacarku…?” ucapnya penuh harap sambil menatap mataku. Tatapannya tepat menghujam ke jantungku. Hingga membuat lemas persendianku.
Aku mengangguk. Menyambut perasaan cintanya itu dengan hati berbunga-bunga. Mawar, melati, dahlia…hehe…
Dan doi memelukku. Gila! Sesaat aku merasa nggak ada di bumi deh, terbang ke negeri antah berantah, hehe…
Aku menerima doi jadi yayangku karena selain ganteng, lucu, ngerti aku, tapi juga karena doi pintar dalam segala mata pelajaran. Kecuali pelajaran bahasa Indonesia kali yeee…
Bodoh sekali, kalau aku menolak cowok seperti dia. Cowok langka. Dan lagi doi tuh cowok idaman setiap cewek. Termasuk cowok idamanku. Selevellah…hehe, sombong!
Sayang kan, kalau mahluk imut kayak doi dilewatkan.
@@@
Tadi Teh Arum ke kamarku. Biasa deh, kakak semata wayangku itu mau mengintrogasi aku.
Aku dibilang doyan kelayapan, jarang di rumah buat bantuin Mamah. Salatku, terutama subuh bolong-bolong dan yang paling parah, aku dikatain centil, hik hik…hanya karena si Teteh nemuin lipstick di meja riasku.
Ugh, si Teteh…dasar, sirik aja! Nggak boleh apa, aku sedikit berdandan? Kan biar cantik. Aku kan wanita, deuuu…
Teh Arum memang perhatian sekali, tak ada yang luput dari pengamatannya. Dari rambut hingga jilbab dibahas abis, nggak ada bosen-bosennya.
“Rambut Dede yang panjang, hitam dan indah ini sudah saatnya ditutup. Ini aurat, De. Sepuluh orang dalam sehari memperhatikan dan mengagumi rambutmu, sebanyak itu pula dosa yang Dede dapet. Dan blab bla bla…”
Mulai deh khotbahnya, panjaaang… sekali. Sepanjang jalan Probolinggo ke Brebes, hehe…
Aku? Pake jilbab? Oh, no!
Duh, nggak kebayang deh, bisa hancur penampilanku. Kayak Emak-emak gitu, hiiiy…!
Dan yang terpenting, nanti nggak ada acara belai-membelai rambut dari A’Arjun hehe..Aa? Bahasa Hindinya apa, ya? Au ah…
Walau pengeng en boring banget, dengerin ceramah tuh Ustazah, dengerin aja lagi. Kapan lagi coba ada ceramah gratisan, hehe…memang ada, ya ceramah yang pake bayaran?
Dan lagi pula dia itu teteh terbaikku, dan aku sangat menyayanginya.
@@@
“De, kamu udah mulai pacaran, ya?” tanya Teh Arum penuh selidik.
“Kesimpulan dari mana tuh, bisa bertanya demikian?”
“Dede centil sekarang, hehe…”
“Biarin, weee…! “ aku menjulurkan lidah. “Emang kenapa, Teh, kalau Lia pacaran? Mau dikawinin gitu?”
“Sableng! Masih ijo udah ribut nikah” ucap Teteh lucu. “Dede kan tau, di Islam itu…”
“Nggak ada istilah pacaran…” serobotku cepat.
Mulai lagi deh khotbahnya. Teteh nggak tau sih, bagaimana asyiknya pacaran. Apalagi dengan cowok seganteng Arjun Malhotra. Belum lihat sih, coba kalau sudah lihat, pasti klenger. Naksir gitu…
Tapi nggak juga ding. Mustahil itu terjadi sama teteh.
Waktu itu saja, ada temen sekampus Teteh. Ganteng banget. Main kesini, saat Teteh mengadakan kajian. Rame.
Aku melihat tuh cowok dengan jelas, gara-gara dipaksa Teteh ikutan bergabung dengan para jilbaber dan jenggoter itu. Terpaksa. Tapi lumayan sih, dapet tontonan gratis, melototin tuh cowok eh ikhwan ding-kata Teteh. Nggak tau apa artinya, tekwan kali, hehe…hus! Jangan ketauan Teteh, nanti diceramahin lagi. Berabekaaan…
Kembali kesoal tuh cowok eh ikhwan, Teteh adem-adem aja tuh. Padahal aku udah blingsatan, kayak cacing kepanasan.
Teteh normal nggak sih?
Ugh, jahat banget ya, aku.
Semenjak dikerudung, Teteh memang berubah, tapi lebih santun. Apalagi sama ortu. Kalau aku sih, masih seperti biasa hehe…
“De…!” panggil Teteh ngagetin. “…dari tadi diajak ngomong malah ngelamun, dasar!”
@@@
Gawat! Aku nggak datang bulan, gimana nih?
Aku bingung. Takut. Juga penasaran. Trus aku mencoba test pack. Dan hasilnya. Ya Allah…hasilnya po-si-tif. Aku hamil.
Langit runtuh menimpaku. Aku pingsan.
“Dedek udah sadar, ya?” Teh Arum bertanya lembut seraya membelai rambut indahku. “Syukurlah…”
Aku malu sama Teh Arum, Mama, dan juga Papa. Terlebih kepada Allah.
Aku pengen mati aja deh…
“Dede kenapa?” Teh Arum bertanya dengan raut wajah khawatir.
Aku membisu, nggak tau harus ngomong apa? Dan harus mulai dari mana? Hanya air mataku deras mengalir.
Saat malam pergantian tahun berlangsung, aku merayakannya bareng Arjun, di sebuah hotel di tepi pantai. Disana perbuatan terlarang itu terjadi. Demi cintaku padanya, aku rela menyerahkan kegadisanku. Yang seharusnya aku persembahkan untuk pendamping hidupku kelak.
Tapi kini, aku…ah…aku memang bodoh.
Aku sangat menyesal. Tapi sudah tak ada gunanya lagi sekarang. Menyesal memang selalu saja belakangan.
Aku tau, Arjun mau bertanggung jawab, menikahiku. Tapi aku masih bimbang, kami masih terlalu muda untuk mengarungi mahligai pernikahan. Apa itu menikah aja aku nggak ngerti.
“Apa yang harus Lia lakukan, Teh?” tanyaku serak. Bulir-bulir bening menggelinding, membasahi pipiku yang pucat. Aku lega, telah menceritakan semuanya. Namun hatiku serasa dirujit-rujit, saat menatap wajah Teh Arum. Ada kepedihan disana, dibening bola matanya. Ia terluka.
“Maafkan Teteh, De…” suaranya bergetar. “…Teteh gagal mengajakmu” dua bulir bening membasahi wajah cantik tetehku itu. Ia merasa bersalah sekali atas masalah yang menimpaku. Padahal itu sama sekali bukan kesalahannya. Tapi murni karena kesalahan dan kebodohanku sendiri. Tak pernah mendengarkan nasehat-nasehatnya.
“Nggak, Teh. Lia yang salah. Lia bandel, nggak dengerin nasehat Teteh…” ucapku terbata, diantara isak tangisku.
“Sekarang, Dede mau kan bertobat?”
Aku mengangguk kuat. “Insya Allah, Teh”
“Mohon ampunlah pada Allah ya, De?”
Aku menggangguk lagi. Dan tersenyum. Walau hanya berupa lengkung yang patah.
Mulai saat ini, aku akan memperbaiki hidupku, mengikuti aturan-Nya. Meski kini aku telah ternoda.
@@@
Langganan:
Postingan (Atom)