Aku kenal dia saat kami masih berseragam abu-abu. Dia duduk tepat dibelakang kursiku. Dia nggak banyak omong. Bicaranya irit banget, seperlunya aja. Bahkan dia cendrung menutup diri. Dia pemalu dan rendah diri. Dikemudian hari setelah aku akrab dengannya, aku baru tahu kenapa dia minderan. Ternyata dia nggak PD dengan suaranya yang kecil.
Aku nggak tau bagaimana mulanya aku dan dia bisa akrab. Yang jelas, aku yang cerewet ini punya banyak andil dalam membuka sikap introvert-nya. Terutama ngajarin dia agar dia percaya diri, nggak terlalu irit omong dan banyak mengumbar senyum. Selalu menegakkan kepala saat berjalan. Dan jangan sampai menyembunyikan diri. Seperti tanaman putri malu, langsung meredupkan daunnya apabila disentuh.
Gencarnya aku membombandrdir dia dengan segala hal agar pikirannya lebih terbuka. Agar dia berani mengemukakan pendapatnya. Membela diri saat disudutkan. Dan jangan mau diperalat oleh orang lain karena kebaikan hatinya. Dia orangnya nggak tegaan. Dan akhirnya lambat laun yang kulakukan membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit dia mulai bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Tiga tahun dibangku menengah umum membuat aku dan dia semakin dekat dan akrab. Dan kedekatan itu tetap berlanjut hingga kami duduk dibangku kuliah. Meski kami mengambil jurusan yang berbeda. Dia ngambil keguruan. Sedangkan aku ngambil desain grafis. Aku ngambil jurusan itu bukan karena aku jago desain, tapi karena aku ogah jadi pengangguran. Dan pengen ngerasain jadi mahasiswa. Juga karena aku ogah jadi buruh pabrik. Hehe.
Sedangkan dia ngambil guru, mungkin karena gayanya cocok banget dengan predikat yang akan dia sandang kelak “Bapak Guru”. Rambut klimis. Kumis tipis. Sepatu mengkilat. Baju selalu dimasukkan, rapi banget. Dengan stelan kemeja dan celana bahan. Itu seragam bakunya dalam keseharian. Formil banget. Tapi dia merasa PD dengan tampilannya itu. Meskipun aku rasa, kalo dia ngerubah sedikit aja penampilannya agar lebih gaul. Pasti dia akan jauh lebih keren. Hehe.
Tapi sepertinya dia enggan keluar dari gaya bakunya itu. Ya, itu haknya sih. Dan sebagai sahabatnya, aku bener-bener nggak bisa ngerubah gayanya itu meski aku udah berbusa-busa ngomong.
“Lo keren banget tau kalo pake kaos ini, pake celana selutut ini, pake ini pake itu….” Tapi dia tetap keukueh sumeukeuh pake pakaian kebesarannya itu. So never mind, biarkan dia dengan gaya pakaiannya itu. Yang penting dia ngerasa nyaman. Kenapa aku lakukan itu? Karena aku adalah SAHABATNYA.
Lulus kuliah, aku dan dia masih tetap akrab dan dekat. Meski kerikil-kerikil tajam berupa pertengkaran kerap mewarnai. Tapi itu nggak menyurutkan langkah persahabatan kami. Aku dan dia masih tetap bersahabat. Dan kami malah tambah akrab kalau habis bertengkar dan diem-dieman.
Selama kami bersahabat, aku dan dia sering berbagi cerita. Tapi ceritaku lebih mengalir deras. Bahkan dia sampai nggak bisa menampungnya. Meluber kemana-mana. Tapi dia sebaliknya, ceritanya tersendat-sendat bahkan bisa macet total kalau aku nggak memancingnya terlebih dahulu.
Dia lebih senang menjadi pendengar yang baik, ketimbang pencerita yang baik. Dia selalu gagap kalo harus nyeritain suatu masalah atau ganjalan yang dia hadapi. Bingung katanya, harus mulai dari mana kalau harus bercerita.
Tapi lagi-lagi dengan kelihaianku, dia bisa buka mulut setelah aku korek-korek, meski kemacetan sering menghadang disana-sini. Aku dengan sabar berusaha menjadi pendengarnya. Karena sekali aku sela, maka buyar sudah alur cerita yang udah dia susun dengan susah payah. Hingga plotnya pun hilang entah kemana. Dan intriknya pun nggak muncul. Emang lagi menulis cerpen apa, pake plot dan intrik segala. Hehe.
Kami juga kerap menghabiskan waktu untuk jalan-jalan bersama. Kemping, berwisata, ke pameran buku, konser nasyid, nyari buku loakan di Pasar Senen, nonton di Twenty One, makan di café or resto atau wisata kuliner dipinggir jalan, berburu DVD bajakan, sampe nyari baju ke mall.
Semua hal itu kami lakukan dengan semangat dan kegembiraan mengisi hidup dan masa lajang. Tanpa memikirkan umur yang mulai kepala tiga. Kami jalani hidup ini mengalir seperti air dengan riaknya. Beban banyak, masalah banyak, tapi keceriaan dalam mengisi hidup terus kami gaungkan. Bahwa nggak ada masalah yang nggak ada jalan keluarnya. Dan kami saling membantu dan menguatkan satu sama lain dalam ikatan persahabatan.
Kini dia menjadi seorang lelaki yang pandai bergaul. Kemana pun dia pergi dia langsung bisa mendapatakan teman baru. Berbeda denganku. Aku gurunya dalam mengajarkan etika pergaulan, tapi aku gagal memperaktekkan teori yang udah aku doktrinkan kepada dia. Bagaimana caranya bergaul dengan baik dan benar. Tanpa harus kehilangan arah dan jati diri yang kita miliki.
Tapi dia nggak pelit berbagi teman baru. Dia akan selalu mengenalkan teman-teman barunya kepadaku. Tanpa dia, mungkin sampai saat ini aku nggak akan punya banyak teman. Karena aku pemalu. Nggak bisa memulai berteman terlebih dahulu.
Namun akhir-akhir ini persahabatanku dengannya mulai merenggang. Bukan karena banyak aktifitas dan kesibukan, bukan juga karena jarangnya intensitas kami bertemu. Tapi karena sms yang dia kirimkan kepadaku. Cukup membuatku kehilangan kata-kata. Meski sms itu hanya berisi sepuluh suku kata.
“Tolong ya, Dey. Jangan buka keburukan aku pada calon istriku”
Ya, Allah…membaca sms itu aku merasa ditabok berulang-ulang. Aku kaget bukan main. Aku shock. Kok kesannya aku lebay banget, ya. Tapi itulah yang aku rasakan. Aku ngerasa nggak ada harganya.
Bagaimana mungkin seorang sahabat yang udah bertahun-tahun bersahabat denganku bisa melontarkan kata-kata seperti itu. Tidakkah persahabatan kami yang lama itu mampu membuatnya mempercayai sahabatnya ini? Tidakkah masa yang lama dalam persahabatan itu mampu membuatnya menilai, melihat dan merasakan sifat dan karakterku?
Toh, selama ini aku nggak pernah bermain watak dihadapannya. Aku nggak pernah jaim dihadapannya. Aku selalu menampilkan apa adanya diriku. Tanpa ada yang kututupi sama sekali. Tapi mengapa kepercayaan itu nggak dimilikinya? Apakah tahun-tahun yang udah kami lewati itu masih nggak cukup untuk memupuk kepercayaannya kepadaku?
Aku benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikirannya. Apakah dia pikir aku sanggup membeberkan segala rahasia dan keburukannya kepada orang lain? Sebawel-bawelnya aku, aku nggak akan bawel kalo urusannya udah berbau RAHASIA. I’ll shut up. Semarah-marahnya aku ama dia dan sebesar apa pun masalah antara aku dan dia. Aku akan tetap menjaga rahasianya dengan aman. Dan aku nggak akan mungkin membuka aibnya. NGGAK AKAN. Karena bagiku, itu sama aja artinya aku membuka aibku sendiri. Karena dia adalah SAHABATKU.
Memang itu haknya, untuk percaya atau nggak padaku. Tapi lamanya persahabatan kami tidakkah cukup menjadi bukti bahwa disana ada kesetiaan, kejujuran, kepercayaan dan kesalingmengertian. Dariku untuknya. Karena aku pun sebagai sahabatnya, memiliki semua perasaan itu. Aku mempercayainya. Meskipun misalnya dia membohongiku. Aku akan tetap memaafkannya. Karena dia adalah SAHABATKU.
Mungkin bagi sebagian orang sms itu kata-kata yang sepele banget dan nggak ada artinya sama sekali. Tapi bagiku BESAR sekali artinya.
Artinya dia sama sekali nggak mempercayai aku sebagai sahabatnya sendiri. Dan itu sangat menyakiti hatiku. Gimana nggak coba. Sebagai sahabat yang baik, aku selalu menutupi semua keburukannya dari orang lain yang sam-sama kami kenal. Kusimpan segala rahasia dan cerita yang dia ceritakan kepadaku. Kugigit erat-erat hingga nggak tercecer dan jadi bahan perbincangan orang lain. Kenapa? Karena aku adalah SAHABATNYA.
Kusayangi dia dengan setulus hati. Kuberikan dukungan moral saat dia anjlok ke titik nol. Kusemangati dia agar kuat saat dia lemah. Kutemani dia kemanapun dia ingin pergi saat nggak ada halangan dan kesibukan yang menghalangiku. Untuk membunuh sepi yang sedang menelikungnya. Dan aku tulus ikhlas dalam melakukannya. Kenapa? Karena aku adalah SAHABATNYA.
Tapi kenapa dia tega melontarkan kata-kata seperti itu?
Dan setelah semua dikomunikasikan. Dikonfirmasikan. Ada apa dan mengapa? Semua masih nggak jelas bagiku. Tapi sekali lagi aku memaafkannya. Karena dia adalah SAHABATKU.
Dan saaat aku bertemu muka dengannya beberapa hari yang lalu. Dia tampak berbeda. Meski dia didepanku. Tapi hatinya nggak ada disana. Dia membuat sekat diantara kami. Meskipun samar tapi dengan jelas aku bisa merasakannya. Acuh bicaranya, patah lengkung senyumnya, gelisah duduknya dan dia enggan menatap mataku. Membuang arah pandang kesegala penjuru. Tidak kepadaku. Ada apa dengannya?
Mungkinkah persahabatan kami sudah retak? Seperti halnya gelas yang retak, dan nggak mungkin bisa utuh kembali?
Meskipun aku nggak ngerti harus bagaimana, tapi aku masih menunggunya disini untuk memberinya ruang dan waktu. Agar dia leluasa berpikir. Akan dibawa kemana persahabatan aku dan dia. Mengapa aku lakukan itu? Karena aku masih SAHABATNYA.
(untuk dia, sahabatku yang saat ini nggak bisa kugapai…)
Kamar bujang, 19 Nov 2010
Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 November 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Mabit Lido menjelang Ramadhan
Matahari mulai naik sepenggalah meninggalkan buaian malam dalam hitamnya yang sempat bertahta. Saat aku dan Udin menikmati semangkuk bubur ayam yang lezat. Racikan dan penyajiannya agak sedikit beda ama bubur ayam yang biasa jadi langgananku di depan rumah. Kalau bubur ayam yang sedang kusantap itu gak pake siraman santan kental, tapi kecap asinnya lebih mendominasi. Berbeda, tapi ada kelezatan pada tiap masing-masing racikannya.
“Tadi kenapa harus ngumpet-ngumpet segala si, Din?”
Tercetus juga rasa heran yang sedari berkecamuk dibenakku. Saat kemunculan Udin lumayan mengejutkanku. Gimana nggak coba, aku udah celingukan dengan ponsel bertengger dikuping. Dia malah nongol dari arah belakang.
Udin menghembuskan nafasnya perlahan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk bubur ayam itu sehingga semua bahan-bahan yang ada dalam bubur tercampaur baur. Cara makan yang nyaris sama dengan kebanyakan orang. Beda banget ama cara makanku. Kalo aku sih membiarkan semua racikan itu seperti apa adanya. Diambil sedikit demi sedikit. Aku sih geli kalo liat warna bubur itu berubah karena diaduk-aduk. Mengingatkan aku pada muntahan orang.
“Aku takut bertemu dengan penjaga sekolah, Dey”
Aku mengerenyitkan dahiku. “Kenapa? Ngigit emangnya” aku bercanda sambil tersenyum.
“Dia tuh orangnya agak ember, Dey. Ucapannya suka dilebih-lebihkan gitu. Intinya sih aku akan jelek banget dimata kepala sekolah”
“Bukannya kamu tadi bilang kalo hari ini kelasmu kosong. Lagian kamu udah izinkan sama kepala sekolah” ucapku bingung sambil mengunyah buburku yang terasa nikmat sekali.
“Iya sih. Tapi tetep, Dey. Aku akan jelek banget dimata kepala sekolah”
Mata Udin langsung meredup setelah mengucapkan kata-kata itu. Matanya seolah berkata “bertemu penjaga sekolah itu, saat seharusnya aku mengajar adalah hal terburuk yang akan menjadi santapan lezat bagi mulut usilnya”
Aku ngerti. Dan aku langsung merubah topik pembicaraan yang gak ngenakin itu dengan hal-hal ringan. Agar kecerahan pagi itu gak merubah wajah seseorang yang udah jadi sahabat terbaikku dari masa seragam putih abu-abu sampe sekarang.
Setelah semangkuk bubur ayam singgah diperut kami, kami harus berlari-lari mengejar AJA Cimone-Grogol yang kecentilan dengan jalannya yang endut-endutan. Menaikan segerombolan juga satu-persatu penumpang yang akan menggunakan jasa bus itu.
@@@
Waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat saat aku dan Udin sampai di halte Jelambar. Dan sekelebat kulihat bayangan Gigih, ia celingukan mencari-cari dimana kami berada.
Setelah berpelukan untuk melepas segala kerinduan dan basa-basi bertanya kabar. Kami berempat, aku, Maulana, Gigih dan Udin berdiri mengobrol diselingi canda tawa, menunggu datangnya bus yang akan membawa kami ke rumah Evi di SPN Lido.
Lama menunggu bus Sukabumi-Kali Deres, hingga kakiku pegel, akhirnya nongol juga tuh bus. Alhamdulillah, kami dapat tempat duduk. Meski Maulana dan Udin harus duduk terpisah dari aku dan Gigih. Namun jaraknya masih berdekatan. Maklum sebagian dari kursi-kursi itu telah terisi sebagian.
Saat bus melaju membelah lalu lintas Jakarta dengan segala kesemrawutannya. Seorang bapak paruh baya dengan rambut yang mulai dipenuhi uban bertanya ama aku. Tujuanku mau kemana dan dari mana. Biasalah pertanyaan basi sebagai pembuka percakapan. Sehingga menginterupsi obrolanku dengan Gigih yang sedang berlangsung.
Semula agak menyenangkan saat mengetahui kalau bapak itu punya lahan subur untuk bekerja. Peluang tuh untuk mendapatkan pekerjaan, pikirku. Sehingga kuberanikan diri untuk menanyakan lowongan pekerjaan padanya. Dengan antusias ia minta nomor ponselku agar ia bisa menghubungiku kalau ia membutuhkan karyawan baru.
Dari obrolan singkat mengenai lowongan pekerjaan, ujung-ujungnya obrolan itu mgelantur kemana-mana. Dari bahasan satu kebahasan lain yang meloncat-loncat gak ada ujung pangkalnya yang membuatku sedikit jengkel. Karena ia terus-terusan memotong pembicaraan yang sedang kulakukan dengan Gigih. Belum lagi setiap kata yang ia lontarkan selalu bersamaan dengan hujan lokal keluar dari mulutnya yang bergigi kuning gak keurus plus beraroma naga. Membuatku harus berulangkali menghapus muncratan yang mengenai punggung tanganku.
Separuh perjalanan itu benar-benar membuatku gak nyaman banget harus satu kursi dengan bapak itu. Mulutnya terus menerus menyenandungkan kebohongan demi kebohongan yang terlihat jelas dari sorot matanya juga omongannya yang semakin lama semakin jauh dari kenyataan. Ia mengaku sebagai keturunan Sunan lah, personalia di perusahaan marketing lah dan ia sedang ingin naik mobil umum dari pada mobil pribadi karena sedang merakyat lah. Dih, kesannya dia keluarga kerajaan yang sedang turun gunung apa. Dan tetek bengek lainnya, yang intinya sih bokis abis.
Aku enek dan muak saat aroma ketiaknya menguar dari tubuhnya. Dan semakin muak dan jijik saja saat tangannya bergerilnya menjamah selakangannya sendiri dengan kerlingan mata jalangnya. Seolah menggodaku.
Aku beristigfar lirih. Dan terus menyenandungkan bait-bait doa keharibaan Allah, agar aku diselamatkan dari kedzoliman bapak itu yang mengaku bernama Jemy, apabila ia akan berbuat dzolim.
Aku pikir aku gak akan diganggu lagi oleh obrolan dari mulut Pak Jemy itu saat kupasang headset ketelingaku. Mendengarkan nasyid-nasyid dari mp3 yang Gigih bawa. Taunya, ia masih aja mengangguku dengan segala omongan gak bermutunya itu.
Dan aku semakin menyesal saja memberikan nomer ponselku, saat ia berkata bahwa ia masih melajang diusianya yang menginjak 46 tahun itu karena ia gak tertarik pada lawan jenis.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri melontarkan pertanyaan itu. Meski aku sadar itu bukan urusanku sama sekali.
“Ada aja…” cetusnya sambil bahunya ia gesekkan kebahuku.
Aku meringis jeri. Menghadapkan wajahku pada Gigih yang seolah gak nyadar sama sekali kalau aku sedang butuh pertolongannya. Dan aku sendiri gak tau, Gigih harus nolong apa ama aku. Lha, secara aku terlihat baik-baik aja. Nggak terlihat sedang dianiaya.
“Kalau kamu menikah, nanti undang saya, ya” kembali ia mengerling genit padaku.
Aku mengangguk terpaksa. Meski rasa sebal mulai menaiki ubun-ubun kepalaku. Kayaknya udah mulai berasap deh.
“Nanti mampir ke rumah teman saya ya, namanya Dodi. Tapi jangan banyak-banyak kalau main, cukup kamu aja atau sama temen disebelah kamu juga boleh. Nanti kita disana seru-seruan…” cerocosnya menyebutkan tempat tinggal temannya di daerah Cengkareng. Menekan kata seru-seruan yang terdengar menjijikkan ditelingaku. Apaan coba seru-seruan?
Aku nyengir terpaksa. Mewakili ucapan yang enggan keluar untuk mengiyakan ajakannya itu.
Najis! Nggak sudi gue mampir. Dia pikir gue apaan…! Siapa juga yang mau mampir…
Aku beristigfar lirih sambil menghembuskan nafasku yang terasa mencekik. Tercekik oleh rasa muak dan terhina yang menjalariku sejak dari tadi ia mulai melakukan dan mengatakan hal-hal yang aneh itu.
Dan aku baru benar-benar bisa bernafas lega saat Pak Jemy itu bangkit dari duduknya, karena bus itu sudah memasuki kawasan Ciawi. Ia akan turun di Ciawi. Dibelakang masjid samping Universitas Juanda itulah ia mengaku tinggal. Lalu ia berdiri di dekat pintu bus dengan sebatang rokok terselip di bibirnya yang menghitam.
Aku muak. Muak karena ternyata dia merokok. Poin yang membuat semakin panjang deretan rasa muakku pada segala kebohongan yang tadi ia dongengkan. Udah penipu, perokok pula.
Aku melengos saat asap rokoknya menghampiri tempat dudukku. Melempar pandangku pada kendaraan-kendaraan yang berjalan merayap sepanjang jalan memasuki Ciawi.
“Ini kan hari sabtu, Kang. Biasa macet mah. Jalurnya kan buka-tutup. Sabar dong…” Gigih menjawab kerisauan hatiku dengan tenangnya. Ugh, mana bisa aku bersabar dengan kemacetan seperti itu. Ditambah dengan bau asep rokok juga bau ketiak yang entah berasal dari tubuh siapa.
@@@
Langit agak sedikit kelabu, matahari kadang-kadang tertutup oleh awan-awan nakal yang berarak dilangit tanpa batas. Saat kami berjalan menanjak memasuki kawasan SPN Lido.
Sepanjang jalan menanjak itu Udin sibuk mencari warung kecil untuk membeli plester. Tangannya terluka oleh silet yang ia bawa di tasnya, tanpa terbungkus. Menggores tangannya dengan sayatannya yang pedih saat ia mencari-cari lembaran rupiah yang ia letakkan dalam saku tasnya.
Angin segar kawasan Lido menampar-nampar wajah kami saat kami memasuki pekarangan rumah Evi. Rumah yang akan kami gunakan untuk mengelar acara Mabit menjelang ramadhan yang akan dilaksanakan ba’da Dzuhur. Sesuai jadwal, rangkaian acara memang akan dilangsungkan dari ba’da Dzuhur hingga akhirnya penutupan keesokan paginya.
Kami langsung menghampiri meja tamu yang telah Evi sediakan untuk mengisi buku tamu. Juga mengambil beberapa lembar selebaran yang telah difoto copy yang berisi semua seluk beluk yang berbau ramadhan sebagai bahasannya.
“Hayuk, pada masuk heula kaleubet…”
Sibuk Evi menggiring kami agar memasuki ruang tamu rumahnya yang sejuk. Dengan ucapan yang selalu tercampur baur dengan bahasa Sunda, terceplos begitu saja dari mulutnya yang memang terbiasa seperti itu. Bagi orang Sunda sendiri ucapannya itu gak ada masalah sama sekali, tapi akan jadi masalah kalau kalimat-kalimat itu udah di alamatin ama Gigih dan Maulana. Secara mereka berdua tuh orang Betawi. Lha, ya kagak bakalan nyambung.
Dan buntut-buntutnya aku harus legowo jadi penerjemah dadakan bagi keduanya yang selalu saja tersenyum-senyum culun.
Maklum teu ngartieun, hehe…
Meski Evi telah berulang kali menasehati mulutnya supaya gak mengeluarkan kata-kata itu, tapi tetap aja mulutnya balik lagi, balik lagi pada bahasa Sundanya yang medok itu. Dan saat aku mengingatkannya, ia akan buru-buru meminta maaf dengan kata-kata lucu yang berloncatan dari bibirnya. Namun gak lama kemudian, saat ia mulai berkata lagi, kata-kata Sunda itu akan keluar lagi. Jadi sudahlah. Biarkan ia dengan ucapannya itu. Dan dengan senang hati (baca terpaksa hehe) aku akan menjadi penerjemahnya tanpa bayaran.
“Sekarang aja apa Om, beres-beresnya. Tapi nanti dulu ya, masih cararapek meureun” cetusnya lucu sambil tersenyum sumringah. Kalau sudah bertingkah seperti itu ia terlihat menggemaskan. Kalau ia keponakanku, pasti sudah aku gucel-gucel kepalanya saking gak tahan melihat tingkah polah akhwat itu. Dewasa sekaligus kekanak-kanakan.
“Target berapa orang yang ingin dicapai, Vi?” aku membuka pembicaraan.
“Ya, pengennya sih 30 orang, Om. Tapi lihat aja, sekarang aja belom ada yang datang” seloroh Evi seolah pesimis.
“Macet kali, Vi…” Gigih urun suara.
“Iya macet banget. Tadi aja kita di bawa muter ke jalan daerah Tapos yang mau ke Wadi…” ucapku membesarkan hati. “…ya, walau yang nanti yang datangnya sedikit ya, nggak papa. Yang penting sukses kayak di Cinumpang dulu. Ya, kan?” tandasku mantap, meski aku gak yakin acara ini akan mendulang sukses seperti di Cinumpang kemarin.
Gigih dan Evi mengiyakan ucapanku.
Sementara itu tangan-tangan kami sibuk mengangkat dan memberesi barang-barang yang ada di ruangan itu. Digeser, dipindah dan setelah lapang menggelar karpet deh. Sebentar saja ruangan itu sudah terlihat lapang dengan bentangan karpet tebal. Dan di ujung karpet bagian dalam, diberi meja untuk meletakkan teve besar juga DVD. Properti yang akan digunakan untuk pemutaran film islami yang menjadi bagian dari acara yang akan dilaksanakan.
Waktu terus merangkak. Kehadiran akhi Fauzi disusul oleh ukhti Euis, ukhti Lilim, ukhti Nining, ukhti Miqo, akhi Imam dan akhi Asep membuat kami yang udah ngejogrog dari tadi bisa bernafas lega. Meski dari mulutku telah menyenandungkan “gak apa-apa” walau yang datang sedikit. Tapi tetep aja jantungku terus menerus berdetak gak karuan saat menunggu kemunculan para peserta Mabit. Dan hatiku terus menerus menghitung jumlah para peserta yang hadir.
Hatiku semakin membuncah gembira saat susul menyusul kehadiran ukhti Zahra, akhi Husen Gadok dengan ukhti Itje dan ukhti Khodijah yang secara kebetulan bertemu di jalan masuk SPN Lido, saat mereka sedang kebingungan menentukan arah. Dan gak lama kemudian, ukhti Zulfah, akhi Adnan, dan akhi Dian. Kemudian ukhti Nadin menyusul dengan gerembolan bawaannya yang seperti biasanya, repot sendiri_datang juga. Itu pun dijemput ama Maulana.
Dengan peserta seadanya, akhirnya acara Mabit pun dibuka oleh Fauzi yang kami paksa menjadi moderator dadakan. Setelah itu abinya Evi berbasa-basi sebentar, memperkenalkan diri selaku tuan rumah yang telah berbaik hati. Membiarkan rumah kediamannya diobok-obok oleh orang-orang dari berbagai tempat.
Dan saat matahari mulai beranjak berangkat keperaduannya, Teh Muth, Teh Rosy dan Endin datang juga. Bersamaan dengan itu pula kumandang adzan Magrib mengiringi kedatangan Akbari. Ia peluk satu persatu peserta Mabit yang ikhwan dengan eratnya sambil memperkenalkan diri.
Pelukannya hangat dan tulus. Mencirikan pribadi orangnya yang hangat, welcome pada setiap orang dan juga tulus dalam berbuat. Terbukti saat orang lain minta tolong padanya, maka dengan sigap ia akan menyingsingkan lengan bajunya tanpa harus diminta dua kali.
Dengan kehadiran Akbari, aku rasa sudah cukup peserta Mabit yang hadir, meski jauh dari jumlah yang ditargetkan. Tapi gak dinyana, saat kami sedang melangsungkan Yasinan, Rotibul Hadad dan Sintu Duror. Akhi Ikhsan Cipaok datang dengan membawa pipi chubby-nya. Ia langsung didaulat untuk mengisi sesi tausyiah yang memang kosong. Karena yang lain hanya bisa saling tunjuk hidung. Termasuk aku hehe.
Setelah itu isoma yang diisi dengan sharing, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kiamat, neraka, surga juga hal-hal ringan lainnya yang diselingi canda tawa. Sesi selanjutnya diisi dengan pemutaran film dokumenter. Film itu berisi penindasan kaum zionis Israel pada Palestina.
Pemutaran film ini bertujuan agar hati para peserta Mabit terketuk, bahwa dibelahan bumi yang lain masih ada saudara-saudara sesama muslim yang butuh uluran tangan juga doa dari muslim yang lain. Juga menggugah hati nurani mereka, agar mereka bisa merasakan penderitaan kaum muslim Palestina yang kelaparan, kedinginan, teraniaya, terdzolimi, diperlakukan semena-mena juga terusir dari tempat tinggal mereka sendiri.
Meski telah berulang kali aku melihat dan mendengar kedzoliman zionis Israel pada Palestina, tak urung mulutku terus menerus menghujat perlakuan tidak manusiawi itu dengan geramnya. Aku sakit hati melihat betapa dzolimnya dan arogannya perlakuan zionis Israel itu. Dan semoga mereka semua membusuk di neraka Jahanam, saat masanya peradilan nanti tiba. Doaku dalam hati. Menuntaskan kegeramanku.
Namun sayang, saat pemutaran film itu berlangsung ada aja beberapa orang yang keluar ruangan. Gak tau ogah nonton atau memang ada keperluan lain. Tapi ada juga yang jelas-jelas gak mau melihat pemutaran film itu, yang memilih tidur di kamar.
Agak kecewa sih melihat hal itu, karena sesi pemutaran film itu kan sudah menjadi bagian dari rangkaian acara Mabit juga. Jadi bukan acara selingan.
Padahal dengan melihat film itu, aku rasa bisa mengasah kepekaan diri supaya tajam. Dengan melihat kelaliman juga penindasan dari zionis Israel. Minimal terketuk untuk menyumbang doa bagi mereka yang terdzolimi.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Saat pemutaran film dokumenter itu berakhir.
Setelah itu aku sibuk berkoar-koar agar semua peserta bersiap-siap untuk pergi tidur. Agar bisa bangun untuk qiamulail bersama disepertiga malam nanti. Namun bukannya pada tidur, temen-temen malah sibuk sendiri-sendiri. Ada yang masak-masakan, lapar katanya. Ada yang keluar mencari makanan, lapar juga pastinya. Meski cemilan melimpah ruah. Mungkin dasarnya ingin jalan-jalan aja. Ada yang tiduran sambil mengobrol dan mendengarkan radio, ada yang sibuk telpon sana-telpon sini ada juga yang smsan sambil tiduran, seperti aku hehe.
Saat tidur semua peserta Mabit yang ikhwan memakai rumah Evi yang sayap kiri, karena yang sayap kanan diisi para akhwat. Separuh pada tidur di kasur lipat yang digelar di lantai ruang tamu, yang lain nyari tempat masing-masing yang enak untuk ditempati.
Di sayap kiri itu ada tiga ruang kamar kosong berikut ranjangnya. Aku, akhi Husen dan akhi Dian berdesak-desakan di kamar pertama. Akhi Endin di kamar kedua, ngejopak sendirian. Sisanya numplek jadi satu di lantai ruang tamu, berdesakan dan berhimpitan seperti pepes ikan bandeng.
Dan benar aja dugaanku, sewaktu bangun untuk qiamulail para peserta Mabit yang ikhwan pada kesiangan. Mendekati subuh yang langsung tiba, saat salat lail baru dua rakaat dilakukan. Dan benar-benar merusak schedule yang udah disusun.
Setelah shalat subuh berjamaah usai. Acara selanjutnya adalah muhasabah. Perenungan. Dengan bait-bait puisi yang aku bawakan. Juga untaian kata-kata dari Gigih dan dilanjutkan oleh Fauzi dengan menyentuh hati. Gak tau ada yang tersentuh apa gak dengan renungan yang kami suguhkan. Soalnya aku jauh dari usil untuk menyentuh-nyentuh mereka hehe. Yang jelas kami telah berupaya sebaik mungkin. Renungan itu diselingi dengan instrument yang mendayu-dayu juga senandung nasyid yang ada kaitannya dengan renungan tersebut.
Lalu saat perenungan usai kami berpelukan sambil bermaafan jika ada sikap yang menoreh dihati saat canda tawa terlontar.
Setelah sarapan pagi acara dilanjutkan dengan game islami. Game islami itu bertujuan mengeratkan sesama peserta Mabit juga bagaimana sih mengasah kekompakan dan rasa tanggung jawab.
Saat Gigih dan Fauzi sedang mempersiapkan tali-tali rapia juga botol dan gelas kemasan bekas air mineral untuk properti permainan. Ponselku mencicit perlahan. Ada dua lembar sms yang dikirim seseorang. Seseorang yang lumayan dekat denganku. Isi sms itu lumayan mengejutkanku. Dan membuatku sesaat merasa ada yang kosong menerobos hijab hatiku. Benar-benar kosong. Kakiku mendadak lemas.
“Ayo, cepetan kumpul. Saatnya game di mulai. Ayo, cepet! Udah siang nih…”
Aku berteriak-teriak agar peserta segera bangkit dari duduknya, dari kemalasannya juga gak antusiasnya pada game yang akan digelar.
Mungkin aku akan santai dan gak pake berkoar-koar kalo peserta Mabit pulangnya nanti bersama-sama. Lha ini kan nggak, peserta ada yang akan pulang duluan karena ada urusan penting yang harus mereka lakukan.
Kasihan pada Gigih dan Fauzi yang sedari tadi sibuk menyiapkan permainan itu tanpa ada yang berniat membantu. Bahkan cendrung masa bodoh. Susah ya, mengatur anak-anak orang. Yang berbeda karakter juga sifat. Cuapek deh!
Game-nya lumayan seru karena diselingi oleh teriakan-teriakan dari mulut para peserta. Saat hal-hal lucu dan gak terduga mewarnai acara yang sedang berlangsung.
Terutama saat game yang membutuhkan empat peserta untuk melakukannya. Empat orang ini memegang dua utas tali rapia yang dikaitkan saling silang, membawa gelas bekas kemasan air mineral ke tengah arena. Di tengah arena disediakan satu gelas lagi yang berfungsi menampung air yang dibawa empat orang tadi. Saat gelas ditengah arena itu penuh duluan diisi oleh dua kubu yang bertanding itu, maka dialah pemenangnya.
Game membawa air dalam gelas kemasan itu bertujuan memupuk kebersamaan juga kesabaran. Karena kalau gak sabaran, kegagalan yang akan mereka tuai. Seperti airnya sudah tumpah duluan, padahal gelas itu belum sampai arena. Bahkan ada juga yang langsung tumpah, padahal baru aja diangkat.
Namun ada juga peserta yang alih-alih meramaikan permainan itu, malah bikin kacau suasana dengan tingkah polahnya yang kekanak-kanankan. Merecoki dan teriak-teriak gak karuan. Tapi sudahlah, namanya juga permainan. Jadi gak perlu diambil ati, rempela bahkan usus hehe.
Kekosongan yang sempat melandaku akibat sms tadi sedikit sirna. Saat kulihat Gigih tertawa berderai. Mentertawakan regu akhwat yang sedikit curang dalam permainan. Mungkin karena aku jarang melihatnya tertawa, jadi tawa dadakannya itu cukup mengobati resahku. Aneh ya, tawa seorang kok bisa jadi terapi.
@@@
Matahari sudah naik sepenggalah saat para peserta Mabit menyusuri sungai Cisadane. Jalan-jalan pagi. Tujuannya sih mentadaburi indahnya ciptaan Allah yang terbentang indah dan permai di kawasan Lido itu.
Gemericik air, petak-petak sawah, kesiur angin, bau tanah basah, jalan setapak yang dipenuhi rumput-rumputan berembun juga bentangan langit biru itu mendendangkan simfoni indah kebersamaan dalam jalinan ukhwah. Betapa saling menyayangi dan mencintai karena Allah itu terasa begitu indah. Luar bisa indah bagi mereka yang pandai bersyukur. Atas segala karunia yang telah diberikan Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Selama perjalanan menyusuri sungai hingga menyebrangi sungai yang lumayan berarus deras. Berkali-kali jepretan kamera mengabadikan keindahan alam juga indahnya kebersamaan. Sayang kan kalau moment seindah itu terlewatkan begitu saja. Jarang-jarang hal itu bisa terulang dua kali dalam hidup.
Lalu satu persatu peserta Mabit baik yang ikhwan maupun akhwat, menyebrangi sungai Cisadane. Menapaki batu-batu besar maupun kecil yang bertonjolan di sungai sebagai pijakannya dengan hati-hati sekali. Karena kalau tidak, sungai itu siap menelan tubuh-tubuh itu hingga kuyup. Juga bahaya dari tonjolan batu-batu yang lumayan licin bagi kaki yang tak beralas.
@@@
Dua hari setelah kegiatan Mabit itu berlalu. Beberapa sms menyambangai inbox-ku.
“Aslkm. Af1 ya, akhi. Dnger2 acra Mabit kmrn ga dihijab ya? Kok bisa ya, panitianya seteledor itu. Mmbiarkan prcamprbauran ikhwn-akhwat. Untung sj ana ga jd ikut. Klo ikut bs berabe tuh. Afwan…wss.”
“Aslkm. Bner ga si, akhi…klo acra Mabit itu ga dihijab? Ikwn-akhwt ada yang cekikikan b’2 trus ada acra game’y kntak jdoh kyak diSCTV itu ya. Antum, ukhti Evi trtma akhi Gigih sbg panitia gmana sih. Pdhl tadi’y sy trtarik skli dg acra trsbt”
“Shrs’y acra yg brbau islami itu ada hijab’y, ga brcmpur aplgi smpe ada yg mojok sgla,astgfrllah…! Pntia’y antum n akhi Gigih kan,ko bs mbirkan smua itu. Apa dsngja? Afwan”
Membaca sms-sms itu sumpah aku kaget banget. Kenapa acara Mabit itu kesannya ajang maksiat banget ya. Darimana mereka tahu format acaranya seperti itu kalau mereka aja gak ikut? Adakah peserta Mabit sendiri yang menjelek-jelekkan acara tersebut? Atau ada orang-orang tertentu yang pada dasarnya gak suka pada acara yang kami buat sehingga melebih-lebihkan kekurangan yang terjadi?
Seribu tanya menggantung dibenakku. Membuatku lama terpekur, merenungi dan me-replay kembali acara Mabit itu. Something wrong?
Untuk hijab, kuakui pada acara Mabit itu memang gak berhijab. Dan itu memang suatu keteledoran. Tapi bukan harga mati aku rasa. Toh, kelompok akhwat dan ikwan berseberangan. Untuk mojok dan cekikikan berdua, aku gak tahu. Karena aku gak memperhatikan satu persatu peserta Mabit. Dan untuk game yang ada kontak jodohnya, aku rasa mengada-ada sekali. Bahkan bisa menjurus ke fitnah. Karena seperti yang udah aku uraikan di atas acara permainannya ya seperti itu. Bahkan regu ikhwan dan akhwatnya dipisah. Gak bercampur-baur.
Akhirnya untuk acara Mabit itu aku rasa ada poin plus-minus-nya. Dan bisa menjadi tolak ukur untuk kedepannya. Kalau acara itu dinilai sukses, kedepannya harus lebih baik lagi. Tapi kalau acara itu dinilai gak berhasil, ya gak apa-apa. Toh, kami masih dalam tahap belajar. Dan sumbangsih ide dari rekan-rekan yang mendukung acara itu sangat dibutuhkan.
Tapi yang aku anehkan, mengapa orang lain harus menyalahkan panitia jika suatu acara tidak berhasil ya. Bukankah sukses tidaknya suatu acara itu berkat kerja sama dari seluruh peserta. Jadi seketat dan sebagus apa pun format acara yang disuguhkan panitia, kalo masih ada orang-orang tertentu yang masa bodoh pada format acara yang dibuat. Aku yakin, acaranya gak akan berjalan secara seperti semestinya. Jadi, sejauh apa pun aku melangkah…loh, kok malah nyanyi. Maksudku, pemahaman agama individu-individu itulah yang seharusnya jadi kaca mata untuk melihat keberhasilan atau tidaknya acara tersebut.
Dan terlepas dari kritikan maupun opini mengenai acara Mabit itu, yang jelas aku pribadi berterima kasih sekali ada yang mau memberi masukan meski caranya agak kurang aksan. Mereka gak mencantumkan nama saat sms seperti itu sama aku. Kesannya gimana gitu.
@@@
“Tadi kenapa harus ngumpet-ngumpet segala si, Din?”
Tercetus juga rasa heran yang sedari berkecamuk dibenakku. Saat kemunculan Udin lumayan mengejutkanku. Gimana nggak coba, aku udah celingukan dengan ponsel bertengger dikuping. Dia malah nongol dari arah belakang.
Udin menghembuskan nafasnya perlahan. Tangannya sibuk mengaduk-aduk bubur ayam itu sehingga semua bahan-bahan yang ada dalam bubur tercampaur baur. Cara makan yang nyaris sama dengan kebanyakan orang. Beda banget ama cara makanku. Kalo aku sih membiarkan semua racikan itu seperti apa adanya. Diambil sedikit demi sedikit. Aku sih geli kalo liat warna bubur itu berubah karena diaduk-aduk. Mengingatkan aku pada muntahan orang.
“Aku takut bertemu dengan penjaga sekolah, Dey”
Aku mengerenyitkan dahiku. “Kenapa? Ngigit emangnya” aku bercanda sambil tersenyum.
“Dia tuh orangnya agak ember, Dey. Ucapannya suka dilebih-lebihkan gitu. Intinya sih aku akan jelek banget dimata kepala sekolah”
“Bukannya kamu tadi bilang kalo hari ini kelasmu kosong. Lagian kamu udah izinkan sama kepala sekolah” ucapku bingung sambil mengunyah buburku yang terasa nikmat sekali.
“Iya sih. Tapi tetep, Dey. Aku akan jelek banget dimata kepala sekolah”
Mata Udin langsung meredup setelah mengucapkan kata-kata itu. Matanya seolah berkata “bertemu penjaga sekolah itu, saat seharusnya aku mengajar adalah hal terburuk yang akan menjadi santapan lezat bagi mulut usilnya”
Aku ngerti. Dan aku langsung merubah topik pembicaraan yang gak ngenakin itu dengan hal-hal ringan. Agar kecerahan pagi itu gak merubah wajah seseorang yang udah jadi sahabat terbaikku dari masa seragam putih abu-abu sampe sekarang.
Setelah semangkuk bubur ayam singgah diperut kami, kami harus berlari-lari mengejar AJA Cimone-Grogol yang kecentilan dengan jalannya yang endut-endutan. Menaikan segerombolan juga satu-persatu penumpang yang akan menggunakan jasa bus itu.
@@@
Waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat saat aku dan Udin sampai di halte Jelambar. Dan sekelebat kulihat bayangan Gigih, ia celingukan mencari-cari dimana kami berada.
Setelah berpelukan untuk melepas segala kerinduan dan basa-basi bertanya kabar. Kami berempat, aku, Maulana, Gigih dan Udin berdiri mengobrol diselingi canda tawa, menunggu datangnya bus yang akan membawa kami ke rumah Evi di SPN Lido.
Lama menunggu bus Sukabumi-Kali Deres, hingga kakiku pegel, akhirnya nongol juga tuh bus. Alhamdulillah, kami dapat tempat duduk. Meski Maulana dan Udin harus duduk terpisah dari aku dan Gigih. Namun jaraknya masih berdekatan. Maklum sebagian dari kursi-kursi itu telah terisi sebagian.
Saat bus melaju membelah lalu lintas Jakarta dengan segala kesemrawutannya. Seorang bapak paruh baya dengan rambut yang mulai dipenuhi uban bertanya ama aku. Tujuanku mau kemana dan dari mana. Biasalah pertanyaan basi sebagai pembuka percakapan. Sehingga menginterupsi obrolanku dengan Gigih yang sedang berlangsung.
Semula agak menyenangkan saat mengetahui kalau bapak itu punya lahan subur untuk bekerja. Peluang tuh untuk mendapatkan pekerjaan, pikirku. Sehingga kuberanikan diri untuk menanyakan lowongan pekerjaan padanya. Dengan antusias ia minta nomor ponselku agar ia bisa menghubungiku kalau ia membutuhkan karyawan baru.
Dari obrolan singkat mengenai lowongan pekerjaan, ujung-ujungnya obrolan itu mgelantur kemana-mana. Dari bahasan satu kebahasan lain yang meloncat-loncat gak ada ujung pangkalnya yang membuatku sedikit jengkel. Karena ia terus-terusan memotong pembicaraan yang sedang kulakukan dengan Gigih. Belum lagi setiap kata yang ia lontarkan selalu bersamaan dengan hujan lokal keluar dari mulutnya yang bergigi kuning gak keurus plus beraroma naga. Membuatku harus berulangkali menghapus muncratan yang mengenai punggung tanganku.
Separuh perjalanan itu benar-benar membuatku gak nyaman banget harus satu kursi dengan bapak itu. Mulutnya terus menerus menyenandungkan kebohongan demi kebohongan yang terlihat jelas dari sorot matanya juga omongannya yang semakin lama semakin jauh dari kenyataan. Ia mengaku sebagai keturunan Sunan lah, personalia di perusahaan marketing lah dan ia sedang ingin naik mobil umum dari pada mobil pribadi karena sedang merakyat lah. Dih, kesannya dia keluarga kerajaan yang sedang turun gunung apa. Dan tetek bengek lainnya, yang intinya sih bokis abis.
Aku enek dan muak saat aroma ketiaknya menguar dari tubuhnya. Dan semakin muak dan jijik saja saat tangannya bergerilnya menjamah selakangannya sendiri dengan kerlingan mata jalangnya. Seolah menggodaku.
Aku beristigfar lirih. Dan terus menyenandungkan bait-bait doa keharibaan Allah, agar aku diselamatkan dari kedzoliman bapak itu yang mengaku bernama Jemy, apabila ia akan berbuat dzolim.
Aku pikir aku gak akan diganggu lagi oleh obrolan dari mulut Pak Jemy itu saat kupasang headset ketelingaku. Mendengarkan nasyid-nasyid dari mp3 yang Gigih bawa. Taunya, ia masih aja mengangguku dengan segala omongan gak bermutunya itu.
Dan aku semakin menyesal saja memberikan nomer ponselku, saat ia berkata bahwa ia masih melajang diusianya yang menginjak 46 tahun itu karena ia gak tertarik pada lawan jenis.
“Kenapa?” Aku memberanikan diri melontarkan pertanyaan itu. Meski aku sadar itu bukan urusanku sama sekali.
“Ada aja…” cetusnya sambil bahunya ia gesekkan kebahuku.
Aku meringis jeri. Menghadapkan wajahku pada Gigih yang seolah gak nyadar sama sekali kalau aku sedang butuh pertolongannya. Dan aku sendiri gak tau, Gigih harus nolong apa ama aku. Lha, secara aku terlihat baik-baik aja. Nggak terlihat sedang dianiaya.
“Kalau kamu menikah, nanti undang saya, ya” kembali ia mengerling genit padaku.
Aku mengangguk terpaksa. Meski rasa sebal mulai menaiki ubun-ubun kepalaku. Kayaknya udah mulai berasap deh.
“Nanti mampir ke rumah teman saya ya, namanya Dodi. Tapi jangan banyak-banyak kalau main, cukup kamu aja atau sama temen disebelah kamu juga boleh. Nanti kita disana seru-seruan…” cerocosnya menyebutkan tempat tinggal temannya di daerah Cengkareng. Menekan kata seru-seruan yang terdengar menjijikkan ditelingaku. Apaan coba seru-seruan?
Aku nyengir terpaksa. Mewakili ucapan yang enggan keluar untuk mengiyakan ajakannya itu.
Najis! Nggak sudi gue mampir. Dia pikir gue apaan…! Siapa juga yang mau mampir…
Aku beristigfar lirih sambil menghembuskan nafasku yang terasa mencekik. Tercekik oleh rasa muak dan terhina yang menjalariku sejak dari tadi ia mulai melakukan dan mengatakan hal-hal yang aneh itu.
Dan aku baru benar-benar bisa bernafas lega saat Pak Jemy itu bangkit dari duduknya, karena bus itu sudah memasuki kawasan Ciawi. Ia akan turun di Ciawi. Dibelakang masjid samping Universitas Juanda itulah ia mengaku tinggal. Lalu ia berdiri di dekat pintu bus dengan sebatang rokok terselip di bibirnya yang menghitam.
Aku muak. Muak karena ternyata dia merokok. Poin yang membuat semakin panjang deretan rasa muakku pada segala kebohongan yang tadi ia dongengkan. Udah penipu, perokok pula.
Aku melengos saat asap rokoknya menghampiri tempat dudukku. Melempar pandangku pada kendaraan-kendaraan yang berjalan merayap sepanjang jalan memasuki Ciawi.
“Ini kan hari sabtu, Kang. Biasa macet mah. Jalurnya kan buka-tutup. Sabar dong…” Gigih menjawab kerisauan hatiku dengan tenangnya. Ugh, mana bisa aku bersabar dengan kemacetan seperti itu. Ditambah dengan bau asep rokok juga bau ketiak yang entah berasal dari tubuh siapa.
@@@
Langit agak sedikit kelabu, matahari kadang-kadang tertutup oleh awan-awan nakal yang berarak dilangit tanpa batas. Saat kami berjalan menanjak memasuki kawasan SPN Lido.
Sepanjang jalan menanjak itu Udin sibuk mencari warung kecil untuk membeli plester. Tangannya terluka oleh silet yang ia bawa di tasnya, tanpa terbungkus. Menggores tangannya dengan sayatannya yang pedih saat ia mencari-cari lembaran rupiah yang ia letakkan dalam saku tasnya.
Angin segar kawasan Lido menampar-nampar wajah kami saat kami memasuki pekarangan rumah Evi. Rumah yang akan kami gunakan untuk mengelar acara Mabit menjelang ramadhan yang akan dilaksanakan ba’da Dzuhur. Sesuai jadwal, rangkaian acara memang akan dilangsungkan dari ba’da Dzuhur hingga akhirnya penutupan keesokan paginya.
Kami langsung menghampiri meja tamu yang telah Evi sediakan untuk mengisi buku tamu. Juga mengambil beberapa lembar selebaran yang telah difoto copy yang berisi semua seluk beluk yang berbau ramadhan sebagai bahasannya.
“Hayuk, pada masuk heula kaleubet…”
Sibuk Evi menggiring kami agar memasuki ruang tamu rumahnya yang sejuk. Dengan ucapan yang selalu tercampur baur dengan bahasa Sunda, terceplos begitu saja dari mulutnya yang memang terbiasa seperti itu. Bagi orang Sunda sendiri ucapannya itu gak ada masalah sama sekali, tapi akan jadi masalah kalau kalimat-kalimat itu udah di alamatin ama Gigih dan Maulana. Secara mereka berdua tuh orang Betawi. Lha, ya kagak bakalan nyambung.
Dan buntut-buntutnya aku harus legowo jadi penerjemah dadakan bagi keduanya yang selalu saja tersenyum-senyum culun.
Maklum teu ngartieun, hehe…
Meski Evi telah berulang kali menasehati mulutnya supaya gak mengeluarkan kata-kata itu, tapi tetap aja mulutnya balik lagi, balik lagi pada bahasa Sundanya yang medok itu. Dan saat aku mengingatkannya, ia akan buru-buru meminta maaf dengan kata-kata lucu yang berloncatan dari bibirnya. Namun gak lama kemudian, saat ia mulai berkata lagi, kata-kata Sunda itu akan keluar lagi. Jadi sudahlah. Biarkan ia dengan ucapannya itu. Dan dengan senang hati (baca terpaksa hehe) aku akan menjadi penerjemahnya tanpa bayaran.
“Sekarang aja apa Om, beres-beresnya. Tapi nanti dulu ya, masih cararapek meureun” cetusnya lucu sambil tersenyum sumringah. Kalau sudah bertingkah seperti itu ia terlihat menggemaskan. Kalau ia keponakanku, pasti sudah aku gucel-gucel kepalanya saking gak tahan melihat tingkah polah akhwat itu. Dewasa sekaligus kekanak-kanakan.
“Target berapa orang yang ingin dicapai, Vi?” aku membuka pembicaraan.
“Ya, pengennya sih 30 orang, Om. Tapi lihat aja, sekarang aja belom ada yang datang” seloroh Evi seolah pesimis.
“Macet kali, Vi…” Gigih urun suara.
“Iya macet banget. Tadi aja kita di bawa muter ke jalan daerah Tapos yang mau ke Wadi…” ucapku membesarkan hati. “…ya, walau yang nanti yang datangnya sedikit ya, nggak papa. Yang penting sukses kayak di Cinumpang dulu. Ya, kan?” tandasku mantap, meski aku gak yakin acara ini akan mendulang sukses seperti di Cinumpang kemarin.
Gigih dan Evi mengiyakan ucapanku.
Sementara itu tangan-tangan kami sibuk mengangkat dan memberesi barang-barang yang ada di ruangan itu. Digeser, dipindah dan setelah lapang menggelar karpet deh. Sebentar saja ruangan itu sudah terlihat lapang dengan bentangan karpet tebal. Dan di ujung karpet bagian dalam, diberi meja untuk meletakkan teve besar juga DVD. Properti yang akan digunakan untuk pemutaran film islami yang menjadi bagian dari acara yang akan dilaksanakan.
Waktu terus merangkak. Kehadiran akhi Fauzi disusul oleh ukhti Euis, ukhti Lilim, ukhti Nining, ukhti Miqo, akhi Imam dan akhi Asep membuat kami yang udah ngejogrog dari tadi bisa bernafas lega. Meski dari mulutku telah menyenandungkan “gak apa-apa” walau yang datang sedikit. Tapi tetep aja jantungku terus menerus berdetak gak karuan saat menunggu kemunculan para peserta Mabit. Dan hatiku terus menerus menghitung jumlah para peserta yang hadir.
Hatiku semakin membuncah gembira saat susul menyusul kehadiran ukhti Zahra, akhi Husen Gadok dengan ukhti Itje dan ukhti Khodijah yang secara kebetulan bertemu di jalan masuk SPN Lido, saat mereka sedang kebingungan menentukan arah. Dan gak lama kemudian, ukhti Zulfah, akhi Adnan, dan akhi Dian. Kemudian ukhti Nadin menyusul dengan gerembolan bawaannya yang seperti biasanya, repot sendiri_datang juga. Itu pun dijemput ama Maulana.
Dengan peserta seadanya, akhirnya acara Mabit pun dibuka oleh Fauzi yang kami paksa menjadi moderator dadakan. Setelah itu abinya Evi berbasa-basi sebentar, memperkenalkan diri selaku tuan rumah yang telah berbaik hati. Membiarkan rumah kediamannya diobok-obok oleh orang-orang dari berbagai tempat.
Dan saat matahari mulai beranjak berangkat keperaduannya, Teh Muth, Teh Rosy dan Endin datang juga. Bersamaan dengan itu pula kumandang adzan Magrib mengiringi kedatangan Akbari. Ia peluk satu persatu peserta Mabit yang ikhwan dengan eratnya sambil memperkenalkan diri.
Pelukannya hangat dan tulus. Mencirikan pribadi orangnya yang hangat, welcome pada setiap orang dan juga tulus dalam berbuat. Terbukti saat orang lain minta tolong padanya, maka dengan sigap ia akan menyingsingkan lengan bajunya tanpa harus diminta dua kali.
Dengan kehadiran Akbari, aku rasa sudah cukup peserta Mabit yang hadir, meski jauh dari jumlah yang ditargetkan. Tapi gak dinyana, saat kami sedang melangsungkan Yasinan, Rotibul Hadad dan Sintu Duror. Akhi Ikhsan Cipaok datang dengan membawa pipi chubby-nya. Ia langsung didaulat untuk mengisi sesi tausyiah yang memang kosong. Karena yang lain hanya bisa saling tunjuk hidung. Termasuk aku hehe.
Setelah itu isoma yang diisi dengan sharing, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kiamat, neraka, surga juga hal-hal ringan lainnya yang diselingi canda tawa. Sesi selanjutnya diisi dengan pemutaran film dokumenter. Film itu berisi penindasan kaum zionis Israel pada Palestina.
Pemutaran film ini bertujuan agar hati para peserta Mabit terketuk, bahwa dibelahan bumi yang lain masih ada saudara-saudara sesama muslim yang butuh uluran tangan juga doa dari muslim yang lain. Juga menggugah hati nurani mereka, agar mereka bisa merasakan penderitaan kaum muslim Palestina yang kelaparan, kedinginan, teraniaya, terdzolimi, diperlakukan semena-mena juga terusir dari tempat tinggal mereka sendiri.
Meski telah berulang kali aku melihat dan mendengar kedzoliman zionis Israel pada Palestina, tak urung mulutku terus menerus menghujat perlakuan tidak manusiawi itu dengan geramnya. Aku sakit hati melihat betapa dzolimnya dan arogannya perlakuan zionis Israel itu. Dan semoga mereka semua membusuk di neraka Jahanam, saat masanya peradilan nanti tiba. Doaku dalam hati. Menuntaskan kegeramanku.
Namun sayang, saat pemutaran film itu berlangsung ada aja beberapa orang yang keluar ruangan. Gak tau ogah nonton atau memang ada keperluan lain. Tapi ada juga yang jelas-jelas gak mau melihat pemutaran film itu, yang memilih tidur di kamar.
Agak kecewa sih melihat hal itu, karena sesi pemutaran film itu kan sudah menjadi bagian dari rangkaian acara Mabit juga. Jadi bukan acara selingan.
Padahal dengan melihat film itu, aku rasa bisa mengasah kepekaan diri supaya tajam. Dengan melihat kelaliman juga penindasan dari zionis Israel. Minimal terketuk untuk menyumbang doa bagi mereka yang terdzolimi.
Waktu telah menunjukkan pukul sebelas kurang lima belas menit. Saat pemutaran film dokumenter itu berakhir.
Setelah itu aku sibuk berkoar-koar agar semua peserta bersiap-siap untuk pergi tidur. Agar bisa bangun untuk qiamulail bersama disepertiga malam nanti. Namun bukannya pada tidur, temen-temen malah sibuk sendiri-sendiri. Ada yang masak-masakan, lapar katanya. Ada yang keluar mencari makanan, lapar juga pastinya. Meski cemilan melimpah ruah. Mungkin dasarnya ingin jalan-jalan aja. Ada yang tiduran sambil mengobrol dan mendengarkan radio, ada yang sibuk telpon sana-telpon sini ada juga yang smsan sambil tiduran, seperti aku hehe.
Saat tidur semua peserta Mabit yang ikhwan memakai rumah Evi yang sayap kiri, karena yang sayap kanan diisi para akhwat. Separuh pada tidur di kasur lipat yang digelar di lantai ruang tamu, yang lain nyari tempat masing-masing yang enak untuk ditempati.
Di sayap kiri itu ada tiga ruang kamar kosong berikut ranjangnya. Aku, akhi Husen dan akhi Dian berdesak-desakan di kamar pertama. Akhi Endin di kamar kedua, ngejopak sendirian. Sisanya numplek jadi satu di lantai ruang tamu, berdesakan dan berhimpitan seperti pepes ikan bandeng.
Dan benar aja dugaanku, sewaktu bangun untuk qiamulail para peserta Mabit yang ikhwan pada kesiangan. Mendekati subuh yang langsung tiba, saat salat lail baru dua rakaat dilakukan. Dan benar-benar merusak schedule yang udah disusun.
Setelah shalat subuh berjamaah usai. Acara selanjutnya adalah muhasabah. Perenungan. Dengan bait-bait puisi yang aku bawakan. Juga untaian kata-kata dari Gigih dan dilanjutkan oleh Fauzi dengan menyentuh hati. Gak tau ada yang tersentuh apa gak dengan renungan yang kami suguhkan. Soalnya aku jauh dari usil untuk menyentuh-nyentuh mereka hehe. Yang jelas kami telah berupaya sebaik mungkin. Renungan itu diselingi dengan instrument yang mendayu-dayu juga senandung nasyid yang ada kaitannya dengan renungan tersebut.
Lalu saat perenungan usai kami berpelukan sambil bermaafan jika ada sikap yang menoreh dihati saat canda tawa terlontar.
Setelah sarapan pagi acara dilanjutkan dengan game islami. Game islami itu bertujuan mengeratkan sesama peserta Mabit juga bagaimana sih mengasah kekompakan dan rasa tanggung jawab.
Saat Gigih dan Fauzi sedang mempersiapkan tali-tali rapia juga botol dan gelas kemasan bekas air mineral untuk properti permainan. Ponselku mencicit perlahan. Ada dua lembar sms yang dikirim seseorang. Seseorang yang lumayan dekat denganku. Isi sms itu lumayan mengejutkanku. Dan membuatku sesaat merasa ada yang kosong menerobos hijab hatiku. Benar-benar kosong. Kakiku mendadak lemas.
“Ayo, cepetan kumpul. Saatnya game di mulai. Ayo, cepet! Udah siang nih…”
Aku berteriak-teriak agar peserta segera bangkit dari duduknya, dari kemalasannya juga gak antusiasnya pada game yang akan digelar.
Mungkin aku akan santai dan gak pake berkoar-koar kalo peserta Mabit pulangnya nanti bersama-sama. Lha ini kan nggak, peserta ada yang akan pulang duluan karena ada urusan penting yang harus mereka lakukan.
Kasihan pada Gigih dan Fauzi yang sedari tadi sibuk menyiapkan permainan itu tanpa ada yang berniat membantu. Bahkan cendrung masa bodoh. Susah ya, mengatur anak-anak orang. Yang berbeda karakter juga sifat. Cuapek deh!
Game-nya lumayan seru karena diselingi oleh teriakan-teriakan dari mulut para peserta. Saat hal-hal lucu dan gak terduga mewarnai acara yang sedang berlangsung.
Terutama saat game yang membutuhkan empat peserta untuk melakukannya. Empat orang ini memegang dua utas tali rapia yang dikaitkan saling silang, membawa gelas bekas kemasan air mineral ke tengah arena. Di tengah arena disediakan satu gelas lagi yang berfungsi menampung air yang dibawa empat orang tadi. Saat gelas ditengah arena itu penuh duluan diisi oleh dua kubu yang bertanding itu, maka dialah pemenangnya.
Game membawa air dalam gelas kemasan itu bertujuan memupuk kebersamaan juga kesabaran. Karena kalau gak sabaran, kegagalan yang akan mereka tuai. Seperti airnya sudah tumpah duluan, padahal gelas itu belum sampai arena. Bahkan ada juga yang langsung tumpah, padahal baru aja diangkat.
Namun ada juga peserta yang alih-alih meramaikan permainan itu, malah bikin kacau suasana dengan tingkah polahnya yang kekanak-kanankan. Merecoki dan teriak-teriak gak karuan. Tapi sudahlah, namanya juga permainan. Jadi gak perlu diambil ati, rempela bahkan usus hehe.
Kekosongan yang sempat melandaku akibat sms tadi sedikit sirna. Saat kulihat Gigih tertawa berderai. Mentertawakan regu akhwat yang sedikit curang dalam permainan. Mungkin karena aku jarang melihatnya tertawa, jadi tawa dadakannya itu cukup mengobati resahku. Aneh ya, tawa seorang kok bisa jadi terapi.
@@@
Matahari sudah naik sepenggalah saat para peserta Mabit menyusuri sungai Cisadane. Jalan-jalan pagi. Tujuannya sih mentadaburi indahnya ciptaan Allah yang terbentang indah dan permai di kawasan Lido itu.
Gemericik air, petak-petak sawah, kesiur angin, bau tanah basah, jalan setapak yang dipenuhi rumput-rumputan berembun juga bentangan langit biru itu mendendangkan simfoni indah kebersamaan dalam jalinan ukhwah. Betapa saling menyayangi dan mencintai karena Allah itu terasa begitu indah. Luar bisa indah bagi mereka yang pandai bersyukur. Atas segala karunia yang telah diberikan Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Selama perjalanan menyusuri sungai hingga menyebrangi sungai yang lumayan berarus deras. Berkali-kali jepretan kamera mengabadikan keindahan alam juga indahnya kebersamaan. Sayang kan kalau moment seindah itu terlewatkan begitu saja. Jarang-jarang hal itu bisa terulang dua kali dalam hidup.
Lalu satu persatu peserta Mabit baik yang ikhwan maupun akhwat, menyebrangi sungai Cisadane. Menapaki batu-batu besar maupun kecil yang bertonjolan di sungai sebagai pijakannya dengan hati-hati sekali. Karena kalau tidak, sungai itu siap menelan tubuh-tubuh itu hingga kuyup. Juga bahaya dari tonjolan batu-batu yang lumayan licin bagi kaki yang tak beralas.
@@@
Dua hari setelah kegiatan Mabit itu berlalu. Beberapa sms menyambangai inbox-ku.
“Aslkm. Af1 ya, akhi. Dnger2 acra Mabit kmrn ga dihijab ya? Kok bisa ya, panitianya seteledor itu. Mmbiarkan prcamprbauran ikhwn-akhwat. Untung sj ana ga jd ikut. Klo ikut bs berabe tuh. Afwan…wss.”
“Aslkm. Bner ga si, akhi…klo acra Mabit itu ga dihijab? Ikwn-akhwt ada yang cekikikan b’2 trus ada acra game’y kntak jdoh kyak diSCTV itu ya. Antum, ukhti Evi trtma akhi Gigih sbg panitia gmana sih. Pdhl tadi’y sy trtarik skli dg acra trsbt”
“Shrs’y acra yg brbau islami itu ada hijab’y, ga brcmpur aplgi smpe ada yg mojok sgla,astgfrllah…! Pntia’y antum n akhi Gigih kan,ko bs mbirkan smua itu. Apa dsngja? Afwan”
Membaca sms-sms itu sumpah aku kaget banget. Kenapa acara Mabit itu kesannya ajang maksiat banget ya. Darimana mereka tahu format acaranya seperti itu kalau mereka aja gak ikut? Adakah peserta Mabit sendiri yang menjelek-jelekkan acara tersebut? Atau ada orang-orang tertentu yang pada dasarnya gak suka pada acara yang kami buat sehingga melebih-lebihkan kekurangan yang terjadi?
Seribu tanya menggantung dibenakku. Membuatku lama terpekur, merenungi dan me-replay kembali acara Mabit itu. Something wrong?
Untuk hijab, kuakui pada acara Mabit itu memang gak berhijab. Dan itu memang suatu keteledoran. Tapi bukan harga mati aku rasa. Toh, kelompok akhwat dan ikwan berseberangan. Untuk mojok dan cekikikan berdua, aku gak tahu. Karena aku gak memperhatikan satu persatu peserta Mabit. Dan untuk game yang ada kontak jodohnya, aku rasa mengada-ada sekali. Bahkan bisa menjurus ke fitnah. Karena seperti yang udah aku uraikan di atas acara permainannya ya seperti itu. Bahkan regu ikhwan dan akhwatnya dipisah. Gak bercampur-baur.
Akhirnya untuk acara Mabit itu aku rasa ada poin plus-minus-nya. Dan bisa menjadi tolak ukur untuk kedepannya. Kalau acara itu dinilai sukses, kedepannya harus lebih baik lagi. Tapi kalau acara itu dinilai gak berhasil, ya gak apa-apa. Toh, kami masih dalam tahap belajar. Dan sumbangsih ide dari rekan-rekan yang mendukung acara itu sangat dibutuhkan.
Tapi yang aku anehkan, mengapa orang lain harus menyalahkan panitia jika suatu acara tidak berhasil ya. Bukankah sukses tidaknya suatu acara itu berkat kerja sama dari seluruh peserta. Jadi seketat dan sebagus apa pun format acara yang disuguhkan panitia, kalo masih ada orang-orang tertentu yang masa bodoh pada format acara yang dibuat. Aku yakin, acaranya gak akan berjalan secara seperti semestinya. Jadi, sejauh apa pun aku melangkah…loh, kok malah nyanyi. Maksudku, pemahaman agama individu-individu itulah yang seharusnya jadi kaca mata untuk melihat keberhasilan atau tidaknya acara tersebut.
Dan terlepas dari kritikan maupun opini mengenai acara Mabit itu, yang jelas aku pribadi berterima kasih sekali ada yang mau memberi masukan meski caranya agak kurang aksan. Mereka gak mencantumkan nama saat sms seperti itu sama aku. Kesannya gimana gitu.
@@@
Selasa, 29 Desember 2009
Aku dan Asap Rokok
Aku gak ngerti, sebenarnya Emak ngidam apa sewaktu mengandung aku. Kok segitu benci dan alerginya aku ama asep rokok. Nah, alerginya itu akan melonjak drastis pas aku ketemu ama perokok yang gak tau diri. Gak ngerti sikon. Ngelepus disetiap tempat, setiap detik setiap saat. Tanpa mikirin orang seperti aku yang terdzolimi.
Ceritanya mungkin akan menjadi lain kalo perokok-perokok itu ngerokoknya gak di depan aku. Aku sih gak duli, mereka mo ngerokok sampe kurus kering kek, duitnya keriting kek atau mati sekali pun itu sama sekali bukan urusanku. Toh mereka beli rokoknya pake duitnya sendiri, bukan duit aku. Silahkan aja. Tapi please, jangan di depan batang hidung aku.
Saat asep rokok terhirup oleh pernafasanku, perutku langsung mual, kepalaku berdenyar puyeng. Nah, itu lah penyebab utama aku alergi banget ama asep rokok. Jadi bukan karena ujug-ujug aku sentiment dan benci ama asep rokok.
Mulanya sih, ama orangnya aku nggak benci. Cuma benci ama kebiasaan ngerokoknya aja. Udah nggak peduli tempat dan suasana. Nggak pake aturan pula! Tapi gak tau kenapa, ujung-ujungnya aku sebel juga ama orangnya. Hehe.
Gara-gara asep rokok, aku sering berantem ama teman, orang yang kutemui juga keluarga sendiri.
Sewaktu aku masih SMP dan SMU aku sering banget berantem gara-gara asep rokok. Pasalnya temen-temen sekolahku rata-rata pada ngerokok semua. Mereka ngerokok pas jam sekolah bubar, sambil nongkrong di halte. Berhaha-hihi ngabisin waktu. Blas, gak ada juntrungannya.
Aku sering banget jadi bahan ejekan mereka hanya karena aku gak ngerokok. Aku sering banget dikatain banci dan gak jantan. Aneh ya, kejantanan kok diukurnya pake rokok. Nggak nyambung banget! Lantas Teh Ulpah, tetangga kite itu cewek, but she is smoke. Julukannya apa dong? Jantan apa betina? Hehe…emang ayam.
Aku sih nggak marah dikatain kayak gitu, gak ngefek banget deh. Cuma kasihan aja ama mereka. Dengan merokok, tubuh mereka terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia yang dikandung oleh sebuah rokok. Bayangin aja, ada nikotin, tar, carbon monoxide (gas racun dari knalpot), acetone (bahan penghapus cat), ammonia (bahan pembersih lantai). Dan masih seabrek zat-zat kimia lainnya dikandung si rokok. Zat-zat itu akan mencemari, dan mengendap dalam tubuh kita. Dan secara perlahan namun pasti akan mengakibatkan kecanduan. Horor kan?
Udah segitu gamblangnya bahaya merokok, tapi mereka masih aja ngeributin kejantanan. Makan tuh jantan! Hehe. Mungkin mereka tuh tipe orang yang Rasulullah katakan, “Cintamu terhadap sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli”
Habis…setiap dikasih tahu bahaya rokok, serempak mereka menjawab,
“Siapa takuuut…!” Dasar!
Ama orang-orang yang ketemu di angkot dan di bus trus mereka ngerokok, aku juga dulu sering banget berantem.
Ceritanya begini. Aku kan orang menengah kebawah, hehe. Jadi naik kendaraan umum itu wajib kalo mau kemana-mana. Dan udah tau sendiri kan gimana kondisi kalo naik bus umum. Udah sumpek, berdiri, kalo pun duduk badan orang kadang menjorok ke kita juga, berdesak-desakan pula. Persis pepes ikan. Panas. Bau keringat plus minyak wangi berbaur jadi satu. Dan semakin komplit aja penderitaanku, saat disebelahku ada seorang pemuda, ngerokok.
Klepus…klepus. Damai banget, nggak peduli suasana sekitar. Walhasil, asepnya berhamburan. Kena muka en bajuku. Aku pura-pura batuk-batuk sambil tutupan idung. Tapi sumpah, gak ngefek.
Ugh, kelewatan! Gak punya perasaan!
Nuraniku menjerit, seiring dengan rasa mual, enek menjalari rongga perutku. Emosiku terusik, bangkit. Kebebasanku menghirup udara segar, terpolusi asap rokoknya.
Kuhembuskan nafasku. Sesak. Sedari tadi menahan nafas.
“Mas! Tolong dong rokoknya dimatiin. Aku nggak kuat asepnya tuh…” tegurku sopan memberanikan diri. Sabar.
Pemuda itu terkejut atas teguranku itu. Trus melengos.
“Suka-suka gua dong, gua yang ngerokok. Kenapa lo yang ambil pusing!” jawabnya sengak. Nyolot lagi.
“Jelas dong aku ambil pusing. Mas udah nggak menghargaiin privasi orang lain. Ini kan mobil umum, Mas” ucapku dengan menahan dongkol.
“Yang bilang ini mobil pribadi, siapa? Kalo gak pengen keganggu naik taksi sono! Atau naik mobil pribadi aja” ucapnya emosi. “Heran, gua yang ngerokok, kenapa situ yang ribut. Suka-suka gua dong ngerokok. Gua kan bayar!”
“Aku juga sama, Mas, bayar. Jadi aku juga punya hak dong buat menghirup udara yang bebas asap rokok…” jawabku berargumen.
Para penumpang bus saling melirik. Gusar. Takut terjadi keributan.
Ngeliat gelagat yang gak enak itu, aku ngalah, stop tuh bus. Dan terpaksa aku turun meski belom nyampe tujuan. Percuma ngomong sama orang kayak gitu, nggak ada juntrungannya.
Udah gitu juga, entar aku digebukin penumpang lain lagi, penyuka rokok juga. Bisa berabekan, bonyok deh gue, hehe…kelihatan sih banyak yang ngelirik sebel sama aku. Nggak terima kali, pacar setia mereka “Si rokok” itu diributin, hehe.
Itu cerita dulu ya. Sekarang mah mungkin karena aku udah capek negur-negur orang di bus tapi mereka gak duli juga. So kalo sekarang mah kalo ada yang ngerokok, aku pasrah aja. Aku hanya bisa buka kaca jendela lebar-lebar, tutupan idung pake sapu tangan yang udah disemprotin farfum, sesekali curi-curi nafas takut pingsan karena keabisan oksigen.
Aku udah pasrah gitu, masih juga aku diplototin ama yang bersangkutan. Aku dinilai gak sopan tutupan idung, dikiranya aku gak tahan ama bau mereka kali. Hehe, padahal iya juga sih. Mau gak mau, air mata kadang mengalir tanpa diundang. Bukan cengeng loh, tapi akibat terakumulasinya berbagai perasaaan. Antara sebel, eneg, mual, pengen marah coz terdzolimi, tapi takut entar malah berantem. So harus gimana atuh?
“Kenapa, Mas? Kok mukanya pucet gitu?” itu pertanyaan sekian kali saat aku ngelakuin aksi diam, tanpa komen akan aksi ngerokok mereka di kendaraan umum.
“Saya gak kuat ama asep rokok, Pak. Jadi inilah akibatnya” ucapku sambil menekan semua perasaan yang pengen meledak. Dengan wajah sepucat zombie.
“Oh, maaf, Mas. Saya gak tau, kalo Mas gak tahan ama asep rokok. Coba bilang dari tadi, pasti saya gak ngerokok” jawabnya sambil buru-buru matiin rokoknya.
O la la, kemana aja, Pak. Aku udah usrak-usrek dari tadi kok masih gak ngeh juga.
Nah, itu jawaban orang yang setengah waras dan setengah sableng. Gak ngerti suasana sekitar plus urat malu mereka udah putus. Pengertiannya akan muncul saat aku udah diambang batas kematian hehe.
Itu di luaran ya. Dan aku pikir di dalam rumahku, aku akan aman dari jamahan asep rokok. Tapi itu salah, aku masih terdzolimi juga. Secara ada empat kakak laki-laki aku suka ngerokok (lima orang sewaktu bapak masih hidup, sekarang udah almarhum. Dan salah satu dari kakakku itu seorang dokter loh), dua kakak iparku (salah satu dari mereka dokter juga loh) plus beberapa keponakanku hobi ngerokok juga.
Walhasil, aku sering banget berantem ama komplotan berat perokok itu. Padahal aku udah warning, kalo mo ngerokok di luar sana. Tapi mereka tetep membandel. Meski aku udah membuang asbak rokok sebagai pertanda bahwa rumah harus bebas dari asep rokok. Tapi mereka bela-belain patungan beli asbak baru. Kalo aku buang lagi, mereka gak ilang akal. Tatakan gelas atau sobekan kertas pun bisa dijadiin pengganti asbak.
Ya Rabb, mengapa ada orang-orang seperti ini…
Jadi, I’m sorry so much kalo aku gak pernah bisa ramah dan bermuka manis saat bertemu dengan siapa pun saat mereka memegang sebatang rokok ditangan. So moment untuk dapet kenalan di kendaraan umum gak ada dalam kamus kehidupanku. Coz sebelum mereka nanya-nanya ama aku, aku udah pasang muka jutek duluan.
Duh, sebenarnya Islam gak membenarkan sikap itu. Tapi gimana lagi. Aku bisa ramah dan bersikap manis saat mereka gak ngerokok di depan batang hidungku. Meskipun bau mulut mereka masih berbau asep rokok, pakaian mereka juga masih berbau rokok, gigi kuning mereka juga akibat rokok. Jadi masih gak nyaman juga dinyaman-nyamanin, yang penting mereka gak ngerokok di depan hidungku.
Mayoritas penduduk Indonesia kan muslim ya, tapi kenapa jadi pengomsumsi rokok yang paling banyak. Apa mereka gak baca Al-Quran Surat Al-A’Raf ayat 157 ya. Intinya kan ayat itu berbunyi bahwa perkara yang dihalalkan Allah adalah baik dan bermanfaat bagi tubuh dan agama. Dan setiap perkara yang diharamkan adalah buruk dan membahayakan bagi tubuh dan agama.
Lah, rokok itu kan termasuk yang buruk. Coz membahayakan tubuh kita. Bisa menyebabkan penyakit. Kanker paru-paru, kanker mulut dan kanker laring. Serta pemborosan. Sedang Allah gak suka sifat boros. Apakah kita harus menunggu kepada pengharamannya? Kalo sudah jelas rokok itu, banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.
Dan para perokok itu masih bisa-bisanya pake acara bilang merokok itu mubah. Heran deh.
Aku punya temen, namanya Arif (bukan nama sebenarnya-red) alesan dia gak bisa lepas ama tuh rokok sepele banget. Mulut asem dan kepalanya pusing kalo sehari aja dia gak ketemu pacarnya itu Si Rokok. Dan saking nyandunya, Arif punya motto, “Mending mati nggak makan, dari pada nggak ngerokok” gitu katanya. Apa coba itu maksudnya?
Susah ya kalo orang sampe udah punya motto gitu. Mereka gak akan perduli dengan sekitar. Dan orang-orang seperti aku akan terus terdzolimi selama hayat dikandung badan.
Oh ya, aku punya petikan percakapan antara aku dan Bapak sewaktu beliau masih hidup. Dan aku tulis dibuku harianku.
“Rokoknya dimatiin sih, Pak. Udah batuk-batuk mulu juga. Masih aja ngerokok” tegurku saat ngeliat Bapak dengan santainya duduk mencangkung. Dengan rokok bertengger dimulutnya.
Eh, Bapakku cuek aja. Secara Bapakku pecandu rokok nomer wahid. Hehe.
“Pak, rokok itu kan, bla, bla, bla…” dari A sampe Z kujelaskan tentang bahaya rokok. Pemborosan, penyakit dan banyak yang tewas akibat merokok.
Bapak tersenyum. ”Kamu tuh sok tau ya, Dey. Kakakmu, dokter aja nggak pernah ngelarang Bapak ngerokok. Malah ngebeliin. Trus dia sendiri juga ngerokok.”
“Tapi, Pak…”
“Kamu mah payah, Dey, kesenengan orang kok dilarang-larang…”
“Bukan begitu, Pak. Aku ngelarang Bapak ngerokok, karena aku sayang sama Bapak. Aku nggak mau Bapak sakit.” Ucapku malu hati. Secara aku dan Bapak gak dekat, kok bisa-bisanya ngomongin sayang-sayangan hehe. Tapi dengan tebal muka aku ngomong juga. Kan ada misi yang sedang diemban. Misi memberantas perokok di dalam rumah hehe.
“Bapak sehat kok” ucap Bapak membela diri. Bandel. “Trus kakakmu kan dokter, orang medis. Tapi dia juga ngerokok. Itu berarti nggak apa-apa kan, Dey”
“Nggak apa-apa gimana, Pak. Kak Dudin (bukan nama sebenarnya-red) dan dokter yang lain ngerokok, karena iman mereka lemah, Pak” ucapku kesal. “Mereka tau secara pasti, bahwa ngerokok itu membahayakan diri juga orang disekitarnya. Terkena asap rokok yang banyak mengandung carbon monoxide”
“Iman mereka lemah itu maksudnya apa?”
“Iya dong, Pak, jelas iman mereka lemah. Kalau iman mereka kuat, dengan ilmu yang mereka miliki. Mereka seharusnya mampu berhenti merusak diri dan lingkungannya. Dengan berhenti merokok…”
Aku menghela nafas. Capek.
“…dan karena cinta mereka kepada Allah, maka mereka seharusnya bisa melarang setiap mukmin yang merusak dirinya supaya berhenti ngerokok. Secara mereka tuh dokter. Oleh sebagian orang kata-kata mereka dijadiin sabda pandita ratu. Kalo bilang gak boleh ini dan itu, pasti pasiennya akan nurut. Lha, ini ngelarang pasien untuk gak ngerokok mah bisa, sendirinya malah ngerokok. Muna banget kan…”
Bapak tercenung. Kemudian Bapak mematikan rokoknya yang tinggal setengah.
“Bener juga apa yang kamu katakan, Dey. Kamu memang pinter. Bapak bangga sama kamu” puji Bapak tulus.
Hidungku mekar. Ge-er dikit mah…
“Siapa dulu Bapaknya, perokok! Hehe…” ucapku melucu.
Rokok, kenapa kamu harus tercipta sih???
Selasa, 22 Des’09 M
5 Muharram 1431 H
Ceritanya mungkin akan menjadi lain kalo perokok-perokok itu ngerokoknya gak di depan aku. Aku sih gak duli, mereka mo ngerokok sampe kurus kering kek, duitnya keriting kek atau mati sekali pun itu sama sekali bukan urusanku. Toh mereka beli rokoknya pake duitnya sendiri, bukan duit aku. Silahkan aja. Tapi please, jangan di depan batang hidung aku.
Saat asep rokok terhirup oleh pernafasanku, perutku langsung mual, kepalaku berdenyar puyeng. Nah, itu lah penyebab utama aku alergi banget ama asep rokok. Jadi bukan karena ujug-ujug aku sentiment dan benci ama asep rokok.
Mulanya sih, ama orangnya aku nggak benci. Cuma benci ama kebiasaan ngerokoknya aja. Udah nggak peduli tempat dan suasana. Nggak pake aturan pula! Tapi gak tau kenapa, ujung-ujungnya aku sebel juga ama orangnya. Hehe.
Gara-gara asep rokok, aku sering berantem ama teman, orang yang kutemui juga keluarga sendiri.
Sewaktu aku masih SMP dan SMU aku sering banget berantem gara-gara asep rokok. Pasalnya temen-temen sekolahku rata-rata pada ngerokok semua. Mereka ngerokok pas jam sekolah bubar, sambil nongkrong di halte. Berhaha-hihi ngabisin waktu. Blas, gak ada juntrungannya.
Aku sering banget jadi bahan ejekan mereka hanya karena aku gak ngerokok. Aku sering banget dikatain banci dan gak jantan. Aneh ya, kejantanan kok diukurnya pake rokok. Nggak nyambung banget! Lantas Teh Ulpah, tetangga kite itu cewek, but she is smoke. Julukannya apa dong? Jantan apa betina? Hehe…emang ayam.
Aku sih nggak marah dikatain kayak gitu, gak ngefek banget deh. Cuma kasihan aja ama mereka. Dengan merokok, tubuh mereka terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia yang dikandung oleh sebuah rokok. Bayangin aja, ada nikotin, tar, carbon monoxide (gas racun dari knalpot), acetone (bahan penghapus cat), ammonia (bahan pembersih lantai). Dan masih seabrek zat-zat kimia lainnya dikandung si rokok. Zat-zat itu akan mencemari, dan mengendap dalam tubuh kita. Dan secara perlahan namun pasti akan mengakibatkan kecanduan. Horor kan?
Udah segitu gamblangnya bahaya merokok, tapi mereka masih aja ngeributin kejantanan. Makan tuh jantan! Hehe. Mungkin mereka tuh tipe orang yang Rasulullah katakan, “Cintamu terhadap sesuatu dapat membuatmu buta dan tuli”
Habis…setiap dikasih tahu bahaya rokok, serempak mereka menjawab,
“Siapa takuuut…!” Dasar!
Ama orang-orang yang ketemu di angkot dan di bus trus mereka ngerokok, aku juga dulu sering banget berantem.
Ceritanya begini. Aku kan orang menengah kebawah, hehe. Jadi naik kendaraan umum itu wajib kalo mau kemana-mana. Dan udah tau sendiri kan gimana kondisi kalo naik bus umum. Udah sumpek, berdiri, kalo pun duduk badan orang kadang menjorok ke kita juga, berdesak-desakan pula. Persis pepes ikan. Panas. Bau keringat plus minyak wangi berbaur jadi satu. Dan semakin komplit aja penderitaanku, saat disebelahku ada seorang pemuda, ngerokok.
Klepus…klepus. Damai banget, nggak peduli suasana sekitar. Walhasil, asepnya berhamburan. Kena muka en bajuku. Aku pura-pura batuk-batuk sambil tutupan idung. Tapi sumpah, gak ngefek.
Ugh, kelewatan! Gak punya perasaan!
Nuraniku menjerit, seiring dengan rasa mual, enek menjalari rongga perutku. Emosiku terusik, bangkit. Kebebasanku menghirup udara segar, terpolusi asap rokoknya.
Kuhembuskan nafasku. Sesak. Sedari tadi menahan nafas.
“Mas! Tolong dong rokoknya dimatiin. Aku nggak kuat asepnya tuh…” tegurku sopan memberanikan diri. Sabar.
Pemuda itu terkejut atas teguranku itu. Trus melengos.
“Suka-suka gua dong, gua yang ngerokok. Kenapa lo yang ambil pusing!” jawabnya sengak. Nyolot lagi.
“Jelas dong aku ambil pusing. Mas udah nggak menghargaiin privasi orang lain. Ini kan mobil umum, Mas” ucapku dengan menahan dongkol.
“Yang bilang ini mobil pribadi, siapa? Kalo gak pengen keganggu naik taksi sono! Atau naik mobil pribadi aja” ucapnya emosi. “Heran, gua yang ngerokok, kenapa situ yang ribut. Suka-suka gua dong ngerokok. Gua kan bayar!”
“Aku juga sama, Mas, bayar. Jadi aku juga punya hak dong buat menghirup udara yang bebas asap rokok…” jawabku berargumen.
Para penumpang bus saling melirik. Gusar. Takut terjadi keributan.
Ngeliat gelagat yang gak enak itu, aku ngalah, stop tuh bus. Dan terpaksa aku turun meski belom nyampe tujuan. Percuma ngomong sama orang kayak gitu, nggak ada juntrungannya.
Udah gitu juga, entar aku digebukin penumpang lain lagi, penyuka rokok juga. Bisa berabekan, bonyok deh gue, hehe…kelihatan sih banyak yang ngelirik sebel sama aku. Nggak terima kali, pacar setia mereka “Si rokok” itu diributin, hehe.
Itu cerita dulu ya. Sekarang mah mungkin karena aku udah capek negur-negur orang di bus tapi mereka gak duli juga. So kalo sekarang mah kalo ada yang ngerokok, aku pasrah aja. Aku hanya bisa buka kaca jendela lebar-lebar, tutupan idung pake sapu tangan yang udah disemprotin farfum, sesekali curi-curi nafas takut pingsan karena keabisan oksigen.
Aku udah pasrah gitu, masih juga aku diplototin ama yang bersangkutan. Aku dinilai gak sopan tutupan idung, dikiranya aku gak tahan ama bau mereka kali. Hehe, padahal iya juga sih. Mau gak mau, air mata kadang mengalir tanpa diundang. Bukan cengeng loh, tapi akibat terakumulasinya berbagai perasaaan. Antara sebel, eneg, mual, pengen marah coz terdzolimi, tapi takut entar malah berantem. So harus gimana atuh?
“Kenapa, Mas? Kok mukanya pucet gitu?” itu pertanyaan sekian kali saat aku ngelakuin aksi diam, tanpa komen akan aksi ngerokok mereka di kendaraan umum.
“Saya gak kuat ama asep rokok, Pak. Jadi inilah akibatnya” ucapku sambil menekan semua perasaan yang pengen meledak. Dengan wajah sepucat zombie.
“Oh, maaf, Mas. Saya gak tau, kalo Mas gak tahan ama asep rokok. Coba bilang dari tadi, pasti saya gak ngerokok” jawabnya sambil buru-buru matiin rokoknya.
O la la, kemana aja, Pak. Aku udah usrak-usrek dari tadi kok masih gak ngeh juga.
Nah, itu jawaban orang yang setengah waras dan setengah sableng. Gak ngerti suasana sekitar plus urat malu mereka udah putus. Pengertiannya akan muncul saat aku udah diambang batas kematian hehe.
Itu di luaran ya. Dan aku pikir di dalam rumahku, aku akan aman dari jamahan asep rokok. Tapi itu salah, aku masih terdzolimi juga. Secara ada empat kakak laki-laki aku suka ngerokok (lima orang sewaktu bapak masih hidup, sekarang udah almarhum. Dan salah satu dari kakakku itu seorang dokter loh), dua kakak iparku (salah satu dari mereka dokter juga loh) plus beberapa keponakanku hobi ngerokok juga.
Walhasil, aku sering banget berantem ama komplotan berat perokok itu. Padahal aku udah warning, kalo mo ngerokok di luar sana. Tapi mereka tetep membandel. Meski aku udah membuang asbak rokok sebagai pertanda bahwa rumah harus bebas dari asep rokok. Tapi mereka bela-belain patungan beli asbak baru. Kalo aku buang lagi, mereka gak ilang akal. Tatakan gelas atau sobekan kertas pun bisa dijadiin pengganti asbak.
Ya Rabb, mengapa ada orang-orang seperti ini…
Jadi, I’m sorry so much kalo aku gak pernah bisa ramah dan bermuka manis saat bertemu dengan siapa pun saat mereka memegang sebatang rokok ditangan. So moment untuk dapet kenalan di kendaraan umum gak ada dalam kamus kehidupanku. Coz sebelum mereka nanya-nanya ama aku, aku udah pasang muka jutek duluan.
Duh, sebenarnya Islam gak membenarkan sikap itu. Tapi gimana lagi. Aku bisa ramah dan bersikap manis saat mereka gak ngerokok di depan batang hidungku. Meskipun bau mulut mereka masih berbau asep rokok, pakaian mereka juga masih berbau rokok, gigi kuning mereka juga akibat rokok. Jadi masih gak nyaman juga dinyaman-nyamanin, yang penting mereka gak ngerokok di depan hidungku.
Mayoritas penduduk Indonesia kan muslim ya, tapi kenapa jadi pengomsumsi rokok yang paling banyak. Apa mereka gak baca Al-Quran Surat Al-A’Raf ayat 157 ya. Intinya kan ayat itu berbunyi bahwa perkara yang dihalalkan Allah adalah baik dan bermanfaat bagi tubuh dan agama. Dan setiap perkara yang diharamkan adalah buruk dan membahayakan bagi tubuh dan agama.
Lah, rokok itu kan termasuk yang buruk. Coz membahayakan tubuh kita. Bisa menyebabkan penyakit. Kanker paru-paru, kanker mulut dan kanker laring. Serta pemborosan. Sedang Allah gak suka sifat boros. Apakah kita harus menunggu kepada pengharamannya? Kalo sudah jelas rokok itu, banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.
Dan para perokok itu masih bisa-bisanya pake acara bilang merokok itu mubah. Heran deh.
Aku punya temen, namanya Arif (bukan nama sebenarnya-red) alesan dia gak bisa lepas ama tuh rokok sepele banget. Mulut asem dan kepalanya pusing kalo sehari aja dia gak ketemu pacarnya itu Si Rokok. Dan saking nyandunya, Arif punya motto, “Mending mati nggak makan, dari pada nggak ngerokok” gitu katanya. Apa coba itu maksudnya?
Susah ya kalo orang sampe udah punya motto gitu. Mereka gak akan perduli dengan sekitar. Dan orang-orang seperti aku akan terus terdzolimi selama hayat dikandung badan.
Oh ya, aku punya petikan percakapan antara aku dan Bapak sewaktu beliau masih hidup. Dan aku tulis dibuku harianku.
“Rokoknya dimatiin sih, Pak. Udah batuk-batuk mulu juga. Masih aja ngerokok” tegurku saat ngeliat Bapak dengan santainya duduk mencangkung. Dengan rokok bertengger dimulutnya.
Eh, Bapakku cuek aja. Secara Bapakku pecandu rokok nomer wahid. Hehe.
“Pak, rokok itu kan, bla, bla, bla…” dari A sampe Z kujelaskan tentang bahaya rokok. Pemborosan, penyakit dan banyak yang tewas akibat merokok.
Bapak tersenyum. ”Kamu tuh sok tau ya, Dey. Kakakmu, dokter aja nggak pernah ngelarang Bapak ngerokok. Malah ngebeliin. Trus dia sendiri juga ngerokok.”
“Tapi, Pak…”
“Kamu mah payah, Dey, kesenengan orang kok dilarang-larang…”
“Bukan begitu, Pak. Aku ngelarang Bapak ngerokok, karena aku sayang sama Bapak. Aku nggak mau Bapak sakit.” Ucapku malu hati. Secara aku dan Bapak gak dekat, kok bisa-bisanya ngomongin sayang-sayangan hehe. Tapi dengan tebal muka aku ngomong juga. Kan ada misi yang sedang diemban. Misi memberantas perokok di dalam rumah hehe.
“Bapak sehat kok” ucap Bapak membela diri. Bandel. “Trus kakakmu kan dokter, orang medis. Tapi dia juga ngerokok. Itu berarti nggak apa-apa kan, Dey”
“Nggak apa-apa gimana, Pak. Kak Dudin (bukan nama sebenarnya-red) dan dokter yang lain ngerokok, karena iman mereka lemah, Pak” ucapku kesal. “Mereka tau secara pasti, bahwa ngerokok itu membahayakan diri juga orang disekitarnya. Terkena asap rokok yang banyak mengandung carbon monoxide”
“Iman mereka lemah itu maksudnya apa?”
“Iya dong, Pak, jelas iman mereka lemah. Kalau iman mereka kuat, dengan ilmu yang mereka miliki. Mereka seharusnya mampu berhenti merusak diri dan lingkungannya. Dengan berhenti merokok…”
Aku menghela nafas. Capek.
“…dan karena cinta mereka kepada Allah, maka mereka seharusnya bisa melarang setiap mukmin yang merusak dirinya supaya berhenti ngerokok. Secara mereka tuh dokter. Oleh sebagian orang kata-kata mereka dijadiin sabda pandita ratu. Kalo bilang gak boleh ini dan itu, pasti pasiennya akan nurut. Lha, ini ngelarang pasien untuk gak ngerokok mah bisa, sendirinya malah ngerokok. Muna banget kan…”
Bapak tercenung. Kemudian Bapak mematikan rokoknya yang tinggal setengah.
“Bener juga apa yang kamu katakan, Dey. Kamu memang pinter. Bapak bangga sama kamu” puji Bapak tulus.
Hidungku mekar. Ge-er dikit mah…
“Siapa dulu Bapaknya, perokok! Hehe…” ucapku melucu.
Rokok, kenapa kamu harus tercipta sih???
Selasa, 22 Des’09 M
5 Muharram 1431 H
Aku dan Buku
Sejak kecil aku udah seneng banget baca buku. Secara sebelum masuk SD aku udah disodorin banyak bacaan ama kakak-kakakku. Dan pas udah masuk SD aku semakin maniak baca buku coz di perpus sekolah yang hanya seupil itu banyak buku cerita. Yang bisa muasin aku yang udah gila baca sejak dini. Tadinya sih sebelum tau di perpus banyak buku, koran bekas bungkus cabe aja pasti aku baca hehe.
Aku ngoleksi banyak buku. Saking banyaknya, udah kayak perpustakaan mini aja. Kebanyakan sih novel. Secara aku maniak baca cerita-cerita fiksi. Sisanya non-fiksi. Sirah Nabi, fikih, sampe komik juga ada hehe.
Kebanyakan orang baca buku buat ngisi waktu luang, kalo aku ngisi waktu buat baca. Jadi aku gak harus nunggu waktu luang baru baca. Baca buku itu udah jadi kebutuhan pokok seperti halnya aku makan. Kalo gak makan, aku bisa lemes. Nah, kalo aku gak baca buku, aku pusing.
Jadi di rumah udah gak aneh lagi ngeliat pemandangan, aku nenteng-nenteng buku kalo mo ke toilet. Mo ngapain ke toilet bawa-bawa buku? Buat dibaca lah. Secara kadang-kadang yang di dalam perut ini ogah keluar kalo gak dipancing pake bacaan hehe.
Temen-temenku juga udah gak aneh lagi ngeliat aku kalo kemana aja pasti di dalam tas bawa-bawa buku yang mereka nilai ribet. Nunggu temen yang lelet kalo diajak janjian, baca buku. Nunggu mobil yang nongolnya lama, baca buku. Di bus dari pada bengong atau bacaain plang-plang di pinggir jalan, mending baca buku.
Secara membaca itu punya manfaat yang gede banget. Dari buku dan sumber bacaan lainnya, ilmu, wawasan dan pengetahuan kita jadi nambah. Dengan baca, bisa menggugah kepekaan seseorang terhadap fenomena yang lagi terjadi, trus kita juga lebih kenal lingkungan sekitar lebih dalem. Trus kita juga bisa mencoba memahami pemikiran orang lain secara luas.
Aku termasuk peredator buku. Segala jenis buku aku baca. Mulai dari tema politik, sastra, biografi, , fiksi, sirah nabawiyah sampe buku-buku motivasi aku lahap.
Aku suka baca fiksi dan sastra untuk mengasah kepekaan dan perasaan. Tapi banyak loh, yang ngatain aku baca novel itu gak ada manfaatnya. Siapa bilang baca cerita fiksi gak ada manfaatnya? Gara-gara baca dwilogi KCB, aku gak putus asa untuk terus mengejar harapan-harapanku dengan terus berusaha, berdoa dan tawakal. Gara-gara baca Laskar pelangi, aku jadi gak mau berhenti untuk terus bermimpi. Gara-gara baca cerpen Ketika Mas gagah Pergi, aku jadi diingetin kalo banyak umat muslim sekarang yang ninggalin Al-Quran dan Sunnah. Umat Islam juga mudah terpecah belah. Dan itu bikin aku semangat untuk terus mempelajari agama yang aku anut sekarang juga. Dan gak harus nunggu besok. Coz kita gak pernah tau apa yang akan terjadi diesok hari.
Ngomong-ngomong soal novel, aku suka banget karya-karya Sedney Sheldon, Agatha Christie dan yang paling banyak aku baca dan aku koleksi novelnya Mary Higgins Clark. Wanita satu ini piawai banget meramu cerita. Aku terus-terusan dibuat penasaran sampai akhir, bikin lupa waktu, dan gak kepengen berhenti kalo belom nyampe kelar, ngobrak-ngabrik emosiku, mencekam dari awal sampe akhir, dan penuh suspense yang ngagumin banget. Akhir ceritanya juga bener-bener mengezutkan hehe.
Majalah dan kadang-kadang koran juga jadi santapan, ngebacanya supaya aku gak ketinggalan berita terkini.
Baca Sirah Nabawiyah juga mengasyikkan, coz isinya kan sejarah hidup Nabi. Memuat perjalanan nol kilometer umat Islam sampe mencapai kegemilangan gede yang terkubur waktu dan peradaban. Sebuah catatan pengorbanan yang luar biasa banget. Ada banyak kisah perjuangan Nabi di dalamnya. Pokoknya baca Sirah Nabi bikin kita bangga jadi umat muslim.
Makanya aku agak prihatin ngeliat keponakan-keponakanku yang lebih demen mantengin teve, internetan or main game ketimbang baca buku yang mereka nilai kuno bin ketinggalan zaman. Sembarangan aja, ngatain Omnya ini ketinggalan zaman gara-gara upleknya ama buku mulu. Dan membaca buku itu mereka nilai pekerjaan yang ngebosenin dan gak nyenengin banget.
Padahal aku udah sering banget ngasih mereka penjelasan bahwa buku itu sumber pengetahuan, coz buku itu jendela dunia. Dengan baca buku, kita dapet banyak informasi . Baca juga bisa jadi sarana buat berimajinasi serta bersantai. Nah loh, kurang apa coba manfaat baca itu. Makanya buruan baca! Hehe.
Dan pada dasarnya minat baca masyarakat Indonesia baik remaja maupun tua sama aja, kurang dan terbilang rendah banget. Mereka belom ngejadiin baca sebagai aktivitas keseharian. Mungkin bisa jadi karena buku-buku di Indonesia terbilang mahal kali ya. Jadi udah mah mereka males baca, ditambah pula harganya mahal. Komplit jadi bangsa yang males baca.
Beda banget ama Negara Jepang. Mereka satu-satunya Negara di Asia yang punya kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan negara-negara barat. Kenapa bisa gitu, bisalah, secara mereka hobi baca gitu loh!
Kegilaanku akan buku membuatku sering hunting nyari-nyari buku. Datang pas ada pameran-pameran buku, secara yang namanya pameran pastilah harga buku-bukunya murah. Bahkan ada diskon sampe 80%. Gramed juga sering tuh ngadain obral buku, dijamin aku pasti jadi manusia pertama yang antri. Dan kalo pameran-pameran itu belum berakhir bisa dua tiga kali aku mendatangi pameran itu buat beli buku. Biasanya datangnya hari pertama dan terakhir. Kalo hari kedua dan seterusnya mah udah sisa-sisa diobrak-abrik orang.
Saat sampai di gedung pameran buku, pernak-pernik dan hiasan-hiasan warna-warni stand-stand langsung menyambutku. Setiap stand bertuliskan nama penerbit bukunya. Tulisan-tulisan itu terbuat dari Styrofoam yang telah diwarnai.
Aroma buku-buku baru itu langsung meraup memenuhi pernafasanku. Dan membuatku langsung bergairah. Untuk segera menjamahnya. Aku langsung menuju stand demi stand untuk berburu buku murah. Menuntaskan hasrat beli buku yang membuncah didada.
Kepalaku langsung pening saat menerobos orang-orang yang berduyun-duyun memenuhi lorong-lorong pameran. Bukan pening karena banyaknya pengunjung tapi karena melihat banyaknya bandrol buku yang bergelantungan dengan harga yang bervariasi. Dimulai dari harga lima ribu untuk satu buku, sepuluh ribu untuk tiga buku ampe yang ratusan ribu pun ada. Bertebaran dimana-mana. Belum lagi diskonnya gila-gilaan. Ada diskon yang delapan puluh persen. Bagaimana kepalaku gak pening coba.
Baru lima belas menit aku menjelajahi stand demi stand, plastik demi plastik sudah menggelantung ditanganku. Dan aku mulai dibuat kerepotan menentengnya.
Aku yang setiap membeli buku di toko buku harus membaca sinopsisnya terlebih dahulu, kali ini aku mengesampingkan kebiasaanku itu. Aku langsung menyambar buku demi buku yang menurutku bagus dan murah tentunya, lalu menuju kasir. Lalu bergerak lagi menyusuri gang demi gang, stand demi stand tanpa kenal lelah dan seperti orang kesurupan. Bukan kesurupan setan jahat, tapi setan buku hehe. Terus saja begitu.
Aku benar-benar berhenti setelah kelelahan mengelilingi semua stand di pameran buku itu. Juga saat duit dikantongku tinggal buat ongkos. Dan juga saat sayup-sayup kudengar suara adzan Ashar berkumandang. Dan membuat aku yang kesurupan setan buku itu tersadarkan. Hehe.
Selain pameran, daerah Senen sering jadi langgananku nyari buku murah. Agak ngeri juga sih ketemu ama buku-buku bajakan. Dibeli, takut haram. Gak dibeli, kagak nahan hehe. So pernah juga sih beli yang bajakan. Abis pas liat di toko-toko resmi itu buka harganya selangit, pas liat disitu harganya miring banget. Dan tanpa pikir panjang lagi langsung aku beli aja. Hehe ngalamin juga beli yang bajakan.
Selain pameran, tempat-tempat loakan, perpustakaan-perpustakaan umum kerap aku datangi untuk menuntaskan hasrat bacaku. Gak tau kenapa, kalo liat buku bawaannya gimana gitu. Apalagi kalo udah nyium bau kertasnya yang baru, duh merangsang banget buat beli. So sebulan sekali aku kudu bin wajib beli buku. Dan aku harus menyediakan anggaran untuk beli buku.
Makanya, kadang aku bete juga ama orang-orang yang hobinya pinjem buku. Aku mah ampe kurus kering gak jajan demi buku, dia malah enak-enakan minjem. Mending minjemnya bentar, ini mah bisa berabad-abad lamanya bahkan ada yang gak balik lagi.
Tapi lama-lama, ya udah deh aku ikhlaskan yang mo pinjem buku-bukuku, asal di rawat baik-baik dan wajib balik lagi tuh buku. Bagi-bagi ilmu ama orang lain. Belum tentu aku yang banyak baca ini mengamalkan semua yang aku baca. Nah, kalo ada yang pinjem kan siapa tau mereka akan ngamalin apa yang mereka baca.
Buku oh buku. Without you, I don’t know what should I do…!
Aku ngoleksi banyak buku. Saking banyaknya, udah kayak perpustakaan mini aja. Kebanyakan sih novel. Secara aku maniak baca cerita-cerita fiksi. Sisanya non-fiksi. Sirah Nabi, fikih, sampe komik juga ada hehe.
Kebanyakan orang baca buku buat ngisi waktu luang, kalo aku ngisi waktu buat baca. Jadi aku gak harus nunggu waktu luang baru baca. Baca buku itu udah jadi kebutuhan pokok seperti halnya aku makan. Kalo gak makan, aku bisa lemes. Nah, kalo aku gak baca buku, aku pusing.
Jadi di rumah udah gak aneh lagi ngeliat pemandangan, aku nenteng-nenteng buku kalo mo ke toilet. Mo ngapain ke toilet bawa-bawa buku? Buat dibaca lah. Secara kadang-kadang yang di dalam perut ini ogah keluar kalo gak dipancing pake bacaan hehe.
Temen-temenku juga udah gak aneh lagi ngeliat aku kalo kemana aja pasti di dalam tas bawa-bawa buku yang mereka nilai ribet. Nunggu temen yang lelet kalo diajak janjian, baca buku. Nunggu mobil yang nongolnya lama, baca buku. Di bus dari pada bengong atau bacaain plang-plang di pinggir jalan, mending baca buku.
Secara membaca itu punya manfaat yang gede banget. Dari buku dan sumber bacaan lainnya, ilmu, wawasan dan pengetahuan kita jadi nambah. Dengan baca, bisa menggugah kepekaan seseorang terhadap fenomena yang lagi terjadi, trus kita juga lebih kenal lingkungan sekitar lebih dalem. Trus kita juga bisa mencoba memahami pemikiran orang lain secara luas.
Aku termasuk peredator buku. Segala jenis buku aku baca. Mulai dari tema politik, sastra, biografi, , fiksi, sirah nabawiyah sampe buku-buku motivasi aku lahap.
Aku suka baca fiksi dan sastra untuk mengasah kepekaan dan perasaan. Tapi banyak loh, yang ngatain aku baca novel itu gak ada manfaatnya. Siapa bilang baca cerita fiksi gak ada manfaatnya? Gara-gara baca dwilogi KCB, aku gak putus asa untuk terus mengejar harapan-harapanku dengan terus berusaha, berdoa dan tawakal. Gara-gara baca Laskar pelangi, aku jadi gak mau berhenti untuk terus bermimpi. Gara-gara baca cerpen Ketika Mas gagah Pergi, aku jadi diingetin kalo banyak umat muslim sekarang yang ninggalin Al-Quran dan Sunnah. Umat Islam juga mudah terpecah belah. Dan itu bikin aku semangat untuk terus mempelajari agama yang aku anut sekarang juga. Dan gak harus nunggu besok. Coz kita gak pernah tau apa yang akan terjadi diesok hari.
Ngomong-ngomong soal novel, aku suka banget karya-karya Sedney Sheldon, Agatha Christie dan yang paling banyak aku baca dan aku koleksi novelnya Mary Higgins Clark. Wanita satu ini piawai banget meramu cerita. Aku terus-terusan dibuat penasaran sampai akhir, bikin lupa waktu, dan gak kepengen berhenti kalo belom nyampe kelar, ngobrak-ngabrik emosiku, mencekam dari awal sampe akhir, dan penuh suspense yang ngagumin banget. Akhir ceritanya juga bener-bener mengezutkan hehe.
Majalah dan kadang-kadang koran juga jadi santapan, ngebacanya supaya aku gak ketinggalan berita terkini.
Baca Sirah Nabawiyah juga mengasyikkan, coz isinya kan sejarah hidup Nabi. Memuat perjalanan nol kilometer umat Islam sampe mencapai kegemilangan gede yang terkubur waktu dan peradaban. Sebuah catatan pengorbanan yang luar biasa banget. Ada banyak kisah perjuangan Nabi di dalamnya. Pokoknya baca Sirah Nabi bikin kita bangga jadi umat muslim.
Makanya aku agak prihatin ngeliat keponakan-keponakanku yang lebih demen mantengin teve, internetan or main game ketimbang baca buku yang mereka nilai kuno bin ketinggalan zaman. Sembarangan aja, ngatain Omnya ini ketinggalan zaman gara-gara upleknya ama buku mulu. Dan membaca buku itu mereka nilai pekerjaan yang ngebosenin dan gak nyenengin banget.
Padahal aku udah sering banget ngasih mereka penjelasan bahwa buku itu sumber pengetahuan, coz buku itu jendela dunia. Dengan baca buku, kita dapet banyak informasi . Baca juga bisa jadi sarana buat berimajinasi serta bersantai. Nah loh, kurang apa coba manfaat baca itu. Makanya buruan baca! Hehe.
Dan pada dasarnya minat baca masyarakat Indonesia baik remaja maupun tua sama aja, kurang dan terbilang rendah banget. Mereka belom ngejadiin baca sebagai aktivitas keseharian. Mungkin bisa jadi karena buku-buku di Indonesia terbilang mahal kali ya. Jadi udah mah mereka males baca, ditambah pula harganya mahal. Komplit jadi bangsa yang males baca.
Beda banget ama Negara Jepang. Mereka satu-satunya Negara di Asia yang punya kedudukan sejajar dalam iptek dan perekonomian dengan negara-negara barat. Kenapa bisa gitu, bisalah, secara mereka hobi baca gitu loh!
Kegilaanku akan buku membuatku sering hunting nyari-nyari buku. Datang pas ada pameran-pameran buku, secara yang namanya pameran pastilah harga buku-bukunya murah. Bahkan ada diskon sampe 80%. Gramed juga sering tuh ngadain obral buku, dijamin aku pasti jadi manusia pertama yang antri. Dan kalo pameran-pameran itu belum berakhir bisa dua tiga kali aku mendatangi pameran itu buat beli buku. Biasanya datangnya hari pertama dan terakhir. Kalo hari kedua dan seterusnya mah udah sisa-sisa diobrak-abrik orang.
Saat sampai di gedung pameran buku, pernak-pernik dan hiasan-hiasan warna-warni stand-stand langsung menyambutku. Setiap stand bertuliskan nama penerbit bukunya. Tulisan-tulisan itu terbuat dari Styrofoam yang telah diwarnai.
Aroma buku-buku baru itu langsung meraup memenuhi pernafasanku. Dan membuatku langsung bergairah. Untuk segera menjamahnya. Aku langsung menuju stand demi stand untuk berburu buku murah. Menuntaskan hasrat beli buku yang membuncah didada.
Kepalaku langsung pening saat menerobos orang-orang yang berduyun-duyun memenuhi lorong-lorong pameran. Bukan pening karena banyaknya pengunjung tapi karena melihat banyaknya bandrol buku yang bergelantungan dengan harga yang bervariasi. Dimulai dari harga lima ribu untuk satu buku, sepuluh ribu untuk tiga buku ampe yang ratusan ribu pun ada. Bertebaran dimana-mana. Belum lagi diskonnya gila-gilaan. Ada diskon yang delapan puluh persen. Bagaimana kepalaku gak pening coba.
Baru lima belas menit aku menjelajahi stand demi stand, plastik demi plastik sudah menggelantung ditanganku. Dan aku mulai dibuat kerepotan menentengnya.
Aku yang setiap membeli buku di toko buku harus membaca sinopsisnya terlebih dahulu, kali ini aku mengesampingkan kebiasaanku itu. Aku langsung menyambar buku demi buku yang menurutku bagus dan murah tentunya, lalu menuju kasir. Lalu bergerak lagi menyusuri gang demi gang, stand demi stand tanpa kenal lelah dan seperti orang kesurupan. Bukan kesurupan setan jahat, tapi setan buku hehe. Terus saja begitu.
Aku benar-benar berhenti setelah kelelahan mengelilingi semua stand di pameran buku itu. Juga saat duit dikantongku tinggal buat ongkos. Dan juga saat sayup-sayup kudengar suara adzan Ashar berkumandang. Dan membuat aku yang kesurupan setan buku itu tersadarkan. Hehe.
Selain pameran, daerah Senen sering jadi langgananku nyari buku murah. Agak ngeri juga sih ketemu ama buku-buku bajakan. Dibeli, takut haram. Gak dibeli, kagak nahan hehe. So pernah juga sih beli yang bajakan. Abis pas liat di toko-toko resmi itu buka harganya selangit, pas liat disitu harganya miring banget. Dan tanpa pikir panjang lagi langsung aku beli aja. Hehe ngalamin juga beli yang bajakan.
Selain pameran, tempat-tempat loakan, perpustakaan-perpustakaan umum kerap aku datangi untuk menuntaskan hasrat bacaku. Gak tau kenapa, kalo liat buku bawaannya gimana gitu. Apalagi kalo udah nyium bau kertasnya yang baru, duh merangsang banget buat beli. So sebulan sekali aku kudu bin wajib beli buku. Dan aku harus menyediakan anggaran untuk beli buku.
Makanya, kadang aku bete juga ama orang-orang yang hobinya pinjem buku. Aku mah ampe kurus kering gak jajan demi buku, dia malah enak-enakan minjem. Mending minjemnya bentar, ini mah bisa berabad-abad lamanya bahkan ada yang gak balik lagi.
Tapi lama-lama, ya udah deh aku ikhlaskan yang mo pinjem buku-bukuku, asal di rawat baik-baik dan wajib balik lagi tuh buku. Bagi-bagi ilmu ama orang lain. Belum tentu aku yang banyak baca ini mengamalkan semua yang aku baca. Nah, kalo ada yang pinjem kan siapa tau mereka akan ngamalin apa yang mereka baca.
Buku oh buku. Without you, I don’t know what should I do…!
Sekolah Tingi-tinggi Kok...
Baru-baru ini aku ketemu ama temen semasa SMP dulu, sebut aja Badrun (bukan nama sebenarnya-red). Badrun nih semasa sekolah penampilannya jauh dari rapi. Kucel, lecek plus bau badan. Secara tuh baju jarang diganti. Seragam jarang dimasukin. Dan yang paling parah tuh seragam suka ketuker-tuker. Saatnya pake pramuka dia pake putih coklat. Saat pake putih biru dia pake pramuka. Saat pake batik, dia pake putih biru. Bener-bener gak ada benernya. Diomelin guru juga udah gak mempan. Gurunya ampe bosen marahin tuh anak.
Itu dulu ya. Sekarang mah udah beda. Pas ketemu, penampilannya ruaaar biasa rapi. Rambut klimis, kumis tipis tapi dompetnya tebel banget, hehe. Henpon aja dia punya dua. Satu GSM satunya lagi CDMA. Yang GSM udah niru yang beri-beri gitu deh. Pokoknya ngeliat penampilannya itu udah nunjukin kalo dia udah jadi orang sukses duniawi. Ukhrowinya kayaknya belom deh. Soalnya pas diajak sholat Dzuhur, alesannya bejibun hehe.
Sebelum aku nanya sekarang kesibukannya apa. Dia udah nyerocos duluan, nyeritain sepak terjangnya dalam menggeluti bisnis yang bikin dia sukses seperti sekarang. Walau dia ngomongnya pake nada yang songong dan agak-agak sombong gitu, tapi aku dengerin aja sih. Secara dia temen ku semasa sekolah dulu. Udah sukses pula. Pasti banyak ilmu yang bisa dipetik. Juga jurus-jurus jitu ngadepin keuangan yang semakin lama semakin berat.
Pas dia nanya balik apa kerjaanku dan apa yang sekarang aku lakuin. Dia cuma bisa menjebleh. Asli panjang tuh bibir, hehe.
“Sekolah mah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya lo belum jadi apa-apa, Dey. Masih mending gua dong, lulusan SMP bisa sukses seperti sekarang.” Semburnya nyindir dengan teganya.
Aku cuma bisa nyengir. Bingung mo jawab apa. Secara aku sekolah tinggi-tinggi itu buat menuntut ilmu bukan menuntut duit seperti yang ia kira.
Menuntut ilmu itu punya kedudukan mulia dalam Islam. Bahkan Allah berjanji akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan akan memudahkan jalannya ke syurga. Rasulullah SAW mengatakan bahwa satu orang berilmu jauh lebih baik dari seratus orang ahli ibadah.
Ilmu gak akan ludes diseruduk zaman, bahkan sampe meninggal dunia pun pahala dari ilmu yang bermanfaat akan ngalir terus ama yang empunya.
Begitulah dulu almarhum Bapak menasehati anak-anaknya. Dan sampe sekarang keinget terus ama aku. Jadi meskipun almarhum Bapak bukan lulusan perguruan tinggi dan bisanya cuma baca ama nulis doang. Tapi beliau selalu menggembar-gemborkan pentingnya pendidikan itu bagi anak-anaknya.
Denger Badrun nyerocos kayak gitu emang udah gak aneh lagi sih. Setiap temen yang aku tanya, “Buat apa sekolah sampe tinggi? Jawabnya pasti buat nyari duit. Secara gitu Dey, gue udah abisin jutaan duit buat biaya sekolah. Masa sih gak balik modal.” Kwak waaau…!
Aku pikir, nuntut ilmu yang tujuannya ngeruk keuntungan materi, apa pun bentuknya gak akan abadi dan gak akan numbuhin manfaat ke dalam diri maupun buat orang lain. Makanya, aku gak aneh lagi ama orang-orang kayak Badrun ini. Semasa sekolah juga sekolahnya ogah-ogahan. Secara diotaknya udah tertanam,
“Ah, belajar gak belajar juga ujung-ujungnya sama aja. Gua bakalan nganggur dan paling banter gua kerja di pabrik.” Nah loh?
Soal keuntungan materi yang kita dapet dari ilmu yang kita pelajari, tentu aja berhak kita terima. Tapi kalo itu jadi tujuan utama nuntut ilmu, gak bener banget kan. Secara ilmu yang kita gali karena kesadaran kita sendiri, bikin kita bisa menguak misteri di dalamnya. Kan lebih bermanfaat bagi harkat hidup kemanusiaan, dari pada nuntut ilmu cuma sekedar buat dapetin kerjaan yang oke punya.
“Emang sih, gaji gede yang kita dapet bisa makmurin kelurga, Badrun. Tapi kan ilmu yang terus kita kembangin juga akan berguna terus sepanjang masa” ucapku melawan omongannya yang asal jeplak itu.
“Terserah lo aja deh, Dey. Yang penting gua sekarang hidup makmur. Meski pun gua gak sekolah tinggi. Contoh nyata di depan gua, lo sekolah tinggi-tinggi tapi hidup lo masih gitu-gitu aja” ucapnya sambil cengengesan.
Dih, ngomong capek-capek dari tadi. Ternyata gak ada satu pun yang nyangkut diotak Si Badrun ini. Capek deh!
Mungkin gak sih aku nyalahin Emaknya Badrun atas omongan ngaconya itu. Secara dulu Emaknya Badrun kalo lagi nyuruh dia belajar, ujung-ujungnya nyelipin kata-kata, “rajin belajar ya, Badrun…supaya kamu jadi orang” jadi orang kaya maksudnya hehe.
Mungkin kata-kata Emak Badrun juga Emak-emak pada umumnya itulah yang ngebuat sistem pendidikan di Negara kita ini selalu aja bermasalah. Dimulai dari biaya sekolah, fasilitas belajar mengajar sampe nasib pengajarnya. Jadi udah gak aneh lagi kaleee kalo pengangguran disetiap tahun selalu bejibun dan itu menandakan gak berhasilnya kurikulum pendidikan nasional.
Duh, bisa dimarahin Emaknya Badrun plus ditampol Badrun nih, kalo tau aku nyalah-nyalahin mereka hehe.
Itu dulu ya. Sekarang mah udah beda. Pas ketemu, penampilannya ruaaar biasa rapi. Rambut klimis, kumis tipis tapi dompetnya tebel banget, hehe. Henpon aja dia punya dua. Satu GSM satunya lagi CDMA. Yang GSM udah niru yang beri-beri gitu deh. Pokoknya ngeliat penampilannya itu udah nunjukin kalo dia udah jadi orang sukses duniawi. Ukhrowinya kayaknya belom deh. Soalnya pas diajak sholat Dzuhur, alesannya bejibun hehe.
Sebelum aku nanya sekarang kesibukannya apa. Dia udah nyerocos duluan, nyeritain sepak terjangnya dalam menggeluti bisnis yang bikin dia sukses seperti sekarang. Walau dia ngomongnya pake nada yang songong dan agak-agak sombong gitu, tapi aku dengerin aja sih. Secara dia temen ku semasa sekolah dulu. Udah sukses pula. Pasti banyak ilmu yang bisa dipetik. Juga jurus-jurus jitu ngadepin keuangan yang semakin lama semakin berat.
Pas dia nanya balik apa kerjaanku dan apa yang sekarang aku lakuin. Dia cuma bisa menjebleh. Asli panjang tuh bibir, hehe.
“Sekolah mah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya lo belum jadi apa-apa, Dey. Masih mending gua dong, lulusan SMP bisa sukses seperti sekarang.” Semburnya nyindir dengan teganya.
Aku cuma bisa nyengir. Bingung mo jawab apa. Secara aku sekolah tinggi-tinggi itu buat menuntut ilmu bukan menuntut duit seperti yang ia kira.
Menuntut ilmu itu punya kedudukan mulia dalam Islam. Bahkan Allah berjanji akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan akan memudahkan jalannya ke syurga. Rasulullah SAW mengatakan bahwa satu orang berilmu jauh lebih baik dari seratus orang ahli ibadah.
Ilmu gak akan ludes diseruduk zaman, bahkan sampe meninggal dunia pun pahala dari ilmu yang bermanfaat akan ngalir terus ama yang empunya.
Begitulah dulu almarhum Bapak menasehati anak-anaknya. Dan sampe sekarang keinget terus ama aku. Jadi meskipun almarhum Bapak bukan lulusan perguruan tinggi dan bisanya cuma baca ama nulis doang. Tapi beliau selalu menggembar-gemborkan pentingnya pendidikan itu bagi anak-anaknya.
Denger Badrun nyerocos kayak gitu emang udah gak aneh lagi sih. Setiap temen yang aku tanya, “Buat apa sekolah sampe tinggi? Jawabnya pasti buat nyari duit. Secara gitu Dey, gue udah abisin jutaan duit buat biaya sekolah. Masa sih gak balik modal.” Kwak waaau…!
Aku pikir, nuntut ilmu yang tujuannya ngeruk keuntungan materi, apa pun bentuknya gak akan abadi dan gak akan numbuhin manfaat ke dalam diri maupun buat orang lain. Makanya, aku gak aneh lagi ama orang-orang kayak Badrun ini. Semasa sekolah juga sekolahnya ogah-ogahan. Secara diotaknya udah tertanam,
“Ah, belajar gak belajar juga ujung-ujungnya sama aja. Gua bakalan nganggur dan paling banter gua kerja di pabrik.” Nah loh?
Soal keuntungan materi yang kita dapet dari ilmu yang kita pelajari, tentu aja berhak kita terima. Tapi kalo itu jadi tujuan utama nuntut ilmu, gak bener banget kan. Secara ilmu yang kita gali karena kesadaran kita sendiri, bikin kita bisa menguak misteri di dalamnya. Kan lebih bermanfaat bagi harkat hidup kemanusiaan, dari pada nuntut ilmu cuma sekedar buat dapetin kerjaan yang oke punya.
“Emang sih, gaji gede yang kita dapet bisa makmurin kelurga, Badrun. Tapi kan ilmu yang terus kita kembangin juga akan berguna terus sepanjang masa” ucapku melawan omongannya yang asal jeplak itu.
“Terserah lo aja deh, Dey. Yang penting gua sekarang hidup makmur. Meski pun gua gak sekolah tinggi. Contoh nyata di depan gua, lo sekolah tinggi-tinggi tapi hidup lo masih gitu-gitu aja” ucapnya sambil cengengesan.
Dih, ngomong capek-capek dari tadi. Ternyata gak ada satu pun yang nyangkut diotak Si Badrun ini. Capek deh!
Mungkin gak sih aku nyalahin Emaknya Badrun atas omongan ngaconya itu. Secara dulu Emaknya Badrun kalo lagi nyuruh dia belajar, ujung-ujungnya nyelipin kata-kata, “rajin belajar ya, Badrun…supaya kamu jadi orang” jadi orang kaya maksudnya hehe.
Mungkin kata-kata Emak Badrun juga Emak-emak pada umumnya itulah yang ngebuat sistem pendidikan di Negara kita ini selalu aja bermasalah. Dimulai dari biaya sekolah, fasilitas belajar mengajar sampe nasib pengajarnya. Jadi udah gak aneh lagi kaleee kalo pengangguran disetiap tahun selalu bejibun dan itu menandakan gak berhasilnya kurikulum pendidikan nasional.
Duh, bisa dimarahin Emaknya Badrun plus ditampol Badrun nih, kalo tau aku nyalah-nyalahin mereka hehe.
Kamis, 17 Desember 2009
Aku Dan Tahun Baru Hijriah
Gak kerasa ya, tahun baru datang lagi. Perasaan baru kemarin aku menapaki hari-hari ditahun 1430 H. Lah, sekarang udah 1431 H. Begitu cepatnya waktu berlalu. Dan aku masih begini-begini aja. Hehe. Padahal, harusnya sih aku kudu jauh, jauh, jauuuh lebih baik dari tahun kemarin.
Tahun baru ini aku gak kemana-mana, ngedekok aja di rumah. Tadinya sih pengen banget ngehadirin ta’lim di sebuah radio Islam di Kota Bogor. Kayak tahun baru kemarin, rame-rame datang ama temen-temen. Lumayan kan, ngedengerin tausyiah buat santapan ruhiyah. But tahun ini gak ada temen yang bisa diajak jalan. Gak tau pada punya kesibukan apa, kok bisa-bisanya semua serentak pada ngilang dari kehidupanku.
Seperti tahun yang udah-udah, Tahun Baru Hijriah kali ini gak terlalu kedenger gaungnya. Terutama di daerahku. Gak seperti perayaan tahun baru Masehi yang ramenya naudzubilah. Suara terompet, petasan, pesta kembang api dan bakar-bakaran wajib ada buat nandain pergantian tahun. Bahkan dari anak-anak pitik sampe yang bangkotan bela-belain gak tidur, buat apa hayooo? Apalagi selain untuk pukul kaleng rombeng dan tiup trompet pas jam 12 dini hari.
Dan meskipun mayoritas penduduk negeri ini muslim, tapi kebanyakan mereka gak ngeh loh, kalo hari ini tahun baru Islam. Kalo yang sekolah sih pada tau, coz tanggal merah itu artinya mereka libur. Cuma pas tau kalo liburnya itu Tahun Baru Hijriah. Mereka cuek beibeh. Lha wong taunya aja barusan hehe.
Coba kalo tahun baru Masehi, jauh-jauh hari mereka udah pada ngerencanain mo pada liburan kemana, mo bakar-bakaran apa (asal jangan sampe rumah aja yang dibakar hehe), bikin acara apa gitu. Pokoknya seru deh. Secara aku juga pernah ngalamin hal seperti itu kaleee. Tapi itu dulu, sekarang mah tidak lagi hihi. Itu mah bunyi iklan shampoo ya.
Nah, giliran tahun baru Hijriah mah sabodo teuing. Padahal sebagai umat muslim, pergantian tahun baru Hijriah itu yang paling penting. Coz tahun baru Hijriah itu menjadi penanda atas peristiwa besar yang paling nentuin arah sejarah peradaban Islam. Yakni hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Hijrah dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam.
So hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah inilah yang pada akhirnya jadi patokan kalender Islam. Tahun pertama yang dijadiin tonggak berkembangnya peradaban Islam sampe sekarang. Jadi intinya sih, tahun baru Hijriah jadi first step menuju perbaikan mentalitas dan ruh keimanan.
Oke deeeh. Selamat Tahun Baru Muharram 1431 Hijriah. May Allah of our plans be fulfilled and may Allah of our dreams come true, amin ya robbal alamin.
Jum’at, 18 Des’09
1 Muharram 1431 H
Tahun baru ini aku gak kemana-mana, ngedekok aja di rumah. Tadinya sih pengen banget ngehadirin ta’lim di sebuah radio Islam di Kota Bogor. Kayak tahun baru kemarin, rame-rame datang ama temen-temen. Lumayan kan, ngedengerin tausyiah buat santapan ruhiyah. But tahun ini gak ada temen yang bisa diajak jalan. Gak tau pada punya kesibukan apa, kok bisa-bisanya semua serentak pada ngilang dari kehidupanku.
Seperti tahun yang udah-udah, Tahun Baru Hijriah kali ini gak terlalu kedenger gaungnya. Terutama di daerahku. Gak seperti perayaan tahun baru Masehi yang ramenya naudzubilah. Suara terompet, petasan, pesta kembang api dan bakar-bakaran wajib ada buat nandain pergantian tahun. Bahkan dari anak-anak pitik sampe yang bangkotan bela-belain gak tidur, buat apa hayooo? Apalagi selain untuk pukul kaleng rombeng dan tiup trompet pas jam 12 dini hari.
Dan meskipun mayoritas penduduk negeri ini muslim, tapi kebanyakan mereka gak ngeh loh, kalo hari ini tahun baru Islam. Kalo yang sekolah sih pada tau, coz tanggal merah itu artinya mereka libur. Cuma pas tau kalo liburnya itu Tahun Baru Hijriah. Mereka cuek beibeh. Lha wong taunya aja barusan hehe.
Coba kalo tahun baru Masehi, jauh-jauh hari mereka udah pada ngerencanain mo pada liburan kemana, mo bakar-bakaran apa (asal jangan sampe rumah aja yang dibakar hehe), bikin acara apa gitu. Pokoknya seru deh. Secara aku juga pernah ngalamin hal seperti itu kaleee. Tapi itu dulu, sekarang mah tidak lagi hihi. Itu mah bunyi iklan shampoo ya.
Nah, giliran tahun baru Hijriah mah sabodo teuing. Padahal sebagai umat muslim, pergantian tahun baru Hijriah itu yang paling penting. Coz tahun baru Hijriah itu menjadi penanda atas peristiwa besar yang paling nentuin arah sejarah peradaban Islam. Yakni hijrah atau pindahnya Nabi Muhammad dan para pengikutnya dari Mekkah ke Madinah. Hijrah dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam.
So hijrahnya Nabi Muhammad ke Madinah inilah yang pada akhirnya jadi patokan kalender Islam. Tahun pertama yang dijadiin tonggak berkembangnya peradaban Islam sampe sekarang. Jadi intinya sih, tahun baru Hijriah jadi first step menuju perbaikan mentalitas dan ruh keimanan.
Oke deeeh. Selamat Tahun Baru Muharram 1431 Hijriah. May Allah of our plans be fulfilled and may Allah of our dreams come true, amin ya robbal alamin.
Jum’at, 18 Des’09
1 Muharram 1431 H
Aku, Kefeminimanku Dan Bersyukur
Ada pribahasa yang bunyinya gini “rumput di depan rumah tetangga selalu terlihat lebih ijo dari rumput yang ada di depan rumah kita sendiri”
Nah, aku pernah juga ngalamin yang seperti pribahasa di atas. Biar pun anggota badanku lengkap, duit gak banyak tapi masih megang, tapi pas aku ngeliat cowok tinggi dengan tubuh proposional, tegap abis, ditambah suaranya ngebas punya. Suer, aku yang terlahir dengan tubuh pendek, kurus kayak triplek dan suara yang cewek banget. Aku ngerasa ngenes banget. Dan menjadi manusia yang paling gak sempurna di muka bumi ini. Ujung-ujungnya aku berandai-andai deh.
Seandainya tubuhku tinggi tegap, pasti cewek-cewek banyak yang akan mengagumi aku dan pada nempel kayak prangko. Seandainya suaraku ngebas, pasti aku gak bakalan disangka mbak-mbak or tante-tante gitu deh. Seandainya, seandainya banyak banget seandainya yang intinya sih gak menerima keadaan diri.
“Stop, itu gak bener dan harus dihentikan!” Tegas-tegas aku ucapin itu pada diriku sendiri saat kuman-kuman “berandai-andai” itu menguasaiku. Ngebanding-bandingin diri ama orang lain itu ternyata bikin aku lupa bersyukur. Melulu ngeluh aja kerjaannya.
Padahal banyak banget nikmat yang udah Allah beri ama aku. Nikmat yang paling gede adalah nikmat bernafas. Yup, kalo aku gak bernafas, mati dong. Lima menit aja, aku tutupan idung pas ada bau ketiak disekitarku, aku udah megap-megap kayak ikan gurame ditaro didarat. Gimana kalo sejam, dijamin langsung tepar. Dan Allah Yang Maha Agung itu begitu pemurahnya ngasih aku nafas sehingga aku bisa sepuas-puasnya menghirup udara bersih disekitarku. Gratis pula. Coba kalo aku bernafas harus pake bayar, kayak orang piss or puf di jamban umum. Bisa tekor bandar.
Itu baru nikmat bernafas ya. Bagaimana dengan nikmat-nikmat yang lainnya. Banyak banget, ampe puyeng kalo harus diitung mah. Bahkan gak keitung.
Aku dengan suaraku yang womanly ini kadang-kadang bikin aku jauh dari bersyukur. Coz seringnya aku tekanan batin pas orang yang aku ajak kenalan, langsung ketawa or senyum ngejek pas denger suaraku. Ada juga yang langsung ngeloyor pergi seolah aku berpenyakit AIDS. Kezaaam.
Lama-lama aku jadi trauma pake suaraku ini buat ngomong. Pernah pas pikiranku lagi soak, aku gak jawab pas ditanya orang sebangku saat naik kendaran umum. Bermuka jutek pas ditempat keramaian, biar tuh orang gak bermanis-manis ama aku dan nanya-nanya. So dia kan gak bisa denger suaraku. Begitu menurut pikirku.
Dan pernah juga aku kemana-mana bawa notes. Acting jadi orang bisu. Kalo mo nanya dan ditanya orang aku nyodorin tulisan, nyontek abis gaya drama Korea yang pernah kutonton. Tapi lama-lama kok capek juga ya, setiap mo jawab dan nanya harus ditulis. Secara aku tuh orangnya bawel abis dan gak bisa diem hehe. Nah, pas aku keceplosan ngomong padahal aku lagi acting bisu-bisuan, tengsin abis lah. Mukaku mau taruh dimana coba.
Pernah juga aku mengurung diri, ogah bergaul dengan siapa pun coz malu sering diejek orang. Dan dampaknya kebawa banget sampe sekarang. Aku gak bisa ngomong duluan ama orang kalo aku berada di komunitas baru. Nungguin orang dulu yang nyapa. Masih untung ada yang nyapa, coba kalo gak ada, bisa lumutan aku.
Aku lebih memilih menyendiri. Dan sumpah aku ngerasa terasing banget, kesepian pula. Orang-orang pada berkelompok dan saling ngobrol diselingi cekakak, cekukuk, cikikik. Aku kayak sapi ompong ngejubleg aja sendirian. Bener, merana banget. Meski gak aku tampakkan kepermukaan. Dan aku terus bersikap seolah-olah aku baik-baik aja meski aku sendirian. Padahal aku merana abis. Secara aku kan makhluk sosial, jadi butuh banget sorang teman disampingku. Untuk menanya dan ditanya. Menyapa dan disapa. Coba kalo ngomong sendiri, dijamin disambitin pake batu ama orang-orang. Dikira orang gila hehe.
Akhirnya setelah termenung lama menginsyafi diri, ciieeh. Aku baru sadar. Selama ini mati suri ceritanya hehe. Aku gak mau lagi bersikap begitu. Aku mau jadi diri sendiri aja deh. Perduli setan orang mo ngomong apa, bereaksi bagaimana pokoknya aku harus ngomong. Titik. Kalo aku membisu kok kesannya aku kayak patung yang ada di Pancoran apa dimana tuh lupa hehe, gak bersyukur dengan pita suara yang Allah titipin ama aku.
Padahal banyak orang diluar sana yang jauh dari beruntung, yang pengen ngomong aja susah luar biasa. Secara mereka bisu sejak lahir. Dan aku yakin, dalam doa mereka selalu meminta “Ya Allah…karuniakanlah aku pita suara, agar aku bisa bicara” atau “Tuhan…berikan aku suara, agar bisa ngomong (sssttt…nyanyiin ala-ala The virgin hehe)
Nah, aku yang dikasih pita suara gratisan, malah males makenya. Yang bener aja! Kufur nikmat pangkat seratus. Dikasih bonus bicara tanpa tarif kok gak mau. Telpon seluler ngasih bonus bicara semenit aja orang bejibun memakainya.
Padahal dengan suaraku ini aku bisa berguna bagi kemaslahatan umat. Menyuarakan kebenaran saat jadi saksi dimeja ijo. Yang ini belum pernah sih hehe. Nunjukin arah jalan pas ada orang nyasar. Bisa teriak awas, pas ada orang jalan ngelamun mau diseruduk becak. Meskipun ujung-ujungnya orang yang tertolong itu celingukan, cewek yang barusan teriak mana ya, hehe. Bisa minta uang pas helicopter lewat di angkasa, hus, emangnya anak kecil apa. Dan yang terpenting suaraku ini bisa buat ngebantu temenku yang kesusahan. Loh, apa hubungannya? Ada lah. Begini ceritanya.
Aku punya temen cewek, sebut aja namanya Melati (bukan nama sebenarnya-red). Melati ini ceritanya baru aja dapet pembaharuan setelah ikut rihlah ama temen-temen jilbaber di kampusnya. Nah, untuk berbenah jadi lebih baik ini, pertama-tama dia mo putus dari pacarnya. Secara mojok berdua sama cowoknya itu haram. Tapi pas udah confirm ama tuh cowok eee malah di ignore hehe…emangnya undangan berteman di facebook. Tuh cowok keukeuh gak mau diputusin. “Aku gak rela dunia akherat kamu putuskan!” ujar si cowoknya lebay, hehe.
Ujung-ujungnya Si Melati ini minta tolong ama aku untuk berpura-pura jadi ibunya. Nah loh, kok bisa. Ya, bisa lah. Secara kita kan lagi ngebahas suaraku yang kayak cewek, gimana sih. Woi sewot hehe. Melati minta aku nasehatin tuh cowok supaya jauhin dia. No telpon, no sms, no apel malem minggu, dan no no lainnya. Yang intinya putus-tus-tus ama tuh cowok.
Disitulah peran suara cewekku sangat dibutuhkan, via telpon aku berakting jadi ibu gadungan Si Melati. Dan sumpah, tuh cowok gak ngeh kalo yang ngajak ngomong itu sebenarnya bukan ibunya Melati. But me. Finally, tuh cowok nurut juga mutusin Melati dan janji gak akan mengganggunya lagi. Setelah berbusa-busa aku membujuk dan menasehatinya dengan versi ibu-ibu yang berwibawa, rendah hati dan tidak sombong, tapi berbohong (maksudnya ngebohongin tuh cowok dengan suaraku itu hehe) Berhasil, berhasil, berhasil! Begitulah Dora eh salah Melati dan aku bersorak. Meski ngibulin orang ya, dengan suara cewekku ini, hehe.
Jadi bersyukur aja deh dengan apa yang diberikan Allah sama aku. Toh disamping itu juga aku banyak dikasih kelebihan yang belum tentu di orang lain yang aku liat sempurna dia punya. Dengan bersyukur aku jadi sehat jasmani maupun rohani. Jauh dari tekanan. Jauh dari stress coz mikirin ejekan orang. Dan yang lebih parah, ya itu tadi, ngebanding-bandingin diri ama orang lain. Pas gak kebanding aja, gila yang ada hehe.
Aku berprasangka baik aja deh ama Allah, bahwa dibalik semua kejadian yang menimpaku pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatku, maka pasti azabKu sangat berat.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Any way, apa yang ada padaku saat ini, mungkin ini yang paling tepat untukku…! Se-ma-ngaaat!!!
Selasa, 15 Des’09
28 Dzulhijjah 1430 H
Nah, aku pernah juga ngalamin yang seperti pribahasa di atas. Biar pun anggota badanku lengkap, duit gak banyak tapi masih megang, tapi pas aku ngeliat cowok tinggi dengan tubuh proposional, tegap abis, ditambah suaranya ngebas punya. Suer, aku yang terlahir dengan tubuh pendek, kurus kayak triplek dan suara yang cewek banget. Aku ngerasa ngenes banget. Dan menjadi manusia yang paling gak sempurna di muka bumi ini. Ujung-ujungnya aku berandai-andai deh.
Seandainya tubuhku tinggi tegap, pasti cewek-cewek banyak yang akan mengagumi aku dan pada nempel kayak prangko. Seandainya suaraku ngebas, pasti aku gak bakalan disangka mbak-mbak or tante-tante gitu deh. Seandainya, seandainya banyak banget seandainya yang intinya sih gak menerima keadaan diri.
“Stop, itu gak bener dan harus dihentikan!” Tegas-tegas aku ucapin itu pada diriku sendiri saat kuman-kuman “berandai-andai” itu menguasaiku. Ngebanding-bandingin diri ama orang lain itu ternyata bikin aku lupa bersyukur. Melulu ngeluh aja kerjaannya.
Padahal banyak banget nikmat yang udah Allah beri ama aku. Nikmat yang paling gede adalah nikmat bernafas. Yup, kalo aku gak bernafas, mati dong. Lima menit aja, aku tutupan idung pas ada bau ketiak disekitarku, aku udah megap-megap kayak ikan gurame ditaro didarat. Gimana kalo sejam, dijamin langsung tepar. Dan Allah Yang Maha Agung itu begitu pemurahnya ngasih aku nafas sehingga aku bisa sepuas-puasnya menghirup udara bersih disekitarku. Gratis pula. Coba kalo aku bernafas harus pake bayar, kayak orang piss or puf di jamban umum. Bisa tekor bandar.
Itu baru nikmat bernafas ya. Bagaimana dengan nikmat-nikmat yang lainnya. Banyak banget, ampe puyeng kalo harus diitung mah. Bahkan gak keitung.
Aku dengan suaraku yang womanly ini kadang-kadang bikin aku jauh dari bersyukur. Coz seringnya aku tekanan batin pas orang yang aku ajak kenalan, langsung ketawa or senyum ngejek pas denger suaraku. Ada juga yang langsung ngeloyor pergi seolah aku berpenyakit AIDS. Kezaaam.
Lama-lama aku jadi trauma pake suaraku ini buat ngomong. Pernah pas pikiranku lagi soak, aku gak jawab pas ditanya orang sebangku saat naik kendaran umum. Bermuka jutek pas ditempat keramaian, biar tuh orang gak bermanis-manis ama aku dan nanya-nanya. So dia kan gak bisa denger suaraku. Begitu menurut pikirku.
Dan pernah juga aku kemana-mana bawa notes. Acting jadi orang bisu. Kalo mo nanya dan ditanya orang aku nyodorin tulisan, nyontek abis gaya drama Korea yang pernah kutonton. Tapi lama-lama kok capek juga ya, setiap mo jawab dan nanya harus ditulis. Secara aku tuh orangnya bawel abis dan gak bisa diem hehe. Nah, pas aku keceplosan ngomong padahal aku lagi acting bisu-bisuan, tengsin abis lah. Mukaku mau taruh dimana coba.
Pernah juga aku mengurung diri, ogah bergaul dengan siapa pun coz malu sering diejek orang. Dan dampaknya kebawa banget sampe sekarang. Aku gak bisa ngomong duluan ama orang kalo aku berada di komunitas baru. Nungguin orang dulu yang nyapa. Masih untung ada yang nyapa, coba kalo gak ada, bisa lumutan aku.
Aku lebih memilih menyendiri. Dan sumpah aku ngerasa terasing banget, kesepian pula. Orang-orang pada berkelompok dan saling ngobrol diselingi cekakak, cekukuk, cikikik. Aku kayak sapi ompong ngejubleg aja sendirian. Bener, merana banget. Meski gak aku tampakkan kepermukaan. Dan aku terus bersikap seolah-olah aku baik-baik aja meski aku sendirian. Padahal aku merana abis. Secara aku kan makhluk sosial, jadi butuh banget sorang teman disampingku. Untuk menanya dan ditanya. Menyapa dan disapa. Coba kalo ngomong sendiri, dijamin disambitin pake batu ama orang-orang. Dikira orang gila hehe.
Akhirnya setelah termenung lama menginsyafi diri, ciieeh. Aku baru sadar. Selama ini mati suri ceritanya hehe. Aku gak mau lagi bersikap begitu. Aku mau jadi diri sendiri aja deh. Perduli setan orang mo ngomong apa, bereaksi bagaimana pokoknya aku harus ngomong. Titik. Kalo aku membisu kok kesannya aku kayak patung yang ada di Pancoran apa dimana tuh lupa hehe, gak bersyukur dengan pita suara yang Allah titipin ama aku.
Padahal banyak orang diluar sana yang jauh dari beruntung, yang pengen ngomong aja susah luar biasa. Secara mereka bisu sejak lahir. Dan aku yakin, dalam doa mereka selalu meminta “Ya Allah…karuniakanlah aku pita suara, agar aku bisa bicara” atau “Tuhan…berikan aku suara, agar bisa ngomong (sssttt…nyanyiin ala-ala The virgin hehe)
Nah, aku yang dikasih pita suara gratisan, malah males makenya. Yang bener aja! Kufur nikmat pangkat seratus. Dikasih bonus bicara tanpa tarif kok gak mau. Telpon seluler ngasih bonus bicara semenit aja orang bejibun memakainya.
Padahal dengan suaraku ini aku bisa berguna bagi kemaslahatan umat. Menyuarakan kebenaran saat jadi saksi dimeja ijo. Yang ini belum pernah sih hehe. Nunjukin arah jalan pas ada orang nyasar. Bisa teriak awas, pas ada orang jalan ngelamun mau diseruduk becak. Meskipun ujung-ujungnya orang yang tertolong itu celingukan, cewek yang barusan teriak mana ya, hehe. Bisa minta uang pas helicopter lewat di angkasa, hus, emangnya anak kecil apa. Dan yang terpenting suaraku ini bisa buat ngebantu temenku yang kesusahan. Loh, apa hubungannya? Ada lah. Begini ceritanya.
Aku punya temen cewek, sebut aja namanya Melati (bukan nama sebenarnya-red). Melati ini ceritanya baru aja dapet pembaharuan setelah ikut rihlah ama temen-temen jilbaber di kampusnya. Nah, untuk berbenah jadi lebih baik ini, pertama-tama dia mo putus dari pacarnya. Secara mojok berdua sama cowoknya itu haram. Tapi pas udah confirm ama tuh cowok eee malah di ignore hehe…emangnya undangan berteman di facebook. Tuh cowok keukeuh gak mau diputusin. “Aku gak rela dunia akherat kamu putuskan!” ujar si cowoknya lebay, hehe.
Ujung-ujungnya Si Melati ini minta tolong ama aku untuk berpura-pura jadi ibunya. Nah loh, kok bisa. Ya, bisa lah. Secara kita kan lagi ngebahas suaraku yang kayak cewek, gimana sih. Woi sewot hehe. Melati minta aku nasehatin tuh cowok supaya jauhin dia. No telpon, no sms, no apel malem minggu, dan no no lainnya. Yang intinya putus-tus-tus ama tuh cowok.
Disitulah peran suara cewekku sangat dibutuhkan, via telpon aku berakting jadi ibu gadungan Si Melati. Dan sumpah, tuh cowok gak ngeh kalo yang ngajak ngomong itu sebenarnya bukan ibunya Melati. But me. Finally, tuh cowok nurut juga mutusin Melati dan janji gak akan mengganggunya lagi. Setelah berbusa-busa aku membujuk dan menasehatinya dengan versi ibu-ibu yang berwibawa, rendah hati dan tidak sombong, tapi berbohong (maksudnya ngebohongin tuh cowok dengan suaraku itu hehe) Berhasil, berhasil, berhasil! Begitulah Dora eh salah Melati dan aku bersorak. Meski ngibulin orang ya, dengan suara cewekku ini, hehe.
Jadi bersyukur aja deh dengan apa yang diberikan Allah sama aku. Toh disamping itu juga aku banyak dikasih kelebihan yang belum tentu di orang lain yang aku liat sempurna dia punya. Dengan bersyukur aku jadi sehat jasmani maupun rohani. Jauh dari tekanan. Jauh dari stress coz mikirin ejekan orang. Dan yang lebih parah, ya itu tadi, ngebanding-bandingin diri ama orang lain. Pas gak kebanding aja, gila yang ada hehe.
Aku berprasangka baik aja deh ama Allah, bahwa dibalik semua kejadian yang menimpaku pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. “Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmatku, maka pasti azabKu sangat berat.” (Q.S. Ibrahim: 7)
Any way, apa yang ada padaku saat ini, mungkin ini yang paling tepat untukku…! Se-ma-ngaaat!!!
Selasa, 15 Des’09
28 Dzulhijjah 1430 H
Aku dan Drama Korea
Waktu zamannya aku masih pake seragam putih-biru, disalah satu stasiun teve swasta muter film drama Jepang. Judulnya yang pertama nongol itu Tokyo Love Story. Trus menyusul The Ordinary People, Anchor Women, Beach Boys. Dan judul-judul lainnya bermunculan. Tapi aku udah lupa judul-judulnya. Nah, empat judul yang aku sebutin tadi itu yang bener-bener aku inget banget. Dan gara-gara drama Jepang itulah sampe sekarang aku keranjingan banget sama film-film yang berbau Jepang juga Korea.
Gimana gak disebut keranjingan coba aku sama yang namanya tuh film, aku sampe bela-belain pulang sekolah tanpa bergerombol atau bareng temen, tapi langsung wuuuuzzz…pulang hehe. Secara aku sekolahnya masuk siang, sedangkan tuh film diputernya sore. Otomatis aku sering kalang-kabut sendiri.
Begitu banyak moment yang aku lewatkan demi mementingkan film-film itu. Saat temen-temen sibuk pacaran (cimon-cinta mongkey) sepulang sekolah, nongkrong sepulang sekolah atau mejeng atau ngelayap kemana gitu sepulang sekolah. Aku malah asyik mantengen teve tanpa mau diganggu. Dan kalo orang tua nyuruh, kakak-teteh nyuruh, ujung-ujungnya aku kerjain dengan setengah hati atau buru-buru kayak dikejar herder hehe. Mandi juga aku pepetin mendekati Magrib. Bagusnya aku diomelin Emak coz yang lain sibuk sholat berjamaah, aku malah sibuk maen air. Hehe.
Itu dulu ya, sekarang mah udah beda. Kemajuan teknologi membuatku gak harus mantengin teve pada jam-jam tayang tuh film. Sekarang kan banyak DVD. Sebelum DVD ada sih ngerepotin banget. Aku gak pernah bisa diajak hang out selama tuh drama film tayang. Kalo mo jalan, pasti dengan mahirnya nih lidah menjawab. Next time ya.
“Jalan yuk, Dey?”
“Kapan?”
“Sekarang lah”
“Waduh, sorry aku gak bisa. Next time aja ya?”
“Emang sibuk ya”
“Nggak juga sih. Tar aja deh hari sabtu or minggu, ya. Dijamin aku pasti bisa” itu jawabanku kalo mereka maksa banget, ngajak aku jalan.
“Emang mau ngapain sih?”
Aku cengengesan. “Mau nonton drama Korea”
Gubrak! Temenku langsung ngurut dada. Dadanya sendiri loh, bukan dadaku hehe.
“Heran punya temen kok aneh sendiri. Cowok-cowok senengnya nonton gituan” selalu tuh komen yang aku denger.
Itu komentar basi banget. Meski tujuannya nyindir or menyakiti hatiku. But suer, gak ngaruh banget. Kesenengan orang kok dilarang-larang.
Lama-lama mereka no komen lagi dengan hobiku yang satu itu. Kapok soalnya, lha diejekin mulu gak ngefek juga. Lagian pemandangan aku lagi nonton dengan cekikikan sendiri saat ada adegan lucu atau bermuram durja dan rada-rada mo mewek gitu saat ada adegan yang mellow abis, udah jadi pemandangan baku. So mereka ogah tuh nemenin aku nonton tuh film. Nah, kalo Ableh pasti mau coz temennya Ogah. Hehe emang film Si Unyil. Takut ketularan virus gila nonton film Korea. Kezamnya itu statement.
Nah, adanya DVD tuh ngebantu banget. Meski DVD-nya bajakan, duh ketauan deh senengnya ama yang bajakan-bajakan hehe. Tapi tenang itu hanya berlaku pada DVD doang kok. Kalo kaset nasyid ama buku sih aku beli yang original. Kalo pun ada buku bajakan yang aku beli di Senen bisa diitung pake jari, itu pun karena lagi kepengen banget baca, tapi duit gak mencukupi untuk membeli yang ori. Mah-hal soalnya hehe. Mo nungguin book fair masih lama, jadi ya hasil akhirnya aku beli yang bajakan hehe.
Maaf ye, aku gak bermaksud menyuburkan dunia perbajakan kok. Soalnya kalo sawah yang dibajak pasti tanahnya gembur. Ups, jadi kemana-mana. Karena hukum pasar kan gitu, banyak permintaan otomatis makin menjamur deh. Coba gak ada yang beli, otomatis gulung tikar deh tuh pembajak. Tapi tetep yang bajakan diminati juga, murah sih. Meskipun mutunya bisa dilihat sendiri.
Gara-gara keranjingan sama film-film Korea. Aku sering browsing, nyari-nyari info film-film Korea yang bagus. Baru kemudian hunting DVD-nya. Kalo gak ada, aku bisa pesan ama tukang DVD langgananku. Semua yang aku inginkan pasti ada. Paling yang gak ada satu dua tiga empat aja.
Dan keseringan nonton tuh film dengan versi bahasa aslinya, kupingku jadi terbiasa dengan kata-kata yang berakhiran “yo”. Seperti aanyong haseyo. Dan gak sengaja lidahku juga melafalkannya. Otomatis lama-lama aku jadi mahir melafalkannya. Seneng deh, belajar bahasa Korea secara otodidak.
Karena sering melafalkan bahasa Korea itu lah, pernah aku keceplosan ngomong bahasa Korea tanpa sadar. Saat aku naik bus way, seorang bapak ngajak ngobrol aku. Karena berisik, beberapa kali gak kedengeran apa yang diucapin tuh bapak. Otomatis mulutku berseru, “Morago?” artinya apa yang kamu katakan. Lha, si bapak asli bengong.
Sewaktu nyari-nyari casing henpon di kaki lima. Lagi-lagi aku juga keceplosan ngomong pake bahasa Korea. Pas tuh casing udah aku bayar, aku bilang “Kamsahamnida” artinya terima kasih. Asli si abang penjualnya bengong juga. Hanguk minded hehe.
Selain bahasa, aku yang hobi konser di kamar mandi ini. Juga mahir menyanyikan lagu-lagu soundtrack tuh film-film yang aku denger. Dua kali denger aja aku sudah hafal tuh lagu meski hanya pake na na na…atau yang ada sarang-sarangnya. Ih, bukan sarang burung tapi sarange yang artinya cinta.
Drama-drama Korea yang udah aku tonton ceritanya bagus-bagus. Gak aneh kalo sinetron Indonesia dengan pedenya mencontek abis tu drama. Enek juga sih, pas tau sinetron yang ditonton Emakku ternyata hasil contekan.
Udah gitu drama Korea tuh gak terlalu vulgar menampilkan adegan-adegan yang taulah yang sangat-sangat digemari orang Indonesia. Apa lagi kalo bukan adegan syur.
Nah, drama Korea yang aku tonton tuh gak ada adegan vulgarnya. Paling banter kissing. Itu pun gaya Korea, bukan ala-ala Barat yang ampe segitunya. Tau kan hehe. Jadi asyik aja ngeliatnya. Ceritanya juga gak pernah basi untuk ditonton. Apalagi ditambah dengan backsound-nya musik klasik tuh drama Korea. Duh, gak kepengen berhenti mantengin DVD hihi.
Jadi buat temen-temen yang mo janjian ama aku, jangan khawatir lagi deh. Masa-masa mantengin teve di jam-jam sore udah berubah tayang. Sekarang mah bisa kapan aja kalo mo mantengin drama Korea. Jadi kalo mau pergi, “hayuk” hehe.
Gimana gak disebut keranjingan coba aku sama yang namanya tuh film, aku sampe bela-belain pulang sekolah tanpa bergerombol atau bareng temen, tapi langsung wuuuuzzz…pulang hehe. Secara aku sekolahnya masuk siang, sedangkan tuh film diputernya sore. Otomatis aku sering kalang-kabut sendiri.
Begitu banyak moment yang aku lewatkan demi mementingkan film-film itu. Saat temen-temen sibuk pacaran (cimon-cinta mongkey) sepulang sekolah, nongkrong sepulang sekolah atau mejeng atau ngelayap kemana gitu sepulang sekolah. Aku malah asyik mantengen teve tanpa mau diganggu. Dan kalo orang tua nyuruh, kakak-teteh nyuruh, ujung-ujungnya aku kerjain dengan setengah hati atau buru-buru kayak dikejar herder hehe. Mandi juga aku pepetin mendekati Magrib. Bagusnya aku diomelin Emak coz yang lain sibuk sholat berjamaah, aku malah sibuk maen air. Hehe.
Itu dulu ya, sekarang mah udah beda. Kemajuan teknologi membuatku gak harus mantengin teve pada jam-jam tayang tuh film. Sekarang kan banyak DVD. Sebelum DVD ada sih ngerepotin banget. Aku gak pernah bisa diajak hang out selama tuh drama film tayang. Kalo mo jalan, pasti dengan mahirnya nih lidah menjawab. Next time ya.
“Jalan yuk, Dey?”
“Kapan?”
“Sekarang lah”
“Waduh, sorry aku gak bisa. Next time aja ya?”
“Emang sibuk ya”
“Nggak juga sih. Tar aja deh hari sabtu or minggu, ya. Dijamin aku pasti bisa” itu jawabanku kalo mereka maksa banget, ngajak aku jalan.
“Emang mau ngapain sih?”
Aku cengengesan. “Mau nonton drama Korea”
Gubrak! Temenku langsung ngurut dada. Dadanya sendiri loh, bukan dadaku hehe.
“Heran punya temen kok aneh sendiri. Cowok-cowok senengnya nonton gituan” selalu tuh komen yang aku denger.
Itu komentar basi banget. Meski tujuannya nyindir or menyakiti hatiku. But suer, gak ngaruh banget. Kesenengan orang kok dilarang-larang.
Lama-lama mereka no komen lagi dengan hobiku yang satu itu. Kapok soalnya, lha diejekin mulu gak ngefek juga. Lagian pemandangan aku lagi nonton dengan cekikikan sendiri saat ada adegan lucu atau bermuram durja dan rada-rada mo mewek gitu saat ada adegan yang mellow abis, udah jadi pemandangan baku. So mereka ogah tuh nemenin aku nonton tuh film. Nah, kalo Ableh pasti mau coz temennya Ogah. Hehe emang film Si Unyil. Takut ketularan virus gila nonton film Korea. Kezamnya itu statement.
Nah, adanya DVD tuh ngebantu banget. Meski DVD-nya bajakan, duh ketauan deh senengnya ama yang bajakan-bajakan hehe. Tapi tenang itu hanya berlaku pada DVD doang kok. Kalo kaset nasyid ama buku sih aku beli yang original. Kalo pun ada buku bajakan yang aku beli di Senen bisa diitung pake jari, itu pun karena lagi kepengen banget baca, tapi duit gak mencukupi untuk membeli yang ori. Mah-hal soalnya hehe. Mo nungguin book fair masih lama, jadi ya hasil akhirnya aku beli yang bajakan hehe.
Maaf ye, aku gak bermaksud menyuburkan dunia perbajakan kok. Soalnya kalo sawah yang dibajak pasti tanahnya gembur. Ups, jadi kemana-mana. Karena hukum pasar kan gitu, banyak permintaan otomatis makin menjamur deh. Coba gak ada yang beli, otomatis gulung tikar deh tuh pembajak. Tapi tetep yang bajakan diminati juga, murah sih. Meskipun mutunya bisa dilihat sendiri.
Gara-gara keranjingan sama film-film Korea. Aku sering browsing, nyari-nyari info film-film Korea yang bagus. Baru kemudian hunting DVD-nya. Kalo gak ada, aku bisa pesan ama tukang DVD langgananku. Semua yang aku inginkan pasti ada. Paling yang gak ada satu dua tiga empat aja.
Dan keseringan nonton tuh film dengan versi bahasa aslinya, kupingku jadi terbiasa dengan kata-kata yang berakhiran “yo”. Seperti aanyong haseyo. Dan gak sengaja lidahku juga melafalkannya. Otomatis lama-lama aku jadi mahir melafalkannya. Seneng deh, belajar bahasa Korea secara otodidak.
Karena sering melafalkan bahasa Korea itu lah, pernah aku keceplosan ngomong bahasa Korea tanpa sadar. Saat aku naik bus way, seorang bapak ngajak ngobrol aku. Karena berisik, beberapa kali gak kedengeran apa yang diucapin tuh bapak. Otomatis mulutku berseru, “Morago?” artinya apa yang kamu katakan. Lha, si bapak asli bengong.
Sewaktu nyari-nyari casing henpon di kaki lima. Lagi-lagi aku juga keceplosan ngomong pake bahasa Korea. Pas tuh casing udah aku bayar, aku bilang “Kamsahamnida” artinya terima kasih. Asli si abang penjualnya bengong juga. Hanguk minded hehe.
Selain bahasa, aku yang hobi konser di kamar mandi ini. Juga mahir menyanyikan lagu-lagu soundtrack tuh film-film yang aku denger. Dua kali denger aja aku sudah hafal tuh lagu meski hanya pake na na na…atau yang ada sarang-sarangnya. Ih, bukan sarang burung tapi sarange yang artinya cinta.
Drama-drama Korea yang udah aku tonton ceritanya bagus-bagus. Gak aneh kalo sinetron Indonesia dengan pedenya mencontek abis tu drama. Enek juga sih, pas tau sinetron yang ditonton Emakku ternyata hasil contekan.
Udah gitu drama Korea tuh gak terlalu vulgar menampilkan adegan-adegan yang taulah yang sangat-sangat digemari orang Indonesia. Apa lagi kalo bukan adegan syur.
Nah, drama Korea yang aku tonton tuh gak ada adegan vulgarnya. Paling banter kissing. Itu pun gaya Korea, bukan ala-ala Barat yang ampe segitunya. Tau kan hehe. Jadi asyik aja ngeliatnya. Ceritanya juga gak pernah basi untuk ditonton. Apalagi ditambah dengan backsound-nya musik klasik tuh drama Korea. Duh, gak kepengen berhenti mantengin DVD hihi.
Jadi buat temen-temen yang mo janjian ama aku, jangan khawatir lagi deh. Masa-masa mantengin teve di jam-jam sore udah berubah tayang. Sekarang mah bisa kapan aja kalo mo mantengin drama Korea. Jadi kalo mau pergi, “hayuk” hehe.
Senin, 14 Desember 2009
Pasar Ceplak dan Perempuan itu
Hari ini adalah jadwal pasar Ceplak beroperasi. Dan itu artinya kemacetan. Bagaimana nggak macet coba, lha jalan sempit untuk dua arah itu dipadati oleh para pedagang yang menggelar dagangannya di bibir jalan.
Padahal pasar yang baik itu menurutku adanya di dalam los-los, berkapling dan bertenda. So nggak akan mengganggu arus lalu lintas deh.
Sebenarnya sih pemerintah daerah setempat udah menyediakan los-los itu. Tapi dengan dalih takut jualan mereka nggak laku karena letak los yang di dalam. Mereka membandel menggelar dagangannya dibibir jalan. Meski mereka kerap mengeluh macet akibat ulah mereka sendiri. Juga dagangan mereka sering harus diseret-seret, digulung-gulung saat truk-truk besar lewat. Otomatis dagangan mereka berceceran dan terinjak-injak pejalan kaki juga ban kendaraan. Sayangkan tuh dagangan, acak-acakan gak keruan. Nah loh, salah siapa coba?
Jalan sempit untuk dua arah, pedagang memadati bibir jalan berbaur dengan pembeli yang berjubel mengerumuni pedagang-pedagang untuk transaksi jual-beli. Ditambah pula pengendara sepeda motor terkadang mencaplok jatah dari arah sebaliknya. Macet. Padat. Merayap. Bising karena suara klakson bersahut-sahutan, tanda yang punya kendaraan-kendaraan itu nggak sabaran. Asap knalpot membumbung menyesaki pernafasan. Polusi.
Sampah berserakan dari penjual-penjual yang seenak perutnya membuang dagangan mereka yang udah busuk dan nggak layak jual ke jalanan. Tomat busuk, cabe busuk, kentang busuk, sayuran-sayuran busuk, ikan busuk dan juga jengkol busuk. Pokoknya yang busuk-busuk dan bau berkumpul menjadi satu. So bayangkan sendiri deh, apa hasil akhirnya. Becek pula. Eh, ada ojek pula, halah.
Pasar identik dengan banyak orang. Itu artinya kita harus rela berdesak-desakan. Nah, aku juga harus bersabar. Dan kesabaranku benar-benar teruji. Harus tetap tersenyum meski ujung sandal belakangku terinjak orang, masih untung aku nggak nyungsep. Paling banter oleng dan menabrak orang yang di depanku dengan imbalan aku dimarahi orang yang kutabrak itu tanpa memahami bahwa aku juga nggak sengaja menabraknya. Dan paling sial, sandalku putus. Dan harus kujinjing dengan wajah dongkol plus malu hati.
Harus tetap tersenyum meski bajuku ternoda bau anyir air ikan dari kantong plastik yang mereka jinjing. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memuakkan terjadi di pasar, tapi sekali lagi, aku harus tetap tersenyum meski hatiku dongkol banget. Lha, gimana aku mo nyap-nyap coba. Yang nginjek aja ibu-ibu, berabe kan kalo dilawan. Tau sendiri bagaimana dasyatnya ibu-ibu kalo udah nyap-nyap kan. Gempa bumi yang ada. Hehe.
Bayangin aja, apa enaknya coba memasuki dunia seperti itu? Macet, bising, polusi, bau dan harus berdesak-desakan dengan kaum Hawa yang mendominasi. Dengan segala kecerewetannya. Dan berkolaborasi pula ama teriakan-teriakan dari para penjual supaya pembeli yang sering jual mahal mendekat hehe. Berisik. Gaduh. Benar-benar hanya ada tiga kata untuk semua itu, nggak nyaman banget.
Tapi dengan segala ketidaknyamanan itu, disitulah aku berada dan harus berbaur menjadi satu. Yup, ke pasar. Itu menjadi jatahku setiap hari pasar Ceplak, hari rabu dan minggu. Untuk belanja warung juga kebutuhan dapur.
“Kok laki-laki ke pasar sih?”
Pertanyaan basi yang ogah aku menjawabnya.
Aku terpaksa.
Kenapa terpaksa?
Ya, iyalah terpaksa. Bagaimana nggak terpaksa coba, aku kan paling nggak tahan dengan aroma-aroma nggak sedap yang seperti aku sebutkan di atas juga kesemrawutannya dan kebisingannya itu. Juga malu saat bertemu dengan teman-teman cewek saat sekolah SLTP dulu. Tau kalo aku sekolah tinggi-tinggi, taunya cuma rajin masuk pasar bukan masuk kantor hehe.
Terus kenapa masih dilakukan juga kalau memang nggak nyaman, malu dan terpaksa?
Ya, mau bagaimana lagi? Emak udah tua dan kakinya sudah nggak kuat lagi untuk berputar-putar di pasar untuk mencari, memilih juga menawar apa yang akan dibeli untuk keperluan di rumah.
Belum lagi kalau Emak ke pasar pasti ada aja embel-embel yang nggak enak. Saat ia pulang dari pasar ia akan mengomel panjang banget. Sepanjang jalan Tangerang-Purbalinggo. Tentang belanjaannya yang sering banget ketinggalan entah dimana rimbanya.
Dan seringnya aku yang mendapat jatah untuk menyisir pasar agar belanjaan yang sudah dibeli itu nggak sia-sia. Bertanya kesana kemari seperti orang dungu menanyakan apakah mereka melihat ini dan itu yang tertinggal. Dan hasilnya kafiran banget coz tuh barang udah raib entah kemana. Benar-benar gak ada jejaknya.
Jadi dari pada kejadian itu terus berulang dan membuatku stress, mendingan aku aja deh yang ke pasar dengan resiko menghadapi ketidaknyamanan itu. Dengan tabah, sabar dan lapang dada. Karena memang nggak ada pilihan lain. Duh, kesannya teraniaya sekali ya hehe.
Ya, sudahlah. Mungkin itu memang jatahku dalam kancah drama kehidupan ini. Harus memerankan tokoh laki-laki yang harus ke pasar meski dengan ketidaknyamanan.
Ditambah pula aku femi. Udah deh jadi sasaran empuk ledekan abang-abang yang jualan. Suaraku juga kan lembut banget, kain sutra aja kalah lembut. Halah. Yang ada aku sering banget dipanggil “Mbak, atau Neng”. Duh, teganya. Gak liat apa, jakun plus jenggotku yang kiwir-kiwir? Seenak udelnya aja panggil-panggil orang.
But, sutralah…casingku emang begini. Mo difermak kayak levis ups salah, kayak laki-laki sejati juga gak bisa.Emang udah jatah dari sononya kayak gini, mo gimana lagi. Ya udah deh, terima nasib aja jadi bahan tertawaan, senyum mengejek plus lirikan laki-laki jalang. Yang doyannya laki juga. Hehe.
Balik ke pasar lagi. Tapi jangan salah loh, di pasar ternyata nggak melulu adanya ketidaknyamanan. Ada juga hal-hal yang menarik juga lucu dari banyak karakter orang. Dan pada hari ini aku punya cerita yang menarik tentang kejadian yang terjadi di pasar. Dan kejadian ini bisa aku bawa pulang dan aku simpan sebagai bahan pembelajaran.
Saat aku sedang membeli kelapa yang sedang (tua nggak, muda banget juga nggak) untuk urap. Karena menu hari ini ingin membuat urap. Dan diantara kelapa-kelapa yang sudah dikupas itu nggak ada satu pun kelapa yang memenuhi kualifikasi kelapa yang layak untuk urap. Sehingga penjualnya berinisiatif untuk mengupaskan kelapa yang dianggap memenuhi standar kelayakan yang aku butuhkan itu. Halah, bahasanya baku banget hehe.
“Mang, minta tali itu dong…”
Seorang perempuan kira-kira berumur dua puluh enam tahunan dengan rambut dikucir kuda, tiba-tiba merangsek kearahku, menunjuk tali rapia berwarna biru yang teronggok didekat kelapa-kelapa yang masih belum dikupas. Ditangan sebelah kanannya ada karung belanjaan yang perlu diikat.
Penjual kelapa itu dengan wajah datar-datar aja, menghentikan pekerjaannya. Menjamah tali itu.
“Wah, ini mah talinya terlalu pendek…” mungkin itu yang ada dibenak penjual kelapa itu. Karena tiba-tiba saja ia membuang tali itu dan beranjak pergi.
Wajah perempuan disebelahku itu langsung berubah. Ia membuang mukanya. Di wajahnya ada bauran antara kecewa, marah juga sedih. Matanya berkaca-kaca. Lha, wong minta tali sepotong aja pelitnya minta ampun. Mungkin itu yang ada dipikirannya.
Nggak lama kemudian penjual kelapa tadi balik lagi sambil membawa seutas tali rapia berwarna abu-abu yang lumayan panjang. Yang ia rasa cukup pas untuk mengikat karung itu. Rupanya ia meminta seutas tali pada tukang pisang disebelahnya.
“Ini, Teh talinya…” penjual kelapa itu menyodorkan tali rapia yang dipegangnya pada perempuan yang ternyata masih ada disebelahku, hanya bergeser menjauh beberapa langkah saja. Kirain aku udah pergi.
“Nggak usah. Saya nggak butuh lagi…” timpalnya dengan ketus dan wajah muram.
Penjual kelapa itu mengedikkan bahunya. Nggak ngerti dengan sikap perempuan itu. Dikasih yang bagus kok, nggak mau.
Aku yang menyaksikan penjual kelapa yang akan berbuat baik itu ngerasa sebal dan gemas banget ama perempuan itu. Ia terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Langsung men-judge penjual itu pelit, lalu ia marah dan berpaling. Sehingga ia nggak ngeliat kebaikan yang akan dilakukan penjual kelapa itu.
Dan saat aku akan beranjak dari tempat itu karena kelapa yang kubutuhkan sudah kudapat. Aku melihat perempuan tadi akan naik angkot dengan karung ditangannya. Dan tiba-tiba aja karung itu merosot dan dagangannya pun berhamburan. Sumpah serapah berhamburan dari bibir tipisnya.
Aku miris melihatnya. Kuurut perlahan dadaku seraya berujar dalam hati. “Coba nggak pundungan (cepat tersinggung), belanjaannya pasti nggak akan berantakan seperti itu…”
Aku tercekat. Apa hakku men-judge perempuan itu? Bukankah dulu aku juga seperti itu? Pundungan.
Sekarang juga masih, walau kadarnya agak sedikit berkurang seiring dengan kedewasaanku yang semakin bertambah. Sehingga bersikap arif dan bijaksana sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Dan kasus belanjaan berantakan perempuan itu nggak akan terjadi, kalau kita nggak mudah tersinggung. Karena kadang apa yang kita anggap nggak baik, ternyata bisa jadi ia jauh lebih baik dari apa yang kita perkirakan.
Jadi saat aku pulang dengan naik becak. Angin pagi dihari yang mendung itu membelaiku. Mengantarkan pesan padaku agar aku selalu bersikap bijak dalam menghadapi setiap kejadian yang menghampiriku. Juga harus segera kubuang rasa maluku juga rasa terpaksa yang menggayutiku saat aku akan melangkah ke pasar. Itu kan ibadah juga, meringkankan pekerjaan Emakku.
So, ke pasar? Siapa takut…!!!
Rabu, 07 Januari 2009
Padahal pasar yang baik itu menurutku adanya di dalam los-los, berkapling dan bertenda. So nggak akan mengganggu arus lalu lintas deh.
Sebenarnya sih pemerintah daerah setempat udah menyediakan los-los itu. Tapi dengan dalih takut jualan mereka nggak laku karena letak los yang di dalam. Mereka membandel menggelar dagangannya dibibir jalan. Meski mereka kerap mengeluh macet akibat ulah mereka sendiri. Juga dagangan mereka sering harus diseret-seret, digulung-gulung saat truk-truk besar lewat. Otomatis dagangan mereka berceceran dan terinjak-injak pejalan kaki juga ban kendaraan. Sayangkan tuh dagangan, acak-acakan gak keruan. Nah loh, salah siapa coba?
Jalan sempit untuk dua arah, pedagang memadati bibir jalan berbaur dengan pembeli yang berjubel mengerumuni pedagang-pedagang untuk transaksi jual-beli. Ditambah pula pengendara sepeda motor terkadang mencaplok jatah dari arah sebaliknya. Macet. Padat. Merayap. Bising karena suara klakson bersahut-sahutan, tanda yang punya kendaraan-kendaraan itu nggak sabaran. Asap knalpot membumbung menyesaki pernafasan. Polusi.
Sampah berserakan dari penjual-penjual yang seenak perutnya membuang dagangan mereka yang udah busuk dan nggak layak jual ke jalanan. Tomat busuk, cabe busuk, kentang busuk, sayuran-sayuran busuk, ikan busuk dan juga jengkol busuk. Pokoknya yang busuk-busuk dan bau berkumpul menjadi satu. So bayangkan sendiri deh, apa hasil akhirnya. Becek pula. Eh, ada ojek pula, halah.
Pasar identik dengan banyak orang. Itu artinya kita harus rela berdesak-desakan. Nah, aku juga harus bersabar. Dan kesabaranku benar-benar teruji. Harus tetap tersenyum meski ujung sandal belakangku terinjak orang, masih untung aku nggak nyungsep. Paling banter oleng dan menabrak orang yang di depanku dengan imbalan aku dimarahi orang yang kutabrak itu tanpa memahami bahwa aku juga nggak sengaja menabraknya. Dan paling sial, sandalku putus. Dan harus kujinjing dengan wajah dongkol plus malu hati.
Harus tetap tersenyum meski bajuku ternoda bau anyir air ikan dari kantong plastik yang mereka jinjing. Dan masih banyak lagi hal-hal yang memuakkan terjadi di pasar, tapi sekali lagi, aku harus tetap tersenyum meski hatiku dongkol banget. Lha, gimana aku mo nyap-nyap coba. Yang nginjek aja ibu-ibu, berabe kan kalo dilawan. Tau sendiri bagaimana dasyatnya ibu-ibu kalo udah nyap-nyap kan. Gempa bumi yang ada. Hehe.
Bayangin aja, apa enaknya coba memasuki dunia seperti itu? Macet, bising, polusi, bau dan harus berdesak-desakan dengan kaum Hawa yang mendominasi. Dengan segala kecerewetannya. Dan berkolaborasi pula ama teriakan-teriakan dari para penjual supaya pembeli yang sering jual mahal mendekat hehe. Berisik. Gaduh. Benar-benar hanya ada tiga kata untuk semua itu, nggak nyaman banget.
Tapi dengan segala ketidaknyamanan itu, disitulah aku berada dan harus berbaur menjadi satu. Yup, ke pasar. Itu menjadi jatahku setiap hari pasar Ceplak, hari rabu dan minggu. Untuk belanja warung juga kebutuhan dapur.
“Kok laki-laki ke pasar sih?”
Pertanyaan basi yang ogah aku menjawabnya.
Aku terpaksa.
Kenapa terpaksa?
Ya, iyalah terpaksa. Bagaimana nggak terpaksa coba, aku kan paling nggak tahan dengan aroma-aroma nggak sedap yang seperti aku sebutkan di atas juga kesemrawutannya dan kebisingannya itu. Juga malu saat bertemu dengan teman-teman cewek saat sekolah SLTP dulu. Tau kalo aku sekolah tinggi-tinggi, taunya cuma rajin masuk pasar bukan masuk kantor hehe.
Terus kenapa masih dilakukan juga kalau memang nggak nyaman, malu dan terpaksa?
Ya, mau bagaimana lagi? Emak udah tua dan kakinya sudah nggak kuat lagi untuk berputar-putar di pasar untuk mencari, memilih juga menawar apa yang akan dibeli untuk keperluan di rumah.
Belum lagi kalau Emak ke pasar pasti ada aja embel-embel yang nggak enak. Saat ia pulang dari pasar ia akan mengomel panjang banget. Sepanjang jalan Tangerang-Purbalinggo. Tentang belanjaannya yang sering banget ketinggalan entah dimana rimbanya.
Dan seringnya aku yang mendapat jatah untuk menyisir pasar agar belanjaan yang sudah dibeli itu nggak sia-sia. Bertanya kesana kemari seperti orang dungu menanyakan apakah mereka melihat ini dan itu yang tertinggal. Dan hasilnya kafiran banget coz tuh barang udah raib entah kemana. Benar-benar gak ada jejaknya.
Jadi dari pada kejadian itu terus berulang dan membuatku stress, mendingan aku aja deh yang ke pasar dengan resiko menghadapi ketidaknyamanan itu. Dengan tabah, sabar dan lapang dada. Karena memang nggak ada pilihan lain. Duh, kesannya teraniaya sekali ya hehe.
Ya, sudahlah. Mungkin itu memang jatahku dalam kancah drama kehidupan ini. Harus memerankan tokoh laki-laki yang harus ke pasar meski dengan ketidaknyamanan.
Ditambah pula aku femi. Udah deh jadi sasaran empuk ledekan abang-abang yang jualan. Suaraku juga kan lembut banget, kain sutra aja kalah lembut. Halah. Yang ada aku sering banget dipanggil “Mbak, atau Neng”. Duh, teganya. Gak liat apa, jakun plus jenggotku yang kiwir-kiwir? Seenak udelnya aja panggil-panggil orang.
But, sutralah…casingku emang begini. Mo difermak kayak levis ups salah, kayak laki-laki sejati juga gak bisa.Emang udah jatah dari sononya kayak gini, mo gimana lagi. Ya udah deh, terima nasib aja jadi bahan tertawaan, senyum mengejek plus lirikan laki-laki jalang. Yang doyannya laki juga. Hehe.
Balik ke pasar lagi. Tapi jangan salah loh, di pasar ternyata nggak melulu adanya ketidaknyamanan. Ada juga hal-hal yang menarik juga lucu dari banyak karakter orang. Dan pada hari ini aku punya cerita yang menarik tentang kejadian yang terjadi di pasar. Dan kejadian ini bisa aku bawa pulang dan aku simpan sebagai bahan pembelajaran.
Saat aku sedang membeli kelapa yang sedang (tua nggak, muda banget juga nggak) untuk urap. Karena menu hari ini ingin membuat urap. Dan diantara kelapa-kelapa yang sudah dikupas itu nggak ada satu pun kelapa yang memenuhi kualifikasi kelapa yang layak untuk urap. Sehingga penjualnya berinisiatif untuk mengupaskan kelapa yang dianggap memenuhi standar kelayakan yang aku butuhkan itu. Halah, bahasanya baku banget hehe.
“Mang, minta tali itu dong…”
Seorang perempuan kira-kira berumur dua puluh enam tahunan dengan rambut dikucir kuda, tiba-tiba merangsek kearahku, menunjuk tali rapia berwarna biru yang teronggok didekat kelapa-kelapa yang masih belum dikupas. Ditangan sebelah kanannya ada karung belanjaan yang perlu diikat.
Penjual kelapa itu dengan wajah datar-datar aja, menghentikan pekerjaannya. Menjamah tali itu.
“Wah, ini mah talinya terlalu pendek…” mungkin itu yang ada dibenak penjual kelapa itu. Karena tiba-tiba saja ia membuang tali itu dan beranjak pergi.
Wajah perempuan disebelahku itu langsung berubah. Ia membuang mukanya. Di wajahnya ada bauran antara kecewa, marah juga sedih. Matanya berkaca-kaca. Lha, wong minta tali sepotong aja pelitnya minta ampun. Mungkin itu yang ada dipikirannya.
Nggak lama kemudian penjual kelapa tadi balik lagi sambil membawa seutas tali rapia berwarna abu-abu yang lumayan panjang. Yang ia rasa cukup pas untuk mengikat karung itu. Rupanya ia meminta seutas tali pada tukang pisang disebelahnya.
“Ini, Teh talinya…” penjual kelapa itu menyodorkan tali rapia yang dipegangnya pada perempuan yang ternyata masih ada disebelahku, hanya bergeser menjauh beberapa langkah saja. Kirain aku udah pergi.
“Nggak usah. Saya nggak butuh lagi…” timpalnya dengan ketus dan wajah muram.
Penjual kelapa itu mengedikkan bahunya. Nggak ngerti dengan sikap perempuan itu. Dikasih yang bagus kok, nggak mau.
Aku yang menyaksikan penjual kelapa yang akan berbuat baik itu ngerasa sebal dan gemas banget ama perempuan itu. Ia terlalu terburu-buru mengambil kesimpulan. Langsung men-judge penjual itu pelit, lalu ia marah dan berpaling. Sehingga ia nggak ngeliat kebaikan yang akan dilakukan penjual kelapa itu.
Dan saat aku akan beranjak dari tempat itu karena kelapa yang kubutuhkan sudah kudapat. Aku melihat perempuan tadi akan naik angkot dengan karung ditangannya. Dan tiba-tiba aja karung itu merosot dan dagangannya pun berhamburan. Sumpah serapah berhamburan dari bibir tipisnya.
Aku miris melihatnya. Kuurut perlahan dadaku seraya berujar dalam hati. “Coba nggak pundungan (cepat tersinggung), belanjaannya pasti nggak akan berantakan seperti itu…”
Aku tercekat. Apa hakku men-judge perempuan itu? Bukankah dulu aku juga seperti itu? Pundungan.
Sekarang juga masih, walau kadarnya agak sedikit berkurang seiring dengan kedewasaanku yang semakin bertambah. Sehingga bersikap arif dan bijaksana sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Dan kasus belanjaan berantakan perempuan itu nggak akan terjadi, kalau kita nggak mudah tersinggung. Karena kadang apa yang kita anggap nggak baik, ternyata bisa jadi ia jauh lebih baik dari apa yang kita perkirakan.
Jadi saat aku pulang dengan naik becak. Angin pagi dihari yang mendung itu membelaiku. Mengantarkan pesan padaku agar aku selalu bersikap bijak dalam menghadapi setiap kejadian yang menghampiriku. Juga harus segera kubuang rasa maluku juga rasa terpaksa yang menggayutiku saat aku akan melangkah ke pasar. Itu kan ibadah juga, meringkankan pekerjaan Emakku.
So, ke pasar? Siapa takut…!!!
Rabu, 07 Januari 2009
Kamis, 10 Desember 2009
Kehilanganmu Yang Dahulu
Kau datang padaku setelah hitungan bulan kita tak bertemu. Aku pikir kamu akan memelukku erat. Untuk menuntaskan kerinduan. Namun, tak kusangka kau bersikap ala kadarnya. Menjaga jarak, seolah aku orang yang baru kamu kenal. Ada apa denganmu?
Wajahmu tak bercahaya lagi. Sebagai gantinya terpajang wajah kusut, kusam dan seperti menyimpan was-was akan suatu hal. Tak ada lagi wajah imutmu yang berseri. Aku merasa kehilanganmu yang dahulu. Kamu yang aku kenal.
Apakah kau terpaksa datang ke rumahku, mengingat akulah yang memaksamu datang? Atau karena kondisi tubuhmu yang sedang tidak fit hingga kau bersikap seperti itu. Memang sih aku sudah biasa dengan sikap anehmu itu, karena kalau tidak bersikap aneh, itu artinya bukan kamu. Itu stempel yang telah terpasang diwajahmu. Unsociable.
Entahlah. Sometime, I didn’t understand you.I cannot fathom your mind.
“Aku benci sekali sama dia, Dey. Kebencianku sepenuh bumi. Ia begitu nista dan menjijikkan. Dia bajingan tengik. Aku muak padanya, Dey. Ingin aku hancurkan dan kurobek-robek wajah yang sok baik itu. Ingin kuhancurkan dia hingga menyerpih” semburmu dengan nafas memburu.
Aku terperangah. Tak percaya dengan pendengaranku. Kutatap wajahmu yang mengeras. Dipenuhi guratan kebencian yang tak kau tutupi, untuk dia yang kau benci. Tanganmu tanpa sadar terkepal kuat. Andai ia ada dihadapanmu, mungkin kepalan itu mampu merontokkan semua gigi-gigi utuhnya.
“Boleh tau kenapa?” tanyaku halus.
Berusaha menyelami kedalaman jiwamu. Kamu yang sangat irit bicara itu tiba-tiba saja obral bicara. Bahkan diskon gede-gedean. Memuntahkan uneg-uneg yang bercokol dibatok kepalamu. Kata-katamu meluncur deras. Seolah air dalam tempayan yang dicabut sumbatannya.
Aku agak bergidik menyaksikan sisi lain dari dirimu yang berbeda dari yang kukenal. Kamu yang lembut meski terbungkus oleh tampilan wajahmu yang datar, kaku dan dingin. Ucapan-ucapan wise-mu yang membuatmu terlihat dewasa. Meski usiamu jauh dibawahku. Aku kadang salut pada kedewasaanmu itu. Tapi kini kau berubah menjadi sosok yang menyeramkan meski tanpa taring, dua tanduk juga asap yang menyelubungimu.
Semburan emosimu itu berangkat dari persoalan yang membelit keluargamu. Masalah yang telah mencapai titik puncak kesabaranmu hingga menyedotmu habis dirimu. Lungkrah. Kau marah. Kau kolaps. Kau benar-benar tak terkendali.
Nasehatku sama sekali tak berguna bagimu. Kedatanganmu kali ini bukan untuk meminta saran atau nasehat tapi untuk menumpahkan semua yang bertahta dalam gelora dadamu yang membara. Membuncah. Bak lelehan lava gunung berapi.
Dan kali ini aku hanya cukup menjadi pendengarmu saja.
Baru kusadari kini, mengapa sinar wajahmu meredup. Hatimu dipenuhi oleh dendam dan kebencian. Hatiku sakit melihatnya. Perih menoreh geronggang jiwaku. Saat kulihat galur kesedihan yang panjang membentang dalam kejoramu. Ingin sekali kurengkuh kau dalam pelukku agar galau dalam dirimu juga beban dihatimu bisa sedikit berpindah padaku. Tapi sepertinya kau enggan kusentuh.
Kebisuan melanda kita. Hanya alunan nasyid dari winampku terdengar lirih.
“Gimana hubunganmu dengan…” kau sebut nama gadis yang akhir-akhir ini dekat denganku. Merubah topik pembicaraan. Menatapku dengan hampa.
Banyak teman-teman kita yang tak nyaman dengan tatapanmu itu. Tatapanmu itu begitu dingin dan tak bersahabat. “Heran, kamu bisa tahan dengannya, Dey” selalu itu yang teman-teman kita kumandangkan saat melihat kebersamaan diantara kita.
Wajar aku rasa mereka berkata seperti itu. Karena casingmu memang seperti itu. Dingin. Cuek. Mereka tak mampu menyelami dan memahami sifat juga karaktermu yang seperti itu. Mereka sulit memahamimu. Menerjemahkan gerak tubuhmu. Aku saja masih belajar terus untuk memahamimu. Agar persahabatan ini tidak kandas. Meski aku harus banyak mengorbankan perasaanku.
“Masih. Kemarin kami habis jalan-jalan ke toko buku.”
“Oh, sekarang kamu sudah berani copy darat sama dia ya, Dey. Interaksinya udah nggak sekedar melalui telpon dan sms dong” suaramu mengandung ketidaksukaan mendengar kebersamaan diantara kami. Dan itu tak kau tutupi.
Aku mengangguk. “Aku tau dalam pandangan Islam itu disebutnya berkhalwat-berdua-duan dengan non-mahrom. Dan itu nggak diperbolehkan. Tapi toh aku jalan bareng juga. Mengapa? Karena aku jalan berdua denganya bukan ke tempat sepi (always in crowded place), tidak mojok berduaan atau bergandengan tangan. Sama sekali tidak. We just go for a walk together. That all. Kami jalan dan mengobrol pun memakai jarak, not too closed” aku berargumen.
“Itu pembenaran diri atau apa?” ucapmu pelan tapi penuh penekanan, menyindirku.
Aku tersenyum. “Bisa jadi” jawabku singkat malas berdebat. “Semua perbuatan kembali pada niatnya bukan? Niatku dan dia spending time together hanya untuk menjajagi karakter dan kepribadian kami masing-masing”
“Pacaran dong, Dey”
Aku nyengir. “Aku nggak tau hubungan yang kami jalani itu judulnya apa. Disebut pacaran juga nggak tepat, aku rasa. Coz kami nggak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan dua sejoli yang sedang memadu kasih. We just friend. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan dan kedekatan kami”
“Mula-mula memang berteman, Dey. Tapi dengan intensitas pertemuan kalian, apa nggak mungkin lama kelamaan kalian akan falling in love. Turning a friend into a lover…”
Aku tertawa.
“Imposible banget dua orang berlainan jenis bersama-sama dengan intens, tapi nggak ada sesuatu di dalam hatinya” lanjutmu getas.
“Aku nggak memungkiri perasaan itu. Di dalam hati kami masing-masing telah tumbuh persaaan-perasaan yang nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata, because complicated. Cukup kami berdua saja yang merasakannya” aku sok berfilsafat.
“Bukannya kamu dulu kamu sering sesumbar, kalau kamu benci sekali saat melihat dua orang berlainan jenis jalan berdua, terutama yang berartribut muslim?”
“Sekarang pun masih…” jawabku santai.
Kamu melongo. “Tapi kamu sekarang melakukannya. Lantas apa bedanya kamu dengan mereka?” cecarmu getas.
“Of course different, Bro. Mereka yang kubenci itu, yang jalan barengnya pakai gandengan tangan, rangkulan, pelukan, ciuman naudzubillah. Aku benci sekali itu. Tapi selama jalannya mereka just go for a walk together, without do negarif something, bagiku pribadi nggak ada masalah. Meski dalam pandangan Islam itu tetep salah. Dan nggak boleh. Karena essensinya tetep aja jalan berduan dengan non-mahrom”
“Berarti kamu menentang ajaran Islam dong”
“Sembarangan. Nggak segitunya kali. Aku nggak berani. Selama jalannya aku dengan non-mahrom bukan dalam rangka maksiat, ya udah aku jalan deh sama dia. Tapi kamu jangan ikut-ikutan ya, that not good idea”
Kamu mendesis. “Siapa juga yang mo ngikutin kamu” kau memalingkan wajahmu. “Kata kamu setan itu dekat sekali dengan kita, ia berada dipembuluh nadi darah kita”
“Memang. That true. Banyak hal-hal negarif yang dilakukan dua sejoli saat mereka bersama. Karena memang pada dasarnya tujuan mereka hang out bareng itu ya emang untuk berasyik masyuk. Berarti mereka memang dengan sendirinya mengundang setan. Orang nggak diundang aja dia datang sendiri, saat dua orang berlainan jenis berduaan. Tapi aku mah beda. Jalan ya jalan. Ngobrol ya ngobrol. Tanpa embel-embel lainnya. No touch. No hug. No kiss. No face to face.”
“Tapi sesekali mah pengen kali kamu ngapain gitu”
“Kalau ngapain gitu yang kamu maksud adalah touch hand her, of course pengen lah. Normal kali. But you believe or not, aku nggak melakukannya. Aku menahan diri untuk melakukan hal itu. Dia belum halal untukku. So I’m not brave”
“Udah tau belom halal, ngapain juga kamu jalan bareng dia” ujarmu sengit.
Aku tertawa melihat wajah sewotmu itu. Lucu banget. “Capeek deeh. Kok ya jadi balik kesono lagi-kesono lagi sih. Iya aku tau , aku salah. Dan kamu bermaksud baik nasehatin aku. Tapi ya itu tadi, selama jalannya nggak ngapa-ngapain, aku akan tetep jalan sama doi…” aku keukeuh.
Kamu mendengus. “Dasar headstone. Bukan ngasih contoh yang baik buatku, ini malah error”
“I don’t give a darn” jawabku cuek.
Itu percakapan yang berlangsung beberapa bulan yang lalu. Dan baru beberapa hari yang lalu aku melihatmu berjalan berdua dengan seseorang. I saw it with my own two eyes.
Aku shock banget. Perih merambati jiwaku. Seperti ada yang meremas-remas perutku.
Kamu yang selama ini saklek dalam memahami berbagai hal. Tiba-tiba saja melakukan apa-apa yang kamu anggap tabu. Tak boleh. Haram. Seperti lontaran-lontaran pedasmu yang selalu kau alamatkan kepadaku.
Waktu itu aku benar-benar tak mempercayai penglihatanku. Tapi benar itu kamu. Setelah benar bahwa mata ini tak berdusta.
Ingin aku tanyakan kebenaran itu padamu langsung. Tapi aku tak berani. Aku tak ingin menyakiti perasaanmu. Dengan mengorek-orek kehidupan pribadimu. Aku ingin kamu sendiri yang menceritakan semua yang kulihat itu dengan mulutmu. Penglihatanku itu benar dan diperkuat oleh cerita seseorang yang ucapannya aku percayai keabsahannya.
Pertanyaan yang ingin kuajukan itu bukan untuk menghakimimu, karena aku pun tak jauh lebih baik darimu. Aku hanya ingin tau mengapa selama ini kau tak jujur padaku. Bukankah aku selalu berbagi cerita denganmu. Meski ada satu dua hal yang aku tutupi darimu. Tapi intinya aku selalu cerita padamu.
Dan kini kau bersikap tak jujur padaku. Untuk urusan yang selama ini kau anggap tabu. Aku tertipu. Hatiku pilu. Kelu. Dan tak menentu.
Sekarang apa bedanya kau denganku? Kemana prinsip yang selalu kau pegang erat itu?
Nevertheless, aku masih berharap kamu bukan orang yang menganut prinsip ‘other time other ways’
Meski kini, aku kehilanganmu, sahabat…! Kehilanganmu yang dahulu.
Senin, 05 Oktober 2009
Wajahmu tak bercahaya lagi. Sebagai gantinya terpajang wajah kusut, kusam dan seperti menyimpan was-was akan suatu hal. Tak ada lagi wajah imutmu yang berseri. Aku merasa kehilanganmu yang dahulu. Kamu yang aku kenal.
Apakah kau terpaksa datang ke rumahku, mengingat akulah yang memaksamu datang? Atau karena kondisi tubuhmu yang sedang tidak fit hingga kau bersikap seperti itu. Memang sih aku sudah biasa dengan sikap anehmu itu, karena kalau tidak bersikap aneh, itu artinya bukan kamu. Itu stempel yang telah terpasang diwajahmu. Unsociable.
Entahlah. Sometime, I didn’t understand you.I cannot fathom your mind.
“Aku benci sekali sama dia, Dey. Kebencianku sepenuh bumi. Ia begitu nista dan menjijikkan. Dia bajingan tengik. Aku muak padanya, Dey. Ingin aku hancurkan dan kurobek-robek wajah yang sok baik itu. Ingin kuhancurkan dia hingga menyerpih” semburmu dengan nafas memburu.
Aku terperangah. Tak percaya dengan pendengaranku. Kutatap wajahmu yang mengeras. Dipenuhi guratan kebencian yang tak kau tutupi, untuk dia yang kau benci. Tanganmu tanpa sadar terkepal kuat. Andai ia ada dihadapanmu, mungkin kepalan itu mampu merontokkan semua gigi-gigi utuhnya.
“Boleh tau kenapa?” tanyaku halus.
Berusaha menyelami kedalaman jiwamu. Kamu yang sangat irit bicara itu tiba-tiba saja obral bicara. Bahkan diskon gede-gedean. Memuntahkan uneg-uneg yang bercokol dibatok kepalamu. Kata-katamu meluncur deras. Seolah air dalam tempayan yang dicabut sumbatannya.
Aku agak bergidik menyaksikan sisi lain dari dirimu yang berbeda dari yang kukenal. Kamu yang lembut meski terbungkus oleh tampilan wajahmu yang datar, kaku dan dingin. Ucapan-ucapan wise-mu yang membuatmu terlihat dewasa. Meski usiamu jauh dibawahku. Aku kadang salut pada kedewasaanmu itu. Tapi kini kau berubah menjadi sosok yang menyeramkan meski tanpa taring, dua tanduk juga asap yang menyelubungimu.
Semburan emosimu itu berangkat dari persoalan yang membelit keluargamu. Masalah yang telah mencapai titik puncak kesabaranmu hingga menyedotmu habis dirimu. Lungkrah. Kau marah. Kau kolaps. Kau benar-benar tak terkendali.
Nasehatku sama sekali tak berguna bagimu. Kedatanganmu kali ini bukan untuk meminta saran atau nasehat tapi untuk menumpahkan semua yang bertahta dalam gelora dadamu yang membara. Membuncah. Bak lelehan lava gunung berapi.
Dan kali ini aku hanya cukup menjadi pendengarmu saja.
Baru kusadari kini, mengapa sinar wajahmu meredup. Hatimu dipenuhi oleh dendam dan kebencian. Hatiku sakit melihatnya. Perih menoreh geronggang jiwaku. Saat kulihat galur kesedihan yang panjang membentang dalam kejoramu. Ingin sekali kurengkuh kau dalam pelukku agar galau dalam dirimu juga beban dihatimu bisa sedikit berpindah padaku. Tapi sepertinya kau enggan kusentuh.
Kebisuan melanda kita. Hanya alunan nasyid dari winampku terdengar lirih.
“Gimana hubunganmu dengan…” kau sebut nama gadis yang akhir-akhir ini dekat denganku. Merubah topik pembicaraan. Menatapku dengan hampa.
Banyak teman-teman kita yang tak nyaman dengan tatapanmu itu. Tatapanmu itu begitu dingin dan tak bersahabat. “Heran, kamu bisa tahan dengannya, Dey” selalu itu yang teman-teman kita kumandangkan saat melihat kebersamaan diantara kita.
Wajar aku rasa mereka berkata seperti itu. Karena casingmu memang seperti itu. Dingin. Cuek. Mereka tak mampu menyelami dan memahami sifat juga karaktermu yang seperti itu. Mereka sulit memahamimu. Menerjemahkan gerak tubuhmu. Aku saja masih belajar terus untuk memahamimu. Agar persahabatan ini tidak kandas. Meski aku harus banyak mengorbankan perasaanku.
“Masih. Kemarin kami habis jalan-jalan ke toko buku.”
“Oh, sekarang kamu sudah berani copy darat sama dia ya, Dey. Interaksinya udah nggak sekedar melalui telpon dan sms dong” suaramu mengandung ketidaksukaan mendengar kebersamaan diantara kami. Dan itu tak kau tutupi.
Aku mengangguk. “Aku tau dalam pandangan Islam itu disebutnya berkhalwat-berdua-duan dengan non-mahrom. Dan itu nggak diperbolehkan. Tapi toh aku jalan bareng juga. Mengapa? Karena aku jalan berdua denganya bukan ke tempat sepi (always in crowded place), tidak mojok berduaan atau bergandengan tangan. Sama sekali tidak. We just go for a walk together. That all. Kami jalan dan mengobrol pun memakai jarak, not too closed” aku berargumen.
“Itu pembenaran diri atau apa?” ucapmu pelan tapi penuh penekanan, menyindirku.
Aku tersenyum. “Bisa jadi” jawabku singkat malas berdebat. “Semua perbuatan kembali pada niatnya bukan? Niatku dan dia spending time together hanya untuk menjajagi karakter dan kepribadian kami masing-masing”
“Pacaran dong, Dey”
Aku nyengir. “Aku nggak tau hubungan yang kami jalani itu judulnya apa. Disebut pacaran juga nggak tepat, aku rasa. Coz kami nggak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan dua sejoli yang sedang memadu kasih. We just friend. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan dan kedekatan kami”
“Mula-mula memang berteman, Dey. Tapi dengan intensitas pertemuan kalian, apa nggak mungkin lama kelamaan kalian akan falling in love. Turning a friend into a lover…”
Aku tertawa.
“Imposible banget dua orang berlainan jenis bersama-sama dengan intens, tapi nggak ada sesuatu di dalam hatinya” lanjutmu getas.
“Aku nggak memungkiri perasaan itu. Di dalam hati kami masing-masing telah tumbuh persaaan-perasaan yang nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata, because complicated. Cukup kami berdua saja yang merasakannya” aku sok berfilsafat.
“Bukannya kamu dulu kamu sering sesumbar, kalau kamu benci sekali saat melihat dua orang berlainan jenis jalan berdua, terutama yang berartribut muslim?”
“Sekarang pun masih…” jawabku santai.
Kamu melongo. “Tapi kamu sekarang melakukannya. Lantas apa bedanya kamu dengan mereka?” cecarmu getas.
“Of course different, Bro. Mereka yang kubenci itu, yang jalan barengnya pakai gandengan tangan, rangkulan, pelukan, ciuman naudzubillah. Aku benci sekali itu. Tapi selama jalannya mereka just go for a walk together, without do negarif something, bagiku pribadi nggak ada masalah. Meski dalam pandangan Islam itu tetep salah. Dan nggak boleh. Karena essensinya tetep aja jalan berduan dengan non-mahrom”
“Berarti kamu menentang ajaran Islam dong”
“Sembarangan. Nggak segitunya kali. Aku nggak berani. Selama jalannya aku dengan non-mahrom bukan dalam rangka maksiat, ya udah aku jalan deh sama dia. Tapi kamu jangan ikut-ikutan ya, that not good idea”
Kamu mendesis. “Siapa juga yang mo ngikutin kamu” kau memalingkan wajahmu. “Kata kamu setan itu dekat sekali dengan kita, ia berada dipembuluh nadi darah kita”
“Memang. That true. Banyak hal-hal negarif yang dilakukan dua sejoli saat mereka bersama. Karena memang pada dasarnya tujuan mereka hang out bareng itu ya emang untuk berasyik masyuk. Berarti mereka memang dengan sendirinya mengundang setan. Orang nggak diundang aja dia datang sendiri, saat dua orang berlainan jenis berduaan. Tapi aku mah beda. Jalan ya jalan. Ngobrol ya ngobrol. Tanpa embel-embel lainnya. No touch. No hug. No kiss. No face to face.”
“Tapi sesekali mah pengen kali kamu ngapain gitu”
“Kalau ngapain gitu yang kamu maksud adalah touch hand her, of course pengen lah. Normal kali. But you believe or not, aku nggak melakukannya. Aku menahan diri untuk melakukan hal itu. Dia belum halal untukku. So I’m not brave”
“Udah tau belom halal, ngapain juga kamu jalan bareng dia” ujarmu sengit.
Aku tertawa melihat wajah sewotmu itu. Lucu banget. “Capeek deeh. Kok ya jadi balik kesono lagi-kesono lagi sih. Iya aku tau , aku salah. Dan kamu bermaksud baik nasehatin aku. Tapi ya itu tadi, selama jalannya nggak ngapa-ngapain, aku akan tetep jalan sama doi…” aku keukeuh.
Kamu mendengus. “Dasar headstone. Bukan ngasih contoh yang baik buatku, ini malah error”
“I don’t give a darn” jawabku cuek.
Itu percakapan yang berlangsung beberapa bulan yang lalu. Dan baru beberapa hari yang lalu aku melihatmu berjalan berdua dengan seseorang. I saw it with my own two eyes.
Aku shock banget. Perih merambati jiwaku. Seperti ada yang meremas-remas perutku.
Kamu yang selama ini saklek dalam memahami berbagai hal. Tiba-tiba saja melakukan apa-apa yang kamu anggap tabu. Tak boleh. Haram. Seperti lontaran-lontaran pedasmu yang selalu kau alamatkan kepadaku.
Waktu itu aku benar-benar tak mempercayai penglihatanku. Tapi benar itu kamu. Setelah benar bahwa mata ini tak berdusta.
Ingin aku tanyakan kebenaran itu padamu langsung. Tapi aku tak berani. Aku tak ingin menyakiti perasaanmu. Dengan mengorek-orek kehidupan pribadimu. Aku ingin kamu sendiri yang menceritakan semua yang kulihat itu dengan mulutmu. Penglihatanku itu benar dan diperkuat oleh cerita seseorang yang ucapannya aku percayai keabsahannya.
Pertanyaan yang ingin kuajukan itu bukan untuk menghakimimu, karena aku pun tak jauh lebih baik darimu. Aku hanya ingin tau mengapa selama ini kau tak jujur padaku. Bukankah aku selalu berbagi cerita denganmu. Meski ada satu dua hal yang aku tutupi darimu. Tapi intinya aku selalu cerita padamu.
Dan kini kau bersikap tak jujur padaku. Untuk urusan yang selama ini kau anggap tabu. Aku tertipu. Hatiku pilu. Kelu. Dan tak menentu.
Sekarang apa bedanya kau denganku? Kemana prinsip yang selalu kau pegang erat itu?
Nevertheless, aku masih berharap kamu bukan orang yang menganut prinsip ‘other time other ways’
Meski kini, aku kehilanganmu, sahabat…! Kehilanganmu yang dahulu.
Senin, 05 Oktober 2009
Kau Yang Berani Mengambil keputusan
Apa kabar, sobat. Sudah lama ya, kita tak bersua. Bermula dari dimutasikannya dirimu oleh bosmu ke daerah lain. Dari situlah kita sudah jarang bertemu dan bersama-sama lagi untuk menghabiskan waktu yang terasa pendek, terutama kalau kita sudah mengobrol kesana-kemari. Membicarakan berbagai hal.
Mengapa tiba-tiba saja aku mengingatmu, setelah selama ini aku melupakanmu. Maafkan kata-kata di atas itu ya. Bukan maksudku benar-benar melupakanmu. Tapi kesibukanku sebagai penulis amatiran, membuatku harus selalu berkutat dengan komputer, kata-kata, ide cerita, media masa juga hunting keberbagai tempat untuk mendapatkan sekeping ide.
Karena kegemaranku pada menulis juga membaca membuatmu sering kali melontarkan kata-kata nyinyir penuh canda kepadaku.
Hobi membacaku misalnya, kau bilang aku si kutu kupret yang sering nyelip di buku. Dan kau katai aku si perpustakaan berjalan saat aku mengatakan berbagai hal dihadapanmu. Nyerocos tiada henti. Petasan kebakar katamu.
Kau juga mengatai aku pujangga kesasar karena ucapan-ucapanku yang seolah berpuisi. Dan untuk kegiatanku menulis kau katai aku, si usil pengorek-ngorek kehidupan orang lain. Karena setelah kau baca karya-karyaku terutama cerpen-cerpenku, kau baru ngeh ternyata aku selalu menjadikan cerita setiap curhatan orang lain kepadaku. Hanya saja dengan pintarnya aku membumbui cerita itu sehingga agak beda dengan versi yang diceritakan orang yang bersangkutan.
Dan kau salut juga kagum padaku, bukan. Betapa pandainya aku meracik semua itu.
Ah, mulai deh narsis. Kau katakan itu dengan sebal dan mimik wajah lucumu kalau aku sudah membanggakan diriku sendiri dihadapanmu. Hehe.
Namun jangan disangka kalau persahabatan kita baik-baik saja ya. Kita sering sekali berantem untuk hal-hal yang sepele dan nggak penting. Kau mau begini, aku mau begitu. Kau ingin ini, aku ingin itu. Ini itu-ini itu banyak sekali. Loh, itu kan lagu sountracknya Doraemon ya, hehe. Tapi bener kok, kita sering tak ketemu kata sepakat kecuali salah satu dari kita mengalah. Tapi kalau kita sudah keras kepala semua. Hasil akhirnya adalah diem-dieman alias tak bertegur sapa. Mogok bicara deh.
Kalau bukan kamu yang berbesar hati mendatangiku untuk mengajak baikan lagi, aku rasa kita tak akan pernah bersahabat selama ini bukan? Aku kan egois banget ya. Tapi kamu juga kok. Dan hanya kamu yang bisa menerima hal itu meski pada awalnya berat aku rasa. Tapi karena sudah terbiasa, kamu lama-lama kebal juga dengan virus errorku hehe.
Pada mulanya, aku akan menanggapimu dengan setengah hati, acuh tak acuh saja. Kamu pasti keki dan gondok banget ya. Tapi seriiring dengn bergulirnya cerita-cerita lucu berhamburan dari mulutmu itu maka lama-lama kekakuan itu pun mencair juga. Aku bisa langsung terkikik geli mendengar ocehan-ocehanmu yang selalu meninggalkan lengkung disetiap ujung kalimatmu. Lalu hati kita pun menyatu kembali. Akrab lagi. Bermain lagi. Entar marahan lagi hehe. Kayak anak kecil saja. Tapi itu dulu ya. Sekarang mah udah enggak lagi deh, malu sama anak-anak TK hehe.
Ah, lama juga ya kita tak bertemu. Aku jadi rindu kata-kata usilmu tentangku, Sobat. Namun seolah kau tau bahwa aku sedang merindukanmu, tiba-tiba saja selembar sms kau kirim padaku disaat aku sedang menulis tentangmu.
“Aslkm, pujangga tengil hehe. Kau harus datang kepernikahanku, ya. HARUS. Sebentar lagi juga surat undangan yang aku poskan akan menubrukmu hingga kau terjengkang jatuh karena terkejutnya dirimu. Wsslkm.
Aku benar-benar terkejut dengan sms yang kau kirimkan itu. Semula aku pikir kau hanya mencandaiku saja dengan sms isengmu itu. Karena memang itu hobimu. Mengerjaiku dengan canda-candamu yang nggak lucu. Tapi kok bisa ya membuatku tertawa? Namun, kedatangan surat undangan berwarna krem dengan tampilan yang begitu luxs dan elegan. Membuatku tak mampu berkata-kata. Asli bungkam.
Kau akan menikah. Aku benar-benar tak percaya. Perasaanku berbaur menjadi satu. Bahagia, sedih dll.
Kau yang selalu diejek orang dan diganggu orang hanya karena kau feminim akan menikah. Me-ni-kah. Luar biasa. Apa kata dunia tentang pernikahanmu itu ya?
Berbicara tentang feminim. Kita berdua selalu dianggap ‘twins’. Karena kita sama-sama feminim, kemayu, gemulai. Kemana-mana kita selalu bersama, sandal jepit saja tak bisa menyaingi kebersamaan kita selama ini. Bahkan kita sering dikatai “dua homo jadi satu”. Jahat sekali ya mereka itu. Tapi toh kita tak perduli dengan semua itu. Kita anggap semua itu sebagai angin lalu. Meski jauh didalam hati kita masing-masing, ada perih merajam. Mencabik-cabiknya hingga tak berdefinisi lagi.
Namun the so must go on. Kita hadapi semua itu dengan lapang dada. Menganggap itu hanya selingan dalam hidup yang tidak harus kita jadikan beban apa lagi masalah. Meski kita sama-sama tau, seringsek apa hati kita.
Bahkan kau sering menyengajakan apa yang mereka kata-katai pada kita. Dengan pedenya akan kau songsong pelecehan-pelecehan itu baik secara lisan maupun perbuatan.
Kamu ingat saat kita ke pasar bersama? Saat penjual daging yang bertelanjang dada ittu berbisik lirih pada kita.
“Mau nggak kalian bercinta dengan saya” ucapnya kurang ajar sambil tersenyum liar dan menjamah bokongmu.
Aku terkesiap atas ketidaksenonohannya itu. Mataku melotot dan tanganku sudah gatal untuk menampar mulut kurang ajar itu. Namun dengan santai dan senyum manismu, kau malah menyengajakannya. Mengikuti arus permainan yang dilakukan penjual daging itu. Yang tak akan pernah sanggup aku mainkan. Dalam drama apa pun meski bayarannya sepenuh bumi.
Dengan kerling dan senyum nakal seolah kau adalah pelacur murahan, seperti anggapannya. Kau berucap tak kalah lirih dan mesra darinya.
“Abang berani bayar saya berapa?” konyol sekali ucapanmu itu, Sobat. Aku tak menyangka kamu sanggup mengatakan itu dengan sempurna, seolah benar dirimu seperti itu.
Merasa kau tanggapi, Si Abang itu semakin berani. Merapatkan tubuhnya padamu dan menyebutkan sejumlah angka-angka.
“Aduh, maaf, Bang. Harga segitu mah hanya cukup untuk pemanasan doang…” ucapmu sambil tertawa sinis sambil menggaetku berlalu dari tempat itu. Meninggalkan penjual daging itu dengan sumpah serapah yang tak sedap didengar oleh yang namanya manusia.
Dan saat kita berjalan bersama hendak bermain. Kita sering sekali diteriaki bocah-bocah “bencong, banci, beti” dengan songongnya. Seolah kita dua orang gila yang bagusnya disorakin rame-rame. Tapi masih untung nggak disambitin pakai batu ya. Hehe.
Kalau kau sedang mood, kau biarkan saja mereka berteriak-teriak sesuka hati mereka, nanti juga berhenti sendiri, katamu. Padahal aku telah kepanasan. Ingin kutabokin mulut-mulut usil itu. Tapi kalau kau sedang angot. Kesel plus bete. Jangan ditanya deh. Kau akan datangi mereka. Menjambak rambut salah satu dari mereka sambil berseru dengan wajah sehitam jelaga.
“Awas, kalo berani-berani ngatain gue lagi. Gue gundulin lo, ngerti…” gertakmu dengan mata yang hampir meloncat keluar. Dan suara yang benar-benar laki. Membahana.
Bocah-bocah itu ketakutan hingga tanpa sadar salah satu dari mereka pipis dicelana. Bisa juga ya, kamu nakut-nakutin orang. Padahal aku yakin, kamu nggak akan sanggup melakukan hal itu. Kamu terlalu baik dan lembut untuk melakukan tindakan kriminil seperti itu. Boro-boro ngegundulin rambut orang, lihat uler melingker aja kamu udah ngibrit. Hehe…nggak ada hubungannya, ya.
“Hey, manis! Godain kita dong…”
Kata-kata ini begitu sering dilontarkan orang, terutama anak-anak muda yang sering nongkrong dipinggir jalan.
“Boleh…” tantangmu berani sambil mendekati anak-anak bragajul itu dengan santai. “Tapi kalau godaanmu nggak menggoda dan membuatku konak maka siap-siap aku tato bibirmu dengan puntung rokokmu itu” katamu gemulai tapi penuh penekanan.
Ah, lucunya dirimu. Aku sering ngakak kalau kau sudah berkata-kata. Namun masih ngakakan mereka saat mengata-ngatai namamu yang unik itu. Entah apa artinya. Dan apa maksud orang tuamu memberi nama itu. Dan kau tak pernah ambil pusing dengan asal-usul namamu itu.
“Masih mending gue dikasih nama Dey. Dari pada gue dipanggil hey, hey gitu”
Itu argumenmu selalu saat orang-orang menanyakan arti namamu yang unik itu dan hanya satu-satunya dijagat raya ini. Hehe.
Terlepas dari namamu yang unik itu kau orang yang paling lelaki yang aku kenal. Kita sering melakukan hal-hal yang menurut orang-orang tidak bisa kita lakukan. Memanjat pohon, mencangkul, bawa yang berat-berat dll. Juga naik motor vespa. Kita benar-benar menikmati hal-hal gila untuk membuktikan bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang mereka sepelekan dari kita. Meskipun sebenarnya itu tidak perlu kita lakukan. Toh, kita tahu siapa diri kita.
“Tapi dunia perlu bukti, Dey” ucapmu bersungut-sungut. “Semua orang selalu menilai orang seperti kita miring bahkan sebelah mata. Seolah kita manusia berpenyakitan. Padahal nggak semua cowok yang gemulai dan lemah lembut itu lantas bencong dan penyuka sesama jenis. Contohnya kita. Kita ini laki-laki. Hanya casingnya aja yang cewek. Justru yang casingnya cowok, tapi dalamnya cewek banyak banget. Tapi mereka nggak pernah jadi sorotan. Giliran kita aja, kemana-mana pergi selalu saja menjadi sorotan bak selebritis. Capek deh!” semburmu geram.
Aku hanya mengangguk setuju. Itulah manusia disekitar kita, bukan?
Dan kembali ngomong-ngomong soal motor, kalau bukan karenamu, sampai saat ini kujamin aku tak akan pernah bisa dan berani mengendarai sepeda motor. Apalagi vespa yang berat dan besarnya nauzubillah itu.
Kamu benar-benar motivator aku.
Dan sekarang kau akan menikah. Aku sangat bahagia sekaligus salut atas keberanianmu memutuskan hal yang sangat-sangat aku takuti dalam kehidupanku. Menikah. Momok yang sangat menakutkan bagiku. A night mare for me. Tapi kau berani melakukannya.
Namun ternyata dugaanku salah. Seminggu menjelang hari H kau telpon aku. Dengan gugup dan terbata-bata kau berucap.
“Kalau undangan belom disebar, ingin rasanya aku lari keujung dunia untuk menyembunyikan diri dari pernikahan ini, Dey…”
Aku terkejut. “Kenapa? Please, jangan lakukan itu ya…” pintaku tak mengerti.
“Pernikahan ini terjadi karena kedua orang tuaku yang memaksanya. Sehingga aku minta bantuan teman dekatku di pabrik untuk mencarikanku wanita yang sudah siap menikah. Dan tak dinyana Allah mengabulkanya dengan mudah padaku. Seorang wanita sederhana bersedia menikah denganku. Tanpa memandang bagaimana aku, rupaku dan siapa aku. Yang diinginkannya adalah mengarungi mahligai pernikahan denganku. Menghabiskan sisa hidupnya denganku”
Memang. Kalau Allah telah berkehendak, siapa pun dan apa pun tak ada yang kuasa untuk menolaknya. Semoga Allah pun memudahkan pernikahanku kelak. Juga perjumpaanku dengan pendamping hidupku itu.
“Lalu mengapa kau tadi berbicara seperti itu” kataku heran.
“Aku juga nggak tau” ucapmu lemas.
“Apakah dia meragukanmu?”
“Sama sekali tidak”
“Lalu apalagi yang memberatkanmu. Kalau tak ada lagi yang harus kau risaukan”
“Aku takut, cemas…”
“Apa yang kau cemaskan?”
“Kalau kamu jadi aku, apa yang kamu cemaskan?” Kamu balik tanya.
“Kalau semuanya sudah oke. Nggak ada masalah baik dari pihak mempelai juga keluarganya. Aku rasa tak ada lagi yang harus kita cemaskan. Kita tinggal ijab kabul, lalu bereskan” ucapku menggampangkan. Padahal jauh di dalam hatiku, aku pun pasti ketakutan setengah mati dengan pernikahan itu. Kalau itu terjadi sekarang-sekarang ini padaku.
Apa yang kutau tentang pernikahan. Aku rasa aku tak punya bayangan apapun. Kecuali bahwa menikah itu sunah Rasul.
Dan kukatakan hal-hal yang baik saja padamu karena aku takut kamu ketakutan lalu pernikahanmu nggak jadi. Bisa berantakan dunia persilatan.
Jadi gampangkan berkata-kata itu, beda dengan pelaksanaannya. Anak TK juga bisa ngomong doang mah, but pelaksanaannya? Tak semua orang bisa melakukan apa yang dikatakan mulutnya.
“Begitu aja tanggapanmu, Dey” ucapmu tak puas.
“Lantas aku harus bicara apa lagi. Tinggal ijab kabul aja bereskan. Dan aku rasa ketakutan-ketakutanmu yang tak beralasan itu, pernah dialami juga oleh jutaan kaum Adam diseantero bumi ini. Pastilah semua juga merasakannya” ucapku semangat. Membesarkan hatinya.
“Tapi yang ini beda. Aku takut nggak bisa melakukannya” bisiknya lirih.
Aku tertawa sumbang. “Nggak lucu, ah. Kita sudah sering menonton film itu, membicarakannya dan teorinya juga udah ngelotok banget, aku rasa. Tinggal prakteknya aja kan” kataku sambil cengengesan.
“Kalau aku nggak bisa gimana? Aku akan malu sekali”
“Please deh. Aku yakin itu tak akan terjadi. Kalau pun, kalau pun itu terjadi, kamu kan bisa buat alesan. Lagi capek, misalnya. Jadi nggak usah dilanjutkan. Besok lagi saja. Aku rasa ia pasti mengerti” lagi-lagi aku sok tau dan sok bijak menasehatimu.
“Aku juga takut dikemudian hari dia malu berjalan denganku, malu mengakui aku sebagai suaminya. Dan yang paling parah, anak-anak yang dilahirkannya akan malu punya ayah seperti aku” cerocosnya getir dan berbalut putus asa.
“Trust me, itu nggak akan terjadi”
“Siapa bisa menjamin?”
“Aku sih nggak bisa menjamin. Karena aku belum menjalaninya. Tapi jalani aja deh. Mengalir seperti air. Yang terjadi. Terjadilah. Toh, itu baru ketakutan kamu aja. Yang belum tentu dikemudian hari akan kejadian” kembali aku menyemangatinya.
“Kalau terjadi?”
“Itu nasib yang harus kita jalani. Sementara itu biarkanlah semua berjalan apa adanya, oke?”
“Oke deh” ucapmu tak yakin.
Namun setelah seminggu lewat dan setelah pernikahanmu selesai dilangsungkan. Kau bilang berhasil melakukannya, meski nyaris gagal.
“Aku bahagia banget menikah. Kalau tau sebahagia ini, kenapa nggak sedari dulu aja aku menikah ya…” ucapmu cengengesan.
Aku tau kamu menggodaku dan memanasi aku supaya segera mengikuti jejakmu. Mengarungi bahtera rumah tangga.
Menurut pengakuan jujurmu, kau sangat bahagia memiliki istri seperti dia. Yang selalu mengerti kebutuhan-kebutuhanmu, sabar, penyayang, begitu mencintaimu dan ia begitu takut kehilanganmu. Dan kau begitu besar kepalanya kamu menyadari besarnya pengaruhmu itu kepadanya. Ada kebaganggaan tersendiri karena kau pun bisa berharga untuk seorang wanita. Kamu pikir selama ini, tak akan ada seorang wanita pun dibumi ini yang mau menghabiskan sisa hidupnya denganmu. Menjadi pendamping hidupmu. Karena kegemulaianmu itu.
Tapi syukurlah, apa yang kau pikirkan itu tidak terjadi bukan. Kau tau kenapa? Karena setiap manusia telah memiliki jodohnya masing-masing. Semua makhluk mempunyai pasangannya masing-masing. Namun semua tak semudah yang kita kira memang. Jodoh itu ada yang cepat datangnya ada juga yang terseok-seok, lamban dan tak menghiraukan kekahawatiran kita yang begitu takutnya dikatakan lapuk, tak laku dan jomblo forever.
Tinggal giliranku sekarang. Kapan ya, bidadari itu datang? Namun berpedoman pada kata Nabi bahwa laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik dan laki-laki buruk untuk laki-laki buruk juga. So aku nggak pernah mengkhawatirkan jodohku. Yang kukhawatirkan hanyalah bagaimana memantapkan hati ini agar ketakutan-ketakutan tak beralasan itu tak mencengkramku. Dan aku bisa say good bye pada ketakutan-ketakutan tak beralasan itu.
(Sebuah persembahan untuk seorang sahabat yang kini berbahagia dengan momongannya yang cantik, jadi ayah euy! Ternyata kamu bisa juga ya, jadi laki-laki, suami dan kini seorang ayah. Bravo! Doakan aku agar segera menyusulmu, ya…)
18 September 2009
Mengapa tiba-tiba saja aku mengingatmu, setelah selama ini aku melupakanmu. Maafkan kata-kata di atas itu ya. Bukan maksudku benar-benar melupakanmu. Tapi kesibukanku sebagai penulis amatiran, membuatku harus selalu berkutat dengan komputer, kata-kata, ide cerita, media masa juga hunting keberbagai tempat untuk mendapatkan sekeping ide.
Karena kegemaranku pada menulis juga membaca membuatmu sering kali melontarkan kata-kata nyinyir penuh canda kepadaku.
Hobi membacaku misalnya, kau bilang aku si kutu kupret yang sering nyelip di buku. Dan kau katai aku si perpustakaan berjalan saat aku mengatakan berbagai hal dihadapanmu. Nyerocos tiada henti. Petasan kebakar katamu.
Kau juga mengatai aku pujangga kesasar karena ucapan-ucapanku yang seolah berpuisi. Dan untuk kegiatanku menulis kau katai aku, si usil pengorek-ngorek kehidupan orang lain. Karena setelah kau baca karya-karyaku terutama cerpen-cerpenku, kau baru ngeh ternyata aku selalu menjadikan cerita setiap curhatan orang lain kepadaku. Hanya saja dengan pintarnya aku membumbui cerita itu sehingga agak beda dengan versi yang diceritakan orang yang bersangkutan.
Dan kau salut juga kagum padaku, bukan. Betapa pandainya aku meracik semua itu.
Ah, mulai deh narsis. Kau katakan itu dengan sebal dan mimik wajah lucumu kalau aku sudah membanggakan diriku sendiri dihadapanmu. Hehe.
Namun jangan disangka kalau persahabatan kita baik-baik saja ya. Kita sering sekali berantem untuk hal-hal yang sepele dan nggak penting. Kau mau begini, aku mau begitu. Kau ingin ini, aku ingin itu. Ini itu-ini itu banyak sekali. Loh, itu kan lagu sountracknya Doraemon ya, hehe. Tapi bener kok, kita sering tak ketemu kata sepakat kecuali salah satu dari kita mengalah. Tapi kalau kita sudah keras kepala semua. Hasil akhirnya adalah diem-dieman alias tak bertegur sapa. Mogok bicara deh.
Kalau bukan kamu yang berbesar hati mendatangiku untuk mengajak baikan lagi, aku rasa kita tak akan pernah bersahabat selama ini bukan? Aku kan egois banget ya. Tapi kamu juga kok. Dan hanya kamu yang bisa menerima hal itu meski pada awalnya berat aku rasa. Tapi karena sudah terbiasa, kamu lama-lama kebal juga dengan virus errorku hehe.
Pada mulanya, aku akan menanggapimu dengan setengah hati, acuh tak acuh saja. Kamu pasti keki dan gondok banget ya. Tapi seriiring dengn bergulirnya cerita-cerita lucu berhamburan dari mulutmu itu maka lama-lama kekakuan itu pun mencair juga. Aku bisa langsung terkikik geli mendengar ocehan-ocehanmu yang selalu meninggalkan lengkung disetiap ujung kalimatmu. Lalu hati kita pun menyatu kembali. Akrab lagi. Bermain lagi. Entar marahan lagi hehe. Kayak anak kecil saja. Tapi itu dulu ya. Sekarang mah udah enggak lagi deh, malu sama anak-anak TK hehe.
Ah, lama juga ya kita tak bertemu. Aku jadi rindu kata-kata usilmu tentangku, Sobat. Namun seolah kau tau bahwa aku sedang merindukanmu, tiba-tiba saja selembar sms kau kirim padaku disaat aku sedang menulis tentangmu.
“Aslkm, pujangga tengil hehe. Kau harus datang kepernikahanku, ya. HARUS. Sebentar lagi juga surat undangan yang aku poskan akan menubrukmu hingga kau terjengkang jatuh karena terkejutnya dirimu. Wsslkm.
Aku benar-benar terkejut dengan sms yang kau kirimkan itu. Semula aku pikir kau hanya mencandaiku saja dengan sms isengmu itu. Karena memang itu hobimu. Mengerjaiku dengan canda-candamu yang nggak lucu. Tapi kok bisa ya membuatku tertawa? Namun, kedatangan surat undangan berwarna krem dengan tampilan yang begitu luxs dan elegan. Membuatku tak mampu berkata-kata. Asli bungkam.
Kau akan menikah. Aku benar-benar tak percaya. Perasaanku berbaur menjadi satu. Bahagia, sedih dll.
Kau yang selalu diejek orang dan diganggu orang hanya karena kau feminim akan menikah. Me-ni-kah. Luar biasa. Apa kata dunia tentang pernikahanmu itu ya?
Berbicara tentang feminim. Kita berdua selalu dianggap ‘twins’. Karena kita sama-sama feminim, kemayu, gemulai. Kemana-mana kita selalu bersama, sandal jepit saja tak bisa menyaingi kebersamaan kita selama ini. Bahkan kita sering dikatai “dua homo jadi satu”. Jahat sekali ya mereka itu. Tapi toh kita tak perduli dengan semua itu. Kita anggap semua itu sebagai angin lalu. Meski jauh didalam hati kita masing-masing, ada perih merajam. Mencabik-cabiknya hingga tak berdefinisi lagi.
Namun the so must go on. Kita hadapi semua itu dengan lapang dada. Menganggap itu hanya selingan dalam hidup yang tidak harus kita jadikan beban apa lagi masalah. Meski kita sama-sama tau, seringsek apa hati kita.
Bahkan kau sering menyengajakan apa yang mereka kata-katai pada kita. Dengan pedenya akan kau songsong pelecehan-pelecehan itu baik secara lisan maupun perbuatan.
Kamu ingat saat kita ke pasar bersama? Saat penjual daging yang bertelanjang dada ittu berbisik lirih pada kita.
“Mau nggak kalian bercinta dengan saya” ucapnya kurang ajar sambil tersenyum liar dan menjamah bokongmu.
Aku terkesiap atas ketidaksenonohannya itu. Mataku melotot dan tanganku sudah gatal untuk menampar mulut kurang ajar itu. Namun dengan santai dan senyum manismu, kau malah menyengajakannya. Mengikuti arus permainan yang dilakukan penjual daging itu. Yang tak akan pernah sanggup aku mainkan. Dalam drama apa pun meski bayarannya sepenuh bumi.
Dengan kerling dan senyum nakal seolah kau adalah pelacur murahan, seperti anggapannya. Kau berucap tak kalah lirih dan mesra darinya.
“Abang berani bayar saya berapa?” konyol sekali ucapanmu itu, Sobat. Aku tak menyangka kamu sanggup mengatakan itu dengan sempurna, seolah benar dirimu seperti itu.
Merasa kau tanggapi, Si Abang itu semakin berani. Merapatkan tubuhnya padamu dan menyebutkan sejumlah angka-angka.
“Aduh, maaf, Bang. Harga segitu mah hanya cukup untuk pemanasan doang…” ucapmu sambil tertawa sinis sambil menggaetku berlalu dari tempat itu. Meninggalkan penjual daging itu dengan sumpah serapah yang tak sedap didengar oleh yang namanya manusia.
Dan saat kita berjalan bersama hendak bermain. Kita sering sekali diteriaki bocah-bocah “bencong, banci, beti” dengan songongnya. Seolah kita dua orang gila yang bagusnya disorakin rame-rame. Tapi masih untung nggak disambitin pakai batu ya. Hehe.
Kalau kau sedang mood, kau biarkan saja mereka berteriak-teriak sesuka hati mereka, nanti juga berhenti sendiri, katamu. Padahal aku telah kepanasan. Ingin kutabokin mulut-mulut usil itu. Tapi kalau kau sedang angot. Kesel plus bete. Jangan ditanya deh. Kau akan datangi mereka. Menjambak rambut salah satu dari mereka sambil berseru dengan wajah sehitam jelaga.
“Awas, kalo berani-berani ngatain gue lagi. Gue gundulin lo, ngerti…” gertakmu dengan mata yang hampir meloncat keluar. Dan suara yang benar-benar laki. Membahana.
Bocah-bocah itu ketakutan hingga tanpa sadar salah satu dari mereka pipis dicelana. Bisa juga ya, kamu nakut-nakutin orang. Padahal aku yakin, kamu nggak akan sanggup melakukan hal itu. Kamu terlalu baik dan lembut untuk melakukan tindakan kriminil seperti itu. Boro-boro ngegundulin rambut orang, lihat uler melingker aja kamu udah ngibrit. Hehe…nggak ada hubungannya, ya.
“Hey, manis! Godain kita dong…”
Kata-kata ini begitu sering dilontarkan orang, terutama anak-anak muda yang sering nongkrong dipinggir jalan.
“Boleh…” tantangmu berani sambil mendekati anak-anak bragajul itu dengan santai. “Tapi kalau godaanmu nggak menggoda dan membuatku konak maka siap-siap aku tato bibirmu dengan puntung rokokmu itu” katamu gemulai tapi penuh penekanan.
Ah, lucunya dirimu. Aku sering ngakak kalau kau sudah berkata-kata. Namun masih ngakakan mereka saat mengata-ngatai namamu yang unik itu. Entah apa artinya. Dan apa maksud orang tuamu memberi nama itu. Dan kau tak pernah ambil pusing dengan asal-usul namamu itu.
“Masih mending gue dikasih nama Dey. Dari pada gue dipanggil hey, hey gitu”
Itu argumenmu selalu saat orang-orang menanyakan arti namamu yang unik itu dan hanya satu-satunya dijagat raya ini. Hehe.
Terlepas dari namamu yang unik itu kau orang yang paling lelaki yang aku kenal. Kita sering melakukan hal-hal yang menurut orang-orang tidak bisa kita lakukan. Memanjat pohon, mencangkul, bawa yang berat-berat dll. Juga naik motor vespa. Kita benar-benar menikmati hal-hal gila untuk membuktikan bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang mereka sepelekan dari kita. Meskipun sebenarnya itu tidak perlu kita lakukan. Toh, kita tahu siapa diri kita.
“Tapi dunia perlu bukti, Dey” ucapmu bersungut-sungut. “Semua orang selalu menilai orang seperti kita miring bahkan sebelah mata. Seolah kita manusia berpenyakitan. Padahal nggak semua cowok yang gemulai dan lemah lembut itu lantas bencong dan penyuka sesama jenis. Contohnya kita. Kita ini laki-laki. Hanya casingnya aja yang cewek. Justru yang casingnya cowok, tapi dalamnya cewek banyak banget. Tapi mereka nggak pernah jadi sorotan. Giliran kita aja, kemana-mana pergi selalu saja menjadi sorotan bak selebritis. Capek deh!” semburmu geram.
Aku hanya mengangguk setuju. Itulah manusia disekitar kita, bukan?
Dan kembali ngomong-ngomong soal motor, kalau bukan karenamu, sampai saat ini kujamin aku tak akan pernah bisa dan berani mengendarai sepeda motor. Apalagi vespa yang berat dan besarnya nauzubillah itu.
Kamu benar-benar motivator aku.
Dan sekarang kau akan menikah. Aku sangat bahagia sekaligus salut atas keberanianmu memutuskan hal yang sangat-sangat aku takuti dalam kehidupanku. Menikah. Momok yang sangat menakutkan bagiku. A night mare for me. Tapi kau berani melakukannya.
Namun ternyata dugaanku salah. Seminggu menjelang hari H kau telpon aku. Dengan gugup dan terbata-bata kau berucap.
“Kalau undangan belom disebar, ingin rasanya aku lari keujung dunia untuk menyembunyikan diri dari pernikahan ini, Dey…”
Aku terkejut. “Kenapa? Please, jangan lakukan itu ya…” pintaku tak mengerti.
“Pernikahan ini terjadi karena kedua orang tuaku yang memaksanya. Sehingga aku minta bantuan teman dekatku di pabrik untuk mencarikanku wanita yang sudah siap menikah. Dan tak dinyana Allah mengabulkanya dengan mudah padaku. Seorang wanita sederhana bersedia menikah denganku. Tanpa memandang bagaimana aku, rupaku dan siapa aku. Yang diinginkannya adalah mengarungi mahligai pernikahan denganku. Menghabiskan sisa hidupnya denganku”
Memang. Kalau Allah telah berkehendak, siapa pun dan apa pun tak ada yang kuasa untuk menolaknya. Semoga Allah pun memudahkan pernikahanku kelak. Juga perjumpaanku dengan pendamping hidupku itu.
“Lalu mengapa kau tadi berbicara seperti itu” kataku heran.
“Aku juga nggak tau” ucapmu lemas.
“Apakah dia meragukanmu?”
“Sama sekali tidak”
“Lalu apalagi yang memberatkanmu. Kalau tak ada lagi yang harus kau risaukan”
“Aku takut, cemas…”
“Apa yang kau cemaskan?”
“Kalau kamu jadi aku, apa yang kamu cemaskan?” Kamu balik tanya.
“Kalau semuanya sudah oke. Nggak ada masalah baik dari pihak mempelai juga keluarganya. Aku rasa tak ada lagi yang harus kita cemaskan. Kita tinggal ijab kabul, lalu bereskan” ucapku menggampangkan. Padahal jauh di dalam hatiku, aku pun pasti ketakutan setengah mati dengan pernikahan itu. Kalau itu terjadi sekarang-sekarang ini padaku.
Apa yang kutau tentang pernikahan. Aku rasa aku tak punya bayangan apapun. Kecuali bahwa menikah itu sunah Rasul.
Dan kukatakan hal-hal yang baik saja padamu karena aku takut kamu ketakutan lalu pernikahanmu nggak jadi. Bisa berantakan dunia persilatan.
Jadi gampangkan berkata-kata itu, beda dengan pelaksanaannya. Anak TK juga bisa ngomong doang mah, but pelaksanaannya? Tak semua orang bisa melakukan apa yang dikatakan mulutnya.
“Begitu aja tanggapanmu, Dey” ucapmu tak puas.
“Lantas aku harus bicara apa lagi. Tinggal ijab kabul aja bereskan. Dan aku rasa ketakutan-ketakutanmu yang tak beralasan itu, pernah dialami juga oleh jutaan kaum Adam diseantero bumi ini. Pastilah semua juga merasakannya” ucapku semangat. Membesarkan hatinya.
“Tapi yang ini beda. Aku takut nggak bisa melakukannya” bisiknya lirih.
Aku tertawa sumbang. “Nggak lucu, ah. Kita sudah sering menonton film itu, membicarakannya dan teorinya juga udah ngelotok banget, aku rasa. Tinggal prakteknya aja kan” kataku sambil cengengesan.
“Kalau aku nggak bisa gimana? Aku akan malu sekali”
“Please deh. Aku yakin itu tak akan terjadi. Kalau pun, kalau pun itu terjadi, kamu kan bisa buat alesan. Lagi capek, misalnya. Jadi nggak usah dilanjutkan. Besok lagi saja. Aku rasa ia pasti mengerti” lagi-lagi aku sok tau dan sok bijak menasehatimu.
“Aku juga takut dikemudian hari dia malu berjalan denganku, malu mengakui aku sebagai suaminya. Dan yang paling parah, anak-anak yang dilahirkannya akan malu punya ayah seperti aku” cerocosnya getir dan berbalut putus asa.
“Trust me, itu nggak akan terjadi”
“Siapa bisa menjamin?”
“Aku sih nggak bisa menjamin. Karena aku belum menjalaninya. Tapi jalani aja deh. Mengalir seperti air. Yang terjadi. Terjadilah. Toh, itu baru ketakutan kamu aja. Yang belum tentu dikemudian hari akan kejadian” kembali aku menyemangatinya.
“Kalau terjadi?”
“Itu nasib yang harus kita jalani. Sementara itu biarkanlah semua berjalan apa adanya, oke?”
“Oke deh” ucapmu tak yakin.
Namun setelah seminggu lewat dan setelah pernikahanmu selesai dilangsungkan. Kau bilang berhasil melakukannya, meski nyaris gagal.
“Aku bahagia banget menikah. Kalau tau sebahagia ini, kenapa nggak sedari dulu aja aku menikah ya…” ucapmu cengengesan.
Aku tau kamu menggodaku dan memanasi aku supaya segera mengikuti jejakmu. Mengarungi bahtera rumah tangga.
Menurut pengakuan jujurmu, kau sangat bahagia memiliki istri seperti dia. Yang selalu mengerti kebutuhan-kebutuhanmu, sabar, penyayang, begitu mencintaimu dan ia begitu takut kehilanganmu. Dan kau begitu besar kepalanya kamu menyadari besarnya pengaruhmu itu kepadanya. Ada kebaganggaan tersendiri karena kau pun bisa berharga untuk seorang wanita. Kamu pikir selama ini, tak akan ada seorang wanita pun dibumi ini yang mau menghabiskan sisa hidupnya denganmu. Menjadi pendamping hidupmu. Karena kegemulaianmu itu.
Tapi syukurlah, apa yang kau pikirkan itu tidak terjadi bukan. Kau tau kenapa? Karena setiap manusia telah memiliki jodohnya masing-masing. Semua makhluk mempunyai pasangannya masing-masing. Namun semua tak semudah yang kita kira memang. Jodoh itu ada yang cepat datangnya ada juga yang terseok-seok, lamban dan tak menghiraukan kekahawatiran kita yang begitu takutnya dikatakan lapuk, tak laku dan jomblo forever.
Tinggal giliranku sekarang. Kapan ya, bidadari itu datang? Namun berpedoman pada kata Nabi bahwa laki-laki baik-baik untuk wanita baik-baik dan laki-laki buruk untuk laki-laki buruk juga. So aku nggak pernah mengkhawatirkan jodohku. Yang kukhawatirkan hanyalah bagaimana memantapkan hati ini agar ketakutan-ketakutan tak beralasan itu tak mencengkramku. Dan aku bisa say good bye pada ketakutan-ketakutan tak beralasan itu.
(Sebuah persembahan untuk seorang sahabat yang kini berbahagia dengan momongannya yang cantik, jadi ayah euy! Ternyata kamu bisa juga ya, jadi laki-laki, suami dan kini seorang ayah. Bravo! Doakan aku agar segera menyusulmu, ya…)
18 September 2009
Langganan:
Postingan (Atom)